kritik sastra dan esai zenius

Perbandingan Kritik Sastra dan Esai – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12

Materi Bahasa Indonesia kelas 12 dan Gap Year ini membahas persamaan dan perbedaan kritik sastra dan esai, hingga contoh soal dan pembahasan.

Hola! Ketemu sama gue, Citra. Kali ini, gue akan ngajak lo buat belajar perbandingan kritik sastra dan esai. Btw, lo udah baca belum materi dari Zenius tentang kritik sastra dan esai? Kalau seumpama belum, gue kasih gambaran singkatnya aja ya…

Kalau denger kata “kritik”, apa hal pertama yang ada di pikiran lo? Apakah sesuatu yang negatif, pedes, sepedes omongan tetangga?

So, kritik adalah kupasan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruknya suatu hasil karya, pendapat, dan semacamnya. Kalau lo nyebut kritik sastra, berarti ulasan tentang-baik buruknya suatu karya sastra. Karya sastra juga dibagi menjadi tiga jenis, yaitu prosa, drama, dan puisi. Jadinya ya…kritik sastra mengulas plus dan minusnya ketiga jenis itu. Biar lebih paham, lo bisa materi tentang struktur dan contoh kritik sastra di sini

Terus, kalau esai apaan?

Menurut KBBI, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu, dari sudut pandang pribadi penulisnya. Jadi, penulis fokus pada suatu permasalahan yang menarik perhatian buat dibahas dengan menggunakan pendapatnya sendiri. Buat mempelajari esai lebih dalam, lo bisa baca di sini ya…

“Apa bedanya kritik sastra sama esai, qaq?”

Perbandingan Kritik Sastra dan Esai – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12 25

Nah…baru aja mau gue bahas nih. Yuk, kita cari tahu perbandingan kritik sastra dan esai!

Perbedaan Kritik Sastra dan Esai

Oke, buat membandingkan kritik sastra dan esai, kita perlu tahu persamaan dan perbedaannya. Sekarang, gue mau ngajak lo buat nyari tahu apa perbedaan kritik sastra dan esai.

PerbedaanKritik SastraEsai
Subjek ulasanHanya terbatas ngomongin tentang karya sastra berupa drama, puisi, dan prosa (cerpen, novel).Cakupan masalahnya lebih luas. Esai ngomongin masalah apa aja, termasuk sastra. Esai juga bisa ngebahas masalah sosial, politik, dan budaya.
Struktur1. Pembuka kritik sastra berupa ringkasan atau sinopsis cerita.

2. Tubuh (isi) kritik sastra yaitu pembahasan. Pembahasan sesuai dengan teori pendekatan yang digunakan oleh penulis.

3. Penutup pada kritik sastra berupa penilaian. Penulis kritik memberi penilaian sesuai dengan pembahasan melalui pendekatan yang digunakan.
1. Pembuka esai berupa pendahuluan yang berisi argumen penulis (tesis).

2. Tubuh (isi) esai terdiri dari tiga bagian, yaitu:
– Konteks, yakni limitasi masalah diomonginnya di mana. Misalnya, Jakarta, Bandung, atau tempat lain.
– Masalah. Argumen yang ada di pembuka dijabarin di sini, apa aja masalah yang timbul.
– Solusi yang ditawarkan oleh penulis.

3. Penutup esai nggak ngomongin penilaian, tapi simpulan dari tesis yang dibuat; apa aja masalahnya, gimana solusinya, dan gimana simpulan akhirnya.
Cara pandang penulisanBersifat objektif, karena pembahasan berdasarkan pendekatan yang dipercaya semua orang dan valid.Bersifat subjektif, karena nggak menggunakan teori pendekatan dan dibuat berdasarkan argumen sendiri. Konteks, masalah, dan solusi juga berasal dari pandangan pribadi penulis.
Perbedaan kritik sastra dan esai.
Perbandingan Kritik Sastra dan Esai – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12 26
Ilustrasi perbedaan kritik sastra dan esai. (Foto: Zenius Education)

Baca Juga: Novel – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12

Persamaan Kritik Sastra dan Esai

Meskipun kritik sastra dan esai punya banyak perbedaan, baik dari segi struktur, kajian, dan cara pandang penulisan, tapi mereka berdua juga punya persamaan, lho!

Persamaan ini ada pada kaidah kebahasaan. Lo udah tahu belum, apa itu kaidah kebahasaan?

Kaidah kebahasaan berkaitan dengan aturan kebahasaannya, kata-kata yang digunakan dalam menyusun tulisan.

Perbandingan Kritik Sastra dan Esai – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12 27
ilustrasi menulis esai. (Foto: Freepik)

Ada dua persamaan kritik sastra dan esai dalam hal kaidah kebahasaan, antara lain:

1. Sama-sama menggunakan adverbia frekuentatif. So, adverbia frekuentatif adalah kata keterangan yang menunjukkan seberapa sering kita melakukan sesuatu.

Contoh: selalu, biasanya, sering, banyak, kadang-kadang.

Gue kasih contoh ya…

Kritik sastraEsai
Judul: Semiotika dalam Novel “Cinta” Karya Anggun

Novel ini terdapat banyak unsur semiotik yang dapat diambil sebagai bahan pembelajaran.

Adverbia frekuentatif dalam contoh kritik sastra di atas  adalah banyak.
Judul: Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Tidak hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga harus bahu-membahu bersama pemerintah untuk dapat meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan itu penting, dan dapat selalu mengawasi kegiatan pendidikan di indonesia..

Adverbia frekuentatif dalam contoh esai di atas adalah selalu.
Penggunaan adverbia frekuentatif dalam kritik sastra dan esai.

2. Sama-sama menggunakan konjungsi. Konjungsi adalah kata sambung yang digunakan buat menghubungkan antar kata dalam sebuah kalimat, atau menghubungkan antar kalimat dalam sebuah paragraf.

Contoh: selain itu, kemudian, lalu, sebagai contoh, dengan demikian.

Gue kasih contoh lagi penggunaan konjungsi dalam kritik sastra dan esai…

Kritik sastraEsai
Judul: Semiotika dalam Novel “Cinta” Karya Anggun

Dari hasil pengkajian, dapat diperoleh simpulan bahwa unsur semiotik dalam novel Cinta, sebagai contoh, ikon yang….

Konjungsi dalam contoh kritik sastra di atas  adalah sebagai contoh.
Judul: Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Gaji guru di desa jauh lebih rendah dibanding gaji guru di kota. Selain itu, kualitas guru di perkotaan cenderung lebih bagus dengan adanya pelatihan secara berkala yang jarang terjadi di pedesaan.

Konjungsi dalam contoh esai di atas adalah selain itu.
Penggunaan konjungsi dalam kritik sastra dan esai.

Baca Juga: Teks Cerita Sejarah, Konsep Struktur dan Ciri Kebahasaan! – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12

Contoh Soal dan Pembahasan

Oke, tadi gue udah jelasin tentang perbandingan kritik sastra dan esai. Sekarang, coba uji kemampuan lo dengan ngerjain soal di bawah ini!

Kritik sastra : Buku puisi ini menggunakan banyak diksi yang sulit dimengerti.

Esai : Saat pandemi virus korona, dinas kesehatan menganjurkan cuci tangan sesering mungkin.

Persamaan kritik sastra dan esai pada contoh di atas terlihat pada ….

A. penggunaan adverbia frekuentatif yang ditandai oleh kata banyak pada contoh kritik sastra dan kata sesering pada contoh esai

B. contoh kritik sastra menganalisis isi buku puisi, sedangkan contoh esai berisi anjuran

C. keduanya menggunakan kalimat yang jelas

D. contoh kritik sastra di atas memiliki struktur kalimat yang sama dengan contoh esai

E. penggunaan konjungsi pada kedua contoh di atas

Menurut lo, apa jawabannya?

Pembahasan

Sebelum kita menganalisis jawaban mana yang benar, kita cari dulu persamaan kritik sastra dan esai. Masih inget kan, persamaan kritik sastra dan esai?

Yuk, flashback lagi. So, ada dua persamaan kritik sastra dan esai, yaitu:

  1. Sama-sama adverbia frekuentatif. Adverbia frekuentatif adalah kata keterangan yang menjelaskan seberapa sering sesuatu itu keluar, atau kata keterangan tentang frekuensi. Contoh: banyak, sering, kadang, jarang, biasanya, selalu.
  2. Penggunaan konjungsi. Konjungsi yaitu kata sambung yang menghubungkan antar kata dalam sebuah kalimat, atau menghubungkan antar kalimat dalam sebuah paragraf. Contoh: serta, sedangkan, agar, oleh karena itu, dengan demikian.

Menurut lo, ada nggak adverbia frekuentatif atau konjungsi di dalamnya, atau dua-duanya ada?

Yuk, kita lihat…

Kritik sastra : Buku puisi ini menggunakan banyak diksi yang sulit dimengerti.

Esai : Saat pandemi virus korona, dinas kesehatan menganjurkan cuci tangan sesering mungkin.

Berdasarkan contoh kalimat di atas, adverbia frekuentatif dalam kritik sastra adalah banyak. Sementara itu, adverbia frekuentatif dalam esai adalah sesering.

Terus, ada nggak konjungsinya? Kalau disimak lagi, nggak ada konjungsi di dalam keduanya. Mungkin lo sempat menduga kalau kata “Saat” dalam kalimat esai di atas adalah konjungsi. Tapi, itu bukanlah konjungsi, melainkan keterangan waktu.

Jadi, persamaannya ada pada adverbia frekuentatif.

Oke, sekarang kita bedah satu persatu opsi jawabannya.

A. penggunaan adverbia frekuentatif yang ditandai oleh kata banyak pada contoh kritik sastra dan kata sesering pada contoh esai

Opsi A benar. Karena seperti yang udah gue jelasin barusan, adverbia frekuentatif pada contoh kritik sastra dalam soal adalah banyak, sedangkan adverbia frekuentatif pada contoh esai adalah sesering. So, kita keep dulu jawaban ini.

B. contoh kritik sastra menganalisis isi buku puisi, sedangkan contoh esai berisi anjuran

Opsi B justru nunjukin perbedannya, bukan persamaannya. Jawaban ini juga nggak ngasih tahu persamaannya apa. Jadi, opsi B nggak masyuk.

C. keduanya menggunakan kalimat yang jelas

Opsi C nggak jelas maksudnya apa. Nggak dijelasin kalimat yang jelas itu kayak gimana. Nggak disebutin juga apa persamaan kritik sastra dan esai. So, opsi C bukan jawaban yang benar.

D. contoh kritik sastra di atas memiliki struktur kalimat yang sama dengan contoh esai

Kita lihat lagi ya contoh dalam soalnya…

Kritik sastra : Buku puisi ini menggunakan banyak diksi yang sulit dimengerti.

Esai : Saat pandemi virus korona, dinas kesehatan menganjurkan cuci tangan sesering mungkin.

Kalau lo lihat pola kalimat dari keduanya, kritik sastra dan esai punya pola kalimat yang berbeda.

Berdasarkan contoh di atas, pola kalimat kritik sastra adalah: Subjek + Predikat + Objek

Subjek = Buku puisi ini

Predikat = menggunakan

Objek = banyak diksi yang sulit dimengerti

Sementara itu, pola kalimat esai pada contoh di atas adalah: Keterangan + Subjek + Predikat + Objek

Keterangan = Saat pandemi virus korona

Subjek = dinas kesehatan

Predikat = menganjurkan

Objek = cuci tangan sesering mungkin.

So, opsi D justru nunjukin perbedaan pola kalimat kritik sastra dan esai. Jadi, bukan opsi D jawabannya.

E. penggunaan konjungsi pada kedua contoh di atas

Tadi udah kita bahas kalau nggak ada konjungsi pada kedua contoh, sehingga opsi E salah.

Setelah kita menganalisis satu persatu opsi jawaban, maka jawaban yang benar adalah A. penggunaan adverbia frekuentatif yang ditandai oleh kata banyak pada contoh kritik sastra dan kata sesering pada contoh esai.

Penutup

Finally, kita udah belajar bareng tentang perbandingan kritik sastra dan esai, lengkap dengan contoh soal dan pembahasannya. Semoga, lo bisa paham dan ngerjain dengan mudah kalau lo diminta buat membandingkan kritik sastra dan esai. Untuk selengkapnya, lo bisa akses materi kritik sastra dan esai di aplikasi Zenius. Lo juga bisa ikut live class buat tanya langsung sama tutor kece Zenius. Jangan lupa di-download dulu aplikasinya! Dan…gue Citra, pamit dulu. Sampai ketemu pada materi selanjutnya! See ya!

Baca Juga Artikel Lainnya

Surat Lamaran Kerja – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12

10 Salah Kaprah dalam Bahasa Indonesia

Materi Bahasa Indonesia: Resensi Buku

Bagikan artikel ini