Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi

menfess

“#menfess Halo guys, enaknya pagi ini sarapan apa ya? Bubur ayam/ketupat sayur? Saran dong!”

“#menfess Hari ini aku berantem sama pacar aku. Minta semangatnya dong guys :(“

“#menfess Drop film favorit kalian yuk, lagi bosen nih pengen nonton film. Genre romance kalau bisa!”

Familiar nggak sama menfess kayak gitu yang suka lewat di Twitter? Kalau elo pengguna aktif Twitter, kayaknya elo bakal banyak deh ketemu sama cuitan itu. Apalagi sekarang semakin banyak akun auto-menfess yang bermunculan.

Awalnya memang akun kayak gini cuma buat hiburan aja, tapi lama kelamaan, semakin banyak akun auto-menfess yang hadir buat ngasih konten yang berisi informasi sampai ke edukasi. Makanya nggak heran kalau elo ketemu sama akun menfess berkedok kampus. Contohnya kayak @itbfess yang punya 36 ribu lebih followers atau @UNSfess_ yang punya 34 ribu followers, wow!

Semakin beragamnya akun auto-menfess yang ada di Twitter juga bikin “kehidupan” di aplikasi tersebut jadi semakin berwarna. Bahkan, postingan dari menfess ini nggak jarang bikin suatu topik/bahasan jadi trending topic di Twitter, lho.

Bisa dibilang kehadiran menfess ini sudah melekat banget sama komunitas Twitter. Penasaran nggak sama gimana awalnya menfess ini bisa hadir dan apa kaitannya sama perilaku generasi di zaman sekarang?

Baca artikel ini sampai habis, ya!

Baca Juga: Ibu Kota Baru: Nusantara, Kenapa Harus Pindah ke Kalimantan?

Awal Mula Menfess Muncul

Kalau kita coba tanya sama Google, menfess itu merupakan gabungan dari kata mention dan confess. Maksudnya gimana, tuh? Yah … nggak beda jauh sama surat kaleng gitu, deh!

Seperti yang dilansir dari Senja Hari, mekanisme pengiriman pesan melalui menfess ini sifatnya anonim. Jadi, elo nggak bakal tahu tuh siapa yang ngirim pesan ke akun auto-menfess tersebut. Tentunya elo juga bisa ikutan ngirim menfess tanpa orang tahu kalau elo pengirimnya.

Terus, ternyata hadirnya menfess ini berkaitan sama yang namanya RolePlayer atau RP di Twitter. Buat elo yang belum familiar sama RP, ini merupakan sebuah kegiatan di mana seorang penggemar memainkan peran sebagai idolanya.

Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi 33
Ilustrasi contoh akun roleplayer untuk Harry Styles (Arsip Zenius)

Setelah dari situ, akun menfess mulai melebarkan sayapnya ke komunitas Twitter lain, sampai yang kayak sekarang sering kita temui. Mulai dari menfess yang khusus ngebahas makanan, hewan, skincare, dunia kerja, pelajar, dan lainnya yang sekarang sudah banyak banget!

Ini beberapa contoh akun auto-menfess yang hits banget di Twitter.

Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi 34
Infografis akun-akun menfess yang ramai di Twitter (Arsip Zenius)

Baca Juga: Mengenal Gempa Megathrust, Gempa Bumi Terkuat di Dunia

Generasi yang Butuh Validasi di Media Sosial

Banyaknya akun yang menjadi medium cerita secara anonim ini ternyata punya pengaruh juga sama perilaku generasi milenial dan Z yang paling banyak mengisi dunia maya saat ini. Kalau kita cek aktivitas di akun auto-menfess, pesan yang dikirim ke sana selalu berjalan selama 24 jam tanpa henti.

Itu artinya, selama 24 jam dalam sehari, selalu ada orang yang mengirim pesan ke akun tersebut. Baik itu untuk bertanya, memberi informasi, atau sekedar memberikan motivasi untuk orang lain.

Nah, terkadang akun menfess ini juga digunakan untuk mencari validasi atau pembuktian tentang suatu hal. Simpelnya, elo nanya ke orang tentang penampilan elo hari ini, cantik atau nggak? Itu contohnya mencari validasi.

Terus, kalau di media sosial, validasinya seperti apa? Tentu aja berkaitan sama apa yang kita posting. Validasi tersebut bisa datang dari banyaknya jumlah like atau komentar yang didapatkan seseorang setelah membuat suatu postingan.

Melansir dari Elle Magazine, Robert Leahy, PhD, seorang psikolog klinis yang juga penulis buku Beat the Blues Before They Beat You (2010), mengatakan kalau generasi di zaman sekarang sangat mendambakan validasi eksternal.

Keinginan untuk mendapatkan validasinya juga berkaitan menentukan seberapa besar kepercayaan diri mereka. Terus mulai muncul nih istilah generation validation” yang berakar dari media sosial.

Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi 35
Ilustrasi mengenai seseorang dan validasi di media sosial (Arsip Zenius)

Saking seringnya diri kita mendambakan hal ini, sampai-sampai mencari validasi di media sosial bukan lagi jadi suatu hal yang kita sadari. Benar, nggak?

Coba deh, elo ingat-ingat seberapa banyak dalam sekali waktu elo ngecek jumlah like dan komentar di postingan Instagram atau Twitter yang baru elo buat?

Baca Juga: Kuah Rawon Hitam atau Kuning? Yuk, Ulik Sejarah Kuliner Indonesia yang Satu Ini

Hadirnya Istilah “Insecure” dan “FOMO”

Selain validasi, ternyata efek dari menfess di media sosial ini juga mulai memunculkan istilah baru yang sering disebut jadi istilah anak Jaksel kayak insecure dan FOMO (fear of missing out). Buat penjelasan tentang bahasa Jaksel, elo bisa baca di Bahasa Jaksel dan Code-switching dalam Sosiolinguistik.

Menurut jurnal The Generation Z and their Social Media Usage: A Review and a Research Outline (2017), generasi Z dengan populasi terbanyak di dunia maya lebih memilih berinteraksi di media sosial dan memberikan tanggapan atau komentar secara aktif di sana.

Penelitian yang dilakukan juga menunjukkan bahwa gen Z yang paling banyak aktif berkontribusi di media sosial. Makanya nggak heran kalau pengguna Twitter didominasi oleh generasi ini.

Banyaknya aktivitas yang dilakukan di media sosial nggak jarang menimbulkan adanya kecemburuan sosial, lho. Kecemburuan ini juga bikin seseorang ngerasa nggak percaya diri sama apa yang dia punya. Ini yang biasa disebut insecure.

Melansir dari Psychology Answers, ketika seseorang merasa insecure, mereka cenderung jadi terobsesi dengan ketidaksempurnaan mereka sendiri dan mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi 36
Contoh keadaan seseorang sedang insecure (Arsip Zenius)

Keadaan kayak gini juga suka bikin orang jadi merasa FOMO, yaitu perasaan di mana kita merasa kalau orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik, bisa melakukan aktivitas yang lebih seru, pokoknya segalanya lebih baik daripada hidup kita sendiri. Lama-lama, muncul perasaan iri dari kelanjutan rasa FOMO ini.

Nggak cuma di media sosial Twitter aja, tapi hampir di semua platform media sosial, pengguna aktifnya bisa merasa kayak gini. Apalagi adanya tuntutan untuk terus mendapatkan validasi dari orang lain di sana.

Nah, Sobat Zenius, fenomena di media sosial yang semakin beragam ini memang nggak bisa kita hindari, sih. Tapi setidaknya, kita bisa lho melakukan filter ke diri sendiri supaya nggak terlalu kecanduan sama validasi yang ada di media sosial.

Jadi, yuk belajar bareng buat menerima dan mencintai diri kita sendiri!

Referensi

Menfess, Fenomena Dunia Maya Dalam Anonimitas. Apa Maksudnya? – Senja Hari

Social Media Liking – Looking For Validation – ELLE

The Generation Z and their Social Media Usage: A Review and a Research Outline (2017)

Does social media cause insecurity in relationships? – Psychology Answers

What Does FOMO Mean and How Do I Deal With It? – Very Well Mind

Bagikan Artikel Ini!