Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 41

Hello, Sobat Zenius! 

Lo tahu gak, kemarin tanggal 26 Juli siapa yang ulang tahun? . Yups, orang yang namanya gue jadiin judul. Ia adalah Carl Gustav Jung! . Tapi, btw btw, gue mau nanya sama lo dulu. Lo pasti udah sering banget mendengar istilah “introvert” dan “ekstrovert” , kan? . Apa yang terlintas di pikiran lo kalau ada yang bilang, “Eh, orang itu introvert banget deh” ?

“Pendiam? 

Kalem? 

Tertutup? 

Pemalu?”

Oke. Terus coba sekarang, apa yang lo pikirkan kalau lo disuruh mendeskripsikan orang yang ekstrovert? 

Blak-blak an? 

Suka keramaian? 

Banyak ngomong atau cerewet?

Gak bisa sendirian? 

Well, nggak sepenuhnya salah sih, tapi sebenarnya  konsep introvert dan ekstrovert nggak sesimpel itu. Di kesempatan ini, gue ingin ngajak lo buat menyelam lebih dalam lagi tentang konsep ini supaya lo paham sebenarnya introvert dan ekstrovert itu yang kayak gimana sih? . Dan asal muasalnya kategorisasi ini tu dari mana? . 

Sebelum itu, gue ingin ngajak lo mundur sedikit ke abad 19, yak. Wait-wait, kan kita mau bahas introvert – ekstrovert kenapa kayak time machine pake mundur segala?  . Justru itu yang terpenting, kita mesti kenal dulu sama akarnya, sama orang yang pertama kali mencetuskan gagasan introvert – ekstrovert , yaitu Carl Gustav Jung. Atau yang nanti akan sering gue sebut dengan Jung (baca : Yung) , doang. Siapakah dia? 

Carl Gustav Jung merupakan seorang psikiater dan ahli psikoanalisis asal Swiss, beliau ini adalah penemu Analytical Psychology (atau sama pengikutnya disebut Jungian Analysis) . 

Apa itu Analytical Psychology ? ini adalah sebuah cabang ilmu psikologi yang bertumpu pada asumsi bahwa fenomena gaib yang tidak masuk akal memang ada dan dapat memengaruhi hidup seseorang. Cabang psikologi ini juga menekankan pentingnya keutuhan bagi setiap individu. Analytical Psychology beranggapan bahwa pengalaman individu di masa kecilnya sangat penting dalam pengembangan kepribadiannya kelak. 

Teori-teori Jung hingga kini masih berkontribusi besar bagi ranah psikologi dan tidak hanya di ranah klinis doang, tetapi masyarakat awam pun kenal percikan teori Jung.  Yes, teori ekstrovert dan Introvert. Jadi gue pikir, ini penting buat ngerti akar dari istilah itu termasuk mengetahui siapa orang di balik teori segede itu. 

Makanya, gue ngajak lo untuk lebih dulu kenal dengan sosok “Carl Jung” dan gimana kemudian pengalaman hidupnya berkontribusi besar dalam gebrakan teori psikologinya. Gue sadar, tidak mudah buat nulisin semua rekam hidup seorang pemikir hebat macam Jung hanya dalam satu artikel. So, kalau ada banyak hal yang gue skip, gue mohon maaf. Oke, tanpa banyak embel-embel lagi, mari kita simak kisah hidupnya…

Latar Belakang Keluarga Carl Gustav Jung 

Pada tanggal 26 Juli tahun 1875 silam, seorang anak lahir dari pasangan Johann Paul Jung dan Emilie Preiswerk Jung, di sebuah kota bernama Kesswil,  kota kecil di Swiss yang dikenal asri dan dikelilingi danau. Anak itu kemudian diberi nama yang mirip dengan nama kakeknya, yaitu Carl Gustav Jung (baca : Yung).  

Kakeknya sangat terkenal di kota itu, beliau merupakan seorang pemikir hebat sekaligus seorang dokter. Banyak rumor setempat yang bilang kalau kakeknya Jung ini (yang namanya juga Jung), adalah anak haram di luar pernikahan dari seorang sastrawan terkenal bernama Goethe. Meski rumor tersebut tidak pernah digubris sama Jung Tua, tapi si Jung Muda (cucunya) selalu beranggapan kalau dia merupakan keturunan seorang Goethe. 

By the way, sebenarnya sebelum kelahiran Jung, orang tuanya pernah memiliki seorang anak laki-laki, tapi hanya bertahan hidup selama beberapa hari doang. Makanya, si Jung ini di masa kecilnya hanya menjadi anak tunggal. Setidaknya hingga usianya menginjak 9 tahun, dan selepas itu, ibunya melahirkan anak perempuan (sang adik). 

Carl Jung lahir dari orang tua yang dua-duanya merupakan anak bungsu di keluarganya. Sang ayah, Johann Paul Jung, merupakan si bontot dari 13 bersaudara. Putra bungsu dari Professor di bidang kedokteran bernama Carl Gustav Jung yang kemudian di masa dewasa menjadi seorang minister in the Swiss Reformed Church. Ibu Jung, Emilie Preiswerk juga anak terakhir dari keluarga akademisi terkemuka. Ayahnya merupakan seorang pendeta, teolog, dan akademisi tersohor di Basel, Samuel Preiswerk. Si Samuel ini, which is kakeknya si Jung, sangat menghargai spiritualitas dan hal-hal gaib, guys. Di rumahnya aja ada kursi kosong yang tidak boleh diduduki siapapun karena ia percaya bahwa itu tempat duduk istrinya yang sudah meninggal, ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam buat ngomong sendiri di samping kursi kosong itu. Ngayal kalo istrinya memang ada di sampingnya. 

Gegara kedua orang tua Jung ini anak bontot nih ye di keluarganya, terbiasa banyak dibantu kakak-kakaknya, mereka kerap menemui kesulitan ketika awal-awal membangun rumah tangga secara mandiri. Dan karena konflik yang ada itulah, Jung jadi kena juga dampaknya. Ya namanya juga bocah ga sih, lu tahu sendiri gimana relasi orang tua dan gejolak di rumah tangga bisa mempengaruhi keadaan mental  si anak. Itu yang dialami Jung kecil ketika masih jadi anak tunggal. 

Dari rekam konflik di rumah tangga ayah dan ibunya. Jung kecil sampai pada kesimpulan kalo si ibu ini memiliki dua kepribadian. Kenapa dua kepribadian? Karena Jung merasa ibunya ini beda banget sikapnya di siang hari dengan malam hari.  Di mata Jung, saat siang hari  ibunya sungguh normal seperti wanita pada biasanya, ia juga seorang yang realistis, pragmatis, dan sangat ramah. Tapi, begitu malam tiba, ibunya jadi lebih aneh dan misterius, lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di kamarnya. Selain itu ia jadi lebih eksentrik dan banyak merasa depresi karena tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ibu Jung bahkan ngaku kalau malam hari tiba, ia didatengin sama roh-roh gitu deh. Ini yang kemudian membuat Emilie kurang stabil secara mental. Dari sini, Jung kecil yang sensitif dan emosional beranggapan bahwa saat siang hari , kepribadian ibunya itu sangat terbuka, yang JUng namain dengan kepribadian 1. Saat malam hari, ketika ibunya mulai pendiam, ia menyebutnya sebagai kepribadian 2 dari ibunya. Lo bayangin, anak sekecil itu udah mengklasifikasikan kepribadian berdasarkan apa yang ia amati dari sosok terdekatnya. Ini lah, akar dari introvert dan ekstrovert nya Jung di kemudian hari. 

Berkebalikan dengan ibunya, ayah Jung lebih stabil dan tegas, makanya si Jung ini lebih dekat dengan ayahnya. Gegara sikap ibunya ini, Jung jadi menganggap bahwa wanita itu euum sorry to say, “berasosiasi dengan ketidakstabilan dan tak bisa diandalkan” . Sedangkan laki-laki, dianggapnya, lebih dapat diandalkan. 

Oke, itu pemikiran Jung kecil yang hanya memandang dunia dari sikap ibu dan ayahnya, ya guys

Masa Kecil Carl Gustav Jung yang Pendiam 

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 42

Carl Gustav Jung Kecil 

Hidup sebagai anak tunggal ketika masih bocah membuat Jung sering menghabiskan waktu sendirian. Dia jarang memiliki teman. Dan emang dasarnya, dia lebih enjoy main sendiri. Hidupnya menjadi lebih sepi saat sang ibu harus dirawat di rumah sakit karena masalah psikologisnya itu,  tepat di usia Jung yang baru menginjak 3 tahun. 

Sama seperti anak kecil pada umumnya, Jung kalo sendirian ya suka main sama imajinasinya sendiri. Di tengah keadaan hidupnya yang kurang stabil itu, Jung merangkai boneka patungnya sendiri lalu disimpan di dalam kotak pensilnya yang selalu ia bawa ke loteng. Di sana, ia kerap menuliskan pesan-pesan rahasia pake bahasa rahasianya sendiri. Kek simbol-simbol yang cuma dipahami oleh Jung. Boneka patung, kotak pensil, dan kertas-kertas itu kemudian menjadi diary nya sekaligus menjadi kebiasaan kecilnya untuk mencari kedamaian batin. 

Usia 12 tahun, Jung pernah nih ga sengaja didorong oleh teman sekelasnya saat pelajaran olahraga. Jung jatuh hingga pingsan. Anehnya, saat pingsan itu, Jung ngerasa ada suara-suara di kepalanya yang bilang gini, Sekarang kamu tidak perlu lagi pergi ke sekolah”. Ga ngerti itu suara datangnya dari mana, tapi di kepalanya menggema suara itu. Sejak saat itu, hal-hal yang berasosiasi dengan “sekolah”, membuatnya pingsan. Termasuk ketika ia mengerjakan PR atau saat mau berangkat ke sekolah. Jung kecil akhirnya “istirahat” sekolah selama 6 bulan. 

Ayahnya yang akademisi banget itu, merasa takut kalau masa depan anaknya menjadi suram gegara ia tidak mencicipi pendidikan lagi. Ayahnya sampe mikir apa jangan-jangan ni bocah kena epilepsy yah? . Tapi karena desakan keluarganya itu, Jung akhirnya menyadari kalau ia perlu memiliki keunggulan akademik. Ia mau balik sekolah dan belajar lagi. Meski pada akhirnya masih aja tetep pingsan-pingsan mulu, tapi karena tekadnya nih, simptom pingsannya itu bisa ilang dengan sendirinya.

Masa Remaja dan Dua Kepribadian 

Menginjak masa remaja, Jung ini balik lagi ke problem masa kecilnya. Yaitu ketika ia menganggap ibunya memiliki 2 kepribadian. Nah, sekarang, doi nih yang ngerasa memiliki dua kepribadian. Yups, ia nyebutnya tetap sama. Kepribadian 1 dimana menggambarkan dirinya yang lebih objektif, berani, stabil, pede. Sedangkan kepribadian 2, dimana ia merasa dikuasai sama perasaan dan intuisi sehingga ia menarik dirinya dari pergaulan luar. 

kira-kira ketika menginjak usia 16-19 tahun, Jung ini merasa sisi kepribadian 1 nya sangat dominan. Dimana ia bisa fokus untuk urusan sekolah dan karir, pokoknya pede dan berani tancap gas teros. Ini nih, yang makin tampak buat teori introvert dan ekstrovertnya Jung. Di teori attitude nya nanti, Jung menyebut kepribadian 1 nya dengan istilah “Ekstrovert” dan kepribadian 2 nya dengan “Introvert”. Gue akan jelasin nanti di belakang. 

Masa Perkuliahan dan Awal Karir 

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 43

Carl Gustav Jung Muda 

Sejak mula, si Jung ini memiliki ketertarikan di bidang arkeologi , tapi karena keterbatasan finansial dari keluarganya, Jung tidak bisa daftar kuliah di kampus yang ada jurusan arkeologinya, di University of Basel. Pada tahun 1895, akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil jurusan yang berkaitan dengan natural science karena impian keduanya ingin membuat penemuan dan teori bagi dunia sains. Akhirnya ia memilih jurusan kedokteran, dan kedepannya memiliki minat yang lebih mendalam di bidang psikiatri. Jung saat itu ngerasa ini bidang yang cocok buat dia, dimana psikiatri mempelajari sisi psikis manusia . Perpaduan biologi dengan ilmu spiritual di zaman itu. 

Sayangnya, ketika masih maba (tahun pertama kuliah), Ayah Jung meninggal dunia. Jadilah, Jung seorang yang mengurus ibu dan adik perempuannya. Belum lagi sepeninggal ayahnya, keadaan finansial keluarga Jung kian memprihatinkan. Tapi, hal tersebut bisa diatasi karena bantuan kerabatnya. 

Lepas lulus kuliah tepatnya tahun 1900, Jung memulai karirnya dengan menjadi asisten psikiatri, Eugene Bleuler di Burghotzli Mental hospital di Zurich , Swiss. Yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan psikiatri paling bergengsi di dunia. Di sinilah Jung makin minat dan mendalami tentang hal-hal alam bawah sadar manusia. Eugene Bleuler ini yang mempertemukan Jung dengan Freud. 

Pertemuan dengan Freud

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 44

Jung & Freud 

Oke, buat lo yang mungkin belum familiar dengan nama Freud. By the way, Freud ini seorang psikolog kondang di zaman itu yang terkenal dengan teorinya yaitu Psikoanalisis. Salah satu orang yang berkontribusi besar juga bagi ranah psikologi. 

Lanjut yah

Jung saat itu sedang membaca bukunya Freud yang berjudul Interpretation of Dreams. Di situ tuh, Jung yang suka ngulik jiwa manusia kek ngerasa dapat perasaan click dengan tulisan Freud, yang juga suka menyelami alam bawah sadar manusia. Dia mulai memahami jalan pikir Freud dalam menganalisis mimpinya sendiri.  Bermula dari perasaan click  itu deh, Jung memberanikan diri buat berkorespondensi dengan Freud. Pada tahun 1906, mereka bertemu. Di pertemuan perdananya, mereka kek langsung lengket bak lem. Mereka saling respect, seperti  teman lama yang baru ketemu lagi setelah berpisah. Bahkan nih, mereka berbicara dan berdiskusi selama 13 jam non stop hingga dini hari. Freud yang jauh lebih tua dari Jung, percaya bahwa Jung adalah orang ideal untuk menjadi penerusnya. Akhirnya nih, Freud menjadikan Jung sebagai ketua pertama di International Psychoanalytic Association milik Freud. 

Namun namanya juga pertemanan, ya ada aja batu yang menghadang. Begitupun hubungan antara Freud dengan Jung. Hubungan mereka yang mulanya hangat, perlahan-lahan mulai mendekati titik beku nih guys. Mulai renggang. Pada tahun 1909, Freud dan Jung diundang oleh G. Stanley Hall, presiden dari Clark University , yang merupakan psikolog pertama di Amerika Serikat. Dua sobat ini diminta untuk menjadi dosen tamu di sana. Perjalanan selama 7 pekan di Amerika membuat keseharian Freud dan Jung semakin lekat, tapi di sinilah akar dari perpecahan keduanya. Sekarang nih, baik Freud atau Jung sama-sama dunia kenal dengan ahli psikoanalisis. Mereka pada jago mengulik kondisi bawah sadar manusia termasuk di dalamnya analisis mimpi. Udah jadi tokoh kondang, keduanya tentu saling berdiskusi teori masing-masing sampai berusaha menafsirkan mimpi satu sama lain. Di sebuah percakapan dengan Freud, Jung menyampaikan mimpinya semalam. Dari sinilah perdebatan teori keduanya memanas. Kira-kira begini percakapannya : 

Jung : “Eh, gue kemarin abis mimpi, hyung

Freud : “Mimpi apaan lo?”

Jung : “Gue mimpi lagi di dalam rumah baru gue di lantai dua bareng keluarga besar gue. Nah, gue mutusin untuk keliling di lantai-lantai lainnya, tapi kek itu lantai ga terbatas gitu loh, hyung” 

Freud : “Hmm, terus?” 

Jung : “Gue tetiba turun di lantai dasar. Tapi itu kelihatannya kek goa , terus di situ gue nemu ada 2 tengkorak yang sebagian sudah hancur”

*Freud mikir sejenak. Ekspektasi Jung sih, mereka akan mengulik dengan teorinya dia yang collective unconscious bahwa ini tu udah insting bawaan dari nenek moyang. Tapi si Freud malah nimpalin gini …

Freud : “Lah, dua tengkorak?” 

Jung : “Kenapa emang sama dua tengkorak?”

Freud : “Dua tengkorak menandakan orang sudah mati, kan? . Lo berharap siapa yang bakalan mati di keluarga lo di rumah itu, ha? . Menurut gue, itu kek keinginan lo terpendam sih, makanya ada simbol tengkorak di mimpi lo” 

Jung : *Mikir 

Dari sini jung mulai merasa bahwa psikoanalisis milik dia dengan Freud beneran beda banget fokusnya. Persahabatan mereka mulai renggang. 

Menjalani pertemanan selama 6 tahun, hingga tahun 1912, Jung menerbitkan karya berjudul “Psychology of the Unconscious” yang isinya teori-teori yang kontra dengan Freud. Mulai deh, mereka berdua perang dingin lewat karya-karya dan teorinya. Freud membantah Jung, begitu pun sebaliknya. Hubungan mereka baik personal dan profesional akhirnya retak, dan puncaknya ketika Jung memutuskan untuk mengundurkan diri dari ketua Psychoanalytic Association milik Freud. 

Masa Dewasa

Jung sedikit menyadari dan mengakui kalau interpretasi Freud mengenai dua tengkorak itu sebenarnya menggambarkan keinginannya yang terpendam. Yah, jauh di dalam lubuk hatinya, Jung ini ingin istrinya meninggal sih 🙂 

Gini. Jung sebenarnya, kalo lo inget masa kecilnya di atas, dia kan punya isu sama ibunya kan? . Nah, itu yang kemudian berdampak di kehidupan dewasanya, selalu ada isu dengan yang namanya “wanita”. Termasuk istrinya.  Jung emang udah menikah tepatnya di tahun 1903, punya istri cantik bernama Emma Rauschenbach. Di tujuh tahun pernikahannya, mereka dikaruniai 5 anak. Tapi siiii, dasarnya Jung ini si psikiatri yah, dia ketemu pasiennya nih, namanya Toni Wolff. Sama tu cewek, Jung kepincut. Apalagi sejak kecil, Jung selalu percaya dia punya 2 tipe kepribadian. Dia butuh lebih dari satu wanita buat memuaskan dua aspek kepribadiannya ini. 

Bagi dia nih, Emma (istrinya) lebih dapat relate dengan kepribadian 1 Jung (extroverted), sedangkan Toni Wolff lebih ngena dengan kepribadiannya yang ke-2 (introverted). 

By the way, benang kusut hubungan dia dengan Freud juga menambah masa dewasanya menjadi agak kacau.  Ditambah meletusnya Perang Dunia yang pertama. Tahun 1913, Jung mulai mengalami perubahan psikologis yang sulit sekaligus penting buat perkembangan teorinya, gue nyebutnya midlife crisis semacam quarter life crisis versi dewasa. Di usia akhir 30 menjelang 40-an. Jung menyelami jiwanya sendiri. Memulai untuk analisis dirinya. Doi jadi lebih lekat banget sama sisi introvert nya. Momen ini disebut oleh Marvin Goldwert (1992) sebagai momen Jung yang mengalami “Creative Illness”. 

Di saat itu, Jung merasa dapat mendengar suara-suara dari kepalanya sendiri. Dia sampai khawatir kalo dia bakalan kena skizofrenia, tapi namanya juga otak peneliti, dia mencatat proses dari dirinya sendiri di sebuah buku diary berwarna hitam. Black book. Lalu menyalinnya secara ilmiah di jurnal berwarna merah. Red book. Perjalanannya selama 4 tahun yang kelam dan mengulik sisi terdalam dari dirinya itu, membuahkan hasil pula untuk mengembangkan teori kepribadiannya bagi dunia psikologi. 

Selepas itu, ia mulai aktif lagi ngajar sebagai dosen. Dan tahun 1944, dia berhasil menjadi profesor of medical psychology  di Universitas Basel, tapi sayangnya karena lemahnya kondisi fisiknya, ia jadi sering sakit-sakitan. Tepat pada tanggal 6 Juni 1961, Jung meninggal dunia akibat penyakit keras. Meski demikian, teori kepribadiannya berdampak sangat luas bagi ilmu psikologi bahkan jauh melampaui, karena perpaduan antara filsafat, spiritual, dan popular culture.  

Warisan Carl Gustav Jung yang Terkenal 

Psychological Types :  Extraversion & Introversion 

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 45

Introvert dan Ekstrovert

Sejak mula, Jung percaya kalau  tiap orang pada dasarnya nih punya sisi ekstrovert dan introvert dalam dirinya. Meskipun orang-orang ada yang nyadar dan ada yang nggak. 

Ekstrovert

Menurut Jung (1921), orang-orang yang memiliki sikap ekstrovert itu lebih terlibat dengan rangsangan atau stimulus dari luar dirinya. Hal ini ditandai oleh sikap orang-orang ekstrovert yang mengarahkan energi mereka ke luar- misal : dengan orang lain – dan dapatin energi dari luar. Para ekstrovert ini lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan luar mereka daripada oleh dunia batinnya sendiri. 

Kebayang ga apa maksudnya Jung? 

Belum?

Oke, gini

Kalau balik lagi ke masa kecil Jung, ini tuh gambaran kepribadian no. 1 nya Jung. Udah mulai relate antara teori dengan pengalamannya Jung? Dimana kepribadiannya  ini kan digambarkan sebagai orang yang pragmatis, selalu berorientasi ke luar dirinya, dan  menjauhi subjektivitas (gejolak batin sendiri). Makanya, ciri khas dari orang ekstrovert ya mereka kek punya kontak yang intens dengan dunia luar mereka. 

Introvert

Sebaliknya. Introvert dideskripsikan oleh Jung (1921) sebagai orang yang memfokuskan energi mereka ke “dalam”, menuju pada aktivitas dengan diri sendiri atau yang disebut dengan thoughtful activities . Energi psikisnya muter aja di dalam diri, lalu berorientasi ke subjektif.  Makanya mereka suka merenung, sibuk sama bias nya sendiri, fantasi, imajinasi, mimpi, dan persepsi sendiri yang rame di kepala.

Kelihatannya memang suka menyendiri, tapi bukan kayak asyik sama dunia sendiri doang. Orang introvert juga memahami dunia di luar diri mereka, loh, namun mereka ini memahaminya dengan lebih selektif sesuai pandangan dan mereka ini lebih reflektif  ketimbang orang-orang ekstrovert. 

Kalau di pengalamannya Jung, introvert itu menggambarkan sisi kepribadian Jung nomor 2. Terutama yang fase introvert banget pas masa dewasanya itu, yang midlife crisis,  dimana Jung stop selama 4 tahun ga mau ngurusin dunia akademik dan memilih untuk ninggalin sesi terapi pasiennya. Ia mutusin buat ngurung dirinya dan bergulat sama batinnya sendiri.

Discovering the introverted pole of his existence , kalau kata Fiest (2018). 

Keseimbangan : Yin dan Yang 

“There is no such thing as a pure ekstrovert or a pure introvert. Such a man would be in the lunatic asylum” 

-Carl Gustav Jung- 

Sebenarnya dalam teorinya ini, Jung tidak pernah bilang kalau Ekstrovert dan Introvert itu digunakan untuk mengklasifikasikan orang. Ia meyakini bahwa nggak ada satupun orang di dunia ini yang sepenuhnya introvert ataupun ekstrovert. Nggak ada yang benar-benar 100%. Dan justru, orang yang totally introvert atau ekstrovert itu dianggap nggak seimbang sama Jung. Tiap orang memiliki kadar ekstrovert dan introvertnya masing-masing. Dan Jung pernah bilang, orang yang “sehat” secara psikis itu yang selalu berusaha mencapai keseimbangan dari dua titik ini, mencapai yin dan yang nya, agar terasa sama nyamannya dengan dunia di dalam diri dan dunia di luar diri. 

Dikritik oleh psikolog asal Jerman, Hans Eysenck 

Sekitar tahun 1960-an, seorang psikolog asal Jerman bernama Hans Eysenck jebolan University of London yang seumur hidupnya banyak menghabiskan waktu untuk belajar kepribadian,  memberi masukan buat teori Ekstrovert dan Introvert milik Jung. Ia berpendapat bahwa yang jadi pembeda utama antara introvert dan ekstrovert terletak pada cara mereka mendapatkan dan mengisi ulang energi mental mereka. By nature, para introvert memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi , jadi mereka kek lebih menjauh dari stimulus eksternal. Dengan menarik diri, mereka bisa dapat “energi” mental nya. Sementara itu, aktivitas saraf di otak ekstrovert lebih rendah dari introvert, mereka mengatasi hal ini dengan banyakin memaparkan diri ke stimulus eksternal buat ngisi “baterai” mental mereka. 

Miskonsepsi 

Banyak orang yang mandang ekstrovert dan introvert sebatas kek dari kulitnya doang. Ekstrovert berarti rame, introvert berarti pendiam dan pemalu. Padahal lo udah baca sendiri kan, di atas dibilang kalau kedua konsep ini have nothing to do dengan apakah lo pendiam atau rame. Ini soal gimana lo ngisi energi mental lo supaya gak terkuras. Lo ngisi nya dengan engage hal-hal ke luar diri, atau di dalam diri. 

Kalau dibuat ilustrasinya jadi gini  …

Ada orang namanya Zen dan Ius. Zen si ekstrovert dan Ius si introvert. Zen suka banget dirinya dikelilingi dan ngobrol sama teman sekelasnya. Dia enjoy banget tuh menjadi pusat perhatian dan selalu suka ngobrolin apa aja yang terlintas di pikiran dia. Dengan mencari rangsangan sosial di luar dirinya, Zen memperoleh “energi” mental. 

Ius, kebalikannya nih. Dia enjoy ngelakuin apapun sendirian. Ketika di sekolah ada temennya main rame-rame, dia suka jadi yang ngeliat doang. Kadang juga ikutan main. Ius, of course bisa sosialisasi bareng orang lain. Dia bahkan ga malu kok, buat kenalan sama orang-orang baru. Hanya, pas lagi di kerumunan teman-temannya yang banyak, dan dia ikutan ngobrol small talk, percakapan yang jadi dangkal dan membingungkan , dia lebih cepat capek.  So, buat nge-recharge baterai mentalnya, Ius butuh keadaan yang tenang dan damai, yang hanya dia doang aja di situ.  

Para peneliti bilang,  baik introvert dan ekstrovert menggunakan area otak yang berbeda. Si ekstrovert cenderung gunain memori jangka pendek dan asosiasinya cepat, oleh sebab itu, Zen  lebih cepat dan banyak ngomong. Itu karena otaknya lebih tangkas dan cepat nyambung-nyambungin topik obrolan satu dengan yang lain. Tapi seringnya, dia lebih banyak bicaranya duluan sebelum mikir. Di sisi lain, ada introvert yang otaknya lebih aktif dengan memori jangka panjang. Pikirannya lebih kompleks. Orang-orang macam Ius ini, yang seringnya mikir dulu baru ngomong, makanya mereka lebih banyak diem. 

Yang Terjadi di Otak Si Introvert dan Si Ekstrovert 

Ternyata cara kerja otak orang introvert dan ekstrovert itu cukup berbeda lho, guys. Perbedaan utamanya terletak di bagaimana otak mereka merespon neurotransmitter dopamin. FYI, dopamin itu sejenis neurotransmitter yang berkontribusi dalam perasaan “kesenangan” atau “pleasure” dan respons terhadap hal-hal baru. Dopamin membantu kita untuk fokus pada hal-hal yang bikin kita “exciting”. Bedanya introvert dan ekstrovertnya di sebelah mana? Apakah ekstrovert memiliki banyak dopamin ketimbang introvert? 

Nope. Keduanya memiliki jumlah dopamin yang sama kok. Namun, sebagaimana yang gue baca di penelitiannya Scott Barry Kaufman, seorang Scientific Director nya The Imagination Institute , mengungkapkan perbedaannya terletak di aktivitas dopaminnya. Dimana aktivitas dopamin orang ekstrovert lebih aktif dalam membangun reward network , sehingga mereka selalu berenergi dan sangat antusias pada hal-hal di luar dirinya yang bikin menyenangkan. Introvert, tidak begitu, aktivitas dopamin yang terlalu bejibun bikin mereka overstimulated. Dengan kata lain, nguras energi. 

Katanya Christine Fonseca dalam bukunya yang berjudul Quite Kids : Help Your Introverted Child Succeed in an Extroverted World, Orang-orang introvert justru lebih aktif di neurotransmitter yang berbeda, namanya acetylcholine. Ini mirip sama dopamin, guys. Terkait juga sama hal-hal yang membikin kita senang, bedanya yang ini tuh lebih relate ke dalam diri sendiri, bukan ke luar.

Ini berasosiasi dengan aktivitas kayak merenung, deep thinking, dan fokus pada suatu hal dengan jangka waktu yang relatif panjang. Hal ini juga yang membuat orang introvert lebih enjoy dengan lingkungan yang tenang tanpa distraksi eksternal, agar lebih bisa fokus ke dalam diri. Contohnya, ketika malming  lo baca buku sendirian di kamar, nah, itu lo sedang menikmati efek dari acetylcholine.

cta kuis zenius karir yang cocok
Klik banner di atas dan cek karir yang cocok buat elo!

Penutup 

Sampai lah kita di akhir pembahasan. Kalau dipikir-pikir kompleks juga ga sih teori Jung ini? , dan namanya juga ilmu pengetahuan, pasti mengalami perbaikan dan perkembangan dari para pemikir generasi setelahnya. Selalu ada antitesisnya. Tapi yang ingin gue tekanin di sini adalah, kita kan jadi sama-sama tahu kalau setiap teori , terutama teori psikologi dan kepribadian, memiliki hubungan erat dengan pengalaman si pencetusnya. Lo dari sini paham kan kalau Jung itu  jauh sebelum propose introvert dan ekstrovert, masa kecilnya sudah terpapar 2 disposisi kepribadian baik dari ibunya atau dari pengalamannya sendiri. 

Dan jangan salah, meski banyak menuai  kritik serta  banyak polesan, teori Jung ini punya kontribusi besar bagi perkembangan ilmu psikologi. Teorinya merupakan gerbang pembuka bagi para ilmuwan untuk membedah lebih dalam tentang sisi kepribadian manusia, teorinya ini bahkan berimplikasi hingga sekarang dimana ada lagi versi barunya dari McCrae dan Costa yang terkenal dengan nama Five Factor Trait Theory. Pada praktiknya, teori ini banyak digunakan oleh pebisnis untuk pendekatan brainstorming buat tim yang cenderung introvert atau ekstrovert; terus  pendidik untuk menyadari keunikan siswanya, hingga perusahaan untuk membuat tes/asesmen kepribadian  yang menyeleksi calon karyawannya.

 Lagian nggak jarang juga di budaya populer macam sekarang, lo lo pada juga ikutan kan memahami diri lo ini dominan ekstrovert atau introvert, berdasarkan tes psikologis gratisan di internet lah hingga nyari info yang tersebar di sosmed. 

Anyway, lo sendiri si ekstrovert atau introvert nih? 

Referensi

Feist, J., Feist, G J., Roberts, TA. (2018). Theories of Personality. McGrawHill Education 

Lieberman, M. D. (1998). Introversion and Working Memory  Central Executive Differences.   Personality and Individual Differences 28 (2000) 479-486 

https://positivepsychology.com/introversion-extroversion-spectrum/

https://www.britannica.com/biography/Carl-Jung

https://www.bbc.com/future/article/20130717-what-makes-someone-an-extrovert

https://www.verywellmind.com/what-is-acetylcholine-2794810


Yuk, kenali tokoh-tokoh besar lainnya dan bagaimana kontribusi mereka bagi dunia : 

Bagikan Artikel Ini!