Materi Geografi Kelas 11: Mitigasi Bencana

Artikel ini membahas mengenai mitigasi bencana, dimulai dari istilah-istilah dalam kebencanaan, jenis-jenis bencana, pengertian dan tujuan mitigasi bencana, upaya mitigasi bencana dan juga pentingnya partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana.

Pada materi mengenai Dinamika Planet Bumi dan juga dinamika litosfer, kita udah mempelajari kalo ternyata Indonesia terletak diantara 3 lempeng aktif dunia yaitu lempeng eurasia, lempeng hindia-australia, dan juga lempeng pasifik, itulah kenapa Indonesia itu termasuk negara yang rawan akan bencana, untuk beradaptasi dengan hal ini, kita perlu mempelajari mitigasi bencana atau penanggulangan bencana.

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai mitigasi bencana, dimulai dari istilah-istilah dalam kebencanaan, jenis-jenis bencana, pengertian dan tujuan mitigasi bencana, upaya mitigasi bencana dan juga pentingnya partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana. Materi ini juga akan kalian temui dalam mata pelajaran geografi kelas 11 loh, yuk kita bahas satu persatu!

Istilah dalam Kebencanaan

Pada dasarnya inti dari mempelajari materi ini bertujuan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana. Nah sebelum jauh-jauh ke mitigasi bencananya, pertama-tama kita memerlukan kajian risiko bencana untuk daerah yang terdampak oleh bencana, risiko bencana yang dimaksud berupa kerugian yang ditimbulkan akibat bencana seperti cedera, ancaman jiwa, bahkan kematian.

Risiko (Risk) Bencana yang timbul dikaji dalam beberapa faktor, yaitu:

  1. Bahaya (Hazard), suatu kejadian dapat dikategorikan bahaya ketika dianggap dapat menimbulkan potensi kerugian.
  2. Bencana, suatu kejadian dikategorikan bencana sudah menimbulkan kerugian atau korban. 
  3. Kerentanan (Vulnerability), suatu rangkaian kondisi yang menentukan apakah suatu kejadian dapat menimbulkan bencana atau seberapa besar suatu wilayah rentang terhadap bencana. Kerentanan ini dibagi menjadi 2, yaitu:
    • kerentanan fisik, meliputi kondisi bangunan seperti rumah, dan nilai kerusakan fasilitas umum.
    • kerentanan sosial, berhubungan dengan kependudukan meliputi tingkat kepadatan penduduk, selain itu juga jenis kelamin, dan usia tertentu.
    • kerentanan ekonomi, meliputi nilai lahan, PDRB wilayah tersebut.
    • kerentanan lingkungan, meliputi, luasan tutupan dan penggunaan lahan.
  4. Kapasitas (Capacity), berhubungan dengan kemampuan yang diperlukan dalam menanggapi bencana (reflek) agar mengurangi terjadinya bencana.

Jenis jenis Bencana

mitigasi bencana
Sumber gambar: Alain Bonnardeaux/Unsplash.com

Kalian tau gak sih kalo ternyata, bencana itu gak cuma bencana alam? menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), bencana itu dibagi menjadi 3 jenis yaitu bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial. 

Bencana Alam 

Bencana alam merupakan bencana yang pemicu utamanya berasal dari fenomena atau proses fisik di lapisan atau ruang geosfer, yaitu lapisan udara (atmosfer), lapisan batuan dan tahan (litosfer), lapisan hidrosfer, dan biosfer. Contohnya, Gempa bumi, Letusan gunung api, Tsunami, Banjir, kekeringan, tanah longsor,  dan angin puting beliung. Untuk lebih jelas mari kita bahas beberapa diantaranya.

Gempa Bumi, bencana ini ditandai oleh guncangan yang tiba-tiba yang diakibatkan oleh tenaga endogen. Tenaga endogen adalah tenaga dari dalam bumi, yang telah dibahas di materi dinamika litosfer. Dimana faktor bahaya dari gempa bumi diukur berdasarkan seberapa dekat jarak dengan pusat gempanya (hiposentrum), dan juga analisis kekuatan gempanya. Selain itu dari kerentanan fisik, dapat dilihat dari kekuatan bangunannya, dan sebagainya. 

Letusan Gunung Api, bencana akibat aktivitas magma yang terjadi di dapur magma yang akhirnya mendorong ke permukaan bumi atau yang biasa disebut erupsi, dimana materi letusan gunung api ini juga pernah kalian pelajari di dinamika litosfer dimana faktor bahaya dari letusan gunung api dapat dilihat berdasarkan awan panas, lava, dan lahar dingin, dan juga seberapa jauh jarak dengan gunung api yang meletus. 

Banjir, bencana yang berupa genangan air yang berlebihan yang merendam daratan. Dimana faktor bahaya banjir ini dapat dilihat berdasarkan besarnya genangan banjir dan juga kecepatan atau seberapa deras aliran genangan air. Selain itu, daerah yang lebih rendah lebih rentan terkena banjir dari pada daerah yang ada di dataran tinggi.  

Bencana Non-alam

Kebalikan dari bencana alam, bencana Non-alam, bukan atau tidak dipicu oleh fenomena fisik aktivitas ruang geosfer melainkan pada umumnya pemicu utamanya adalah faktor biologis dan faktor teknis, namun aktivitas fisik ruang geosfer bisa mempengaruhi signifikansi dari wabah tersebut. Contohnya penyebaran penyakit atau epidemi yang berasal dari virus, atau bakteri, namun bisa dipengaruhi oleh aktivitas ruang geosfer seperti dibawa air, dibawa udara. 

Wabah penyakit, atau fenomena tersebarnya penyakit di masyarakat yang luas, penyebaran wabah penyakit ini juga merupakan fenomena geografi karena hal ini berhubungan dengan interaksi antara alam fisik dan juga kehidupan manusia yang bisa dikaji dengan pendekatan keruangan. Contohnya, yang saat ini kita alami penyebaran virus corona atau SARS-CoV-2, yang disebabkan oleh faktor biologis, bukan dari fenomena fisik ruang geosfer. Dimana hal ini juga dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh masing-masing, seperti orang tua tergolong lebih rentan terinfeksi COVID-19 daripada orang yang masih muda atau orang yang berada di usia produktif. 

Gagal Teknologi, berupa kesalahan, kelalaian dalam penggunaan, pengoperasian., pengelolaan teknologi modern atau alat industri tertentu. selama hal ini masih bisa dikaji secara keruangan dan berhubungan dengan interaksi antara alam fisik dan juga kehidupan manusia, maka masih termasuk fenomena geografi. Contohnya ledakan nuklir yang terjadi di PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Ukraina pada 1986, yang merupakan ledakan nuklir terburuk sepanjang sejarah, hal ini terjadi karena kesalahan teknis pada alat industri yang membuat partikel radioaktif menjadi tersebar di lapisan udara dan menyebar ke wilayah uni soviet dan eropa, dan menyebabkan kematian ratusan jiwa.

Bencana Sosial

Berhubungan antara manusia, bencana yang dipicu oleh konflik antara manusia sebagai makhluk sosial, atau semacam interaksi yang berdampak negatif tanpa dipengaruhi fenomena fisik di geosfer, contoh tawuran, peperangan, kriminalitas, aksi teror.

Tawuran, merupakan kekerasan antar grup pada masyarakat urban, hal ini sering kali terjadi antar sekolahan atau antar individu yang akhirnya mengajak masing-masing kelompoknya, dimana faktor bahayanya dipengaruhi oleh jumlah anggota yang mengikuti tawuran, alat-alat yang digunakan, dimana semakin masif tawuran ini dapat menyebabkan korban jiwa atau merusak bangunan maupun sarana dan fasilitas umum.

Terorisme, merupakan serangkaian serangan yang terorganisasi sehingga membangkitkan perasaan teror atau ancaman, pada sejumlah masyarakat. Dimana pada umumnya pada saat terjadi teror bom atau teror bunuh diri yang pernah terjadi merupakan fenomena yang sudah direncanakan sedemikian rupa, yang pada awalnya berupa berita ancaman pada wilayah yang ditargetkan, terlebih jika bukan hanya sekedar ancaman, namun identik dengan penggunaan senjata api dan senjata tajam bahkan bom.

Pengertian Mitigasi Bencana

Dilansir dari website resmi kementerian kelautan dan perikanan (KKP), menurut UU No. 1 Tahun 2014, Mitigasi Bencana didefinisikan sebagai upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara struktur atau fisik yaitu melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun non struktur atau nonfisik melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP3K). 

Atau secara sederhana pengertian dari mitigasi bencana adalah rangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik pada pra bencana, saat bencana dan juga pasca bencana.

Tujuan Mitigasi Bencana

Lebih lengkap dan detailnya tujuan mitigasi bencana itu sendiri adalah sebagai berikut

  1. Meminimalisir adanya korban jiwa akibat bencana.
  2. Meminimalisir kerugian yang diakibatkan oleh bencana.
  3. Meminimalisir kerusakan pada sumber daya alam (SDA).
  4. Sebagai pedoman pemerintah dalam merencanakan pembangunan di masa depan.
  5. Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai resiko dan dampak dari adanya bencana.
  6. Membuat masyarakat merasa lebih nyaman dan juga aman. 

Upaya Mitigasi Bencana

Meskipun adanya bencana seringkali tidak diekspektasi, namun tentunya kita sebagai manusia dapat melakukan berbagai upaya, dalam langkah beradaptasi dengan lingkungan kita, yaitu Indonesia sebagai negara yang rawan akan bencana, dan juga untuk mengurangi risiko bencana, berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai bentuk upaya mitigasi bencana

Edukasi

Hal yang pertama yang bisa kita lakukan dan paling sederhana atau paling mudah adalah adalah mem edukasi terkait dengan kebencanaan, seperti dijadikan materi pelajaran sekolah atau dimasukkan oleh kompetensi dasar agar anak-anak telah diajarkan dan dikenalkan sedari dini, melakukan diskusi interaktif,  serta simulasi terjadi gempa bumi atau kebakaran. 

Tidak hanya pelajar, seluruh masyarakat juga perlu di edukasi seperti dengan penyuluhan atau seminar mengenai kebencanaan sehingga masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana dan bagaimana cara mengurangi resikonya. 

Kearifan Lokal

Melakukan mitigasi bencana melalui kearifan lokal. Kearifan lokal itu sendiri merupakan pengetahuan atau pandangan tradisional yang menjadi acuan perilaku secara turun-temurun, biasanya hal ini sudah dibentuk masyarakat zaman dahulu berdasarkan adat-istiadat, agama, budaya setempat untuk menjaga alam semesta di sekitarnya. Contohnya, pada bencana tsunami tahun 2004, Pulau Simeulue, Aceh, kearifan lokal yang mereka lakukan adalah menanam tanaman mangrove, terbukti pada saat tsunami, air yang sampai pulau ini hanya 2-4 meter saja, karena hampir seluruh pantai di pulau ini ditutupi oleh tanaman mangrove. Selain itu mereka juga memiliki istilah “smong” sebagai peringatan dini ketika kana terjadi tsunami, agar masyarakat menjauhi pantai dan ber evakuasi ke tempat yang lebih tinggi, dan masih banyak lagi kearifan lokal lainnya, seperti rumah panggung di suku baduy, banten agar tahan gempa, dan juga kearifan lokal di mentawai, sumatera barat, dengan mensakralkan pohon beringin dan jawi untuk menghindari banjir dan kekeringan.

Teknologi Modern

Seperti yang kita ketahui pada umumnya teknologi modern identik memiliki teknik yang lebih cepat, lebih praktis, dan juga sistematis sehingga teknologi ini memiliki peran yang penting dalam pengambilan keputusan, dan juga meninjau kerugian materi, dan juga korbannya sehingga kerugiannya bisa diminimalisir. Berikut beberapa teknologi modern yang dapat digunakan dalam penanggulangan bencana.

  • Telemetry, alat pendeteksi dini banjir. 
  • Bottom pressure sensor, alat untuk mengukur tekanan dasar laut. 
  • Seismograf, pengukur getaran gempa.

Selain alat-alat di atas, juga dibutuhkan sistem informasi geografis (SIG), untuk pengambilan keputusan terkait kebencanaan. Misalnya dengan pemetaan daerah rawan bencana dengan menganalisis risiko bencana, perencanaan evakuasi, seperti bagaimana sistem evakuasinya dan tempat-tempat mana yang bisa dijadikan tempat evakuasi, lebih lanjut lagi SIG bermanfaat untuk pemodelan atau simulasi bencana, dan masih banyak lagi. 

Partisipasi Masyarakat dalam Mitigasi Bencana

Partisipasi dari masyarakat itu sendiri tergolong penting dalam melakukan mitigasi bencana, berikut berbagai bentuk partisipasi yang dapat dilakukan masyarakat dalam berbagai kondisi yaitu pra bencana atau sebelum adanya bencana, saat bencana, dan pasca bencana, atau setelah bencana terjadi.

Pra bencana

Dalam pra bencana atau sebelum bencana, kita dapat ikut berpartisipasi dalam:

  • Menganalisis risiko bencana; 
  • Melakukan penelitian terkait kebencanaan;
  • Pelatihan atau pendidikan mengenai kebencanaan;
  • Membentuk atau bergabung dalam organisasi tanggap bencana.

Saat Bencana

Setelah melakukan berbagai persiapan dalam pra bencana, pada saat bencana terjadi, kita dapat ikut berpartisipasi dalam:

  • Diharapkan masyarakat dapat melakukan evakuasi mandiri sebelum bantuan datang;
  • Segera menginformasikan ke instansi terkait, seperti umumnya BNPB;
  • Merespon tanggap darurat, membantu masyarakat lainnya sesuai keahlian masing-masing.

Pasca Bencana

Sedangkan dalam upaya yang dapat dilakukan pasca bencana, kita dapat ikut berpartisipasi dalam: 

  • Mengerahkan Relawan beserta dengan dukungan logistik, peralatan evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar, 
  • Melakukan rehabilitasi, dan normalisasi, kegiatan layanan publik,
  • Rekonstruksi, pembangunan kembali sarana prasarana, serta kelembagaan dan instansi terkait.

Kurang lebih begitulah pembahasan mengenai materi mitigasi bencana, bagi kalian yang ingin pembahasan dalam bentuk video singkat yang dijelaskan oleh tutor geografi zenius, kalian bisa akses di materi mitigasi bencana secara gratis, cuma perlu daftar dan verifikasi. Semoga artikel ini membantu kalian yaa, selamat belajar!

Baca juga Artikel Lainnya

Dinamika Planet Bumi

Dinamika Hidrosfer

Pasar Bebas