putus cinta, patah hati

Kenapa Putus Cinta Bikin Dada Nyesek?

Perasaan patah hati itu unik dan kadang sulit dapat penjelasan pastinya. Kita udah tahu nih pemicunya. Putus cinta, misalnya, atau gagal dapetin gebetan yang udah lama diincer. Kita juga bisa ngerasain dada beneran nyesek tiap inget kenangan manis sama doi. Kalau kata Didi Kempot di tembang andalannya tiap manggung–Cidro, hati tuh rasanya remuk banget.

Tapi sebenernya di mana sih letak rasa sakit karena patah hati? Biasanya nih, kita sering denger ya kalau semua perasaan muncul dari hati. Mulai dari perasaan bahagia, sedih, takut, marah, sampai cinta. Bener enggak sih? Adakah hubungan organ hati (liver) yang berurusan sama detoksifikasi racun dengan kondisi emosional?

Artikel ini akan membahas selengkapnya mengenai alasan patah hati bisa bikin dada nyesek. Supaya enggak ada lagi rasa penasaran, baca sampai tuntas ya!

Di mana letak perasaan? Apa hubungan organ hati dengan patah hati?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada satu hal nih yang perlu kita luruskan. Jadi saat kamu putus cinta, kehilangan orang terkasih karena kematian, atau gagal di bidang akademik, ada serangkaian peristiwa biologis yang terjadi di dalam tubuhmu. Nah, istilah “patah hati” atau “sakit hati” enggak secara tepat mewakili kejadian sebenarnya. 

Kedua istilah itu cuma dipakai sebagai kiasan aja dalam percakapan sehari-hari. Dari sudut pandang ilmiah, organ hati enggak terlibat dalam gejolak emosional dalam tubuh. Terus rasa sakit karena putus cinta berasal dari mana sih? Adakah organ spesifik yang jadi tempat penyimpanan tiap perasaan manusia?

putus cinta, patah hati

Jawabannya cukup mudah dan sederhana. Adanya perasaan, seperti seluruh aktivitas dalam tubuh, diatur satu organ saja, yakni otak sebagai sistem saraf pusat. Perasaan atau emosi yang kita rasakan adalah bentuk respons yang diolah otak setelah mendapat stimulus atau rangsangan (impuls). 

Masih inget kan materi Biologi Kelas 11 tentang Sistem Koordinasi? Nah, emosi yang kamu rasakan terkait erat dengan kerja sistem saraf, salah satu bagian dari sistem koordinasi/regulasi. Bahasan selengkapnya bisa kamu tonton di playlist video belajar punya Zenius di tautan ini: Sistem Saraf & Indera.

Cara otak menerjemahkan emosi

Di otak, ada bagian yang disebut sistem limbik. Sistem limbik terletak di bagian dalam otak dan bertanggung jawab dalam pembentukan emosi, dari marah, takut, bahagia, hingga dorongan seksual. Sistem limbik terdiri dari amigdala, septum, hipotalamus, talamus, dan hipokampus. 

bagian-bagian otak yang terlibat dalam pengaturan emosi
Bagian otak yang terlibat dalam emosi (Dok. Huffman dkk. (1991) via Pudjono (1995))

Untuk mengolah suatu stimulus menjadi sebentuk emosi, amigdala berperan aktif. Sebagai contoh, gebetanmu tiba-tiba lewat. Bagian amigdala di otak bakal langsung mengaktifkan neurotransmitter, senyawa kimiawi berupa hormon yang mengantarkan pesan antar sel saraf (neuron). Ada tiga macam neurotransmitter, yakni dopamin, serotonin, dan norepinefrin, masing-masing berbeda fungsinya.

Waktu berpapasan dengan orang yang kamu suka, indera penglihatan akan menangkapnya sebagai suatu rangsangan atau stimulus. Rangsangan itu kemudian dikirimkan ke bagian amigdala di otak. Amigdala pun mengontak dopamin, neurotransmitter yang bertugas dalam memberikan rasa nyaman, senang, dan bahagia. Hasilnya, level dopamin bakal meningkat.

Karena itu, kamu bisa merasa bahagia banget dengan cukup melihat orang yang kamu suka dari jauh. Terus gimana saat cinta ditolak atau hubungan yang sudah terjalin harus kandas? Patah hati bakal bikin kadar dopamin merosot tajam. Sebagai gantinya, hormon kortisol atau hormon stres melonjak drastis. Karena itu kamu bisa ngerasa drop banget dan jadi enggak semangat ngapa-ngapain.

Bagaimana putus cinta memicu sakit secara fisik?

Selain sistem limbik, ada bagian lain di otak yang juga bertugas mengolah emosi, yaitu pre frontal cortex (PFC). PFC terletak di lobus frontal bagian depan, di belakang mata dan dahi. Mengutip keterangan di laman The Science of Psychotherapy, PFC berkaitan dengan fungsi kognitif, pembentukan kepribadian, pengambilan keputusan, dan sebagai kontrol emosi.

Kerja PFC terhubung dengan sistem limbik melalui anterior cingulate cortex (ACC). ACC menjadi jembatan penghubung PFC dalam mengolah emosi yang dikirim dari sistem limbik. Termasuk emosi yang dirasain waktu patah hati.

bagian otak yang mengolah emosi
Prefrontal cortex (PFC), bagian otak yang mengolah emosi bersama sistem limbik. (Dok. National Institute of Mental Health – National Institutes of Health via Flickr)

Dalam penelitian yang dipimpin Naomi Eisenberger, profesor psikologi di University of California, ditemukan bahwa area ACC menjadi sangat aktif saat seseorang mengalami sakit secara fisik. Demikian, sakit secara fisik maupun emosional melibatkan area yang sama pada otak.

Tapi bagaimana emosi bisa memicu sensasi fisik? Mengapa kita cenderung merasakan nyeri dada saat putus cinta? Ilmuwan melihat hubungan antara perasaan dan tubuh lewat temuan studi dari University of Arizona dan University of Maryland pada 2009. Menurut hasil penelitian, emosi negatif dapat mendorong ACC meningkatkan aktivitas saraf vagus.

Saraf vagus menjalar dari batang otak hingga ke leher, dada, dan perut. Peningkatan aktivitas di saraf vagus ini dapat menyebabkan rasa sakit di leher, dada, dan mual pada perut. Temuan ini dapat menjelaskan hasil penelitian Mariko Shirai dan Takahiro Soshi dalam jurnal terbitan PLOS ONE pada 2019.

Responden melaporkan rasa sakit di berbagai organ tubuh usai mengalami kesedihan mendalam. Ada enam situasi kesedihan yang diteliti: kehilangan, kegagalan, putus cinta, kesepian, penyakit, dan keretakan keluarga. Dari enam kondisi, tiga kondisi di antaranya yakni kehilangan, putus cinta, dan kegagalan secara signifikan terhubung dengan rasa sakit di dada dan jantung.

Nah, sekarang aku penasaran nih sama yang lagi baca artikel ini. Kamu pernah enggak sih ngerasain hal yang sama saat patah hati? Boleh share di kolom komentar ya!

Referensi:
https://www.health.qld.gov.au/news-events/news/science-behind-a-broken-heart
https://www.thescienceofpsychotherapy.com/prefrontal-cortex/
https://www.scientificamerican.com/article/what-causes-chest-pains/
https://www.psychologicalscience.org/observer/why-love-literally-hurts
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0216331
Siregar, N. R. (2018). “Cool” dan “Hot” Brain Executive Functioning dan Performansi Akademik Siswa. Buletin Psikologi (Jurnal UGM): Vol. 26, No. 2, 97 – 110.
Pudjono, M. (1995). Dasar-dasar Fisiologi Emosi. Buletin Psikologi: Tahun III, No.2.