Metode Flipped Learning untuk Melatih Kemandirian Siswa – Zenius untuk Guru

flipped learning

Di awal-awal pandemi, Bapak dan Ibu Guru pasti sering mendengar kalau flipped learning bisa jadi salah satu metode pembelajaran yang efektif. Sebagai salah satu bentuk blended learning yang menggabungkan pembelajaran sinkronus dan asinkronus, flipped learning dinilai mampu mengatasi kondisi pembelajaran di tengah dampak COVID-19 yang berkepanjangan.

Saat ini, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai diberlakukan secara bertahap, di mana jumlah siswa yang datang ke sekolah masih dibatasi. Bisa saja dalam satu minggu, siswa hanya memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah selama 2 atau 3 hari dengan waktu yang terbatas, sementara pembelajaran di hari lainnya masih dilakukan dari rumah. Kondisi ini membuat proses pembelajaran berjalan kurang maksimal.

Bapak dan Ibu Guru pun merasakan bahwa selama PTM banyak siswa yang merasa kesulitan mengejar ketertinggalan. Setiap siswa memiliki kemampuan  yang berbeda-beda untuk memahami materi pembelajaran. Dalam kelas, ada siswa yang sudah bisa mengerjakan soal setelah diberikan satu contoh, namun ada juga siswa yang perlu dijelaskan berkali-kali untuk memahami materi. Dengan kata lain, dibutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk memastikan bahwa setiap siswa memahami materi yang disampaikan.

Tak sedikit guru yang kemudian bertanya-tanya, bagaimana solusi untuk mengatasi kondisi di atas. Apakah flipped learning bisa diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif?

Di artikel kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang flipped learning dan bagaimana cara menerapkannya. Setelah membaca tulisan ini, diharapkan Bapak dan Ibu Guru bisa melihat dan menentukan, apakah metode ini bisa digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi kelas Bapak dan Ibu Guru. Yuk, kita bahas bersama!

Mengenal Metode Flipped Learning

Flipped learning atau dikenal juga dengan pembelajaran terbalik adalah sebuah metode di mana proses belajar dilakukan secara mandiri oleh murid dan guru hanya memberikan umpan. Terbalik dalam istilah ini merujuk pada kebalikan dari metode pembelajaran konvensional. 

Dalam flipped learning, kegiatan belajar mengajar yang secara konvensional terjadi di kelas, seperti pengenalan materi melalui ceramah, diperkenalkan kepada siswa di luar kelas secara online. Sementara, kegiatan yang secara konvensional terjadi di luar kelas, seperti tugas atau PR, diselesaikan siswa dalam kelas bersama guru dan temannya. 

Jika dalam pembelajaran konvensional siswa cenderung menjawab pertanyaan yang Bapak dan Ibu Guru berikan, di flipped learning siswa dituntut untuk bertanya terkait materi umpan yang telah diberikan.

flipped learning

Flipped learning merupakan metodologi yang membantu guru untuk memprioritaskan kegiatan belajar mengajar yang aktif dalam kelas dengan menugaskan siswa materi pembelajaran untuk dilihat di rumah atau di luar kelas. Jadi sederhananya, dalam pembelajaran terbalik, Bapak dan Ibu Guru hanya perlu memberikan suatu topik materi yang akan dibahas sebagai umpan. Umpan tersebut bisa diberikan lewat pembelajaran daring dalam bentuk video. Kemudian, minta siswa untuk mencari materi-materi pendukung dan mempelajarinya secara mendalam.

Lalu, kalau pendalaman materi dilakukan sendiri oleh siswa di luar kelas, apa yang mereka lakukan saat berada di kelas?

Ketika di kelas, siswa sudah memiliki bekal materi karena sebelumnya telah mempelajarinya di rumah. Bapak dan Ibu Guru tidak perlu mengulang materi kembali karena siswa sudah memiliki dasar pengetahuannya. Kegiatan pembelajaran di kelas bisa lebih terfokus pada tugas, tanya jawab, diskusi, presentasi, atau eksperimen yang berkaitan dengan materi. Di kelas, siswa bisa mempertanyakan hal-hal yang kurang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman akan materi yang sudah dipelajari.

contoh penerapan flipped learning
Contoh perbedaan kegiatan pada pembelajaran konvensional dan flipped learning.

Dari tabel di atas, Bapak dan Ibu Guru bisa melihat perbedaan antara pembelajaran konvensional yang biasanya dilakukan dengan pembelajaran terbalik. Melalui flipped learning, waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Materi pembelajaran bisa tersampaikan ke siswa, bahkan mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk mendalami materi dan bereksplorasi.

Selain waktu pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, apa saja kelebihan dari metode flipped learning ini?

Baca Juga: Metode Mengajar yang Efektif Sesuai Kebutuhan Siswa

Kenapa Harus Menggunakan Metode Flipped Learning?

Saat ini, teknologi menjadi sahabat utama siswa. Bisa dilihat bahwa banyak dari mereka yang tidak bisa lepas dari sosial media atau menonton video di YouTube. Melalui metode flipped learning, kebiasaan baru ini bisa Bapak dan Ibu Guru terapkan untuk membantu siswa belajar. Dengan berbagai akses internet yang memadai, siswa nantinya bisa mendapatkan sumber pembelajaran dari mana saja. 

Siswa akan lebih tertarik dan semangat belajar jika materi disajikan dalam bentuk video dan bukan disampaikan melalui ceramah biasa. Mereka cenderung lebih aktif dalam berbagai kegiatan yang menggunakan perangkat digital, seperti mengerjakan tugas menggunakan komputer, menggunakan ponsel pintar untuk mencari materi, atau bekerja sama dan bereksperimen dengan bantuan video dari internet.

Melalui flipped learning, siswa bisa mengatur jadwal belajarnya sendiri. Karena materi utama dalam pembelajaran disampaikan secara online, hal ini memungkinkan siswa untuk menentukan sendiri kapan ia akan belajar dan mendalami materi tersebut. Di sinilah kemampuan manajemen waktu siswa dibutuhkan. Bapak dan Ibu Guru juga harus memastikan bahwa dengan materi dan tugas yang begitu banyak, siswa bisa tetap mengatur jam belajarnya dan tidak mengakibatkan mereka merasa terbebani.

metode flipped learning
Flipped learning memfokuskan perhatian Bapak dan Ibu Guru ke semua siswa secara merata. (Foto dari Freepik)

Flipped learning juga memungkinkan Bapak dan Ibu Guru untuk membantu siswa yang kesulitan dalam belajar. Kenapa? Karena ketika pembelajaran konvensional, perhatian Bapak dan Ibu Guru lebih banyak tertuju pada siswa yang terbaik dan cerdas. Mereka lebih sering mengangkat tangan untuk bertanya dan memberikan pendapatnya. Sementara, siswa lainnya akan secara pasif mendengarkan percakapan antara guru dan siswa pintar tersebut.

Dengan menerapkan pembelajaran terbalik, perhatian Bapak dan Ibu Guru tidak hanya terfokus pada siswa yang terbaik. Bapak dan Ibu Guru bisa lebih banyak membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar karena siswa yang pintar akan lebih mudah memahami materi dengan cepat. Perhatian Bapak dan Ibu Guru pun akan lebih merata ke semua siswa dan mereka bisa secara aktif mengikuti pembelajaran.

Satu hal penting yang bisa menjadi pertimbangan Bapak dan Ibu Guru dalam menerapkan flipped learning adalah minimnya tatap muka. Umpan materi yang bisa dengan mudah disampaikan secara daring memungkinkan proses pembelajaran lebih banyak dilakukan dari rumah siswa masing-masing. Karena sudah melakukan pendalaman materi secara mandiri, di sekolah siswa akan lebih fokus pada diskusi dan pengerjaan tugas. Proses pembelajaran seperti ini tentunya sangat dibutuhkan dalam kondisi pandemi, di mana interaksi antar individu dibatasi untuk menekan penyebaran COVID-19.

Baca Juga: Teknologi dalam Pembelajaran, Bagaimana Memanfaatkannya?

Taksonomi Bloom dalam Flipped Learning

Flipped learning tidak hanya melatih siswa untuk belajar secara mandiri namun juga membantu mereka untuk menciptakan sebuah solusi dari suatu masalah yang dapat diterapkan di kehidupan nyata. Untuk menguji dampak dari pembelajaran terbalik ini, Taksonomi Bloom bisa digunakan sebagai landasan teoritisnya.

Sebelum membahas kaitan antara Taksonomi Bloom dan flipped learning, mari kita bahas dulu apa itu Taksonomi Bloom.

Taksonomi Bloom atau Bloom’s Taxonomy adalah urutan hierarkis keterampilan kognitif yang dapat membantu kegiatan belajar mengajar guru dan siswa. Ada enam tingkat keterampilan kognitif pada Taksonomi Bloom yang secara urut dari bawah ke atas terdiri dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisa),  evaluating (mengevaluasi), dan creating (membuat).

taksonomi bloom
Flipped learning dilihat dari Taksonomi Bloom. (Sumber: Beth Williams dalam How I flipped my classroom, NNNC Conference, Norfolk, NE.)

Jika dilihat dari sudut pandang Taksonomi Bloom, tingkat berpikir tertinggi dalam flipped learning dilakukan siswa di dalam kelas bersama dengan teman-temannya. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivistik yang menegaskan bahwa belajar adalah proses yang didapatkan dari interaksi sosial, di mana ilmu tersebut nantinya bisa dieksplorasi dan diterapkan dalam dunia nyata.

Lebih jelasnya, teori konstruktivistik menyatakan bahwa proses belajar tidak hanya didapatkan dari pengalaman dan pemikiran sendiri, tetapi juga menggabungkan ide-ide orang lain untuk membangun pengetahuan yang lebih bermakna dan bermanfaat.

Sebagai contoh dalam lingkungan pekerjaan, karyawan bekerja secara langsung bersama dengan rekan-rekannya. Artinya, dalam tahap tersebut karyawan mencapai tingkat berpikir tertinggi yang memungkinkan mereka untuk berdiskusi dan berbagi ide. Sama halnya dengan flipped learning, siswa juga melakukan proses analisa, evaluasi, dan produksi bersama teman-temannya secara langsung di kelas.

Metode flipped learning memungkinkan siswa untuk mengakses tingkat berpikir yang lebih rendah secara mandiri, dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempraktikkan pengetahuan melalui tugas-tugas yang lebih menarik dan mendalam bersama dengan guru dan teman-temannya.

Bagaimana, apakah Bapak dan Ibu Guru mulai tertarik untuk menerapkan flipped learning dalam kelas? Nah, sekarang yuk kita bahas bagaimana cara melaksanakannya!

Baca Juga: Proses Belajar yang Efektif, Bagaimana Caranya?

Cara Menerapkan Flipped Learning di Kelas

Untuk menerapkan flipped learning, hal pertama yang harus Bapak dan Ibu Guru lakukan adalah menentukan teknologi apa yang akan digunakan. Karena pembelajaran terbalik sangat bergantung pada teknologi untuk membuat dan berbagi video materi, memilih teknologi yang paling bisa membantu kegiatan belajar mengajar Bapak dan Ibu Guru adalah hal yang penting. Salah satu teknologi yang memudahkan flipped learning Bapak dan Ibu Guru adalah Learning Management System (LMS) ZenRu

LMS ZenRu
LMS ZenRu sebagai salah satu teknologi pendukung flipped learning.

Setelah mengetahui teknologi apa yang digunakan untuk membagikan video, Bapak dan Ibu Guru harus memilih jenis video apa yang ingin dibuat atau dibagikan. Melalui LMS ZenRu, Bapak dan Ibu Guru memiliki pilihan ratusan video materi pembelajaran, video tips dan trik belajar, video animasi tentang beragam peristiwa, dan video menarik lainnya, yang dapat dengan mudah dibagikan ke siswa.

Pastikan siswa Bapak dan Ibu Guru melakukan pembelajaran mandiri di luar kelas berdasarkan video-video yang sudah dibagikan. Flipped learning berfokus pada partisipasi siswa. Jika mereka tidak melakukan pembelajaran di rumah, seluruh kegiatan di kelas tidak dapat berjalan dengan lancar. Lakukan pengamatan dan dampingi siswa belajar secara daring untuk memastikan bahwa materi yang diberikan dapat dipelajari dan dipahami oleh mereka.

Saat pertemuan tatap muka di kelas, Bapak dan Ibu Guru bisa memulai pembelajaran dengan kuis singkat untuk melihat seberapa jauh pemahaman siswa akan materi yang telah dipelajari di rumah. Berikan pula kesempatan untuk mereka bertanya tentang materi yang dirasa kurang jelas. Setelah itu, bagi siswa ke dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan materi atau mengerjakan tugas untuk memperdalam pemahaman.

Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan Bapak dan Ibu Guru di kelas flipped learning antara lain:

  • Pembelajaran aktif, memungkinan siswa untuk lebih banyak berpartisipasi aktif di kelas melalui pertanyaan, diskusi, dan umpan balik.
  • Teman tutor, di mana siswa bisa saling mengajar dan menjelaskan konsep atau mengerjakan tugas bersama.
  • Pembelajaran kolaboratif yang bisa meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan kecerdasan kolektif siswa.
  • Pembelajaran berbasis masalah, di mana kegiatan di kelas berfokus pada pengerjaan soal, tugas, dan pemecahan masalah.
  • Diskusi yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk menyampaikan ide mereka untuk mengembangkan argumen pendukung.

Setelah berhasil menerapkan flipped learning, satu hal yang tidak kalah penting untuk dikerjakan adalah evaluasi. Lakukan evaluasi dan lihat apakah metode ini sesuai dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa Bapak dan Ibu Guru. Temukan hal-hal yang bisa diperbaiki agar pembelajaran yang selanjutnya dapat berjalan lebih maksimal.

Demikian penjelasan tentang metode flipped learning yang bisa Bapak dan Ibu Guru gunakan di tengah kondisi pandemi. Flipped learning membantu siswa untuk mandiri belajar karena proses pembelajarannya dilakukan sendiri oleh mereka. Sementara Bapak dan Ibu Guru berperan untuk memberikan pengenalan materi dan pendamping dalam proses pendalaman materi di kelas.

Jadi, apakah metode flipped learning ini bisa diterapkan di kelas Bapak dan Ibu Guru? Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak ada metode pembelajaran yang terbaik. Semuanya kembali lagi pada kondisi dan kebutuhan kelas Bapak dan Ibu Guru.

Terima kasih sudah membaca artikel ini. Semoga artikel ini bisa membantu Bapak dan Ibu Guru dalam mempertimbangkan metode flipped learning di kelas. Bagi Bapak dan Ibu Guru yang ingin mempelajari metode pembelajaran terbalik lebih lanjut, Zenius untuk Guru punya satu video yang bisa membantu. Tonton videonya di bawah ini dan sampai bertemu di artikel-artikel lainnya!

Referensi

Bergmann, J & Sams A. (2012). Flip your classroom: talk to every student in every class every day. International Society for Technology in Education.

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/07/flipped-classroom-model-solusi-bagi-pembelajaran-darurat-covid19 

https://www.teachthought.com/learning/what-is-blooms-taxonomy/

https://omerad.msu.edu/teaching/teaching-skills-strategies/27-teaching/162-what-why-and-how-to-implement-a-flipped-classroom-model

https://www.teachthought.com/learning/a-flipped-classroom/

Baca Juga Artikel Lainnya

Mengenal Metode Project Based Learning

Cara Membuat Video Pembelajaran dari HP

Tangram, Manfaat dan Fungsinya dalam Pembelajaran

Bagikan Artikel Ini!