Fans Fanatik Sama dengan Obsesi?

Fans Fanatik Sama dengan Obsesi? 17

‘Cause I-I-I’m in the stars tonight

So watch me bring the fire and set the night alight

Hayo … elo bacanya sambil nyanyi, nggak? Coba jujur! Duh, kalo Army atau penggemarnya BTS sih, udah otomatis nyanyi sambil joget kalo denger lagu Dynamite (2020) ini. 

Siapa sih, yang nggak kenal sama lagu super booming ini? Bahkan, pas gue lagi ngantri di kasir Indomaret, lagu ini sempat diputar berkali-kali. Ya … gue yang termasuk sebagai Army sih senang-senang aja ya, dengerin lagu mereka terus-terusan. 

Namanya juga fans, wajar dong kalo mengapresiasi hasil karya artisnya dengan cara dengerin lagu mereka? Jiah, mantap amat kata-kata gue.

Tapi beneran nih, apalagi lagunya mereka kan kebanyakan Bahasa Korea, ya. Kalau dipikir-pikir, sekarang tuh gue udah kayak native speaker-nya Korea aja deh, karena hafal lagu-lagunya. Eh, sekarang mah nggak usah dipikir-pikir lagi! 

Di Zenius, elo bisa langsung ikut kursus Bahasa Korea sambil dengerin suaranya abang Jungkook yang merdu itu. Atau, elo bisa belajarnya sambil ngeliatin postcard BTS. Seriusan? Iya! Soalnya, Zenius udah kerja sama bareng HYBE atau agensinya BTS yang dulunya yaitu BigHit. Nah, sekarang HYBE membawahi Bighit, Belift, Source Music, Pledis, COZ, sama HYBE Japan.

Jadi, HYBE yang ngeluarin buku Learn Korean with BTS, dan berkolaborasi sama Zenius biar elo bisa belajar Bahasa Korea. Nah, elo bisa belajar pakai buku dari HYBE, atau ikut live class aja bareng tutor tanpa buku.

Kapan lagi kan, belajar bahasanya ayang Jimin, terus dapetin merchandise mereka? Langsung aja deh, cari tahu di Belajar Bahasa Korea Seru dengan Kurikulum Buku BTS cuma di Live Class Zenius

Tapi sebagai orang yang sama-sama fangirling ke BTS, apa sih hal terjauh yang pernah elo lakuin? Duh, kalo gue sih orangnya ngebosenin. Paling, cuma spam di instagram story aja pas lagi nontonin mereka.

Tapi di tahun 2019 lalu, V BTS sempat curhat nih di media sosial kalau ada fans yang pernah pesan tiket pesawat persis di sebelah dia. Nah, dia cerita kalau nggak nyaman dan merasa takut di situ.

Mungkin nggak sih, kalau hal yang dilakukan salah satu fans-nya itu termasuk ke obsesi? Biar nggak bertanya-tanya sendiri, temenin gue bahas di sini aja, ya!

Baca juga: Fenomena Gundam sampai Jadi Budaya Jepang

Apa Itu Obsesi?

Menurut buku punya Lennard J. Davis yang judulnya Obsession (2008), obsesi adalah pemikiran yang mengganggu otak elo terus-menerus sampai elo merasa cemas sendiri.

Kalau secara psikologi, obsesi ini tuh kayak keinginan yang ada dari lubuk hati elo buat ngelakuin atau ngedapetin sesuatu yang elo mau. 

Contoh pola pikir yang mengarah ke rasa obsesi (Arsip Zenius)
Contoh pola pikir yang mengarah ke rasa obsesi (Arsip Zenius)

Kalau kita sebagai fans sih, senang-senang aja ya kalau bisa lebih dekat sama mereka. Jujur aja, gue pribadi juga kalau bisa menggapai mereka dari dekat sih, mau banget. 

Tapi, kayaknya kita juga harus bisa lebih ngerti sama batasan. Soalnya gini, idol kan biasanya punya jadwal kesibukan yang padat, ya. Bisa jadi, satu-satunya waktu V BTS buat istirahat itu cuma di pesawat aja. Niatnya dia mau tidur nyenyak, mungkin jadi nggak nyaman dan malah nggak bisa istirahat deh, pada saat itu. 

Nah, dalam dunia K-pop, rasa obsesi ke idol ini tuh ada istilahnya juga, yaitu sasaeng atau simpelnya sih fans fanatik. Dari jurnal punya Gregorio Fuschillo yang judulnya Journal of Consumer Culture (2018), fans fanatik adalah fans yang punya rasa komitmen emosional cukup intens sampai menghasilkan action.

Gue punya beberapa kasus sasaeng K-pop yang dikeluhkan juga sama para idol-nya, nih.

Beberapa kasus fans fanatik yang terjadi di Korea Selatan (Arsip Zenius)
Beberapa kasus fans fanatik yang terjadi di Korea Selatan (Arsip Zenius)

Hayo … menurut elo gimana, nih? Kasian juga ya idol kita bersama jadi merasa nggak nyaman.

Baca juga: Genre Musik Emo, Apa Pengaruhnya dari Masa ke Masa?

Kenapa Kita Bisa Terobsesi sama Selebriti, ya?

Dari berbagai kasus sasaeng di atas, menurut elo gimana? Lagian, dari mana sih datangnya rasa obsesi? Kok bisa, seseorang sampai terobsesi sama selebriti?

Gue punya temuan nih, dari jurnal yang dilakukan sama empat peneliti dari Amerika Serikat dan Inggris yang berjudul The Journal of Psychology: Interdisciplinary and Applied (2014). Menurut jurnal tersebut, sebenarnya kalau nge-fans atau mengagumi selebriti, itu normal banget. Tapi, beda cerita kalau udah masuk ke obsesi. 

Saat kita mengidolakan seseorang, itu sebenarnya baik karena ada sisi di mana kita bisa punya kehidupan sosial bareng fans lainnya. Apalagi kalau orang yang bersifat pemalu, ibaratnya sih punya tempat di mana interaksi sosial bisa digunain. Contohnya nih, sebagai sesama fans, gue sama elo mungkin cocok ngobrolin konser BTS yang bakal tayang bulan Maret nanti. 

Tapi negatifnya dari bidang psikologi, ada sisi penguntit dari diri setiap fans. Hah? Masa iya? 

Contoh pola yang membentuk rasa obsesi kepada selebriti (Arsip Zenius)
Contoh pola yang membentuk rasa obsesi kepada selebriti (Arsip Zenius)

Makanya, menurut Live Science, salah satu platform yang membagikan berita tentang sains, biasanya rasa obsesi ke selebriti ini muncul pada orang-orang yang masih muda. Yap! Kayak gue dan elo. Soalnya, katanya tuh kita masih dalam proses mencari jati diri. Pas kita terobsesi sama BTS contohnya, ini tuh kayak ngasih perasaan kalau kita punya jati diri.

Baca juga: Review Encanto Disney: Pelajaran Hidup Menarik dari Keluarga Madrigal

Gimana sih, Caranya Mengurangi Rasa Obsesi?

Ternyata, nggak baik juga ya, kalau terobsesi sama selebriti? Nge-fans boleh, tapi kalau ngeliat beberapa kasus sasaeng di atas, jadi kasihan juga sama idol-nya. 

Terus, kalau gue udah terlanjur terobsesi, gimana dong cara nguranginnya?

Menurut Psychology Today, salah satu platform psikologi dari Amerika Serikat, harus belajar dulu buat mengalihkan perhatian. Bukan perhatian ayang elo, ya. Beda!

Maksudnya, elo bisa mengalihkan diri buat ngelakuin sesuatu yang disuka. Elo suka apa, sih? Nonton Netflix, baca novel, atau belajar Bahasa Korea bareng bukunya BTS di Zenius? Lakuin aja. Hal-hal kayak gini tuh simpel, tapi bisa menarik rasa obsesi.

Terus, coba deh elo mulai lebih fokus sama apa yang mau digapai. Nggak usah jauh-jauh buat lima tahun ke depan. Coba fokus aja di tahun ini, elo mau ngapain? Misalnya mau lulus UTBK, kalau gitu elo bisa mulai belajar lagi bareng tutor-tutor yang asyik di Zenius. Semakin elo fokus sama tujuan yang mau diambil, semakin hilang juga pikiran-pikiran obsesi yang datang.

Pola pikir yang bisa mengurangi rasa obsesi (Arsip Zenius)
Pola pikir yang bisa mengurangi rasa obsesi (Arsip Zenius)

Jadi, sebenarnya rasa obsesi ini nggak baik buat diri elo, dan buat idol juga. Niatnya mau sekadar lebih dekat sama idol, tapi dianya jadi nggak nyaman. Nah, lebih baik elo coba mengelola atau menata ulang rasa obsesinya. Dengan begitu, elo bisa lebih fokus ke diri sendiri.

Nih, gue coba kasih beberapa rekomendasi film dokumenter selebriti ternama, yang bisa elo jadiin inspirasi juga, ya. Di film ini, banyak banget life lesson yang bisa elo ambil. Lumayan lho, bisa jadi salah satu cara buat elo mencari distraksi.

Fans Fanatik Sama dengan Obsesi? 18
Infografis rekomendasi film dokumenter selebriti (Arsip Zenius)

Jadi, sebenarnya boleh-boleh aja lho, untuk ngefans dan kagum. Itu hal yang natural banget, malah. Cuma, kita sebagai fans juga kalau bisa usahain buat menempati diri juga ya, alias tahu batasannya. 

Hayo … jadi di sini ada fans dari siapa aja, nih? Coba yuk, sharing di kolom komentar. Siapa tahu bisa ketemu teman baru dari fandom yang sama.

Baca juga: Apa Itu Martial Arts, Kenapa Kita Suka Film Action?

Reference:

Obsession – Lennard J. Davis (2008)

Journal of Consumer Culture – Gregorio Fuschillo (2018)

Sasaeng Fans Sells EXO Members’ Underwear – Soompi (2014)

The Journal of Psychology: Interdisciplinary and Applied – Lynn E. McCutcheon, Diane D. Ashe, James Houran, John Maltby (2014)

Oscar Psychology: Why Celebrities Fascinate Us – Live Science (2012)

Overcoming Obsession – Psychology Today (2010)

Bagikan Artikel Ini!