tembok berlin

Tembok Berlin: Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhannya

Artikel ini akan membahas mengenai sejarah tembok Berlin, mulai dari kebangkitan hingga keruntuhannya

Sobat Zenius, kira-kira apa, sih, yang terlintas di pikiran lo saat mendengar negara Jerman? Tempat wisatanya yang bagus? Negara maju? Bayern Munchen sama Dortmund? Atau, mungkin, lo pernah mendengar cerita mengenai tembok Berlin?

Yap, di balik negaranya yang maju dengan tempat-tempat wisata yang eksotis beserta tim-tim sepak bola yang sangat terkenal di dunia, Jerman ternyata mempunyai sejarah yang cukup menarik untuk dikulik, lo! Saksi sejarah yang sampai saat ini seringkali kita dengar dari negara yang terletak di Eropa bagian tengah ini adalah tembok Berlin.

Well, perkenalkan nama gue Adieb dan gue akan coba berbagi cerita kepada sobat Zenius mengenai sejarah tembok Berlin, dari kebangkitan hingga keruntuhannya. 

“Loh, emangnya sejarahnya apaan, sih, kan cuman tembok biasa doang? Di Indonesia juga banyak kali”

Eits, nggak begitu, dong. Tembok Berlin bukan sekadar tembok rumah-rumah yang lo bayangin. Lebih dari itu, tembok ini bisa dikatakan sebagai ikon Perang Dingin antara Blok Barat yang dikuasai oleh Amerika Serikat dengan Blok Timur yang dikuasai oleh Uni Soviet. Dengan keadaan seperti itu, kota Berlin pun juga ikut terbagi menjadi dua bagian serta memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

Bagaimana? Makin penasaran, kan, sejarah berdiri dan runtuhnya tembok Berlin? Kalau iya, yuk, sobat Zenius simak pembahasannya di bawah ini sampai selesai!

Kebangkitan dan Tujuan Khusus Pembangunan Tembok Berlin

Kalau di Indonesia tahun 1961 bulan Agustus adalah pengesahan hari Pramuka, di Jerman, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1961 mulai terbentuk ikon Perang Dingin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur, yaitu Tembok Berlin atau juga dikenal dengan Berliner Mauer.

History menyebutkan bahwa pada awalnya pemerintah Republik Demokratik Jerman (RDJ) atau yang biasa dikenal dengan Jerman Timur mulai membentangkan kawat berduri dan membangun beton penghalang.

“Loh, emangnya kenapa kok tiba-tiba main bangun beton aja di tengah kota Berlin?”

Jadi, tujuan dari dibangunnya tembok Berlin adalah untuk mencegah adanya fasis yang masuk dari Jerman Barat ke Jerman Timur. Hal tersebut diyakini mampu merusak tatanan negara Jerman Timur yang berlandaskan pada sosialis dan komunis. Padahal, tujuan utamanya untuk mencegah terjadinya perpindahan massal orang-orang dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Sebab, semakin banyak orang pindah ke Jerman Barat, maka otomatis Jerman Timur kekurangan tenaga kerja.

“Loh, kok, bisa begitu? Emangnya kenapa, sih, kok orang-orang Jerman Timur pada mau pindah ke Jerman Barat?”

Baca Juga: Apa sih yang Menyebabkan Perang Dunia di Abad 20?

Perang Dunia 2 Memicu Terpecahnya Militer Jerman

Oke, mari kita tarik waktu lagi sampai pada tahun 1939-1945. Eits, emang ada apaan, tuh, di tahun itu? Indonesia sedang memperjuangkan kemerdekaan?

Hmm iya, sih, nggak salah. Akan tetapi, di belahan dunia yang lain, pada jangka waktu tahun di atas sedang terjadi Perang Dunia II, di mana dalam perang tersebut terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu Poros (Nazi Jerman, Italia, dan Jepang) dan kubu Sekutu (Prancis, Inggris, Uni Soviet, dan Amerika Serikat). 

“Memangnya, bagaimana, sih, awal  mula terjadinya perang dunia 2?”

Kalau lo pengin tau secara lengkap materi tentang perang dunia ke-2, lo bisa langsung mendapatkan materinya di Zenius, lo! Lengkap dengan penjelasan videonya. 

Di sini gue coba akan menjelaskan secara singkat dan sederhana mengenai awal mula terjadinya perang ke-2 dan berakhirnya seperti apa. Sebenarnya, awalnya, tuh, Nazi Jerman yang dipimpin oleh diktator ternama di dunia, Adolf Hitler melakukan penyerangan ke Polandia pada tanggal 1 September 1939. 

tembok berlin
Credit Image by BBC.com

Akibat penyerangan yang dilakukan Jerman, pihak Prancis dan Inggris yang memiliki perjanjian dengan Polandia juga menyatakan perang kepada Jerman pada tanggal 3 September 1939. Tahu soal ini, Hitler kaget, dong, karena awalnya ia mengira kalau perebutan tanah Polandia tidak akan ada konflik seperti saat ia merebut Austria dan Cekoslowakia. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku saat Jerman menyerang Polandia. Prancis dan Inggris pun tidak tinggal diam begitu saja.

Sayangnya, Prancis gagal menaklukkan Jerman. Perancis menyerah kepada Jerman pada tanggal 22 Juni 1940. Sedangkan Inggris Raya meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat, Franklin D Roosevelt untuk mengalahkan Jerman. Di sisi lain, Jerman juga mendapatkan bantuan dari Italia dan Jepang.

Perang dunia 2 pun kian memanas. Jerman yang tidak terhentikan terus melakukan invasi ke berbagai daerah, termasuk ke Uni Soviet. Bahkan, Jerman juga melakukan genosida terhadap bangsa Yahudi, baik itu pria, wanita, maupun anak-anak yang dikenal sebagai peristiwa Holocaust.

Nazi Jerman terus berupaya untuk melakukan invasi dari satu negara ke negara lainnya, mulai dari Denmark, Norwegia, dan daerah lainnya. Sampai pada akhirnya, tepat pada tahun 1944 kubu Sekutu menyerang habis-habisan negara Jerman. Setahun kemudian, 25 April 1945 pasukan tentara Uni Soviet mengepung kota Berlin. Lima hari kemudian, Hitler bunuh diri.

Lalu, kenapa, sih, kok, bisa Jerman kalah dalam perang dunia ke-2? Untuk mendapatkan penjelasannya secara lengkap, lo bisa baca artikel Zenius di sini.

Secara garis besar, Jerman bisa kalah pada perang dunia ke-2 karena salah satu faktornya adalah gaya kepemimpinan Hitler. Hitler dinilai merupakan pemimpin yang suka mengadu domba, bahkan pada prajuritnya sendiri. Kondisi tersebut membuat anak buah Hitler dinilai tidak kompak dan membuat Jerman kesulitan dalam mengejar ketertinggalan militer dan ekonomi.

Baca Juga: Latar Belakang Keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II
tembok berlin
Credit Image by nationalgeographic.co.uk

Kisah Di Balik Kebangkitan Tembok Berlin: Terpisahnya Jerman Barat dan Timur

Nah, sekarang kita sudah tahu, nih, kalau Jerman kalah dari Sekutu pada perang dunia 2. Dari kekalahan tersebut, ternyata Jerman diduduki oleh kubu Sekutu yang berisi Uni Soviet, Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris! 

Apa dampak dari kekalahan Jerman atas kubu Sekutu?

Sekutu yang berhasil menduduki Jerman membagi daerah jajahannya menjadi empat zona. Masing-masing zona diduduki oleh Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan Uni Soviet sebagaimana yang sudah disepakati dalam Konferensi Postdam pada Juli 1945. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Uni Soviet mengambil alih kekuasaan di wilayah Jerman Timur. Sedangkan kubu Sekutu mengambil kekuasaan di Jerman Barat. 

Sayangnya, hubungan yang tercipta antara Uni Soviet dengan Amerika, Prancis, dan Inggris tidak berjalan harmonis. Akibat hal itu, hubungan kerja sama yang telah terjalin antar empat negara tersebut justru berubah menjadi agresif. Suasana kompetitif pun kian terjadi antara Uni Soviet dengan kubu Sekutu lainnya.

Puncaknya, tepat pada Juni 1948 Uni Soviet melakukan Blokade Berlin, di mana blokade dilakukan di semua jalur kereta api hingga komunikasi yang terjadi antara Jerman Barat dan Timur. Melansir dari History, hal tersebut dilakukan guna membuat sekutu yang berada di Barat merasa kelaparan di luar kota. Sebab, pada dasarnya Jerman Timur yang berlandaskan sistem komunis tidak menyukai tatanan sistem kapitalis yang digunakan oleh Jerman Barat. Dengan keadaan seperti itu, Uni Soviet pun berencana untuk mengusir Sekutu dari Jerman lewat Blokade Berlin ini.

Menurut sobat Zenius apakah rencana Soviet tersebut berhasil mengusir mundur Sekutu dari Jerman?

Yap, rencana Blokade Berlin yang dilancarkan oleh Soviet gagal mengusir Sekutu. Pasalnya, Sekutu tidak kehabisan akal selama blokade tersebut. Alih-alih mundur, Sekutu justru melancarkan taktik cerdas yang bernama Berlin Airlift, di mana Sekutu memasok sektor pangan, bahan bakar, dan lain-lain melalui udara. Tercatat selama lebih dari satu tahun, Sekutu berhasil memasok sekitar 2,3 juta ton makanan, bahan bakar, dan barang-barang lainnya ke Berlin Barat.

Alhasil, Uni Soviet pun mencabut Blokade Berlin pada tahun 1949.

Waktu demi waktu pun terus berjalan. Konflik antara Jerman Barat dan Timur sempat mereda. Akan tetapi, tepat pada akhir tahun 1950-an sudah banyak orang-orang yang tidak betah tinggal di Jerman Timur. Alasannya ada berbagai macam faktor, nih, Sobat Zenius, mulai dari kehidupan yang sangat represif hingga keadaan ekonomi. Kebanyakan orang yang melarikan diri dan berpindah dari Jerman Timur ke Jerman Barat adalah orang-orang muda yang terlatih. 

Sobat Zenius mau tahu, gak, berapa jumlah orang yang melarikan diri dari Jerman Timur?

Di antara tahun 1949-1961 tercatat hampir 3 juta dari 18 juta orang yang pergi meninggalkan Jerman Timur. Mendekati dibangunnya tembok Berlin, tepatnya pada Juni 1961, tercatat sekitar 19.000 orang pergi meninggalkan Jerman Timur. Lalu bulan berikutnya ada sekitar 30.000. Dalam 11 hari pertama bulan Agustus, 16.000 pergi melintasi perbatasan Jerman Timur ke Jerman Barat. Lalu, pada tanggal 12 Agustus sekitar 2.400 orang pergi meninggalkan Jerman Timur dalam satu hari. Jumlah tersebut tercatat sebagai jumlah orang terbanyak yang pergi dari Jerman Timur dalam satu hari.

Baca Juga: Bener Ga Sih Kalau Dunia Makin Membaik?

Dibangunnya Tembok Berlin

Tembok Berlin: Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhannya 9
Credit Gif by giphy.com

Jika Sobat Zenius jadi pemerintah Jerman Timur, apa yang akan lo lakukan saat banyak orang yang pergi meninggalkan wilayah lo? 

Yap, kalau lo berpikir hendak membangun tembok di tengah kota, berarti jangan-jangan lo pemerintah Uni Soviet.

Menanggapi perpindahan yang cukup masif dari Jerman Timur ke Jerman Barat, Uni Soviet akhirnya mengambil langkah, nih.

Pembangunan tembok Berlin terjadi pada tanggal 12-13 Agustus 1961 di pertengahan malam, pekerja konstruksi dan tentara mulai membangun tembok Berlin di saat hampir semua masyarakat sedang terlelap dalam tidurnya. Mereka menggali lubang untuk memasang tiang beton dan memasang kawat berduri di sepanjang perbatasan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Bahkan, tidak hanya itu saja Sobat Zenius, para kru yang bertugas juga memotong kabel telepon yang menghubungkan antara Jerman Barat dan Timur serta menutup akses jalur kereta api.

Keesokan paginya, para warga Berlin terkejut dengan adanya tembok yang membatasi geraknya. Dengan adanya tembok tersebut, aktivitas warga Jerman, khususnya Berlin pun sangat terbatas. Dahulu, warga Jerman Timur dapat menikmati opera, pertandingan sepak bola, dan hiburan lainnya dengan mengunjungi Jerman Barat. Sekarang, semua itu sudah tidak bisa dilakukan lagi. Akses jalan menuju Jerman Barat ditutup begitu saja dengan tembok Berlin.

Sobat Zenius penasaran, gak, kira-kira berapa panjang tembok Berlin?

Total panjang tembok Berlin adalah 96 mil atau 155 kilometer. Dalam pembangunannya, tembok Berlin memang mengalami transformasi. Pada awalnya, tembok Berlin hanya berupa kawat berduri yang diletakkan sepanjang 100 mil di perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur. Akan tetapi, setelah itu tembok Berlin dibangun dengan beton dan kawat berduri di atasnya. Lalu seiring berjalannya waktu, tembok Berlin mulai direnovasi dan terlihat sangat kokoh dengan tinggi 4 meter dan panjang 155 kilometer.

Tembok Berlin memang dibangun untuk mencegah mobilitas masyarakat dari Timur ke Barat. Akan tetapi, tidak jarang juga orang-orang yang mencoba untuk melintasi tembok tersebut. Lewat ThoughtCo., tercatat ada 5.000 orang yang berhasil melintasi tembok Berlin dengan selamat. Percobaan yang dilakukan oleh orang-orang pun bermacam-macam, nih, Sobat Zenius. Ada yang mencoba melintasi tembok Berlin dengan melompat keluar dari jendela yang berdekatan dengan tembok, memanjat melewati perbatasan, menggunakan balon udara panas, hingga merangkak melalui selokan. Di sisi lain, tercatat setidaknya ada 140 orang tewas karena percobaan melintasi tembok tersebut.

Runtuhnya Tembok Berlin

penyebab runtuhnya tembok berlin
Credit Image by Luis Veiga via Thought.Co

Dari cerita-cerita di atas, Sobat Zenius udah mulai tahu, nih, apa saja cerita di balik dibangunnya tembok Berlin. Nah, setelah tembok Berlin dibangun, pasti sobat Zenius juga penasaran, dong, apa, sih, penyebab runtuhnya tembok Berlin dan bagaimana kisahnya?

Secara singkat, keruntuhan tembok Berlin, tuh, juga terjadi secara tiba-tiba, sama kayak terbangunnya tembok Berlin yang tiba-tiba didirikan di tengah malam. Kendati demikian, sebelum temboknya benar-benar runtuh, memang ada beberapa tanda yang dialami oleh Uni Soviet, negara komunis yang menduduki Jerman Timur. 

Pada tahun 1980, Uni Soviet menghadapi masalah pada perekonomian dan kekurangan pangan. Selain itu, pembangkit listrik Chernobyl yang berada di Ukraina pun meledak pada April 1986. Hal tersebut menjadi salah satu tanda-tanda keruntuhan yang dialami komunis, tak terkecuali yang bermukim di Jerman Timur.

Akan tetapi, pemimpin komunis di Jerman Timur bersikeras bahwa mereka hanya perlu melakukan perubahan moderat ketimbang revolusi secara drastis. Kendati demikian, fakta berkata lain. Komunis-komunis yang tersebar di berbagai daerah seperti Polandia, Hongaria, dan Cekoslowakia juga mulai terlihat goyah pada tahun 1988 dan 1989.

Baca Juga: Mikhail Gorbachev: Pemimpin Terakhir Uni Soviet Sekaligus Bintang Iklan Pizza Hut

Di Jerman Timur sendiri terjadi protes besar-besaran terhadap pemerintah. Bahkan, ada sekitar 70.000 orang turun ke jalan pada tanggal 09 Oktober. Hal tersebut berkaitan dengan munculnya desakan yang diberikan oleh Jerman Barat kepada Timur untuk merealisasikan pemilu bebas. Memasuki tanggal 30 Oktober, orang-orang yang protes dan mendukung adanya demokrasi di Jerman Timur naik hingga setengah juta. Desakan demi desakan yang dilancarkan oleh warga membuat pemerintah mengundurkan diri.

Tepat pada tanggal 09 November 1989, pejabat pemerintahan Jerman Timur Gunter Schabowski, mengumumkan bahwa relokasi permanen dapat dilakukan melalui semua pos pemeriksaan antara antara Jerman Timur ke Jerman Barat. Dalam artian lain, kebijakan membuka tembok dilakukan pasa masa pemerintahan Gunter. Setelah pengumuman tersebut, warga pun merasa kebingungan.

“Kira-kira kalau gue melintasi tembok Berlin bakal di dor enggak, ya” Mungkin itu yang ada di benak warga Jerman saat itu

Nyatanya, saat warga mendekati perbatasan, penjaga tembok membiarkan orang-orang berlalu-lalang. Tepat sekitar pukul 21.00 warga berbondong-bondong melintasi perbatasan dan berakhirlah cerita tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat.

Eits, kalau lo mau tahu juga materi mengenai tembok ini yang dijelaskan lewat video, lo juga bisa mendapatkannya di sini.

Bagaimana, nih, menurut Sobat Zenius cerita mengenai sejarah tembok Berlin? Sangat menarik, kan? Kalau lo punya cerita lain yang mungkin belum tertuang atau punya ide topik lain buat dibahas di artikel Zenius, jangan ragu buat komentar, ya!

Referensi:


https://www.history.com/topics/cold-war/berlin-wall#section_4
https://www.britannica.com/event/Holocaust
https://www.defense.gov/News/Inside-DOD/Blog/article/2062719/the-berlin-airlift-what-it-was-its-importance-in-the-cold-war/
https://www.thoughtco.com/the-berlin-wall-28-year-history-1779495?utm_source=pocket_mylist
https://www.berlin.de/mauer/en/history/victims-of-the-wall/
https://www.bbc.com/news/world-europe-50013048
https://time.com/5720386/berlin-wall-fall/
Bagikan artikel ini