Menilik Sejarah Kerajaan Majapahit - Materi Sejarah Kelas 10 9

Menilik Sejarah Kerajaan Majapahit – Materi Sejarah Kelas 10

Kali ini, kita bakal melakukan kilas balik ke masa lalu Kerajaan Majapahit mulai dari awal berdiri, silsilah kerajaan, kehidupan di kerajaan dari berbagai aspek, puncak kejayaan, hingga penyebab runtuhnya kerajaan tersebut.

Elo pasti udah nggak asing sama Kerajaan Majapahit. Mungkin sejauh ini, paling nggak elo pernah denger kalau kerajaan tersebut merupakan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia. Atau mungkin elo pernah baca juga istilah “Sumpah Palapa” dan tokoh-tokoh seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari sejarah Kerajaan Majapahit.

Mumpung elo udah tahu sedikit tentang kerajaan ini, kita perdalam lagi bareng-bareng yuk. Sini, gue ceritain tentang Kerajaan Majapahit!

Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit

Kalau ngomongin awal berdirinya Majapahit, elo harus tahu kalau pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya, menantu dari Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singosari. Lho, kok bisa? Gimana tuh, ceritanya?

Singkat cerita, Kertanegara, raja terakhir dari Kerajaan Singosari dulu pernah melakukan ekspedisi Pamalayu untuk mencegah kedatangan Mongol ke Singosari untuk kedua kalinya. Nah, waktu pasukan Mongol masih otw menginvasi Kerajaan Singosari, salah satu anak buah Kertanegara, Jayakatwang, yang merupakan Adipati Kerajaan Kediri, malah melakukan pemberontakan. Waktu itu Kerajaan Singosari kondisinya lagi “kosong” karena sedang dalam ekspedisi Pamalayu, jadi Singosari di-takeover oleh Jayakatwang.

Tiba-tiba, datanglah pasukan Mongol bersama dengan Raden Wijaya, menantunya Kertanegara. Mereka datang untuk mengalahkan Jayakatwang dan mengambil alih Kerajaan Singosari. Tapi, setelah itu, Raden Wijaya malah mengusir Mongol dari wilayah yang telah mereka rebut bersama. Jadi kayak “menusuk” dari belakang gitu, deh. Akhirnya, kerajaan tersebut jatuh ke tangan Raden Wijaya yang kemudian menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit.

Elo bisa nonton video belajar Zenius ini untuk cerita lebih rincinya, ya!

Peta Kerajaan Majapahit Zenius
Peta Kerajaan Majapahit (Dok. Wikimedia Commons)

Kerajaan Majapahit berdiri selama 227 tahun dari 1293 sampai 1520. Wilayah kekuasaan Majapahit menyebar dari ujung barat hingga timur Nusantara, bahkan sampai sedikit bagian dari Filipina, dengan ibukota yang terletak di Trowulan, Jawa Timur. Makanya sering dibilang kalau Kerajaan Majapahit dulu itu merupakan cikal bakal dari wilayah Indonesia yang sekarang.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit

Kalau diperhatikan, struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit itu nggak jauh beda sama yang kita pakai sekarang, lho, hanya beda istilahnya aja.

Pusat dari kerajaan yang dipimpin oleh raja di mana wilayah tersebut juga menjadi tempat tinggal raja beserta keluarganya disebut dengan Bhumi. Bisa dibilang, Bhumi merupakan ibukota negara yang jadi titik utama pelaksanaan sistem pemerintahan.

Berikutnya ada kerajaan bawahan yang disebut Nagara yang setingkat dengan provinsi. Pemimpinnya disebut paduka bhattara yang posisinya mirip dengan seorang gubernur. Pemimpin Nagara merupakan orang-orang kerajaan yang memang dipercaya oleh raja untuk memegang wilayah-wilayah tersebut.

Untuk wilayah setingkat kabupaten disebut Watek dengan pemimpin seorang wiyasa atau tumenggung, kemudian yang setingkat lebih tinggi dari kecamatan atau kademangan disebut Kuwu yang dipimpin oleh seorang lurah atau demang, setingkat desa disebut Warua dan dipimpin oleh seorang thani, dan akhirnya wilayah terkecil adalah Kabuyutan–setingkat dusun dan dipimpin oleh kepala dusun.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit Zenius
Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit (Arsip Zenius)

Sistem ini juga disebut dengan sistem mandala dimana wilayah yang berbeda-beda dengan otonomi daerah dan budayanya masing-masing berderajat sama atau “Mitreka Satata” dan tetap tunduk ke negara agung/kerajaannya.

Silsilah Kerajaan Majapahit

Silsilah Keluarga Kerajaan Majapahit Zenius
Silsilah Keluarga Kerajaan Majapahit (Arsip Zenius)

Tadi kan gue udah cerita kalau yang mendirikan Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Beliau kemudian menjabat sebagai raja dari tahun 1293 sampai 1309. Setelah itu, tahtanya diturunkan kepada anaknya, Jayanegara. Waktu dijadikan raja, Jayanegara masih berusia 15 tahun. Wah kalau emak elo tahu nih, entar bisa-bisa elo dibanding-bandingin, “Si Jayanegara aja umur 15 tahun udah jadi raja!”

Tapi nggak mudah buat Jayanegara, karena banyak pihak yang nggak sreg kalau anak semuda itu udah jadi raja, jadi ada beberapa pemberontakan. Setelah memimpin dari tahun 1309 hingga 1328, Jayanegara digantikan oleh Tribuana Tunggadewi. Nope, bukan anak dari Jayanegara melainkan salah satu kerabatnya. Tribuana Tunggadewi ini memimpin sebagai ratu di Kerajaan Majapahit dari tahun 1328 hingga 1350.

Tribuana Tunggadewi memiliki dua orang anak, yaitu Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Akhirnya, kita sampai ke raja yang namanya mungkin paling sering elo denger. Hayam Wuruk memimpin Kerajaan Majapahit dari tahun 1350 sampai 1389. Hayam Wuruk juga dikaruniai 2 orang anak. Wirabumi, yang merupakan putra Hayam Wuruk dari seorang selir dan Kusumawardhani yang merupakan putri sah Hayam Wuruk. Karena merupakan anak seorang selir, Wirabumi tidak dijadikan raja. Nah, ini ada ceritanya lagi, gue susulin nanti.

Kepemimpinan kerajaan diturunkan kepada Kusumawardhani yang menjabat sebagai ratu, berdampingan dengan suaminya yakni Wikramawardhana. Kalau elo perhatiin silsilahnya, Kusumawardhani dan Wikramawardhana tuh masih saudara. Dulu, masih lazim bagi orang-orang untuk menikah dengan kerabat yang masih cukup dekat relasinya.

Mereka memiliki anak bernama Rajasakusuma yang menjabat sebagai raja Majapahit dalam waktu yang singkat hingga beliau meninggal. Akhirnya, Rajasakusuma digantikan oleh anak-anak dari Wikramawardhana dengan beberapa selir, di antaranya Dewi Suwita, kemudian Brawijaya I, dan akhirnya Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Brawijaya V bertemu dengan Siu Ban Ci, seorang wanita dari Tiongkok dan melahirkan Raden Patah yang di kemudian hari menjadi pendiri dari Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Kalau elo mau denger lebih lanjut tentang silsilah Kerajaan Majapahit, elo bisa cus nonton video belajar Zenius ini.

Kalau kita telaah lebih jauh, sejarah itu banyak kaitannya dengan satu sama lain. Bayangin deh tadi kita mulai dari Kerajaan Singosari, terus Kerajaan Majapahit, eh tahu-tahu nemu Kerajaan Demak aja!

Kehidupan Kerajaan Majapahit

Ekonomi

Di bidang agraris, Kerajaan Majapahit memanfaatkan Sungai Brantas untuk pengairan. Banyaknya pegunungan aktif di wilayah kerajaan juga memberi keuntungan berupa tanah yang subur. Komoditas unggulan Kerajaan Majapahit waktu itu adalah beras. In fact, mereka jadi pengekspor beras terbesar di Nusantara.

Selain untuk pengairan, sungai juga digunakan untuk mengembangkan sektor maritim. Sungai Brantas difungsikan sebagai pelabuhan untuk mempersilakan orang-orang asing datang. Pendapatan pun datang dari hasil pemanfaatan pelabuhan tersebut.

Karena ekonominya semakin maju dan kompleks, nggak efektif dong kalau misalnya mau mempertahankan sistem barter, jadi Kerajaan Majapahit mengeluarkan terobosan berupa mata uang gobog & kepeng. Kalau di zaman sekarang, rupanya itu kayak uang-uang receh yang sering kita cemplungin ke toples celengan buat ditukar ke warung pas udah banyak jumlahnya, hehe.

Agama

Agama yang berkembang sepanjang masa Kerajaan Majapahit adalah agama Hindu dan Buddha, dengan lembaga agama Dharmadyaksa Ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa Ring Kasogatan untuk agama Buddha.

Meskipun dalam Kitab Sutasoma disebutkan bahwa kedua agama tersebut merupakan yang utama dalam kerajaan, namun agama-agama lain seperti agama Islam dan Kejawen tetap diperbolehkan, lho. Karena pada masa itu, rakyat Kerajaan Majapahit sangat bertoleransi.

Bahkan, semboyan negara Indonesia saat ini yakni Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya adalah cerminan dari toleransi di Kerajaan Majapahit dulu. Keren banget, ya! Bayangin deh kalau kita bisa pertahanin nilai toleransi itu sampai sekarang.

Politik

Pada tahun 1357, ketika Hayam Wuruk menjabat sebagai raja Majapahit, beliau ingin memperluas wilayah kekuasaan kerajaan dengan menguasai wilayah-wilayah yang ada di Nusantara, salah satunya adalah Kerajaan Sunda. Gimana caranya Hayam Wuruk mau menguasai Sunda adalah dengan menikahi salah satu putri Sunda yaitu Dyah Pitaloka. Anggapannya, kalau sang putri mau menikah dengan Hayam Wuruk, maka Sunda tunduk kepada Majapahit.

Dyah Pitaloka mengira Hayam Wuruk emang cuma mau nikah aja nggak ada maksud lain, eh ternyata Hayam Wuruk malah membawa pasukan ke Sunda hingga terjadilah Perang Bubat. Dyah Pitaloka kemudian bunuh diri sebagai bukti pengabdian terhadap Kerajaan Sunda.

Anyways, tadi gue udah janji bakal ceritain tentang Wirabumi, salah satu anak Hayam Wuruk dari seorang selir, kan? Nah, dulu Wirabumi ngerasa kalau dia pun berhak buat menjabat sebagai Raja. Dia pun memberontak. Alhasil pada tahun 1405, terjadilah Perang Paregreg antara Raja Wikramawardhana yang kala itu mendampingi istrinya yang menjadi ratu di Majapahit alih-alih Wirabumi yang menjadi raja. Tapi pada akhirnya. Raja Wikramawardhana lah yang memenangkan perang tersebut.

Sosial

Melalui perdagangan juga, Kerajaan Majapahit menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga. Bahkan nih ya, ada negara-negara di luar Nusantara, masih dalam cakupan Asia Tenggara yang meskipun secara geografis jauh banget dari wilayah Kerajaan Majapahit, tapi mereka tunduk kepada kerajaan tersebut. Maksudnya tunduk di sini lebih ke gimana mereka tuh sering memberikan upeti atau kiriman buat kerajaan tersebut.

Budaya

Pada masa berdirinya Kerajaan Majapahit, banyak juga dihasilkan karya-karya yang menjadi bagian dari budaya kerajaan. Di antaranya ada candi-candi seperti Candi Penataran di Blitar dan Candi Tikus di Trowulan.

Karya sastra juga ada banyak dan jadi salah satu sumber sejarah yang bikin kita ngerti tentang mereka meskipun udah terjadi ratusan tahun yang lalu. Mungkin elo pernah denger Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, Kitab Sutasoma dan Arjunawiwaha karangan Mpu Tantular, serta kitab-kitab lainnya.

Puncak Kejayaan Kerajaan Majapahit

Alright, tiba di puncak kejayaan Kerajaan Majapahit, nih. Momen ini kerap kali disangkutpautkan dengan sebuah sumpah yang dibuat oleh Mahapatih Gajah Mada. Beliau bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum bisa menyatukan Nusantara.

Sumpah ini diucapkan oleh Gajah Mada pada masa kepemimpinan Tribuana Tunggadewi, tapi dampaknya paling terasa ketika Hayam Wuruk menjadi raja. Maka dari itu, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Raja Hayam Wuruk bersama dengan Mahapatih Gajah Mada dianggap telah berhasil menyatukan kepulauan-kepulauan yang ada di Nusantara tanpa melakukan invasi melainkan dengan sistem mandala yang udah gue jelasin tadi. Jadi, setiap wilayah tetap punya kedaulatannya masing-masing meskipun tunduk kepada Kerajaan Majapahit.

Menurut Suma Oriental, Marco Polo, dan Ying Yai Sheng Lan, kejayaan Kerajaan Majapahit merupakan hasil dari kemakmuran ekonomi dan teraturnya infrastruktur yang mereka miliki. Dari segi agraris tadi mereka oke banget sih bisa jadi pengekspor beras paling utama. Terus di bidang maritim, mereka kembangin lalulintas perdagangan yang bagus banget dengan pembukaan pelabuhan-pelabuhan.

Juga, meskipun dalam Kerajaan Majapahit itu rakyatnya plural dari segi agama maupun latar belakang kehidupan, mereka toleransinya juga tinggi. Hal ini juga jadi faktor pendukung kejayaan kerajaan tersebut.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Sayangnya, di tengah-tengah kejayaan tersebut, ada aja faktor-faktor yang berkontribusi dalam runtuhnya Kerajaan Majapahit. Mulai dari konflik-konflik internal seperti Pemberontakan Kuti dan Perang Paregreg, meskipun berhasil diatasi, tapi pengaruhnya tetap cukup menggoyahkan ketangguhan Kerajaan Majapahit.

Kemunculan pusat-pusat perdagangan yang lain di antaranya adalah Malaka, pasar terbesar di Asia Tenggara saat itu, juga menyebabkan Majapahit kehilangan cahayanya. Para pedagang juga jadi jarang mampir ke Majapahit, lebih banyak berkumpul di Malaka.

Tadi gue jelasin kalau agama utama Kerajaan Majapahit kan Hindu-Buddha. Tapi, as time goes, ajaran Islam mulai masuk dari wilayah Jawa bagian utara. Perlahan-lahan, pengaruh ajaran Islam semakin meluas, mengurangi pengaruh Kerajaan Majapahit yang kemudian bergeser hingga ke Bali.

Elo bisa nonton video ini untuk cerita detailnya, ya!

Penutup

Fiuh, panjang juga ya, sejarah Kerajaan Majapahit. Ini baru bagian kecilnya aja, lho. Kalau elo tertarik, elo tentu bisa pelajari lebih jauh lagi cerita-cerita tentang kerajaan ini. Kayaknya kalau dibikin film bakal asyik, ya nggak sih?

Sebelum gue akhiri artikelnya, coba deh jawab pertanyaan ini:

Salah satu penyebab keruntuhan kerajaan Majapahit karena di Nusantara sudah mulai berdiri kerajaan bercorak Islam. Salah satunya kerajaan Demak yang ternyata raja pendirinya masih memiliki hubungan darah dengan Majapahit. Raja yang dimaksud adalah …

a. Raden Patah
b. Ki Ageng Pemanahan
c. Sultan Malik as-Saleh
d. Sultan Ali Mughayat Syah
e. Sultan Alanuddin Riayat Syah al-Kahar

Jawaban: a

Pembahasan: Raja terakhir Kerajaan Majapahit yaitu Brawijaya V menikah dengan seorang wanita Tiongkok bernama Siu Ban Ci. Mereka dikaruniai seorang anak bernama Raden Patah yang pada akhirnya mendirikan Kerajaan Demak.

Baca Juga:

Jejak Peninggalan Kerajaan Kalingga – Materi Sejarah Kelas 10

Silsilah dan Peninggalan Kerajaan Kutai – Materi Sejarah Kelas 10

Makam Raja Tutankhamun, Kisah Ditemukannya Mumi Firaun berusia 4000 tahun!

Referensi

Kartika Dewi, Yulia. Sejarah dan Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Majapahit. Diakses melalui situs https://www.academia.edu/29184455/Sejarah_Dan_Kehidupan_Sosial_Budaya_Kerajaan_Majapahit

Bagikan Artikel Ini!