Fenomena Cyberbullying, Kenapa Pelaku Suka Merundung?

Fenomena Cyberbullying, Kenapa Pelaku Suka Merundung? 17

Sobat Zenius, belakangan ini istilah cyberbullying lagi ramai diperbincangkan di media sosial, lho. Kim Jennie, salah satu anggota girlband Kpop yang sedang naik daun bernama Blackpink, menjadi salah satu sasaran cyberbullying para netizen pada awal Februari lalu.

Dilansir dari akun Twitter @JennieNaver (06/02/2022), ada sekelompok orang yang menggunakan fitur Space di Twitter (forum untuk followers ngobrolin topik tertentu) dan menargetkan Jennie dengan komentar slutshaming atau julukan yang mengarah ke perilaku sensual.

Fenomena Cyberbullying, Kenapa Pelaku Suka Merundung? 18
Berita mengenai Jennie yang viral dibicarakan di Space Twitter dengan komentar yang jelek (dok. Twitter @JennieNaver)

Percakapan dari Space itu akhirnya tersebar dan banyak yang ikut merundung Jennie, sampai membuat fans geram dan meramaikan hashtag #LeaveJennieAlone. 

Memangnya, seperti apa sih, cyberbullying itu? Supaya makin paham dan jelas, yuk kita diskusi bareng di sini!

Apa Itu Cyberbullying?

Sebelum bahas lebih jauh mengenai fenomena cyberbullying, gue mau kasih tau perbedaan antara bullying dan cyberbullying.

Perbedaan bullying dan cyberbullying (Arsip Zenius)
Perbedaan bullying dan cyberbullying (Arsip Zenius)

Bully juga ada macam-macam nih, mulai dari verbal seperti perkataan yang tertuju untuk menyudutkan seseorang, sampai kontak fisik seperti memukul.

Singkatnya, bully ini terjadi secara langsung atau saat pelaku berhadapan dengan si korban. Sedangkan cyberbullying, dilakukan lewat media sosial.

Beberapa contoh yang bisa termasuk ke cyberbullying yaitu berkomentar jelek yang menyudutkan seseorang, mengancam, berpura-pura menjadi orang lain dan menyebarkan informasi negatif tentang orang lain, sampai menyebarkan foto atau video yang menyinggung orang lain.

Richard Donegan, salah satu peneliti dari Elon University di Amerika Serikat, membuat jurnal ilmiah berjudul Bullying and Cyberbullying (2012). Ia mengungkapkan kalau cyberbullying udah ada sejak tahun 1990-an, lho. 

Dari situlah, mulai banyak remaja yang melakukan bully melalui media sosial. Nah, salah satunya di aplikasi pengiriman pesan seperti AOL Instant Messenger atau platform seperti SMS, yang akhirnya sekarang berlanjut hingga ke Facebook ataupun Instagram.

Salah satu contohnya yang mungkin pernah elo dengar nih, yaitu cyberbullying yang dilakukan kepada Betrand Peto, anak dari seorang presenter Indonesia bernama Ruben Onsu.

Jadi, ada beberapa netizen yang dengan sengaja mengedit foto Betrand dengan gambar binatang dan menyebarkannya di Facebook pada bulan Januari tahun 2020. Karena geram, akhirnya Ruben membawa kasus tersebut ke ranah hukum dengan melaporkan para pelaku, nih. 

Dari situ, diketahui bahwa pelakunya masih di bawah umur, yakni 11 tahun. Karena laporan ke ranah hukum, akhirnya orang tua pelaku mendatangi Ruben Onsu dan meminta maaf atas kasus cyberbullying yang dilakukan anaknya. 

Akhirnya, Ruben memaafkan kedua orang tuanya tersebut, namun tetap menjalani proses hukum yang berlaku agar dapat menjadi pelajaran sosial bagi masyarakat luas.

Nah, elo bisa banget nih cari tahu lebih banyak tentang data statistik kasus cyberbullying dan cara menghadapi cyberbulling lewat Infografis Cyberbullying: Ciri-ciri, Dampak, hingga Cara Menghadapinya, ya.

Baca juga: Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi

Kenapa Orang Jadi Pelaku Cyberbullying?

Cyberbullying ini kan sama aja dengan bullying, ya. Tapi, ada kasus beberapa orang yang hanya melakukan bully lewat media sosial aja, lho. Kenapa orang bisa dengan mudah melakukan cyberbullying di media sosial, ya?

Dilansir dari Verywellmind, salah satu platform kesehatan mental dari Amerika Serikat, hal ini dikarenakan media sosial memungkinkan orang-orang untuk menjadi anonim atau tidak memiliki identitas saat berkomentar. 

Jadi, bisa aja orang ini merasa bebas membuat akun palsu atas nama orang lain (kasus pencurian identitas), dan meninggalkan komentar jelek terhadap seseorang tanpa takut identitas aslinya terungkap.

Terus, sekarang internet juga udah gampang banget buat diakses, kan. Di era keterbukaan internet ini, orang jadi lebih bebas menggali informasi apapun dan mengakses profil siapapun. 

Data penggunaan internet di Indonesia menurut Kominfo (Arsip Zenius)
Data penggunaan internet di Indonesia menurut Kominfo (Arsip Zenius)

Dari data di atas, elo bisa bayangin kan, seberapa pentingnya peran internet dalam fenomena cyberbullying ….

Itu dari sisi internet. Terus, sekarang kalau dari sisi si pelakunya, sebenarnya orang melakukan cyberbullying ini ada kaitannya dengan psikologi seseorang, lho.

Dikutip dari Verywellmind, salah satu penyebab orang-orang yang melakukan cyberbullying ini karena mengalami isu kesehatan mental seperti agresif atau tindakan ingin menyakiti orang lain. 

Selain itu, mereka juga merundung orang lain karena udah pernah menjadi korbannya. Ketika orang itu merasa terpojok saat menjadi korban, dia akan melampiaskan kemarahannya dengan cara merundung orang lain. Dengan begitu, dia merasa lebih kuat dan bukan seorang korban lagi.

Dan yang nggak kalah menariknya, psikologi mengatakan kalau pelaku cyberbullying ini yaitu seseorang yang kesepian. Dia merasa kalau kehidupan orang lain di media sosial terlihat lebih seru dan menarik. 

Simpelnya, alasan orang melakukan cyberbullying ini punya keterkaitan yang erat sama psikologi dari para pelaku. Kalau elo secara sadar ataupun nggak sadar pernah merasa hal-hal di atas, bisa banget langsung konsultasi ke ahlinya seperti psikolog, ya.

Baca juga: Apa Arti Emoji? Sejarah Perkembangan & Makna di Baliknya

Bagaimana Ciri-Ciri Cyberbullying?

Terus, gimana sih ciri-ciri orang yang udah menjadi pelaku cyberbullying? Mungkin, perilaku cyberbullying ini pernah elo lakukan tanpa sadar, lho. 

Dilansir dari CNN Indonesia, pelaku cyberbullying biasanya mempunyai sifat manipulatif atau mampu menekan temannya dan menunjukkan kalau dia lebih berkuasa. Dengan begitu, bisa banget nih dengan mudah membuktikan kalau orang lain bisa takut dengan si pelaku. 

Selain itu, pelaku cyberbullying biasanya merupakan orang yang pandai beralasan. Contohnya nih, kebanyakan anak sekarang memojokkan temannya atau memberi komentar buruk di media sosial dengan mengatasnamakan bercanda sebagai alasan. 

Padahal, kalau anak yang dipojokkan merasa tersudut dan udah nggak nyaman melihat komentarnya, itu udah termasuk ke kasus cyberbullying, lho.

Biasanya, pelaku juga menjadikan internet sebagai tempat pelarian dari masalahnya. Jadi, dia merasa di internet lebih bebas dan puas dalam mengekspresikan apapun, termasuk berkomentar jelek kepada orang lain.

Pasal 27 Ayat (3) UU ITE mengenai cyberbullying (Arsip Zenius)
Pasal 27 Ayat (3) UU ITE mengenai cyberbullying (Arsip Zenius)

Nah, dari pasal yang ada di UU ITE tersebut, kebayang kan kalau cyberbullying ini perilaku yang cukup serius. Selain itu, pemerintah juga mendukung adanya hukuman untuk para pelanggarnya.

Maka dari itu, yuk kita lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial supaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat lagi.

Baca juga: Review Encanto Disney: Pelajaran Hidup Menarik dari Keluarga Madrigal

Referensi:

Bullying – American Psychological Association (2021)

What is Cyberbullying – Stop Bullying Government (2021)

Bullying and Cyberbullying: History, Statistics, Law, Prevention and Analysis – Richard Donegan (2012)

Kronologi dan Perkembangan Kasus Bullying Betrand Peto – Kompas (2020)

Dirjen PPI: Survei Penetrasi Pengguna Internet di Indonesia Bagian Penting dari Transformasi Digital – Kominfo (2020)

The Psychology of Cyberbullying – Verywellmind (2021)

Kenali Ciri-ciri Pelaku Bullying – CNN Indonesia (2017)

Bagikan Artikel Ini!