Tahu Nggak Sih, Apa Hubungan Cinta Masa Remaja dengan Pubertas?

Tahu Nggak Sih, Apa Hubungan Cinta Masa Remaja dengan Pubertas? 33

Hayo … siapa yang di sini suka nonton film dokumenter? Pernah denger dokumenter Netflix berjudul The Tinder Swindler (2022) yang sempat viral pas rilis di awal Februari lalu? Film ini ada kaitannya dengan tema artikel yang akan kita bahas sekarang, yaitu hubungan cinta masa remaja dengan pubertas.

Hah? Emang pemainnya masih puber?
Bukan dong hehe, karena film ini menyangkut hubungan yang katanya ‘cinta’. Kita akan mengupas tahapan-tahapan orang dalam menjalin hubungan, dimulai dari cinta masa remaja!

Poster film The Tinder Swindler (2022) (dok. Netflixjunkie)
Poster film The Tinder Swindler, 2022 (dok. Netflixjunkie)

Jadi, film dokumenter bergenre kriminal ini mengangkat kisah nyata dari seorang pria bernama Simon Leviev yang menipu banyak perempuan melalui aplikasi kencan bernama Tinder.

Simon ini punya trik tersendiri dalam mengelabui korbannya. Di tahap awal PDKT, Simon akan membangun image dirinya sebagai seorang businessman sukses. Setelahnya, Simon bakal mengajak si calon korban untuk bertemu langsung. Pas kopi darat ini, banyak perempuan yang beneran tertipu dengan sosok Simon yang memang terlihat kaya raya.

Dari situ, Simon mulai mencoba membangun hubungan lebih dekat lagi. Nah, ketika korban menunjukan rasa percaya pada dirinya, barulah Simon menjalankan modus penipuan dengan meminjam uang dari korban. Dia beralasan kartu kreditnya tidak bisa dipakai karena takut akan terlacak oleh musuh bisnisnya yang berbahaya. Sontak, korban pun merasa iba dan rela meminjamkan uang begitu banyak untuknya.

Hal penting yang bisa kita analisa dari film ini, yaitu cara Simon melakukan pendekatan emosional pada korban. Simon memulainya dengan melakukan taktik love bombing, dengan banyaknya perhatian yang ia berikan Simon berusaha memanipulasi korban lewat pendekatan emosional. Yap! ternyata sekrusial tu loh peran kedekatan emosional dalam kasus Simon.

Bahkan menurut  Healthline, platform kesehatan dari Amerika Serikat, kedekatan emosional udah lebih jauh dari tahap cinta dalam sebuah hubungan. 

Supaya elo nggak bingung, kita bakal mulai pembahasan dari definisinya, tahapan cinta di masa remaja sampai fase di mana seseorang bisa mencapai kedekatan emosional.

Baca juga: Infografis: 12 Binatang Sebagai Lambang Zodiak China

Apa Itu Cinta?

Sebelum merasa dekat secara emosional, biasanya orang-orang akan mengalami jatuh cinta dahulu. Nah, pertanyaannya, apa sih sebetulnya cinta itu?

Dilansir dari Verywellmind, salah satu platform kesehatan mental dari Amerika Serikat, cinta merupakan sepaket emosi dan perilaku yang melibatkan perhatian, kasih sayang, kepercayaan, sampai rasa ingin melindungi.

Emosi yang didapat dari orang yang jatuh cinta sebenarnya cukup beragam, lho. Kalau dari segi positif, cinta menimbulkan kegembiraan sampai kepuasan. Sedangkan dari segi negatif, cinta bisa memancing kecemburuan. Apalagi kalau udah putus cinta, emosi yang didapat bisa makin intens dan berpengaruh ke otak elo. Kalau penasaran, elo bisa cari tahu lebih banyak di Kenapa Putus Cinta Bikin Dada Nyesek?

Kalau menurut Verywellmind, platform yang membahas kesehatan mental, cinta terbagi menjadi lima tipe.

Lima jenis cinta menurut Verywellmind:

  • Cinta dalam pertemanan, menyukai seseorang yang berbagi cerita atau curhat sama lo
  • Cinta berdasarkan kekaguman, tertarik tapi belum mau berkomitmen di awal. Cinta ini bisa banget bertahan lama seiring rasa kagum yang semakin dalam.
  • Cinta penuh semangat, biasanya elo mau dekat terus sama dia nih, bahkan sering kangen kalau jauh-jauhan.
  • Cinta yang penuh kasih, ditandai dengan komitmen, kasih sayang, dan juga kepercayaan.
  • Cinta bertepuk sebelah tangan, perasaan cinta yang tidak terbalaskan.

Dari kelima jenis cinta itu, kira-kira mana nih yang pernah elo alami? Yuk, cerita di kolom komentar!

Baca juga: Fenomena Cyberbullying, Kenapa Pelaku Suka Merundung?

Apa Kaitannya Pubertas dan Jatuh Cinta?

Tahu Nggak Sih, Apa Hubungan Cinta Masa Remaja dengan Pubertas? 35
Photo by Jamez Picard on Unsplash

Dilansir dari The British Psychological Society (BPS), salah satu platform para psikolog di Inggris, jatuh cinta ada hubungannya sama pubertas. Mmm, bisa jadi ini alasannya kenapa istilah cinta monyet, alias cinta yang muncul pas elo awal-awal puber bisa populer.

Kalau menurut NHS, salah satu layanan kesehatan milik Inggris, sebenarnya pubertas terjadi dengan umur yang bervariasi. Mulai dari umur 8 sampai 14 tahun dengan tahapan yang berbeda-beda di setiap tahunnya.

Untuk umur rata-rata perempuan, pubertas biasa dimulai dari usia 11 tahun. Tanda fisik yang bisa dilihat dari pubertas tahap pertama adalah payudara yang mulai tumbuh. Setelahnya sekitar satu atau dua tahun kemudian, perempuan akan mengalami menstruasi atau siklus perdarahan di setiap bulannya.

Sedangkan untuk laki-laki, umur rata-rata pubertas dimulai sejak usia 12 tahun. Tanda fisik pertama yang bisa dilihat adalah tumbuhnya rambut di kemaluan. Setelah setahun dari tahap pubertas pertama, barulah lelaki akan mengalami mimpi basah atau peristiwa ejakulasi saat tidur.

Hal yang perlu sobat Zenius ketahui, perubahan yang terjadi nggak hanya dari segi fisik aja, lho. Laki-laki dan perempuan yang mengalami pubertas juga merasakan perubahan emosional. Contohnya macam-macam, mulai dari kurangnya rasa percaya diri, sampai perubahan emosi yang nggak teratur (mood swing). Di masa-masa ketika emosi mereka makin campur aduk, jatuh cinta adalah salah satunya.

Mungkin sebagian dari elo yang pernah ngerasain jatuh cinta setuju kalau lagi jatuh cinta, rasanya dunia jadi milik berdua aja. Nah, ini bisa kita kaitkan sama sisi psikologi seseorang. Dilansir dari The International Psychology Clinic, salah satu klinik psikolog di London, jatuh cinta bisa memproduksi hormon dopamine dan oksitosin di otak.

Jadi, kalau elo selalu merasa berbunga-bunga pas mikirin atau ketemu dia, itu karena adanya kedua hormone tersebut di otak. Nah, hormone tersebut mempunyai fungsi untuk membuat seseorang jadi lebih bahagia.

Biasanya nih, ketika elo melakukan kontak fisik dengan orang yang elo suka, zat oxytocin-nya itu bisa dilepaskan. Efeknya, elo bakal merasa lebih aman, senang, tenang, dan puas. Hayo … siapa yang pernah ngerasain hal begini pas lagi jatuh cinta?

Terus, kalau kehidupan percintaan elo lancar, penelitian membuktikan ternyata punya koneksi yang erat sama pasangan itu bisa mengurangi stres dalam jangka panjang. Ini lah kenapa kedekatan emosional itu penting banget.

Baca juga: Review Encanto Disney: Pelajaran Hidup Menarik dari Keluarga Madrigal

Kedekatan Emosional

Tahu Nggak Sih, Apa Hubungan Cinta Masa Remaja dengan Pubertas? 36
Photo by Jamez Picard on Unsplash

Koneksi yang erat sama pasangan itu dibangun dari kedekatan emosional. Jadi, kedekatan emosional ini terjadi saat elo lagi bonding atau dalam proses membangun hubungan lebih erat.

Menurut Sanam Hafeez, seorang neuropsikolog di Amerika Serikat, kedekatan emosional bisa didefinisikan sebagai cara seseorang agar terhubung lebih dekat. Ketika seseorang sudah mencapai kedekatan emosional, mereka akan mengungkapkan perasaan lebih dalam, jujur, serta mempunyai kepercayaan yang kuat antar satu sama lain.

Contohnya, elo bakal lebih santai dalam berbagi cerita dan rahasia kalau udah mencapai kedekatan secara emosional. Kalau hubungan elo belum sampai ke tahap kedekatan emosional, kemungkinan besar elo bakal nggak terlalu terbuka dalam bercerita.

Menurut Healthline, kedekatan emosional bisa membantu hubungan supaya terus berkembang dan berlangsung jangka panjang. 

Seperti yang udah gue jelaskan di atas, kalau jatuh cinta itu karena hormon oxytocin. Nah, hormon ini tuh sebenarnya cuma ada di tahapan awal elo berhubungan aja. Selanjutnya, hubungan yang dibangun ini akan hanya akan diisi dengan kedekatan emosional. 

Jadi, seiring hormon yang memudar, hubungan bisa tetap bertahan jika ada sebuah kedekatan emosional. Tapi, as a reminder, ternyata kedekatan emosional juga punya pengaruh negatif yang akhirnya membuat batasan dalam hubungan. Elo bisa cari tahu lebih lanjut tentang batasan hubungan yang sehat dan nggak sehat di Infografis: Gaya Pacaran Berdasarkan Attachment Styles, ya.

Oke, dari artikel ini makin kebayang kan kalau kedekatan emosional ini berpengaruh besar dalam sebuah hubungan? Ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa Simon Leviev berhasil mengelabui korbannya.

Nah, kalau sobat Zenius gimana? Pernah ngerasain kedekatan emosional sama si doi kah? Hehe.

Updated by: Yunita Widyaningsih

Baca juga: Fenomena Gundam sampai Jadi Budaya Jepang

Referensi:

What Is Love? – Verywellmind (2020)

Teenagers in Love – The British Psychological Society (2016)

Stages of puberty: what happens to boys and girls – NHS (2021)

How to build emotional intimacy with your partner – starting tonight – NBC News (2020)

4 FAQs About Emotional Attachment – Healthline (2020)

Bagikan Artikel Ini!