novel

Materi Bahasa Indonesia Kelas 12: Novel

Artikel ini berisi materi bahasa Indonesia kelas 12 tentang novel. Pembahasan di dalamnya meliputi struktur, ciri kebahasaan, dan unsur intrinsik dan ekstrinsiknya

“Gue kadang susah, bang, belajar soal novel”

“Iya bener, panjang banget soalnya bisa sampai 300 halaman, kan”

Lo yang saat ini masih duduk di kelas 12 SMA mungkin merasa kebingungan dalam belajar novel. Yap, karya sastra yang satu ini biasanya terdiri dari ratusan halaman lebih terkadang membuat kita agak malas membacanya. Mungkin aja, lo baru baca beberapa halaman, lalu mata udah merem melek dan akhirnya bukunya cuman berada dalam genggaman tangan.

Pada dasarnya, belajar materi novel itu gak sesulit yang lo bayangkan, kok. Gue dulu juga sempet kesulitan dalam menentukan alurnya seperti apa, tokohnya siapa aja, dan juga unsur ekstrinsiknya apa aja. Akan tetapi, setelah gue coba untuk belajar lebih sabar, gue jadi tau dan justru ketagihan dalam belajar materi novel. Bahkan, sampai sekarang gue masih suka baca-baca novel dan kalau lagi senggang menentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya.

Nah, lo bisa, nih, mulai belajar materi yang satu ini dari dasar-dasarnya dulu. Kayak apa saja unsur intrinsik dan ekstrinsik yang dipakai, ciri kebahasaan, dan juga unsur dan ciri kebahasaannya itu sendiri.

Well, balik lagi bersama gue Adieb. Kali ini gue akan coba mengupas tuntas mengenai materi belajar kelas 12 SMA, yaitu novel. Simak baik-baik, ya, guys!

Sebelumnya, nih, lo tuh suka baca novel gak, sih?

View Results

Loading ... Loading ...

Apa Itu Novel?

novel adalah
Credit Gif by giphy.com

Eits, santai jangan buru-buru gitu bahas novelnya. Kita mulai dulu, nih, membahas mengenai pengertiannya itu sendiri.

Kalau dilihat dari KBBI, novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. 

Cukup jelas, ya, pengertian dari KBBI? Apa ada yang belum dipahami? Yap, kalau mengacu pada KBBI, novel adalah genre prosa yang berarti termasuk dalam karya sastra. Terus, jangan heran juga kalau novel-novel biasanya terdiri dari 100 halaman atau lebih. Sebab, dari pengertian KBBI aja merupakan sebuah karangan prosa yang panjang.

Nah, sepanjang cerita biasanya diisi, nih, dengan pengenalan tokoh, konflik, klimaks, hingga solusi dari sebuah cerita. Dan, konfliknya pun gak cuman satu doang, lho! Biasanya, konflik yang disediakan penulis sangat kompleks untuk menarik minat para pembaca. Hal-hal ini akan gue coba bahas di penjelasan selanjutnya, ya! Santai hehehe.

Novel itu sendiri diambil dari bahasa Italia “Novella” yang berarti baru, berita, atau cerita pendek mengenai sesuatu yang baru.

Baca Juga: 10 Salah Kaprah dalam Bahasa Indonesia

Struktur Novel

novel
Credit Image by PxHere.com

Di atas kita sudah paham kalau novel adalah prosa panjang yang merangkai sebuah cerita. Nah, pembahasan ini akan memudahkan lo untuk mengidentifikasi bagian-bagian di dalamnya, nih. Siap buat menyimak? Lo juga bisa nyiapin cemilan sama kopi atau teh dulu sambil baca bagian ini.

Seperti yang udah gue sebut di atas, novel ini sangat panjang. Di dalamnya ada struktur-struktur yang turut membangun cerita di dalamnya. Penasaran apa saja strukturnya? Yuk, disimak di bawah ini!

1. Orientasi

Struktur novel yang satu ini wajib lo ketahui, nih. Yap, orientasi biasanya berisi pengenalan dan berada di awal-awal novel. Misalnya, pengenalan tokoh, latar tempat dan suasana, serta waktu. 

Saat lo baca novel, si penulis pasti udah menggambarkan dengan jelas, nih, mengenai struktur orientasi ini. Misalnya, novel A berisi tokoh yang bernama Samsul, Bambang, dan Paijo. Lalu, latar tempatnya berada di SMA dan suasananya begitu ramai orang-orang belajar di sekolah. Waktunya terjadi pada masa-masa SMA.

2. Komplikasi

Selanjutnya, struktur yang perlu lo ketahui adalah komplikasi. Secara garis besar, komplikasi berisi rangkaian masalah atau konflik yang terjadi di dalam novel.

“Weh, gue suka, nih, bang konflik-konflik begini pasti ada baku hantamnya”

Yee dasar netizen hehe. Memang, dalam sebuah novel, konflik menjadi bumbu-bumbu yang membuat cerita semakin enak dinikmati oleh para pembacanya. Dan seperti yang udah gue sebutkan di atas, konfliknya gak cuman satu doang! Jadi, ada 2 atau lebih konflik yang terjadi di dalam novel dan bisa lo temui. Konflik tersebut akan membuat lo tenggelam dalam cerita yang dibawakan oleh si penulis.

3. Klimaks

Setelah konflik demi konflik tercipta, tentunya konflik tersebut akan semakin memuncak, dong. Nah, kalau lo pernah nemuin hal kayak gini di dalam novel, berarti itu udah disebut sebagai klimaks. Dalam artian lain, klimaks adalah puncak dari komplikasi. 

Nah, biasanya pas masuk bagian ini para pembaca semakin tertarik untuk melanjutkan baca cerita dalam novelnya. Pasalnya, lo pasti penasaran, kan, apa yang terjadi pada tokoh-tokoh setelah mengalami konflik demi konflik.

4. Resolusi

Struktur novel selanjutnya adalah resolusi. Resolusi itu biasanya berisi penyelesaian dari masalah utama serta menjelaskan nasib-nasib dari para tokoh setelah menyelesaikan konflik. 

5. Koda

Koda itu apa, sih? Kode? Ya, bisa dibilang seperti itu. Pada dasarnya, koda ini adalah penjelasan mengenai cerita atau kehidupan yang akan dijalani oleh tokoh di kemudian hari. Biasanya, koda ini juga berisi kode dari si penulis kalau ada, nih, lanjutan ceritanya di buku yang kedua. 

Kalau bisa dibilang, kayak credit yang biasa lo temui di film Marvel, lah. Kan, sering, tuh, di bagian akhir film ada credit yang menjelaskan bakal ada kelanjutannya dari film tersebut.

Kalau lo mau mempelajari struktur novel lewat penjelasan video yang menarik, lo juga bisa, nih, mendapatkannya dari Zenius! Tinggal klik link ini aja, ya!

Baca Juga: Materi Bahasa Indonesia: Teks Laporan Hasil Observasi

Ciri Kebahasaan Novel

novel adalah
Credit Image by Pixabay.com

Gimana? Udah ada sedikit gambaran, kan, mengenai struktur novel? Kalau udah paham mengenai struktur di atas, lo jadi lebih mudah, nih, buat mempelajari ataupun melakukan riset.

Setelah pembahasaan struktur novel, mari kita beralih ke pembahasaan tentang ciri kebahasaannya. Kira-kira apa saja, sih, ciri kebahasaannya? Siapin lagi cemilan dan minumannya dulu kalau udah abis!

1. Kata ganti orang

Lo mungkin udah gak asing dengan materi ini. Yap, kata ganti orang merupakan salah satu ciri kebahasaan yang sering kita temui di dalam novel. Istilah lain dari kata ganti orang adalah pronomina persona.

Nah, dalam praktiknya, kata ganti orang ini terbagi menjadi tiga bagian, guys, yaitu kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti orang ketiga. 

Kata ganti orang pertamaKata ganti orang keduaKata ganti orang ketiga
AkuKamuDia
SayaAnda, Engkau, KauBeliau
GueLoIa
-ku (kepemilikan)-mu (kepemilikan)-nya (kepemilikan)
Kita dan kami (jamak)Kalian (jamak)Mereka (jamak)
Tabel kata ganti orang

Sebenarnya, kita juga sering menggunakan ciri kebahasaan ini dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, dalam percakapan di bawah ini:

“Hari ini aku mau main ke rumahmu dong. Orang tuamu ada di rumah gak?”

“Main aja ke sini. Kebetulan mereka juga lagi pergi ke luar kota”

Dari percakapan tersebut bisa ditemukan berbagai macam kata ganti, seperti “aku”, “-mu”, hiingga “mereka”.

Dalam novel juga begitu. Kalau terus-terusan memakai nama tokoh, otomatis kalimatnya agak aneh untuk dibaca. Contohnya:

“Putra sedang beranjak dari kasur. Setelah itu, Putra akan mandi karena kebetulan hari ini Putra ada acara di sekolah”

Bagaimana? Aneh, kan, bacanya? Coba kalau begini:

“Putra sedang beranjak dari kasur. Setelah itu, ia akan mandi karena kebetulan hari ini ada acara di sekolahnya”

2. Kalimat deskripsi latar

Ciri kebahasaan novel yang selanjutnya adalah kalimat deskripsi latar. Kalau berbicara mengenai latar, lo mungkin terbayang-bayang tiga hal, ,yaitu waktu, tempat, dan suasana. Nah, definisi kalimat deskripsi latar adalah kalimat terperinci yang menjelaskan mengenai waktu, tempat, dan suasana supaya para pembaca dapat merasakan apa yang disampaikan dan menulis dan bermain dengan imajinasinya.

Lo pasti pernah, kan, menemukan kalimat terperinci seperti ini:

“Sinar mentari menyelimuti bumi, menyelinap di antara pepohonan dan embun. Udara pagi sangat sejuk untuk dihirup. Ditambah, hijaunya sawah di pedesaan serta birunya langit semakin menyempurnakan hari ini. Tak ada polusi udara dari kendaraan seperti motor atau mobil. Hanya suara kicauan burung, sapaan orang, serta alunan syahdu alam”

Di situ ada kalimat terperinci dari latar, waktu, dan tempat, yang bisa lo temukan. Gak mungkin banget kalau misalnya penulis cuman menggambarkan begini doang:

“Di pagi hari desa sepi tidak ada motor dan mobil”

Kalau cuman seperti kalimat di atas, sudah pasti pembaca gak akan bisa berimajinasi lebih dalam seperti kalimat pertama. Nah, disinilah pentingnya menggunakan kalimat deskripsi latar dalam ciri kebahasaan novel.

3. Kalimat deskripsi penokohan

Ciri kebahasaan selanjutnya adalah kalimat deskripsi penokohan. Sebenarnya, ini gak beda jauh sama kalimat deskripsi latar. Hanya saja, kalau ciri kebahasaan yang satu ini mendeskripsikan penokohan, ya, bukan latar.

“Bedanya tokoh sama penokohan apa?”

Nah, mungkin lo masih bingung mengenai kedua hal tersebut. Simpelnya, kalau tokoh itu orangnya, kalau penokohan itu watak dari orang tersebut. 

Di novel lo pasti menemukan bagian di mana si penulis menggambarkan watak tokoh dengan detail, mulai dari ciri fisiknya, ciri-ciri kejiwaannya, hingga bagaimana hubungannya dengan lingkungan sekitar.

Supaya lebih mudah dipahami, gue akan ngasih contoh kalimat deskripsi penokohan:

“Pria bernama Samsul tersebut mempunyai paras yang garang dengan mata yang sayu. Di pelipis mata dan pipinya terdapat bekas luka goresan pisau. Ia cukup pemarah dan emosional orangnya. Tak heran jika ia sering bertengkar dengan teman-temannya. Hubungannya dengan temannya pun merenggang. Hal itu juga ia rasakan dengan orang tuanya. Samsul bahkan jarang bertegur sapa dengan orang tua saat di rumah”

Kalau kita lihat dari contoh kalimat deskripsi penokohan, kita bisa gambarkan, nih, Samsul itu orangnya pemarah dan emosional banget. Terus, dia punya muka yang menyeramkan! Ditambah, hubungan dengan teman dan orang tuanya terlihat tidak harmonis. Ia seolah-olah menjadi orang yang merasakan kesulitan untuk bersosialisasi.

Baca Juga: Materi Bahasa Indonesia: Jenis jenis Frasa

4. Dialog

Biasanya lo akan bosan baca novel karena isinya narasi terus. Nah, untuk menanggulangi hal tersebut, si penulis menyisipkan kalimat dialog di dalam novelnya. Secara garis besar, dialog ini adalah percakapan yang diciptakan oleh dua tokoh atau lebih. Melalui dialog ini, cerita yang dikemas oleh si penulis jadi lebih hidup lagi karena ada variasi yang diberikan dalam sebuah novel.

Lo pasti udah sering menemukan dialog di dalam novel, entah itu di awal buku, tengah-tengah, atau bahkan akhir novel. Berikut contoh dialog yang biasanya ada dalam novel:

“Kini, aku tidak lagi bekerja di restoran tersebut,” kata Ayu sembari mengusap matanya yang sembab.

“Loh, kenapa Ayu? Kamu dipecat dari sana?” tanya Rio penasaran.

“Iya benar. Katanya aku tidak becus kerjanya.” jawab Ayu diiringi dengan tetesan air mata.

Nah, dialog di atas tersebut berfungsi untuk menonjolkan peran dari tokoh dan membuat suasana penceritaan jadi lebih hidup lagi.

Kalau lo ingin belajar ciri kebahasaan novel melalui video, lo juga bisa langsung belajar dari Zenius dengan klik link ini, ya! Di sana, ada penjelasan super komplit mengenai ciri kebahasaan novel, lho!

Nah, supaya materi ciri kebahasaan novel ini makin menempel di otak lo, gue punya satu soal yang bisa lo jawab sendiri, ya. Siapin kertas kosong dan pulpen dulu!

        “Oalaaah, Santayib. Dua orang cucuku tergeletak karena makan bongkrekmu. (…) akan segera mati. Hayo, bagaimana Santayib! (…) minta tanggung jawab. (…) hutang nyawa padaku. Tolong cucuku sekarang. Hayo!”Rasa getir, kelu, dan bimbang mencekam hati Santayib. Ia bingung, amat bingung. Kekacauan hati(…) tergambar pada roman yang tidak menentu.(Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari)
Contoh soal kata ganti orang
Pembahasan

Nah, titik di atas kira-kira cocoknya dipakai kata ganti orang yang seperti apa?

Jawaban yang tepat adalah: mereka, aku, engkau, -nya.

Di titik-titik pertama, kata gantinya merujuk kepada kalimat sebelumnya, yaitu dua orang cucuku. Nah, orang pertama dari percakapan di atas adalah si kakek yang punya dua cucu, sedangkan orang kedua adalah Santayib. Dikarenakan dua orang cucuku itu termasuk orang ketiga, maka jawaban yang tepat dari kata ganti tersebut adalah “mereka” karena di sana ada dua orang cucu.

Pada titik-titik kedua, kira-kira siapa yang minta tanggung jawab? Jelas si kakek, ya, karena masih dalam percakapan yang sama. Berarti, titik kedua kata ganti yang cocok adalah aku, merujuk pada si kakek. Nah untuk titik ketiga, itu merujuk kepada siapa? Yap, itu merujuk kepada Santayib karena kalimat selanjutnya adalah “hutang nyawa padaku”. Maksudnya pada kakek itu sendiri.

Di titik-titik ketiga, itu sudah tidak termasuk pada percakapan, melainkan masuk narasi si penulis. Artinya, Santayib tidak lagi masuk dalam percakapan. Otomatis, jawaban dari titik setelah kekacauan hati adalah-nya. Jadinya, kekacauan hatinya, merujuk pada Santayib.

Unsur-Unsur Novel

Materi Bahasa Indonesia Kelas 12: Novel 9
Credit Image by Pxfuel.com

Masuk ke pembahasan yang terakhir. Gimana, udah pusing belum? Masih aman, lah, ya. Kalau lo mau lebih rileks lagi belajarnya, siapin dulu kopi atau teh sama cemilan. Di pembahasan kali ini lo bakal belajar banyak, nih!

Sekarang, kita akan membahas mengenai unsur-unsur yang membangun cerita dalam novel. Yap, unsur-unsur yang ada dalam novel itu ada dua, guys, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. 

Unsur intrinsik ini unsur yang ada di dalam novel. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang ada di luar novel. Kurang lebih sama lah, ya, kayak diri lo sendiri. Kita juga dibangun berdasarkan kata hati kita sendiri (internal) dan juga kritik atau saran dari orang lain (eksternal).

Baca Juga: Materi Bahasa Indonesia: Resensi Buku

Unsur Intrinsik

Seperti yang udah gue sebutkan di atas, unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang ada di dalam novel. Nah, kira-kira apa saja, sih, unsur-unsur intrinsik dari novel? Well, gue akan jelasin satu per satu di bawah ini:

1. Tema

“Bedanya tema sama judul apa, ya?”

Nah, mungkin beberapa dari lo masih membingungkan kedua hal tersebut. Simpelnya, tema dari sebuah novel itu gak bisa ditentukan hanya dilihat dari judulnya saja. Jadi, secara gak langsung, tema itu adalah gagasan pokok cerita dan menggambarkan keseluruhan cerita. Kehadiran tema juga ada di seluruh unsur cerita. 

Untuk menentukan tema dari sebuah novel, ada beberapa cara yang bisa lo lakukan:

  • Memahami isi cerita secara keseluruhan
  • Membaca blurb dari novel. Blurb adalah penjelasan singkat mengenai isi novel dan biasanya dituliskan di bagian cover belakang buku

Cara itu bisa lo lakukan ketika lo habis baca novel, lalu ditanya sama temen lo:

“Eh, itu gimana cerita novel A? Temanya tentang apa, sih? Penasaran gue”

Selain itu, hal yang perlu lo ketahui adalah jenis-jenis tema. Secara garis besar, jenis tema itu ada lima:

  • Tema jasmani, tema ini berhubungan dengan kondisi fisik dan perasaan manusia. Contohnya: tema persahabatan, percintaan, keluarga, dll
  • Tema sosial, tema yang menceritakan tentang kehidupan bermasyarakat.
    Contohnya: politik, budaya, pendidikan, dll
  • Tema organik, tema yang berhubungan dengan moral manusia.
    Contohnya: hubungan antarmanusia yang berkaitan dengan nilai dan moral sosial
  • Tema egoik, tema yang berhubungan dengan sifat ego manusia
    Contohnya: keserakahan dan kepasrahan manusia
  • Tema Ketuhanan, tema yang berhubungan dengan kekuasaan Tuhan
    Contohnya: kematian, keajaiban, dan bencana

2. Penokohan

Unsur intrinsik novel selanjutnya adalah penokohan. Di pembahasan soal materi cerita rakyat, gue udah ngejelasin, tuh, bedanya tokoh sama penokohan. Kalau lo masih bingung, bisa dibaca dulu, ya!

Dalam novel sendiri, unsur penokohan ini juga salah satu hal penting yang harus ada, guys! Pasalnya, lewat penokohan ini biasanya si penulis menggambarkan atau menceritakan bagaimana watak atau karakter dari masing-masing tokoh yang ada. Nah, bayangin dah, tuh, kalau gak ada penokohan, lo jadi ga tau, kan, pasti mana yang pahlawan mana yang penjahat hehe.

Nah, secara umum, penokohan ini terbagi menjadi tiga:

Tokoh ProtagonisTokoh AntagonisTokoh Tritagonis
Tokoh yang mempunyai sifat baik dan positifTokoh yang mempunyai sifat buruk dan negatifTokoh yang jadi penengah antara antagonis dan protagonis
Biasanya tokoh ini menarik empati dari para pembacaBiasanya menyebabkan konflik dan keteganganBiasanya mempunyai sifat bijak
Tabel penokohan

“Terus, bagaimana caranya kita tahu, nih, bang, kalau tokoh yang ini baik, yang ini jahat, yang ini suka korupsi?”

novel
Credit Image by idntimes.com

Eits, jangan bingung gitu, dong. Lo bisa, kok, menentukan karakter tokoh dengan dua teknik ini:

Teknik analitik

Lo bisa tahu karakter tokoh melalui cerita atau deskripsi yang langsung dibawakan oleh penulis.

Misalnya, lo menemukan kutipan kalimat di dalam novel seperti ini:

“Sugeng sangat benci terhadap Bagus. Bagaimana tidak, Bagus selalu dikerubungi oleh wanita cantik dan juga harta bergelimang. Sementara dirinya sendiri sama sekali tak punya uang. Sugeng hidup di sebuah gubuk tua yang hampir punah. Istri pun tak punya. Rasanya, Sugeng ingin menyantet Bagus agar semua ketenarannya hilang dalam sekejap”

Nah, dari kutipan di atas, kita tahu kalau Sugeng itu tokoh antagonis karena ia mempunyai sifat iri, dengki, serta benci terhadap Bagus.

Teknik dramatik

Berbeda dengan teknik di atas, teknik ini digunakan untuk mengetahui karakter tokoh melalui gambaran dari tindakan, tingkah laku, deskripsi dari tokoh lain, serta melalui peristiwa yang terjadi.

Biasanya, lo bisa menggunakan teknik ini lewat dialog yang diciptakan antar tokoh serta peristiwa yang terjadi di dalam novel itu sendiri.

3. Alur

Masuk ke unsur intrinsik novel yang ketiga, yaitu alur. Sederhananya, alur itu adalah jalan cerita dari suatu novel. Nah, alur ini gak cuman satu doang, lho! Ada tiga alur yang biasanya dipakai penulis dalam novel

  • Alur maju, alur yang biasanya menceritakan dari masa lalu ke masa depan
  • Alur mundur, alur yang bercerita kilas balik ke masa lalu dari masa sekarang
  • Alur campuran yaitu gabungan dari alur maju dan mundur

Lo pasti sering menemukan novel yang tiba-tiba cerita flashback atau balik ke cerita masa kecilnya. Terus, setelah itu tiba-tiba balik lagi ke masa sekarang. Nah, kalau gitu, berarti namanya alur campuran. 

Hal tersebut tidak hanya ditemukan di karya novel saja, melainkan juga biasanya ada di film, cerpen, dan lain-lain.

4. Latar

Latar adalah keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana dalam novel. Nah, unsur ini wajib ada, guys, di dalam novel sebagai penunjang peristiwa atau kejadian yang akan dimunculkan dalam novel. 

Misalnya, nih, lo sebagai penulis novel, lalu ingin memasukkan peristiwa terjadinya perampokan. Nah, supaya peristiwa perampokannya jadi semakin menarik, lo juga harus memasukkan waktu, tempat, dan suasananya. Contohnya seperti ini kalimatnya:

“Perampok yang berjumlah 2 orang telah bersiap siaga untuk mencuri rumah no.11. Sunyinya malam hari di komplek perumahan ini membuat mereka tak segan-segan untuk melompat dari pagar rumah tersebut. Tak ada mobil, motor, ataupun orang yang berlalu lalang di sekitar. Anjing penjaga yang tertidur lelap dalam tidurnya sedikit membuat dua perampok tersebut gemetar. Takutnya, ia terbangun dan membangunkan seluruh penduduk rumah”.

Nah, dari kutipan di atas kita tahu kalau tempatnya, tuh, ada di komplek perumahan dan di rumah no. 11. Lalu, suasananya cukup sunyi dan tegang, ya, buat perampoknya karena takut anjingnya terbangung. Terakhir, waktu terjadinya perampokan tersebut adalah pada malam hari, digambarkan melalui “sunyinya malam hari dan suasana yang sepi di sekitar”

5. Sudut pandang

Gimana, nih, masih aman, kan, belajar unsur intrinsik novel? Santai dulu aja, kalau minumannya habis bisa diisi ulang dulu.

Beralih ke unsur intrinsik novel selanjutnya adalah sudut pandang. Secara umum, sudut pandang adalah cara si penulis menyajikan sebuah cerita dalam novel. Nah, sudut pandang sendiri ini dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Sudut pandang orang pertama ada dua bagian, yaitu sudut pandang orang pertama pelaku utama dan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan yang terlibat dengan tokoh. Biasanya ditandai dengan kata ganti orang pertama, aku, gue, saya, dll
  • Sudut pandang orang ketiga biasanya menggunakan nama tokoh, terus kata ganti dia, -nya. Dalam sudut pandang ini, si penulis menceritakan salah satu peristiwa yang dialami oleh salah satu tokoh seolah-olah sedang berdialog dengan diri sendiri.
  • Sudut pandang campuran, yaitu sudut pandang dari orang pertama dan orang ketiga. Biasanya ditandai seperti sebuah narator dan menggunakan kata ganti aku dan nama tokoh. 

6. Amanat

Unsur intrinsik novel yang satu ini mungkin paling gampang dimengerti daripada unsur yang lainnya. Amanat adalah pesan atau hal yang ingin disampaikan seorang penulis melalui karyanya atau novelnya. Nah, bisa jadi, nih, tiap masing-masing pembaca memiliki pandangan yang berbeda mengenai amanat yang disampaikan oleh si penulis.

Sebagai contoh, lo mungkin pernah baca novel laskar pelangi. Kalau dilihat dari isinya, amanat yang ingin disampaikan dari penulis adalah kita sebagai generasi muda harus rajin dan giat belajar supaya kelak menjadi pemimpin bangsa. 

Meski terkadang amanat dalam novel disampaikan secara tersirat, namun ada juga amanat dari penulis yang disampaikan secara tersurat atau jelas. 

Nah, sekarang lo sudah paham, kan, mengenai unsur intrinsik dari novel? Coba, kali ini gue akan memberikan satu soal buat lo. Coba jawab, ya!

Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputera. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha “membayar” utang mereka kepada pribumi.Max Havelaar karya Multatuli
Contoh soal unsur intrinsik novel
Pembahasan

Dari kutipan buku di atas, kira-kira temanya apa dan latar waktunya kapan?

Yap, kalau dilihat dari kutipan di atas, temanya bisa dibilang merupakan penjajahan. Sebab, pemerintah Belanda menindas para Pribumi dengan menerapkan Politik Etis dan juga sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita.

Nah, untuk latar waktunya sendiri sudah bisa dipastikan pada abad ke-19, di mana pada waktu nama Indonesia masih Hindia Belanda dan masih dijajah oleh Belanda. Kalau untuk penokohan sendiri, kita bisa menilai kalau orang-orang Belanda memiliki watak yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Baca Juga: Materi Teks Prosedur Dalam Bahasa Indonesia

Unsur Ekstrinsik

Setelah membahas mengenai unsur intrinsik novel, sekarang kita beralih ke pembahasan unsur ekstrinsiknya. Secara sederhana, unsur ekstrinsik adalah unsur dari luar yang turut serta dalam membangun jalannya cerita dari sebuah novel. Nah, unsur ini dibagi menjadi tiga bagian:

1. Nilai budaya

Nilai budaya adalah nilai adat istiadat atau kebiasaan yang berada di dalam masyarakat. Nah, biasanya dalam novel si penulis memasukkan nilai budaya supaya cerita yang ia tuliskan mempunyai makna tersendiri bagi si pembaca.

Nah, hal ini tidak sebatas budaya di Indonesia saja, ya. Mungkin saja, kamu bisa mengambil budaya dari Eropa, Arab, atau bahkan Jepang sekaligus untuk bisa dimasukkan ke dalam novel. 

2. Nilai moral

novel
Credit Image by kaskus.co.id

Nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan benar atau salahnya suatu tindakan. Dengan kata lain, hal ini juga bisa disebut sebagai etika. Dalam bermasyarakat di kehidupan sehari-hari, kita tentu harus memahami etika supaya tidak dicap buruk oleh masyarakat, entah itu dari segi ucapan ataupun perbuatan. 

Nah, nilai moral ini juga bisa diterapkan ke dalam suatu cerita novel. Misalnya, dalam novel lo pasti seringkali menemukan tokoh yang bersikap jujur dan mempunyai etika yang baik kepada sesama. Atau bahkan, lo juga pernah menemukan orang dengan etika yang buruk dan suka mencuri uang rakyat atau biasa disebut sebagai koruptor. 

Dari nilai moral yang dituliskan oleh penulis lewat novel, kita sebagai pembaca tentu bisa mengambil pelajaran atau hikmah dari cerita tersebut.

3. Nilai sosial

Nilai sosial adalah nilai yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, lo pasti bersosialisasi, dong, dengan orang-orang di sekeliling, lo, entah itu keluarga, teman, kekasih, atau bahkan guru. 

Nah, nilai sosial ini juga biasanya dimasukkan oleh penulis ke dalam novelnya. Beberapa novel yang pernah lo baca mungkin tertanam nilai sosial di dalamnya. Contohnya, di dalam novel Laskar Pelangi, di mana di dalamnya tokoh Laskar Pelangi saling berkorban satu sama lain dan membantu sesamanya meski berbeda latar sosial maupun agama.

Buat lo yang ingin belajar unsur ekstrinsik melalui video, lo juga bisa menikmatinya dari Zenius, lho! Klik link di sini, ya! Selain belajar, lo juga bisa langsung latihan soal, lho!

Demikian penjelasan gue mengenai novel, mulai dari pengertian, struktur, ciri kebahasaan, hingga unsur-unsurnya. Bagaimana menurut lo? Gak susah, kan, materi novel? Setelah baca materi ini, harapannya lo bisa menganalisis novel, ya, ke depannya!

Oh, ya, kalau ada yang ditanyakan, bisa langsung tinggalkan di kolom komentar, ya! Gue akan jawab secepat mungkin. Sampai ketemu di materi selanjutnya!

Bagikan artikel ini: