Sekilas Nuklir: Teori Deterensi, Proyek Manhattan, dan Energi Terbarukan

Sekilas Nuklir: Teori Deterensi, Proyek Manhattan, dan Energi Terbarukan 9

Pernah nggak sih, elo ngerasa penasaran sama kata “nuklir”? Eh, bukan sambal nuklir yang elo temuin di marketplace ketika elo gabut lalu browsing cari cemilan buat dimakan di sela-sela kelas ya. Sambal bukan cemilan. And, nuklir yang gue maksud juga bukan itu. 

Nuklir yang gue maksud itu nuklir yang lagi ramai diperbincangkan oleh netizen di Twitter dan media sosial lainnya. Now in case you missed it, jagad maya kita lagi diributkan dengan eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina nih, Sobat Zenius. 

Perseteruan dua negara ini akhirnya memunculkan wacana deterensi nuklir yang diusung oleh Rusia dan bikin negara lain ketar-ketir. Duh, kok serem ya? Semoga segera tercapai resolusi, please

Anyway, kembali ke topik kita, yuk. Jadi nuklir itu apa? Bom? Energi? Atau sambal buatan Mbak Ijah yang pedesnya bikin elo terbirit-birit ke toilet? 

Lalu apa sih, yang dimaksud dengan deterensi nuklir? Kenapa konotasi kata nuklir akhir-akhir kurang baik? Emang nuklir salah apa? 

Yuk, kita ngobrolin soal nuklir dan seluk-beluknya!

Baca juga: Franklin D. Roosevelt, Penyelamat Amerika Serikat Selama Depresi Besar dan Perang Dunia 2

Apa Itu Nuklir?

Nuklir adalah energi dalam inti atom. Udah. Segampang itu. At least, menurut National Geographic, itu definisi dari kata nuklir. Tapi ya kali semudah itu? Memahami nuklir itu nggak semudah elo jatuh cinta. Nuklir itu … lebih kompleks. 

Jadi apa itu nuklir? Dua kata: reaksi dan inti atom. Eh, itu tiga kata ya? My bad

Tapi, pengertiannya juga nggak sesimpel itu. Nah, energi di dalam inti atom itu tuh harus lepas dulu supaya bisa menjadi nuklir. Lalu cara lepasin energinya gimana? 

Pertama melalui reaksi yang namanya fusi atau penggabungan atom menjadi satu. Nah, reaksi fusi ini membutuhkan suhu yang sangat tinggi supaya bisa benar-benar terjadi. Saking tingginya, belum ada laboratorium yang bisa gunain reaksi ini. Yap! Termasuk laboratorium sekolah elo juga belum bisa. Makanya, reaksi fusi ini baru bisa terjadi di matahari aja karena suhunya yang tinggi.

Terus yang kedua yaitu reaksi fisi. Eh, ini juga beda ya sama visi dan misi yang elo bikin buat pemilihan ketua OSIS di sekolah. Kalau reaksi fisi tuh kebalikannya dari si fusi, yaitu pemecahan atom

Jadi, ada sebuah inti atom yang padat, terus pecah ke bentuk yang lebih kecil. Nah, reaksi yang dipecah jadi bentuk kecil ini menghasilkan energi yang cukup besar. Makanya, disebut juga sebagai reaksi berantai untuk reaktor nuklir dan bom atom. 

Contohnya nih, mungkin elo udah nggak asing lagi sama peristiwa pengeboman di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada 6 Agustus 1945. Hayo … kalau elo nggak tidur pas pelajaran Sejarah, harusnya elo tahu, nih.

Jadi, Amerika Serikat tuh meledakkan kota Hiroshima dengan bom atom yang namanya Little Boy. Nah, bom atom itu tuh meledak sampai 580 meter ke atas dengan daya ledak yang setara hingga 15.000 ton. Akibatnya, ada lebih dari 300 ribu orang yang tewas dan setengah bangunan di kota-kota itu hancur total. Wow! Bisa bayangin kan, sekuat apa?

Nah, sekarang, elo jadi paham apa itu nuklir, kan? Terus, gue mau kasih tahu nih kalau saking bahayanya, di bidang militer tuh ada istilah yang namanya teori deterensi. Duh, apaan lagi itu?

Tenang, tenang … gue bakal jelasin teori ini ke elo. Jadi, nggak perlu panik. Yuk, belajar bareng!

Baca juga: Grigori Rasputin, ‘Manusia Suci’ Kaisar Rusia yang Bikin Ricuh saat Perang Dunia 1

Deterensi Nuklir

Seperti yang dilansir dari website Stanford University, teori deterensi mulai eksis di bidang militer pada masa awal Perang Dingin, yaitu sekitar tahun 1945–1962 dan berkaitan dengan penggunaan senjata nuklir.

Teori deterensi di bidang militer ini dikemukakan oleh Thomas Schelling, seorang profesor strategi nuklir dan pengendalian senjata di School of Public Policy, University of Maryland. Untuk pengertiannya sendiri, deterensi bisa diartikan sebagai pertahanan. Bukan maksudnya pertahanan kalau elo kena ghosting doi, ya, bukan!

Maksudnya gimana, tuh? Jadi gini ….

Teori Deterensi dan contohnya. (Arsip Zenius, dok. Berbagai Sumber)
Teori deterensi dan contohnya. (Arsip Zenius, dok. Berbagai Sumber)

Sebelum jadi teori, konsep ini ternyata sudah eksis sejak ribuan tahun yang lalu. Kemudian seiring dengan perkembangan teknologi, mulai muncul istilah nuclear deterrence atau deterensi nuklir. Ini merupakan bentuk khusus dari deterensi yang diawali dengan hadirnya senjata atom pada masa akhir Perang Dunia II tahun 1945.

Deterensi nuklir semakin kuat pas terjadi Perang Dingin antara Rusia dan Amerika Serikat yang pada akhirnya melibatkan North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara tahun 1947.

Dasar-dasar dari deterensi nuklir, kerangka strategis, dan operasionalnya akhirnya ditetapkan pada tahun 1962, yaitu bertepatan dengan masa Cuban Missile Crisis atau Krisis Rudal Kuba yang terjadi pada Oktober 1962. Sejak saat itu, teori ini tetap eksis digunakan sampai hari ini.

Baca Juga: Latar Belakang dan Tujuan Dibentuknya NATO – Materi Sejarah Kelas 12

Proyek Manhattan

Infografis Proyek Manhattan (Arsip Zenius, dok. Berbagai Sumber)
Infografis Proyek Manhattan (Arsip Zenius, dok. Berbagai Sumber)

Baca juga: Multiverse itu Beneran Ada Nggak, Sih?

Kalau Bukan Jadi Senjata, Nuklir Berfungsi untuk Apa?

Udah-udah, jadi gue mau lanjut bahas si nuklir yang cukup rumit kayak hubungan, nih. Kita sebelumnya udah bahas nuklir sebagai senjata. Sebelum bahas fungsi lainnya, gue punya salah satu contoh tragedi dari fungsi nuklir yang mungkin elo pernah dengar.

Kalau elo tahu, ada tragedi nuklir Chernobyl di tanggal 26 April 1968. Jadi, saat itu tuh ada ledakan di salah satu pembangkit listrik reaktor nuklir di Ukraina. Efeknya apa? Ada banyak partikel radioaktif atau radiasi inti atom yang berhamburan ke tanah dan daerah sekitarnya kayak Belarusia. 

Terus menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah korban yang tewas karena kena radiasi nuklirnya ini mencapai 4.000 orang. Duh, elo bisa banget deh, nonton gimana tragedinya berlangsung di serial Chernobyl (2019).

Tapi sebenarnya, fungsi nuklir itu nggak cuma buat senjata aja, lho. Kira-kira, bisa dipakai buat meluluhkan hati doi, nggak? Yang jelas, nggak!

Ternyata, nuklir ini ada fungsinya di kehidupan sehari-hari. Gue punya informasi langsung dari World Nuclear Association atau salah satu organisasi internasional yang mempromosikan tenaga nuklir di industri global. Katanya, nuklir ini bisa dijadiin sebagai pembangkit listrik.

Bahkan menurut CNBC nih, jumlah energi reaktor nuklir di 32 negara di dunia ini mencapai 440 reaktor. Kalau gue bikin secara persentase, ya kurang lebih ada sekitar 10.1% dari total energi di dunia. Wow! Kebayang kan, sepenting apa buat kehidupan elo, gue, dan semua makhluk hidup?

Tapi, untuk sekarang ini kebanyakan PLT baru berbahan bakar batu bara. Nah, kalau diubah menjadi PLTN, imbasnya tuh penggunaan batu bara bakal berkurang, kan? Kalau berkurang, ini bisa dibilang baik juga buat lingkungan. Soalnya, batu bara tuh bisa bikin tanah jadi turun tingkat kesuburannya. Kalau batu bara diganti nuklir, jadi lumayan banget dong berdampak ke lingkungan kita juga.

Fun fact mengenai penggunaan nuklir di kehidupan sehari-hari (Arsip Zenius)
Fun fact mengenai penggunaan nuklir di kehidupan sehari-hari (Arsip Zenius)

Wah, ternyata secara nggak langsung, energi nuklir ini tuh dekat sama kehidupan sehari-hari kita, ya. Jadi, elo sekarang udah paham secara utuh nih tentang nuklir sebagai senjata di konflik Rusia-Ukraina, sampai nuklir sebagai “teman” di kehidupan kita sehari-hari. Nah, kalau menurut elo, ada contoh energi nuklir lainnya yang dekat sama hidup kita juga, nggak? 

Penulis 1: Nabila Ramadhani

Penulis 2: Rahma Yulita Sari

Referensi:
Would Vladimir Putin actually use nuclear weapons? – The Guardian (2022)
Reaksi Fisi dan Fusi – Zenius Materi Belajar
Nuclear Deterrence Theory in the Early Cold War, 1945-1962 – ResearchGate (2020)
Nuclear energy – National Geographic
Deterrence Theory – Stanford Edu (2018)
The Many Uses of Nuclear Technology – World Nuclear Association (2021)
Discover the facts about the atomic bombing of Hiroshima, Japan during World War II – Britannica
Manhattan Project – HISTORY (2017)
J. Robert Oppenheimer – Atomic Heritage Foundation
Einstein and the Manhattan Project – AMNH
First atomic detonation at the Nevada test site – HISTORY
Sudah 50 Tahun RI Garap Nuklir, Tapi Tak Berani Punya PLN – CNBC (2021)
Sumber Gambar: Atomic Heritage Foundation, White House Government

Bagikan Artikel Ini!