tekanan udara dan ketinggian tempat

Tekanan Udara dan Dilema Para Pendaki Gunung

Artikel ini berisi penjelasan tentang tekanan udara hingga alasan mengapa semakin tinggi tempat, maka oksigen juga akan menipis. Simak baik-baik ya!

Halo pembaca setia Zenius! Siapa di antara kamu yang suka mendaki gunung? Udah berapa gunung yang kamu daki? Kira-kira pernah gak sih kamu merasa kekurangan oksigen ketika berada di puncak gunung? Kalau belum, coba deh kamu simak kutipan berita di bawah ini:

Salah satu penyelenggara ekspedisi di Nepal mengumumkan kematian dua pendaki asal Amerika Serikat dan Swiss di Gunung Everest pada Kamis (13/5). Keduanya meninggal akibat kelelahan dan kekurangan oksigen” – CNN Indonesia.

Selain 2 orang tersebut, ternyata Gunung Everest udah banyak memakan korban lho, guys. Kasus kematian pendaki Gunung Everest rata-rata mencapai 5 orang per tahun. Bahkan, pada tahun 2019 lalu, 11 orang dinyatakan tewas di “death zone” atau zona kematian yang merupakan area terakhir pendakian Gunung Everest. Bukan tentang tekanan udara nih, pemberian nama death zone itu bukan tanpa alasan, pasalnya, area tersebut memiliki kadar oksigen yang sangat tipis dan menyebabkan seseorang kehabisan napas, kemudian meninggal jika terlalu lama berada di area tersebut.

tragedi dan film everest

Sebagai gambaran, kamu bisa nonton film ‘Everest’ tahun 2015. Menariknya, film tersebut diambil dari kisah nyata berdasarkan bencana Gunung Everest tahun 1996. Kamu juga akan melihat bagaimana upaya para pendaki untuk bertahan hidup di tengah bencana tersebut.

Dari berita di atas, kemudian muncul pertanyaan, “Kenapa semakin tinggi tempat, kadar oksigen juga semakin menipis?”. Jawabannya adalah karena faktor tekanan udara. Tekanan udara di daerah dataran tinggi khususnya pegunungan jauh lebih rendah daripada daerah dataran rendah.

Apa Itu Tekanan Udara?

Dari kasus di atas, kira-kira tekanan udara atau air pressure itu apa sih? Air pressure adalah tekanan yang ada di suatu lokasi dan disebabkan oleh berat dari udara yang ditarik oleh gravitasi bumi. Kebayang gak? Jadi, tekanan udara itu berdasarkan keberadaan udara di suatu tempat yang ditarik oleh gravitasi bumi. Kita semua tau kalau gravitasi bumi selalu menarik ke bawah. Karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi, molekul-molekul udara yang berada di dataran tinggi turun ke tempat yang lebih rendah.

tekanan udara dan ketinggian tempat
Tekanan udara berbanding terbalik dengan ketinggian tempat (sumber gambar: youtube.com/Curious Planet)

Sehingga, semakin rendah suatu daratan, maka udaranya akan semakin banyak. Sebaliknya, semakin tinggi tempat, maka udara yang menekannya juga akan semakin menipis. Itulah mengapa air pressure maximum berada di daerah pantai, sedangkan air pressure minimum berada pada puncak gunung. 

Prinsip tersebut bisa menjawab alasan mengapa di Gunung Everest, khususnya “death zone” terdapat banyak pendaki yang kekurangan oksigen dan akhirnya tewas. Kita semua tau bahwa Gunung Everest adalah salah satu gunung dengan puncak tertinggi di dunia. Jadi ya gak heran kalau banyak kasus tewasnya pendaki akibat kekurangan oksigen.

Jumlah Oksigen Berdasarkan Tingkat Ketinggian Tempat

tekanan udara pada tiap ketinggian
Kadar oksigen berdasarkan ketinggian tempat (sumber gambar: youtube.com/seeker)

Ketinggian di atas 8.000 kaki bisa membuat tubuh mudah terkena penyakit ketinggian atau altitude sickness. Selanjutnya, pada ketinggian 18.000 kaki, kandungan oksigen berkurang hingga setengahnya dari total oksigen di dataran rendah atau sea level (50%). Naik lagi di ketinggian lebih dari 25.000 kaki merupakan area “death zone”, yaitu hanya ada ⅓ oksigen dari total oksigen di sea level. Nah, kebayang ‘kan gimana rasanya mendaki puncak Everest? Perlu persiapan yang matang ya, guys.

Artikel Insight Lainnya dari Zenius Education

Kenapa Udara yang Kita Tiup Lebih Dingin Daripada Suhu Tubuh?
Yang Perlu Kamu Tahu Seputar Mitigasi Bencana
Kenapa Warna Api Bisa Merah, Jingga, Kuning, dan Biru?

Apa yang Terjadi pada Tubuh ketika Mendaki Gunung?

Kita membutuhkan setidaknya 1 atm udara untuk mengoksidasi darah dan membuat tubuh kita sehat. Ketika oksigen dalam tubuh kita tercukupi, maka kinerja jantung dan organ tubuh lainnya juga akan baik. Lalu, bagaimana dengan para pendaki yang menghadapi rendahnya kadar oksigen di puncak gunung? Apa sih yang akan terjadi pada tubuh mereka saat mendaki?

  • Tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia)

Ketika mendaki gunung, kamu akan menghadapi kondisi kadar oksigen yang semakin berkurang. Hal itu karena udara di dataran tinggi/pegunungan ditarik oleh gaya gravitasi ke permukaan bumi. Itulah mengapa saat mendaki gunung tertentu, seperti Gunung Everest dibutuhkan tabung oksigen untuk membantu kamu bernapas. Nah, kondisi di mana otak terlalu sedikit menerima oksigen atau kekurangan oksigen disebut hipoksia.

  • Sakit kepala, mual, dan nafsu makan berkurang

Ketika tubuh terlalu sedikit menerima oksigen, maka pernapasan kamu akan semakin meningkat. Kemudian, tubuh secara cepat akan memfokuskan oksigen yang diterima hanya untuk organ-organ vital, seperti otak dan jantung. Nah, kondisi ini akan membuatmu sakit. Ketika darah yang berisi oksigen disalurkan ke otak terlalu banyak, maka bisa menyebabkan sakit kepala. Sedangkan, organ pencernaan yang mendapatkan sedikit pasokan darah berisi oksigen akan membuatmu merasa mual dan mengurangi nafsu makan. Selain itu, jantung juga akan semakin berusaha untuk membuat tubuhmu tidak kedinginan.

  • High-Altitude Pulmonary Edema

Semakin tinggi kamu mendaki, maka kamu bisa menderita HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), yaitu pembengkakan yang disebabkan terperangkapnya cairan pada paru-paru. Hal ini ditandai oleh batuk-batuk, tubuh lemas, napas pendek dan cepat. Hal tersebut akan menjadi fatal apabila dalam waktu 24 jam tetap gak mendapatkan oksigen. Tapi, ketika kamu mendapatkan oksigen secepatnya ketika gejala tersebut muncul, maka kamu bisa diselamatkan.

  • High-Altitude Cerebral Edema

Selanjutnya, ada juga kondisi HACE (High-Altitude Cerebral Edema) yang merupakan kondisi sama seperti pada HAPE. Namun, kondisi tersebut terjadi pada otak atau pembengkakan otak akibat cairan. Ketika hal ini terjadi, fungsional tubuhmu akan terganggu dan tentu saja kamu akan membutuhkan perhatian medis untuk menanganinya.

Untuk menghindari hal-hal di atas, kamu memerlukan persiapan yang matang sebelum memutuskan untuk mendaki gunung. Seperti mempersiapkan tubuh supaya lebih sehat dan siap untuk hiking dengan cara olahraga rutin. Persiapkan tabung oksigen untuk menjaga diri ketika kesulitan bernapas, atur napas dengan baik, makan-makanan sehat, gunakan pakaian hangat, dan perbanyak minum.

Itulah penjelasan mengenai tekanan udara dan hubungannya dengan para pendaki gunung. Kamu siap mendaki gunung apa dalam waktu dekat ini, guys? Persiapkan diri dengan sebaik mungkin ya untuk menghindari hal-hal yang gak diinginkan. Have fun!

Baca Juga Artikel Zenius Lainnya

Cara Mengetahui Resensi Buku Fiksi dan Non Fiksi
Cara Membedakan Unsur Buku Fiksi dan Non Fiksi
Cara Mengerti Bahasa Panda
Cara Menulis Puisi yang Baik
Cara Membuat Teks Laporan Hasil Observasi

Lihat Juga Proses Belajar Ala Zenius di Video Ini

Bagikan artikel ini