bahasa jaksel

Bahasa Jaksel dan Code-switching dalam Sosiolinguistik

Bahasa gaul anak Jaksel (Jakarta Selatan) belakangan lagi ramai banget diomongin, nih. Saking ramainya, cuitan dari akun @txtdarijakarta yang bikin editan digital buku Kamus Besar Bahasa Jaksel di Twitter langsung viral, lho!

Memangnya ada apa sih, sama bahasa anak Jaksel?

Sebetulnya sih, ya, bahasa mereka sama saja dengan bahasa Indonesia. Cuma, bedanya, banyak anak Jaksel kalau nongkrong suka ngobrol setengah bahasa Inggris dan Indonesia, gitu. 

Contohnya begini:

Pamer = Flexing/Humble, Brag/Bragging

Ngaku-ngaku = Self-proclaimed

Narsis = Self-love

Mendukung dua orang biar jadian = Shipping

Teman curhat = Human diary

Selain contoh di atas, bahasa Jaksel juga eksis banget dengan kata which is, literally, seriously, jujurly, exactly, dan lainnya.

Meski begitu, sebetulnya bahasa Jaksel ini bagus untuk kita. Soalnya, kita jadi paham dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Kita bahkan bisa dibilang jadi anak bilingual yang aktif memakai dua bahasa berbeda di keseharian.

Nggak cuma bilingual aja, bahasa Jaksel juga ada pembahasan linguistik-nya lho. Penasaran kayak gimana? Baca dulu sampai akhir, ya.

Baca Juga: Mengulas Fenomena Spirit Doll dari Kacamata Psikologi

Bahasa Jaksel dan Bilingualisme

Sebelum bahas soal bahasa anak Jaksel, kita bahas bilingualisme aja dulu ya. Jadi, bilingual merupakan kemampuan seseorang untuk bisa menuturkan dua bahasa sekaligus dalam penggunaan sehari-hari.

Bahasa Jaksel dan Code-switching dalam Sosiolinguistik 26
Ilustrasi Zenius

Sebenarnya siapa aja bisa lho jadi penutur lebih dari satu bahasa, karena kemampuan berbahasa itu terbentuk dari proses belajar. Contoh gampangnya nih, elo orang Indonesia yang besar di Jepang, otomatis elo akan mempelajari bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di rumah, dan juga bahasa Jepang untuk berkomunikasi di luar rumah, kan?

Nah, dengan begitu, elo udah jadi orang bilingual, lho! Ini juga nggak berbeda sama penutur bahasa Jaksel yang pakai bahasa ini buat berkomunikasi setiap hari. Dengan gabungin dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Indonesia dalam sekali waktu, dan juga ngerti arti dari dua bahasa tersebut. Ini udah bikin penutur bahasa Jaksel bisa dibilang sebagai orang bilingual.

Baca Juga: Sejarah Ejaan Tempo Dulu hingga Ejaan yang Disempurnakan

Bahasa Jaksel dari Segi Linguistik

Nah, kalau kita lihat dari segi linguistiknya, bahasa Jaksel ini juga termasuk ke dalam salah satu teori linguistik, yaitu teori Code-switching yang ada di dalam bagian sosiolinguistik.

Hah… apa lagi itu?!

Memang istilah ini masih cukup asing ya, paling cuma anak sastra aja yang langsung ngeh pas baca. Tenang guys, ini bakal kita jabarin satu persatu supaya nggak bingung!

Sebelum ke teorinya, kita kenalan dulu sama sosiolinguistik, ya. Menurut Janet Holmes dalam bukunya yang berjudul “An Introduction to Sociolinguistic”, ia menjelaskan bahwa sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dan masyarakat.

Biasanya yang menentukan penggunaan bahasa di lingkungan masyarakat itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor umur, tingkat pendidikan, status sosial, jenis kelamin, dan lain-lain.

Kemudian munculah teori Code-switching, yaitu teori yang menjelaskan tentang penggunaan dua atau lebih kode secara bergantian dalam satu percakapan. Kode yang dimaksud di sini bukan kode buat doi atau kode morse lho, ya.

Kode yang dimaksud tuh variasi bahasa bahkan sampai ke dialeknya juga, geng. Walaupun Code-switching ini dianggap sebagai hal biasa yang mungkin terjadi di suatu obrolan, tapi beberapa ahli bahasa ada yang menganggap kalau ini tuh justru merupakan kekurangan seseorang dalam menguasai suatu bahasa, makanya jadi dicampur-campur gitu, deh.

Nah, biasanya Code-switching ini bisa terjadi karena ada pengaruh dari lingkungan komunikasi kita lho, sesuai sama soal sosiolinguistik yang sudah kita bahas tadi. Jadi, percaya atau nggak, di zaman sekarang ini kita sering banget ngelakuin Code-switching! Bahasa Jaksel ini salah satu buktinya.

Baca Juga: Bahasa yang Berubah: Kemajuan atau Kemunduran?

Apa Bahasa Jaksel Membahayakan Bahasa Indonesia?

Selanjutnya jadi ada pertanyaan, kira-kira ngelakuin Code-switching kayak gini tuh bisa membahayakan bahasa aslinya, nggak sih?

Seperti yang kita tahu, bahasa di dunia ini selalu mengalami perkembangan. Beberapa ejaan di bahasa Indonesia aja udah banyak mengalami perubahan, kan? Ini juga yang bikin bahasa semakin berkembang sekarang.

Kehadiran bahasa Jaksel yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris sebenarnya nggak bisa dibilang membahayakan bahasa Indonesia. Hal ini justru sebuah risiko dari adanya kontak bahasa.

Kontak bahasa ini juga bukan hal yang bisa dihindari. Melansir Tirto, menurut Bernadette Kushartanti, pakar linguistik Universitas Indonesia, fenomena bahasa yang terjadi seperti bahasa Jaksel ini bukan sebuah ancaman yang mengkhawatirkan.

Mempertahankan bahasa asli memang penting, tapi di satu sisi, dengan hadirnya campuran bahasa seperti ini, bisa menambah wawasan dan juga memperluas lingkup bahasa kita.

Elo sendiri gimana, nih, Sobat Zenius? Apa elo termasuk orang yang suka Code-switching juga kayak bahasa Jaksel yang lagi hits ini?

Referensi:

Bilingual.pdf (linguisticsociety.org

Apa Itu Sosiolinguistik, Pengertian dan Fungsinya?

What is this? Is It Code Switching, Code Mixing or Language Alternating?

Code-Switching and Code-Mixing – What You Need to Know

Fenomena Gaya Bahasa Anak Jaksel, Apakah Mengancam Bahasa Indonesia?

Bagikan Artikel Ini!