ilmuwan dan komunikasi sains

Komunikasi Sains Asyik Ala Ilmuwan, Gimana Caranya?

Salah satu profesi yang menurutku keren banget adalah ilmuwan. Ada gak dari kalian yang pengen jadi ilmuwan? Nah, sebelumnya, Zen udah pernah bahas profesi ilmuwan secara khusus di artikel Kenapa Sih Seseorang Memilih Jalan Hidup Sebagai Seorang Ilmuwan? Nah, kenapa profesi ini keren, alasannya banyak banget, tapi kalau bisa meringkas, ilmuwan punya peran yang gak tergantikan. Ilmuwan mampu menemukan sesuatu yang belum pernah ditemukan siapapun sebelumnya, kayak Sir Isaac Newton menemukan hukum gravitasi. Ilmuwan juga berkontribusi bikin teknologi yang sebelumnya rumit dan mahal, jadi lebih murah dan sederhana kayak duo peraih Nobel Emmanuelle Charpentier-Jennifer Doudna pengembang metode penyuntingan genom bernama CRISPR-Cas9.

Terus kenapa judul tulisan kali ini menyandingkan ilmuwan dengan kemampuan berkomunikasi? Sebagaimana dua contoh penemuan yang udah disebut di awal, kerja ilmuwan berhubungan langsung dengan hajat hidup orang banyak.

Contoh paling dekat dengan kehidupan kita hari ini, adalah pembuatan vaksin COVID-19. Kebayang gak, kalau peneliti vaksin untuk menangkal infeksi virus SARS-CoV-2 itu gak bisa menjelaskan ke pembiaya riset betapa pentingnya vaksin ini harus dibuat sekarang juga? Gimana jadinya, kalau peneliti gagal memahamkan kerja vaksin dalam membentuk antibodi ke pemberi dana yang bisa aja bukan dari kalangan saintis? Risikonya, proposal riset bakal ditolak. Alhasil susah buat lanjut meneliti tanpa bantuan sponsor. Di tahap sebelum riset dimulai pun, kemampuan berkomunikasi udah berperan banget kan?

Peran komunikasi pun gak berhenti saat penelitian rampung. Tugas selanjutnya bagi peneliti adalah menyebarluaskan hasil penelitiannya ke masyarakat. Dalam proses ini, rawan terjadi yang namanya “kutukan ilmu pengetahuan”. Ada satu artikel menarik yang baru aja dirilis The Conversation berjudul “Kutukan ilmu pengetahuan: banyak akademisi lebih fokus ‘terdengar pintar’ daripada membumikan sains pada masyarakat“. Penulisnya, Ahmad Junaedi, adalah kandidat PhD dari Monash University. Buah pemikirannya dalam artikel tersebut bisa dibilang sebagai kritik dari ilmuwan untuk ilmuwan.

Dalam tulisannya, kutukan ilmu pengetahuan disebut sebagai hasil dari bias pikir peneliti yang gagal melihat masalah dari sudut pandang orang awam. Padahal, khalayak umum menjadi yang paling merasakan manfaat dari hasil-hasil riset.

“Jarak yang sudah lebar antara penulis akademik dengan masyarakat umum ini kemudian diperparah oleh “kutukan ilmu pengetahuan”. Kutukan ini berbentuk bias berpikir yang terjadi pada orang dengan tingkat wawasan lebih tinggi yang gagal mempertimbangkan suatu masalah dari perspektif orang yang lebih awam. Akibatnya, komunikasi sains semakin tidak terjembatani.” – Ahmad Junaidi dalam artikelnya di The Conversation

ilmuwan dan komunikasi sains
Sumber foto: artikel The Conversation dan Instagram @conversationidn

Sebagaimana yang dituturkan penulis artikel tersebut, penggunaan diksi-diksi ilmiah jadi salah satu penyebab kegagalan komunikasi sains. Ketika memposisikan diri sebagai orang awam, harusnya jargon-jargon yang sangat spesifik berhubungan dengan keilmuan tertentu diminimalisir, kecuali peneliti bersedia menyertakan penjelasan yang sederhana. Semisal untuk mendeskripsikan apa itu CRISPR-Cas9, biasanya pakar genetika akan mengibaratkannya sebagai gunting yang bisa memotong dan memasang bagian di rantai DNA sesuai yang ditargetkan.

Komunikasi Sains Asyik Ala Ilmuwan, Gimana Caranya? 17
Sumber: Massive Science via giphy.com

Termasuk kalau ada bagian DNA yang rusak, CRISPR-Cas9 bisa menargetkan bagian itu tanpa mengganggu bagian lain di rantai DNA yang sama. Teknologi modifikasi DNA ini sempat bikin geger tahun 2018 waktu disalahgunakan oleh peneliti di China, He Jiankui. Jiankui secara ilegal mengedit DNA dua embrio bayi kembar dengan dalih tindakannya bisa membuat kedua bayi kebal infeksi virus HIV.

Pengeditan DNA dalam tahap embrio dianggap menyalahi etika medis. Selain belum teruji aman untuk manusia, penyuntingan gen dalam kasusnya ini melanggar hak bayi dan keturunan-keturunannya kelak. Mereka belum bisa memberikan persetujuan untuk menjalani penyutingan gen, padahal perubahan gen pada fase embrio akan diwariskan ke generasi berikutnya, termasuk kalau ada mutasi genetik. Materi DNA yang termutasi tentu bakal berisiko menyebabkan berbagai penyakit.

Ada yang pernah nonton serial Biohackers? Nah, kasusnya Jiankui ini mirip sama tokoh Profesor Lorenz yang diam-diam mengedit DNA milik 200 embrio manusia dalam proyek bernama Homo Deus. Dari semua embrio, ada dua saudara kembar bernama Emma dan Ben. Hasil penyuntingan gen bikin semua anak tewas beberapa tahun kemudian, kecuali Emma yang berhasil hidup dan bahkan punya sistem imun super.

Wired udah pernah bahas soal CRISPR-Cas9 di salah satu episode “5 Levels” yang tayang lewat YouTube. Guest-nya adalah seorang pakar di bidang genetika yang harus menjelaskan CRISPR-Cas9 ke lima orang dengan tingkat pemahaman berbeda-beda, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa S1 dan S2, hingga sesama ahli genetika. Kalau kamu mau tonton, cek videonya di bawah ini ya. Penerapan komunikasi sains bisa kamu amati dari cara sang pakar mengemas konsep yang rumit menjadi sederhana, menarik, dan relevan bagi siapapun lawan bicaranya.

Apa pentingnya komunikasi sains bagi ilmuwan?

Pertanyaan ini sebenarnya juga tertuju ke kamu, calon-calon ilmuwan. Buat kamu yang tertarik menapaki karier sebagai peneliti, komunikasi sains jadi hal wajib. Apa pentingnya sih? Seperti disebut sebelumnya, kerja ilmuwan bersinggungan dengan kehidupan orang banyak.

Bagaimana hasil suatu riset bisa tersampaikan dengan baik ke khalayak luas, kalau penyajiannya gak menyesuaikan kapasitas penerima informasi? Bisa jadi suatu temuan riset penting banget buat kesehatan masyarakat umum, tapi “penting”-nya itu gagal dipahami, selain oleh penelitinya aja. Hasil penelitian yang sebetulnya bermanfaat malah gak bisa diaplikasikan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari karena terjebak di “menara gading”-nya kalangan ilmuwan.

Kita sering bertanya-tanya, apa sih penyebab lumayan banyak orang kemakan hoaks, mitos, miskonsepsi, atau apapun itu namanya? Sebagaimana ulasan di artikel The Conversation, komunikasi sains di Indonesia masih terbilang belum maju. Masih ada jurang lebar antara kalangan saintis dengan masyarakat umum. Jurang ini yang diisi misinformasi dari media sosial dan portal-portal media pembuat judul-judul bombastis demi meraih klik semata—tanpa isinya bisa dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:

Berbagai Pandangan Keliru tentang Teori Evolusi
Mana yang Benar: Bumi Bulat atau Bumi Datar?
Ramalan Astrologi: Beneran Atau Omong Kosong Doang?

Tentu lumrah banget ketika masyarakat memilih mengonsumsi informasi yang paling dekat dan mudah diakses. Misal untuk mencari tahu efek samping vaksin COVID-19, publik gak perlu baca jurnal ilmiah dulu. Dari sudut pandang awam, yang dibutuhin cuma tahu apa dan harus ngapain dengan informasi itu. Penekanannya lebih kepada manfaat. Masalahnya, gak semua orang bisa mem-filter informasi yang berseliweran di kehidupan sehari-hari, termasuk di media massa dan media sosial.

Belum lagi adanya perdebatan panas di kolom komentar yang bikin diskusi sains seringkali meleset dari konteks. Kamu pernah gak mampir di postingan medsos dokter yang bahas sesuatu yang meskipun punya dasar ilmiah, tapi tetep didebat netizen? Kekeuh dan ngotot banget, malah balik ngajarin. Dan perdebatan itu sering kali mentok di pertanyaan “Ada jurnal ilmiahnya gak? Mau baca langsung dong”. Biasanya sih, kalau dokternya santai, justru netizen lain yang bales komentar itu dengan emosi kayak ngajak perang. Bukannya diskusi sehat, ujung-ujungnya malah jadi debat kusir.

Kasus kayak gitu memang nunjukkin sulitnya “unlearn what you have learned”. Kalau otak udah terbiasa terpapar informasi-informasi dari sumber yang gak kredibel, jadi sulit membedakan mana yang bener atau enggak. Apa yang terus-terusan didengar dan dibaca, itulah yang bakal dipercayai.

Karena itu, komunikasi sains menjadi sangat penting. Ilmuwan hadir langsung dalam menerangkan informasi seputar sains yang terkait dengan area studinya. Tentu informasi di tangan pertama bakal beda banget dong kualitasnya? Masih autentik karena gak ada ruang untuk dipelintir pihak manapun. Apalagi dengan hadirnya sosial media, wadah mempopulerkan sains menjadi lebih luas dan bervariasi.

Karena sadar banget pentingnya menjangkau langsung masyarakat tanpa perantara, udah ada beberapa ilmuwan yang konsisten mempromosikan ilmu pengetahuan lewat buku dan acara TV, lantas sukses besar dan bikin sains makin populer. Contoh, Carl Sagan dengan buku dan program TV Cosmos, Richard Dawkins lewat buku The Selfish Gene, dan Neil deGrasse Tyson dengan belasan buku karyanya, ditambah rutin tampil di acara TV, radio, dan berbagai platform media massa lain.

Nama-nama itu punya satu kesamaan: gaya komunikasi yang luwes karena sangat paham target audiens. Seperti yang dipaparkan salah satu peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Intan Suci Nurhati, dalam webinar dengan The Conversation Indonesia. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi buat peneliti adalah sesuatu yang non-negotiable alias gak bisa diganggu gugat. Mendekatkan sains ke masyarakat menjadi tanggung jawab setiap ilmuwan.

“Kalau misalnya saya bicara dengan orang-orang LIPI, peneliti, mungkin itu gampang ya, karena kita sama-sama peneliti. Tapi kalau bicara sama anak kecil, jelasin paleoclimatology ke anak kecil itu kan lebih challenging. Itu kan saya harus mencari cara, masuknya lewat mana ya? Film ‘Nemo’ kali ya. Mereka kan tahu coral itu apa nah saya bisa cerita dari situ karena saya bekerja dengan terumbu karang.” – Intan Suci Nurhati

Hal senada datang dari peneliti lainnya di LIPI, Didit Okta Pribadi. Dalam kesempatan ngobrol beberapa waktu lalu, Kepala Kebun Raya Eka Karya Bali ini menyebut skill komunikasi sains seharusnya udah embedded alias sepaket di dalam diri ilmuwan. Alasannya, masyarakat sebagai pengguna hasil riset ada yang berasal dari kalangan non-peneliti sehingga gaya berkomunikasinya juga harus disesuaikan.

“Di Indonesia, belum berkembang banyak komunikasi sains karena kalau peneliti dia meneliti sesuatu terus kemudian hasilnya paling sampe ke paper terus kemudian ke tulisan-tulisan ilmiah atau paten. Atau kalau di bidang tumbuhan itu, ada PVT varietas baru yang didaftarkan dan sebagainya. Sampai di situ. Cuma kalau di negara maju, itu memang sudah menjadi kebutuhan komunikasi sains itu karena kan intinya sains itu kita menggali ide-ide baru di dalam sains.

Yang paling penting, kita ujungnya apa ya kalau kita pengen kualitas sainsnya bagus itu kan kalau kita bisa menemukan novelty, kebaruan gitu. Jadi selalu di dalam publikasi ilmiah itu selalu kebaruan yang dituntut. Novelty itu. Nah, karena kita bermain di level ide atau novelty tadi, kalau novelty itu tidak dibawa ke masyarakat karena ini kan sesuatu yang baru, tentunya kan masyarakat awam belum paham. Kalau itu tidak dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat, ya ilmu itu ide itu gak akan berkembang.” – Didit Okta Pribadi

Menurutnya, cara termudah untuk memperbaiki cara berkomunikasi terutama kepada masyarakat umum, adalah dengan menganggap audiens sebagai orang di level paling awam yakni anak kecil. Kemampuan ini mulai diolah terutama saat ia menempuh pendidikan S3 di Technische Universität München. Lewat program kampus bernama Science Slam, seluruh mahasiswa S3 wajib menyajikan hasil riset mereka dalam format yang mudah dipahami anak SD.

Komunikasi Sains Asyik Ala Ilmuwan, Gimana Caranya? 18
Sumber: amandash via tenor.com

Bisa bayangin kan, betapa rumitnya penelitian di jenjang S3? Buat bikin jadi lebih simpel, kemudian tercetus lah ide buat bikin pementasan drama. Saat itu, ada salah satu riset soal metode meningkatkan produksi susu sapi perah dengan cara memperbanyak gen Y dibandingkan gen X. Konsep ini tentu rumit dan gak terjangkau pemahaman anak-anak kalau dijelasin mentah-mentah. Akhirnya, biar jadi sesimpel mungkin, masing-masing peneliti mutusin buat menampilkannya dalam bentuk drama, ada yang pura-pura jadi gen Y dan X pakai kostum.

Cara itu jadi latihan bagi peneliti dalam memberikan pemahaman ke orang paling awam sekalipun.

Apa komunikasi sains hanya eksklusif bagi ilmuwan?

Mungkin kalian jadi mikir, “Apa komunikasi sains hanya boleh dilakuin ilmuwan?” Sebetulnya, siapapun bisa aja ikut andil dalam mengkomunikasikan sains ke masyarakat. Sebagai contoh, LIPI sebagai lembaga riset punya divisi Hubungan Masyarakat (Humas) yang juga diisi non-peneliti. Biasanya, humas yang menyusun siaran pers hasil riset untuk disebar ke wartawan. Selain itu, bagian humas juga mengeksplor berbagai format penyajian hasil riset supaya mudah diterima orang awam, semisal lewat video animasi.

Dalam membuat video soal penemuan kecoak laut raksasa, misalnya, ada penerapan komunikasi sains di situ. Gimana cara mengkonversi data-data rigid di laporan ilmiah ke dalam bentuk audiovisual, kebayang ya betapa challenging-nya? Nah, sehari-harinya, Penny Sylvania Putri selaku Produser Audiovisual di LIPI berurusan dengan hal itu. Sebagai lulusan sekolah perfilman, tapi harus bikin film yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu di luar latar pendidikannya.

“Aku termasuk orang awam. Aku biasanya menempatkan diri juga sebagai penonton. Jadi, kayak misalnya kecoak laut raksasa, yang menarik apa, terus kayak oh ternyata kayak ini film ‘Star Wars’ kayak Darth Vader. Oh ya udah itu bagus buat ditekankan biar orang tuh kayak ‘Oh pantesan kayak Star Wars makanya namanya ini kan si kecoak laut raksasa kan di-refer sama Darth Vader itu kan karena bentuk mukanya yang mirip. Jadi kayak nyari apa yang populer, mencari kemiripan. Jadi sebenernya data yang dimiliki peneliti akhirnya kita sesuaikan, kita sederhanakan bahasanya.” – Penny Sylvania Putri

Dari pemaparannya itu, kita bisa dapet perspektif orang awam yang bekerja langsung dengan peneliti. Bahwa sebetulnya yang paling pertama dibutuhkan kita sebagai masyarakat awam adalah RELEVANSI. Kalau gak bisa dibikin relate sama suatu ilmu, kemungkinan sulit bikin orang peduli atau aware sama ilmu itu.

Buat kamu yang bermimpi jadi peneliti, penting banget buat menggarisbawahi soal relevansi ini. Gimana caranya mencari relevansi supaya bisa connect dengan pendengar atau pembacamu nanti? Satu hal penting, kamu harus peka sama sekitar. Apa sih isu-isu terkini yang lagi rame dibahas? Orang-orang lagi tertarik sama apa? Dari situ, obrolan mulai terbuka dan mengalir.

Zenius juga punya nih cara buat bikin sains jadi lebih populer, salah satunya dengan video animasi ZenXplore. Misal untuk menjabarkan konsep teritoriality dalam dunia hewan, ZenXplore merilis video berjudul “Ini Lho Alasannya Ikan Cupang Sering Berantem. Udah Tahu Belum?” 

Bingung, perasaan itu letaknya di mana sih? Kalau sakit hati abis putus cinta, asalnya dari mana? ZenXplore bahas tuntas di video berjudul “Kenapa Ada Rasa Sakit? Dari Mana Datangnya? Ini Penjelasannya!”

Kamu masih ngandelin zodiak dalam memilih pasangan? Percaya zodiak karena tiap hari dapet nasehat-nasehat macem “jangan boros supaya kamu gak bokek”, “kurangi konsumsi makanan berlemak untuk jaga kesehatanmu”? Tonton dulu video ZenXplore tentang astrologi di video berikut.

Gimana, setelah baca soal pentingnya komunikasi sains, jadi tertarik menjadi ilmuwan? Merasa tertantang untuk bikin sains lebih populer lagi? Kamu punya pendapat lain? Share di kolom komentar ya! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya!