Cerita Zenius Horas Tampubolon Hadapi Kegagalan

Berani Hadapi Kegagalan Demi Meraih Impian

Cerita alumni kali ini membahas kisah dari Horas Tampubolon yang berani menghadapi kegagalan demi mewujudkan apa yang selama ini dicita-citakannya.

Bagaimana cara menghadapi kegagalan? Sebuah pertanyaan yang mungkin mudah saja untuk dijawab terlebih jika kegagalannya belum terjadi. Kita mungkin bisa mengatakan hadapi kegagalannya, terima, evaluasi, dan kembalilah berjuang. “Success is stumbling from failure to failure with no loss of enthusiasm” kata Winston S. Churchill, salah satu penggagas berdirinya PBB yang pernah menjadi Perdana Menteri inggris. 

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”

Begitu kata Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist. Namun apakah menghadapi kegagalan sungguhan memang semudah saat kegagalan belum terjadi? Horas Tampubolon punya cerita menarik tentang hal ini. Dia pernah gagal dan pernah mengatasi kegagalan tersebut.

Jangan Takut Alami Kegagalan !

Sebelum akhirnya mengalami kegagalan, Horas sebenarnya asing dengan kata gagal. Selama masa SMA, Horas merupakan langganan juara di kelasnya. Keberhasilan sangatlah lekat dengannya. Keberhasilan selama SMA inilah yang membuatnya percaya diri dalam menghadapi SNMPTN. Horas memiliki cita-cita kuliah di UI. Gelimang prestasi selama SMA membuatnya percaya diri. Ia yakin cita-citanya kuliah di UI akan terwujud di jalur undangan. 

“Wait, ada yang mengalami kondisi serupa?”

Kenyataannya, Horas gagal. Horas tidak diterima di UI jalur SNMPTN. Tekad besarnya membuat Horas pantang menyerah dan terus berjuang mewujudkan impiannya. Ia pun berangkat ke Jakarta demi mengikuti SIMAK 2019. Sebenarnya Horas sudah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri yang tak kalah terkenal dari UI. Tetapi Horas tetap ingin memperjuangkan apa yang selama ini ia cita-citakan. 

Horas tinggal di sebuah desa yang berada di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Di tempatnya tinggal, sinyal tidak terlalu stabil. Aksesnya ke informasi pun terbatas. Keterbatasan akan informasi inilah yang membuat Horas terlambat datang ke Jakarta. SIMAK telah berlalu dan ia terlambat mengikutinya. Sekali lagi, Horas gagal masuk UI. 

Gagal masuk UI membuat Horas enggan pulang ke kampungnya. Statusnya sebagai juara kelas memberinya beban. Ia merasa tidak boleh gagal. Ia tidak siap dengan respons orang-orang di kampungnya jika mereka tahu bahwa Horas gagal masuk UI. Tetapi ia  Karenanya, ia memutuskan untuk sementara menetap di kediaman pamannya yang ada di Jakarta. 

Sampai akhirnya ia bertemu dengan sebuah artikel Zenius yang membicarakan tentang gap year. Selama ini ia merasa minder dengan statusnya. Anak SMA bukan, mahasiswa juga bukan, bekerja pun tidak. Ia hanya ingin fokus belajar demi menempuh SIMAK UI tahun depan. Setelah mengenal konsep gap year, Horas mulai percaya diri dengan apa yang sedang ia perjuangkan. Horas pun memberanikan diri untuk pulang. Ia siap dengan segala komentar yang mungkin akan ditemuinya. 

Baca juga: Mengenal Apa Itu Gapyear

Cerita-cerita dari alumni Zenius yang menjalani masa gap year membuat Horas menyadari satu hal, gap year bukanlah aib. Ia makin rajin belajar dan bersemangat mewujudkan cita-citanya. Horas terus belajar baik dengan buku ataupun bersama Aplikasi Belajar Zenius. Sampai akhirnya tibalah UTBK 2020 yang ternyata hanya mengujikan Tes Potensi Skolastik (TPS). 

Horas percaya diri dengan persiapannya dan yakin kali ini ia mampu mengerjakan soal-soal yang diujikan dengan maksimal. Namun ternyata sepanjang mengerjakan soal UTBK, Horas tak mampu menjaga fokusnya. Bunyi dering HP yang didengarnya membuat Horas tidak mengerjakan TPS Pengetahuan Kuantitatif secara optimal. Dia yang awalnya yakin, perlahan mulai ragu setelah ujian selesai. Ia merasa kurang maksimal dalam mengerjakan soal UTBK. Hasilnya, Horas berhasil diterima di jurusan Matematika tetapi bukan di UI. 

Jangan Takut Dapat Kegagalan, Yuk Ikut Pendaftaran SIMAK UI Kampus UI Depok

Pasca UTBK, Horas menargetkan masuk UI lewat SIMAK. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kurang bagusnya kualitas sinyal yang diterima membuat Horas mengalami banyak kendala selama mengerjakan soal. Gagal berkali-kali nyatanya tidak membuat niat Horas kuliah di UI surut. Ia justru merasa lebih bersemangat untuk berjuang. Kini ia sedang mempersiapkan diri untuk bertemu ujian masuk UI 2021. 

Bagaimana dengan kalian? Ada yang mengalami apa yang Horas alami? Ada yang di UTBK 2020 gagal dan mau coba lagi di UTBK 2021 nanti? Well, kamu tidak berjuang sendiri kok. Aku yakin banyak pejuang PTN yang kondisinya tidak jauh dengan Horas. Sama-sama berimpian besar dengan tekad baja. Selamat berjuang untuk kalian semua. Teruslah berjuang. Kalaupun tujuan utama kalian tidak tercapai nantinya, percayalah bahwa kualitas kalian akan mengalami peningkatan sebagai hasil dari perjuangan yang kalian lakukan selama ini.