Gaya Berpakaian Bisa Menentukan Pola Pikir?

Gaya Berpakaian Bisa Menentukan Pola Pikir? 9

Gengs, tanggal 28 Februari – 8 Maret 2022 nanti ada acara Paris Fashion Week (PFW) 2022, lho! Kenapa gue bahas ini? Soalnya, ada beberapa brand di Indonesia yang bakal tampil di PFW. Salah satunya, yaitu brand fashion Sean Sheila. Duh, bangga banget nggak, sih?

Ngomong-ngomong soal PFW, elo tahu serial Netflix yang judulnya Emily In Paris (2020)? Itu jadi salah satu serial yang bisa gue selesaiin nontonnya dalam seharian.

Jujur, yang bikin nontonnya seru tuh menurut gue malah budaya di Paris, sama fashion style atau gaya berpakaian si Emily. Ya … elo bayangin aja deh, dia pakai baju warna mencolok dari merah, kuning, sampai hijau dari atas kepala sampai kaki. Tapi, gue ngeliatnya kayak cocok-cocok aja, gitu? Elo setuju nggak, sih? 

Mungkin karena latar serialnya itu di Paris kali, ya? Soalnya kan, Paris dikenal jadi kiblat dari fashion-nya dunia. Coba bayangin kalau Emily ada di Indonesia. Hmm … bisa-bisa dia dibilang jadi pelangi berjalan sama netizen.

Tapi ngomong-ngomong, gaya berpakaian si Emily itu emang jadi perhatian para penonton, sih. Kayak totalitas banget, tiap kerja pakai outfit yang menurut gue bisa dipakai buat liburan. Hahaha.

Eh tapi ternyata, Emily berpakaian kayak gitu ke kantornya nggak semata-mata karena fashion aja, lho. Pas gue cari tahu lebih dalam, ternyata ada teorinya sendiri tentang gaya berpakaian. 

Hah? Teori apaan, tuh? Jadi, gaya berpakaian seseorang bisa menentukan mood, pola pikir, sampai value dari orang itu. Makanya, si Emily hadir dengan fashion style yang bisa mewakili valuenya di kantor baru.

Nah, gue punya pembahasan lengkapnya tentang teori gaya berpakaian, nih. Yuk, temenin gue bahas di sini, ya!

Baca juga: Mengenal Apa Itu Introvert dan Ekstrovert

Apa Itu Fashion?

Sebenarnya, apa itu fashion? Emangnya, itu jadi suatu hal yang penting ya, sampai dibahas begini? 

Nah! Jawabannya, penting. Tapi, kenapa pentingnya? Gue coba jelasin pakai teori dulu ya, Dek, Kak, Mas, Mbak ….

Menurut buku Fashion Theory: The Journal of Dress, Body & Culture (2022), fashion adalah konstruksi budaya yang diwujudkan dari identitas berpakaian seseorang. Simpelnya, fashion ini merupakan gaya berpakaian seseorang yang berubah dari masa ke masa mengikuti budaya yang terus berkembang.

Contohnya, kayak yang kita pakai aja sehari-hari. Setiap orang pasti punya selera fashionnya masing-masing, kan? Misalnya, elo suka pakai jaket jeans yang gombrong atau oversized lah istilah kerennya. Atau gue, suka pakai dress kalau mau ketemu ayang (padahal kalau di rumah mah, suka dasteran aja).

Terus, kenapa fashion ini punya kaitan yang erat sama kehidupan sehari-hari, sih? Jadi gini, menurut profesor Mary Lynn Damhorst dari Iowa State University, Amerika Serikat, fashion ini bisa jadi sebuah bentuk media komunikasi dari pemakainya

Beberapa acara fashion week di dunia (Arsip Zenius)
Beberapa acara fashion show di dunia (Arsip Zenius)

Hmm … kebayang kan, sepenting apa fashion itu? Itu baru dari sisi acaranya aja, atau fashion show simpelnya. Buat desainer atau perancang busananya, Indonesia punya ribuan desainer yang berkarya sampai saat ini.

Salah satunya, yaitu Arnold Putra yang cukup kontroversial. Tapi, nggak cuma itu aja! Indonesia punya puluhan desainer yang udah go international juga, lho.

Infografis desainer Indonesia di kancah internasional (Arsip Zenius)
Infografis desainer Indonesia di kancah internasional (Arsip Zenius)

Nah, itu dia beberapa fashion desainer yang akhirnya mendunia. Bangga banget deh, lihat prestasinya. Apalagi, mereka juga ikut mengharumkan nama Indonesia.

Baca juga: Apa Itu Body Positivity? Yuk, Kenalan di sini!

Stereotip Gender dalam Gaya Berpakaian

Nah, sekarang elo udah paham tentang fashion, dan seberapa eratnya fashion ini. Tapi, kenapa ya, fashion banyak yang dikotak-kotakkan? Contohnya, perempuan disarankan pakai dress. Atau laki-laki disarankan pakai baju warna gelap.

Contoh stereotip gender dalam gaya berpakaian (Arsip Zenius)
Contoh stereotip gender dalam gaya berpakaian (Arsip Zenius)

Nah, gue langsung mikir dong di situ. Emangnya iya, kalau pink cuma buat perempuan? Padahal nyatanya, itu cuma sekadar gender stereotype yang dibikin sama orang-orang aja. 

Terus nih, gue pernah juga pakai setelan celana jeans, kaos oblong, sama jaket jeans. Pas ketemu temen-temen, gue malah dibilang stylenya kayak laki-laki alias tomboy. Padahal, ini emang gaya berpakaian yang gue suka, dan nyaman buat gue. 

Lagian, gaya berpakaian kan emang banyak macamnya. Ada gaya netral gender atau uniseks kayak kaos atau jaket. Bahkan, ada juga style androgini yang menggabungkan unsur feminin dan maskulin. Kalau menurut gue sih, ini oke banget buat jadi gebrakan baru di dunia fashion soal stereotip gender.

Apalagi, gaya berpakaian anak zaman sekarang udah beragam banget. Buat anak hits Jakarta yang kalau ngomong jadi bilingual, elo suka pakai baju yang gimana, sih? 

Karena efek drama Korea yang tinggi banget, gue sering ketemu sama anak perempuan Jakarta yang stylenya ke arah Korea gitu. Contohnya, celana jeans high waist sama atasan crop top. Atau, banyak juga yang pakai dress-dress gemes.

Simpelnya, fashion atau gaya berpakaian ini tuh bisa dijadiin sarana untuk berekspresi. Jadi, nggak ada aturan yang harus elo ikutin dalam berpakaian. Laki-laki pakai warna pink? Sah-sah aja, kok. Elo bebas untuk mengekspresikan diri lewat pakaian yang elo pakai. Jadi, coba lah untuk keluar dari stereotip gender kalau emang itu membuat elo nyaman, ya.

Baca juga: Apa Sih yang Membuat Kita Bisa Percaya Diri?

Sisi Psikologis di Balik Gaya Berpakaian Seseorang

Nah, sekarang elo udah tahu juga nih, tentang adanya stereotip gender di bidang fashion yang dibuat sama lingkungan. Tapi, elo tahu nggak sih, kalau gaya berpakaian seseorang juga bisa menentukan pola pikir, mood, dan value seseorang? 

Duh, kayaknya gue pakai baju yang bikin nyaman aja, deh. Kok, bisa sampai menentukan pola pikir gitu? Yap! Ternyata, ada teorinya sendiri dari sisi psikologis. Menarik banget, kan? Yuk, coba kita kupas tuntas.

Teori psikologis di balik gaya berpakaian (Arsip Zenius)
Teori psikologis di balik gaya berpakaian (Arsip Zenius)

Nah, makanya nih, jangan sampai elo ngebatalin malam mingguan sama ayang pas dia udah rapi, deh. Duh, itu bahaya banget! Soalnya kalau udah rapi, orang tuh jadi bangkit pola pikirnya untuk lebih produktif. Kalau elo batalin gitu aja, siap-siap ada perang dunia ke-3, ya!

Terus, saat elo berpakaian rapi, suasana hati elo juga biasanya langsung meningkat. Soalnya, pakaian yang rapi bisa meningkatkan kualitas kebahagiaan. Makanya, kalau udah rapi tuh kadang orang jadi lebih semangat.

Dan, gaya berpakaian juga bisa mengubah value seseorang. Contohnya nih, elo mau ketemu pertama kali sama gebetan buat nonton film horror. Nah, kalau elo pakai piyama buat tidur, pasti gebetan elo langsung ilfeel, tuh. Tapi, kalau elo misalnya pakai kemeja, atau kaos sama jaket, pasti si dia langsung meningkatkan value diri elo di matanya. 

Intinya, gaya berpakaian tuh punya pengaruh yang cukup besar, dan bisa mewakili kepribadian seseorang. Apalagi, elo bisa berekspresi bebas lewat gaya berpakaian elo. Jadi, bebas banget buat elo pakai apa pun yang menurut elo bagus, suka, dan nyaman. 

Nah, elo sendiri style berpakaiannya gimana, nih? Boleh share di kolom komentar dong, biar bagi-bagi tips bareng yang lainnya.

Baca juga: Apa itu Scam? Kenapa Orang Melakukannya & Cara Menghindarinya

Reference:

Fashion Theory: The Journal of Dress, Body & Culture – Valerie Steele (2022)

Clothing and Textiles Research Journal – Mary Lynn Damhorst (1990)

Everything You Need To Know About The History Of The Fashion Show – Vogue (2020)

5 men who are redefining gender stereotypes in fashion – Vogue (2021)

Dress, body and self: Research in the social psychology of dress – Kim K.P. Johnson, Sharron J. Lennon, Nancy A. Rudd (2014)

Bagikan Artikel Ini!