John Dewey: Memupuk Semangat Merdeka Belajar dari Kisah Bapak Filsafat Pendidikan 25

John Dewey: Memupuk Semangat Merdeka Belajar dari Kisah Bapak Filsafat Pendidikan

Hai, Sobat Zenius! . Dalam artikel kali ini, gue akan membahas tentang tokoh bernama John Dewey dan kaitannya dengan konsep Merdeka Belajar. Hmm, kira-kira apa ya? 

Anyway. Sudah sering lah, Mas Nadiem Makarim berkali-kali menyampaikan istilah tersebut. By the way, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “Merdeka Belajar”? dan Seberapa penting konsep ini bagi perombakan pendidikan Indonesia? 

Well, gue akan jelaskan secara singkat, deh. Merujuk pada apa yang disampaikan oleh Mas Nadiem Makarim, Merdeka Belajar itu, ya tentang kemerdekaan berpikir, di mana siswa dapat menikmati proses pembelajaran dengan bebas tanpa hambatan dan tekanan psikologis. Harapannya, siswa bisa lebih mandiri untuk belajar dan mendapat pemahaman. Merdeka belajar juga menekankan pentingnya membangun suasana belajar yang menyenangkan antara pendidik dan siswa, di mana siswa diberi hak untuk berinovasi. 

Tapi, nih, yang namanya kebijakan mah selalu ada tantangannya. Salah satunya adalah mentalitas. Mentalitas untuk selalu mau belajar. Ini nih, yang selalu ZENIUS ingin lo punya, yaitu kebebasan mengeksplorasi ilmu pengetahuan yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kecintaan lo terhadap proses belajar, jadi, enggak ada tuh yang namanya belajar terbebani. Coba deh, lo simak mentalitas pembelajar yang merdeka tu kek gimana , lo bisa lihat videonya di sini : 

Ngomong-ngomong, nih. Sebenarnya konsep Merdeka Belajar sudah ada sejak zaman dulu banget. Izinkan Gue kenalin lo sama salah satu filsuf dan psikolog kondang yang bernama John Dewey, dari dia lah konsep pembelajar yang “merdeka” lahir. Siapa sih, John Dewey itu? 

Oke, singkatnya, John Dewey adalah salah seorang filsuf dan pemikir yang sering menulis tentang psikologi dan filsafat. Ia merupakan ketua dari American Psychological Association  tahun 1899. Ia yang kemudian dikenal dunia sebagai Father of Educational Philosophy.

Gue ngerti, sulit buat nulisin kisah hidup orang secara menyeluruh hanya dalam satu artikel. So, kalau banyak hal yang gue gak ceritakan tentang Dewey, gue minta maaf, yak. Melalui kisah hidupnya ini, gue cuma ingin nekenin “spirit merdeka belajar” yang dimiliki oleh John Dewey, dan semoga kita semua bisa belajar dari sosoknya. Sosok pembelajar sejati.

Mari kita simak kisahnya…

 

John Dewey: Memupuk Semangat Merdeka Belajar dari Kisah Bapak Filsafat Pendidikan 26

Source : www.intellectualtakeout.org

 

Latar Belakang Keluarga John Dewey

Pada tahun 1856,  sepasang suami istri bernama Archibald Sprague Dewey dan Lucina Artemisia Rich Dewey dikaruniai seorang anak laki-laki pertama mereka yang kemudian diberi nama John Archibald. Dua tahun kemudian, sang adik lahir dan diberi nama Davis Rich. Keluarga kecil itu sangat bahagia dan memastikan bahwa anak-anak mereka dapat tumbuh dengan baik, namun di suatu pagi yang cerah pukul 7 di tanggal 17 Januari 1859,  kejadian nahas menimpa si anak sulung tersebut.

Berita Burlington Vermont, Daily Free Press mengungkapkan bahwa John Archibald meninggal dunia akibat jatuh dan tertimpa semburan air panas dari ember besar di rumahnya, tak hanya itu, api yang merambat ke kapas menjadikan tubuh John Archibald  terbakar. Kejadian malang yang menimpa anak sulungnya itu membuat Lucinta dan Archibald menjadi lebih protektif dalam mengasuh anaknya.

Terutama saat anak ke-3 nya lahir pada 20 Oktober tahun 1859, yaitu John Dewey, di Kota Burlington, Vermont, sebuah negara bagian Amerika Serikat yang berbatasan langsung New York di baratnya, dan Kanada di sebelah utara. Kelahiran Dewey hanya berjarak 40 minggu dari kejadian nahas tersebut. Nama “John” diambil dari nama kakaknya yang telah meninggal, hal ini jelas menandakan Lucinta dan Archibald menganggap kelahiran tersebut sebagai pengganti putranya yang telah meninggal lebih dulu. 

Masa Kecil John Dewey 

John Dewey: Memupuk Semangat Merdeka Belajar dari Kisah Bapak Filsafat Pendidikan 27

Source : www.timetoast.com

 

John Dewey kecil hidup di bawah bayang-bayang John Archibald. Ini tentu bukan suatu hal yang mudah bagi John Dewey. Ya, lo bayangin aja punya orang tua yang memproyeksikan diri lo sebagai anak pengganti dari anak mereka yang sudah meninggal. Apalagi, ayah dan ibu John Dewey memiliki kepribadian dan temperamen yang sangat berkebalikan. Cara pendekatan mereka pada anak-anaknya pun berbeda, masing-masing punya kepentingan dan kebutuhan yang berbeda.

Sang ayah, Archibald Sprague Dewey, adalah seorang pengusaha yang hanya memiliki sedikit waktu untuk anak-anaknya. Lagi pula, ia cenderung lebih dekat dengan Davis, kakak John Dewey, daripada John. Maka tak heran jika Davis Rich kelak dikenal sebagai salah satu ahli ekonomi, itu karena sejak kecil, ia telah mengenali dunia bisnis yang dekat dengan ayahnya.

Sebaliknya, John Dewey justru memiliki ikatan yang dalam dengan sang ibu, Lucina. Dalam beberapa hal, John Dewey memiliki kemiripan dengan ibunya. Baik dari mata, dari fisiknya yang agak lemah, dan keduanya juga dikenal pekerja keras yang tak kenal lelah. Orang tua John Dewey ibaratnya tuh kayak dua dunia yang terbentang jauh. Yang satu menjunjung tinggi moral, memiliki empati, dan berjiwa sosial. Yang satunya, justru si otak bisnis dan suka mendalami ekonomi. 

Meski secara urutan kelahiran, Davis Rich lebih tua daripada John Dewey. Namun, jiwa John Dewey ini sudah sangat dewasa sejak masih kecil. Ia bahkan diperlakukan orang tuanya seolah-olah dia adalah anak pertama mereka.  Dia nih,  selalu bisa ngasih nasehat buat kebingungan yang dialami oleh abangnya itu. Layaknya seorang kakak tertua, John Dewey lah yang paling banyak mengasuh adik bungsunya yaitu Charles Miner, yang Davis  saja tidak memberi perhatian. 

Semangat John Dewey dalam Belajar 

Pada September 1867, John Dewey menjadi salah satu murid di District School No. 3 yang berlokasi di dekat rumahnya. Kontras dengan Davis dan Charles yang gaul banget sama teman-temannya, John Dewey dikenal pemalu dan suka menyendiri. Tahun 1872, Dewey mulai memasuki pendidikan menengah, di sana ia mulai bosan nih,  sama kurikulum sekolahnya yang bertele-tele dan tidak memberikan hal baru untuknya. Untungnya, John Dewey ibaratnya nih lahap banget sama aktivitas membaca. Dia selalu memupuk rasa penasarannya pada buku-buku bacaan yang dipinjamnya di sekolah.

Saat duduk di bangku kuliah, di University of Vermont, John Dewey masuk kalangan mahasiswa yang diam-diam menghanyutkan, diam-diam NGAMBIS! . Tapi,  memang dasarnya doi ini suka banget sama kegiatan “berpikir”, dia mikir kalau masa-masa kuliahnya belum memberinya gambaran soal arah hidup di masa depan. Maklumlah, dia masuk kuliah di usia 15 tahun. Masa di mana seorang remaja lagi enak-enaknya Maka dia selalu mencari lewat lembar-lembar buku di antara 16 ribu buku di perpustakaan universitasnya. Yang ingin coba gue tekankan di sini, Dewey muda, sejak mula emang udah kelihatan jiwa-jiwa merdeka belajarnya. Ia selalu mencari tahu pengetahuan baru yang ingin ia dalami terutama dalam hal filsafat. Terlepas dari mata kuliah yang ia ambil. Dia selalu menginginkan hal baru, mutakhir, dan eksperimental. Bacaan-bacaan Dewey yang mengarah ke sains, membuat ia tertarik pada pendekatan filsafat yang positivism. 

Masa Dewasa dan Karir

Mengantongi gelar sarjana tidak lantas membuat Dewey tahu ke mana lagi ia harus melangkah. Ia memutuskan untuk merantau ke Oil City, dan di sana lah ia mulai berkenalan dengan aktivitas mengajar. Yaps, Dewey memperoleh pekerjaan pertamanya sebagai guru dari sepupunya yang menjadi kepala sekolah di Oil City High School. Saat itu usianya baru menginjak 20 tahun. Ngajar lah dia si situ. Tapi, dua tahun kemudian, Dewey kehilangan posisinya ketika sepupunya mengundurkan diri sebagai kepala sekolah di sana. 

Dewey akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Vermont dan memulai lagi aktivitas mengajar di salah satu sekolah privat di Vermont. Dengan menjalani rutinitasnya sebagai guru, Dewey selalu nyempetin buat baca buku filsafat dan berdiskusi dengan gurunya, Torrey, di sela-sela waktu kerjanya. Minat Dewey pada topik tersebut membuat ia memutuskan untuk berhenti mengajar dan mendaftar kuliah lagi di Universitas John Hopkins untuk mempelajari lebih dalam mengenai filsafat dan psikologi. 

Lulus dengan gelar doktor di universitas John Hopkins pada tahun 1884, membawa John Dewey pada posisi asisten profesor di Universitas Michigan. Di sana lah ia bertemu Harriet Alice Chipman, yang kemudian diperistrinya. Di tahun 1894, Dewey ditunjuk menjadi kepala departemen filsafat di Universitas Chicago. Kemudian tahun 1904, ia menjadi professor of philosophy di Universitas Columbia dan mengajar di Teachers College. 

 

Filsafat Pendidikan John Dewey yang Beraliran Progresivisme 

Sumbangsih terbesar John Dewey yang paling kentara di bidang pendidikan ya aliran filsafat progresivisme ini. Dari komposisi katanya, lo bisa lihat, progresivisme sering dikaitkan dengan kata progres yang artinya perbaikan atau kemajuan.  John Dewey mempelopori gerakan ini karena ingin nekenin bahwa proses belajar itu ya harus secara holistik, dimana lo bisa menerapkan kecerdasan yang lo punya untuk  mengembangkan kehidupan personal dan sosial lo. Menekankan pada segi kebermanfaatan bagi kehidupan lo, dan bukan semata-mata untuk nilai di atas kertas.

Singkatnya nih, pendidikan baru dikatakan berhasil tatkala individu itu bisa terlibat aktif dalam pembelajaran dan mendapat banyak pengalaman untuk bekal hidupnya. Sebagai pelajar, menurut sudut pandang filsafat ini, lo emang kudu luwes dan fleksibel karena  dipandang sebagai makhluk yang dinamis dan kreatif. Itulah mengapa, menurut gue, aliran progresivisme ini 11:12 lah sama konsep Merdeka Belajar.

Keduanya sama-sama melihat fungsi pendidikan yaitu untuk memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada individu sehingga potensi-potensinya dapat berkembang dengan baik. Kemerdekaan belajar ini juga dihubungkan dengan pemahaman bagaimana lo mempelajari sesuatu, bukan sekedar belajar “apa” nya, tetapi juga “bagaimana”.  Learning how to learn, dengan begitu lo dapat mencapai kemampuan untuk belajar dengan “merdeka”. Bagaimana cara ngembanginnya? Lo bisa lihat video ZENIUS yang satu ini : 

 

Menurut Dewey, Belajar itu…

Since learning is something that the pupil has to do himself (or herself) and for himself (or herself), the initiative lies with the learner” – John Dewey 

Belajar itu harusnya bukan lah proses yang membebani diri lo.

Ekhem, gue berusaha memahami bahwa “beban” dari proses belajar dapat disebabkan oleh multifaktor entah dari lingkungan lo atau dari diri lo sendiri. Tapi sekarang coba kita fokusin ke diri sendiri dulu, bahwa berdasarkan apa yang gue baca dari studi-studi Dewey, in the end  semua yang dibutuhkan oleh seorang pembelajar sejati bermuara pada satu hal, yaitu semangat   “lifelong learning”.

Yes, belajar sepanjang hayat. Dimana lo belajar bukan semata untuk nilai di raport doang, tapi lo paham esensinya untuk mendapat keterampilan berpikir, berefleksi, dan menerapkan apa yang lo pelajari untuk kehidupan lo.

Tanpa semangat ini, lo gak mungkin mau kepo sama ilmu pengetahuan di luar sana. Tanpa semangat ini, lo hanya ngandelin dicekokin guru doang di sekolah tanpa inisiatif sendiri untuk mencari tahu. Tanpa semangat ini juga, lo sulit untuk menganggap belajar sebagai proses yang enjoy. Semangat ini lah yang ZENIUS ingin lo bangun, yaitu menumbuhkan kecintaan belajar, menumbuhkan rasa kepo, dan bebas dari tekanan karena belajar itu proses yang mesti dinikmati.

 

Warisan John Dewey Bagi Pendidikan Saat Ini 

Learner-centered 

Adanya konsep Progressive Education yang dibangun oleh John Dewey mencakup pengalaman belajar yang menekankan peran aktif dari pelajar. Dewey bukan hanya seorang filsuf pendidikan, tetapi ia juga praktisi pendidikan dengan pengalaman mengajar bertahun-tahun. Berdasarkan pengalamannya itu, Dewey tidak pernah cekokin dogma-dogma, tetapi melatih siswanya untuk ngebangun hipotesis dan mengajari reflective thinking.

Dari situ, Dewey menyadari bahwa pengajar harusnya tidak sekedar ngasih pengetahuan banyak-banyak, tetapi juga harus melatih thinking skills siswanya. Dengan melatih pola pikir ini lah, Dewey berharap anak punya kebebasan untuk belajar apapun secara “merdeka” tapi tetap dalam koridor thinking skills

“The sole direct path to enduring improvement of the methods of instruction and learning consists in centering upon the conditions which exact, promote, and test thinking” – John Dewey 

 

Montessori  

Metode montessori adalah bukti masih hidupnya teori John Dewey di abad ke-21 ini. 

Konsep ini singkatnya menekankan pengajar untuk membuat kurikulum dan desain pembelajaran yang disesuain sama siswanya. Gak sedikit juga kok, sekolah-sekolah yang mulai aware untuk bikin kurikulum yang disesuaikan sama minat siswanya, kemampuan siswanya, bahkan kebutuhan siswa dalam interaksi sosialnya.

Gue baca dari studinya Lillard (2013), katanya, metode montessori ini dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi intrinsik karena pelajarnya pada ngerasa dingertiin sama gurunya.

Sekarang udah ada ribuan sekolah dengan metode montessori yang tersebar di seluruh dunia (Thayer-Bacon, 2012).

 

Connection between learning and life 

Lo kalau pernah dengar ungkapan, “learning by doing”, nah, itu salah satu warisannya John Dewey juga. Belajar tuh jadi se menyenangkan itu, kalo lo gak cuma paham teorinya, tapi juga aplikasinya di real life , ye gak? Jadi lebih lengket aja di otak.

Yups, pendidikan itu bagian dari hidup, kata John Dewey. Jadi, dalam hal ini Dewey ingin nih, ilmu pengetahuan di kelas bisa direfleksikan di kehidupan nyata. Seperti yang udah gue sebut di atas, Dewey jarang banget nyuruh siswanya menghafal materi-materi, tapi lebih pada ngajak berpikir dan berefleksi kira-kira yang kita pelajari tuh kaitannya sama kehidupan nyata apa yah? . Kurang lebih seperti itu. 

Penutup

Teori John Dewey ini sebenarnya sudah banyak diaplikasikan oleh berbagai sekolah di seluruh belahan dunia. Gue selalu berharap, sekolah-sekolah di Indonesia juga memiliki concern yang sama. Harapan gue, program Merdeka Belajar akan menjadi langkah awal sekaligus nafas panjang nan segar bagi pendidikan di Indonesia yang lebih baik nantinya.

Karena yang paling penting adalah gimana kita-kita nih, punya kemauan dulu untuk belajar dari dalam diri, seterusnya gampang deh gak ada lagi belajar yang beban-beban. 

As the closing notes, gue ingin nekenin lagi bahwa  proses belajar bukan sesempit di dalam kelas doang, tapi untuk kehidupan lo kelak. Belajar harusnya bisa jadi proses lo membentuk diri lo menjadi lebih bijak jalani hidup. So,  izinkan gue mengutip quotes favorit gue dari John Dewey ini, 

 

“ Education is not a preparation for life, hence education is  life itself” – John Dewey

 

***

Referensi

 

Martin, Jay. (2002). The Education of John Dewey : A Biography. Columbia University Press

Mustaghfiroh, S. (2020). Konsep “Merdeka Belajar” Perspektif Aliran Progresivisme John Dewey. https://doi.org/10.30605/jsgp.3.1.2020.248 141

Pillsbury, W. B. (1957). John Dewey. National Academy of Sciences : Washington D.C 

Simpson, D. J. (2001). John Dewey’s Concept of the Student. Canadian Journal of Education 

Slaughter, T. (2009). Creating a successful academic climate for urban students. Techniques, 16-19. 

Williams, M K. (2017). John Dewey in the 21st Century. Journal of Inquiry & Action in Education, 9(1), 2017

 


Untuk menumbuhkan motivasi “lifelong learning” dalam diri lo, coba cek juga artikel berikut : 

https://www.zenius.net/blog/meningkatkan-motivasi-belajar

https://www.zenius.net/blog/cara-belajar-hal-baru

https://www.zenius.net/blog/definisi-arti-belajar