Mengenal Apa Itu Introvert dan Ekstrovert

Mengenal Apa Itu Introvert dan Ekstrovert 17

Kalau gue kasih dua pilihan buat elo ngabisin waktu liburan, kira-kira elo bakal pilih yang mana?

1. Nonton drama korea atau anime di kamar sambil ngemil makanan yang paling elo suka

Atau ….

2. Jalan-jalan ke luar kota bareng temen-temen elo

Hayo … komen di bawah ya, elo pilih yang mana?! Kalau gue pribadi sih, sebenarnya itu pilihan yang susah. Di satu sisi, gue suka banget drakoran dan leyeh-leyeh di kamar. Tapi … gue juga pengin banget liburan!

Eh, ngomong-ngomong, elo sadar nggak sih, kalau dua pilihan di atas bisa nentuin tipe kepribadian? Kok, bisa? 

Yap! Nggak asing sama istilah introvert dan ekstrovert? Nah, dua pilihan yang gue kasih di atas tuh termasuk ke contoh orang yang punya kepribadian introvert dan ekstrovert.

Duh, ngebingungin nggak, penjelasan gue? Kalau gitu, langsung temenin gue bahas topik ini aja, yuk!

Baca juga: Cinta Masa Remaja, Apa Hubungannya dengan Pubertas?

Awal Mula Introvert dan Ekstrovert

Istilah ini udah ada sejak kapan, sih? Kenapa sekarang jadi makin banyak yang gunain istilah ini, ya?

Sebenarnya, istilah ini tuh udah ada jauh dari sebelum kita lahir, tahu. Percaya, nggak? 

Kalau menurut buku punya Bernardo J. Carducci berjudul The Wiley Encyclopedia of Personality and Individual Differences: Models and Theories (2020), istilah introvert dan ekstrovert tuh udah ada dari abad ke-20an. Kalau dihitung sih, udah lebih dari 100 tahun. Duh, ini sih kalah jauh meskipun umur gue ditambah umur elo.

Yap! Jadi, dulu istilah ini dikenalin sama psikoanalis, atau sebutan untuk seseorang yang berspesialisasi di bidang kesehatan mental bernama Carl Jung dari Swiss. Dan, dulu dikenalnya sama istilah introversion dan extraversion

Teori introvert dan ekstrovert menurut Carl Jung (Arsip Zenius)
Teori introvert dan ekstrovert menurut Carl Jung (Arsip Zenius)

Terus, Jung juga bilang kalau kita tuh bisa ngecek tingkat introvert dan ekstrovert kita, lho. Kalau elo mau ngecek, bisa langsung coba aja kuisioner atau psikotes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Biar nggak makin bingung, elo bisa banget cari tahu tentang MBTI, perbedaan introvert dan ekstrovert, sampai contoh-contoh karakter dengan kepribadian tersebut di Infografis: Perbedaan Introvert dan Ekstrovert, ya.

Baca juga: Infografis: Ciri-ciri Anxiety dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Introvert dan Ekstrovert?

Oke. Sekarang, gue udah tahu kalau istilah ini diciptain sama seorang ahli di bidang psikologi. Tapi, sebenarnya, apa sih introvert sama ekstrovert? Gue sering banget dibilang introvert gara-gara suka malu pas disuruh presentasi di depan kelas. Emangnya bener, kalo itu termasuk ke introvert?

Tunggu, tunggu. Jangan sampai elo salah persepsi dulu tentang istilah ini, ya. Gue coba jelasin pelan-pelan, nih.

Jadi gini, dek, kak, mbak, mas ….

Introvert sama ekstrovert tuh bukan cuma sekadar istilah biasa aja. Tapi, punya landasan teori juga dari ahli terkenal.

Kalau menurut jurnal Personality and Individual Differences (2022), ada salah satu teori kuat milik Hans Eysenck, seorang psikolog dari Jerman, yang menjelaskan tentang introvert dan ekstrovert.

Menurut Eysenck, tingkat gairah yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda. Ukuran yang bisa diambil buat menentukan introvert dan ekstrovert seseorang itu tergantung dari bagaimana tingkat gairah mereka terstimulasi dan seberapa responsifnya. 

Perbedaan rangsangan kortikal di kepribadian yang introvert dan ekstrovert (Arsip Zenius)
Perbedaan rangsangan kortikal di kepribadian yang introvert dan ekstrovert (Arsip Zenius)

Tapi, penyebabnya nggak cuma dari dalam tubuh aja. Menurut penelitian yang dilakukan sama Erik Noftle dan Phillip Shaver di tahun 2006, attachment styles yang dibangun antara hasil bonding ibu dan anak di masa kecil juga berpengaruh besar ke kepribadian seseorang.

Terus, kenapa sih, harus ada introvert dan ekstrovert? 

Kalau menurut Eysenck, introvert dan ekstrovert ini bisa jadi landasan buat menyimpulkan kepribadian seseorang. Hal ini juga didukung sama salah satu konselor di Amerika Serikat bernama Chelsea Connor. Katanya, mengetahui tipe kepribadian seseorang bisa membantu self awareness atau kesadaran diri tiap orang.

Contohnya gini, deh. Elo ngajakin si A buat nongkrong sama temen-temen sekelas di kafe sambil dengerin live music. Tapi, si A bilang gini, “Yah, besok-besok aja, deh. Gue mau baca komik One Piece yang baru rilis malem ini”.

Kalau elo nggak tahu dia orang yang berkepribadian introvert, mungkin elo bakal mikir dia sombong karena lebih milih komik daripada ketemu temen-temen. Tapi, kalau elo tahu dia seseorang yang introvert, mungkin elo jadi mikir, “Oh iya, yaudah lah mungkin dia kurang nyaman aja kalau nongkrong sama anak-anak yang rame”.

Jadi, secara nggak langsung, adanya introvert dan ekstrovert ini juga membentuk pola pikir seseorang. Semakin elo kenal sama tipe kepribadian diri sendiri dan orang di sekitar, semakin elo bisa memahami satu sama lain juga.

Baca juga: Fans Fanatik Sama dengan Obsesi?

Cara Introvert Vs. Ekstrovert Menangani Masalah

Nah, sekarang gue jadi tahu seberapa pentingnya pengetahuan tentang introvert dan ekstrovert, nih. Terus, tadi juga sempat dijelasin tentang rangsangan kortikal dari kepribadian tersebut. Tapi, gimana sih cara masing-masing kepribadian menangani masalah yang datang? Ada hubungannya sama rangsangan kortikal itu, nggak?

Yap! Jelas ada hubungannya, dong. 

Coba gue kasih sebuah case, ya. Misalnya, elo lagi stres karena banyak tugas di sekolah, terus makin pusing juga karena UTBK udah di depan mata. Gimana seseorang yang introvert dan ekstrovert menangani ini? Duh, gue udah kayak ngasih kuis aja, ya.

Tapi, serius. Kalau dibedah dari tipe kepribadian yang introvert, elo bakal lebih milih untuk mencari distraksi ke kegiatan lain. Misalnya, baca novel, tidur, atau cerita sama orang yang paling dekat seperti nyokap atau sahabat elo.

Mengenal Apa Itu Introvert dan Ekstrovert 18
Cara seseorang yang ekstrovert menangani masalah (Arsip Zenius)

Nah, jadi, kepribadian yang introvert dan ekstrovert tuh sebenarnya punya perbedaan yang cukup signifikan, nih. Tapi, bukan tandanya introvert sama ekstrovert nggak bisa berteman, ya! Malah, elo bisa saling melengkapi satu sama lain. Duh, duh, duh, bahasa gue ….

Jadi, gimana menurut elo? Elo punya kepribadian yang introvert atau ekstrovert, nih? 

Reference:

The Wiley Encyclopedia of Personality and Individual Differences: Models and Theories Bernardo J. Carducci (2020)

Extraversion and Introversion – Psychologist World (2020)

Personality and Individual Differences – Rachel L.C Mitchell, Veena Kumari (2022)

Introvert vs. extrovert: What they mean and why it matters – CNet (2019)

Do Extroverts Manage Stress Better? – Psychology Today (2017)

Bagikan Artikel Ini!