Hari Puisi Nasional: Sejarah dan Perkembangan Puisi di Era Modern

hari puisi nasional

Mengenal Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April mulai dari sejarah hingga perkembangan puisi di era modern. Yuk, simak!

Sobat Zenius, siapa yang suka baca puisi? Kalau iya, elo mungkin familiar sama nama-nama penyair seperti Chairil Anwar, W.S. Rendra, Kahlil Gibran, hingga penyair asing seperti Emily Dickinson, Edgar Allan Poe, atau William Shakespeare.

Mereka adalah para penyair legendaris yang banyak mewarnai dunia sastra dengan karya puisi indahnya. Sejak zaman dahulu hingga hari ini, puisi pun masih menjadi salah satu karya yang cukup digemari oleh banyak orang.

Buktinya saja, kalau elo pergi ke toko buku, nggak jarang elo bakal nemuin satu rak yang berisi sama banyak buku puisi seperti karyanya Lang Leav dan Rupi Kaur. Buat para penikmat sajak menyentuh hati, puisi memang jadi pilihan terbaik buat melepas penat, nih.

Puisi juga jadi salah satu karya literasi yang meninggalkan banyak sejarah, lho. Baik itu di dunia maupun di Indonesia. Kehadiran puisi pun dianggap penting sampai kita punya yang namanya Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April.

Sebagian dari elo mungkin ada yang belum tahu tentang Hari Puisi Nasional, nih. Tapi nggak perlu khawatir, di sini gue bakal ngajak elo buat membahas Hari Puisi Nasional mulai dari sejarah, kegiatan yang dilakukan, sampai ke perkembangan literasi khususnya puisi di era modern seperti sekarang.

Jadi, apa sih Hari Puisi Nasional itu? Terus, bagaimana awalnya sampai tanggal 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional?

Supaya nggak semakin penasaran lagi, baca artikel ini sampai habis, ya!

Apa Itu Hari Puisi Nasional

Seperti biasa, sebelum kita membahas lebih dalam, kita kenalan dulu nih sama Hari Puisi Nasional.

ilustrasi hari puisi nasional
Ilustrasi Hari Puisi Nasional (Arsip Zenius)

Jadi, Hari Puisi Nasional adalah hari nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April di Indonesia. Biasanya untuk memperingati Hari Puisi Nasional, banyak diselenggarakan lomba untuk menulis hingga membacakan puisi.

Nah, kalau elo mau belajar menulis puisi untuk ikut berpartisipasi dalam Hari Puisi Nasional, elo bisa lihat caranya di artikel 5 Tips Menulis Puisi yang Baik – Materi Bahasa Indonesia Kelas 10, nih!

Mengenal Sejarah Puisi

Kalau ngomongin Hari Puisi Nasional, tentu nggak bakal bisa lepas sama yang namanya puisi. Dari sekian banyak karya sastra yang ada, puisi rasanya masih menjadi salah satu karya sastra yang punya tempat istimewa di kehidupan banyak orang.

Kalau gue tanya, “Menurut elo, puisi itu apa?”, mungkin jawaban pertama yang terlintas di pikiran elo yaitu puisi merupakan karya sastra yang terdiri dari beberapa sajak dan memiliki arti tertentu di setiap sajaknya.

Ya, jawaban itu nggak salah, kok. Tapi, elo tahu nggak apa arti dari puisi? Melansir Britannica Encyclopedia, puisi merupakan sastra yang membangkitkan kesadaran imajinatif terkonsentrasi yang dibentuk dari pengalaman atau respon emosional tertentu melalui bahasa yang diatur mulai dari makna, suara, dan ritmenya.

Kalau kita tarik garis mundur ke sejarahnya, puisi pertama kali muncul sekitar 5000 tahun yang lalu. Wah, ini sih lama banget! Bahkan, kalau usia kita ditambahkan juga tetap nggak sampai tuh 5000 tahun.

Jadi, puisi 5000 tahun yang lalu ini ditemukan di Mesopotamia dengan bentuk tulisan paku. Maksudnya gimana, tuh? Tulisan paku ini kayak tulisan yang dipaku di atas tablet (biasanya terbuat dari tanah liat). Model tablet ini pernah gue bahas di artikel Hari Buku Sedunia: Sejarah dan Kenapa Kita Perlu Merayakannya?

Puisi yang ditemukan di tablet ini biasanya menjelaskan tentang bagaimana raja-raja kuno pada masa itu memerintah rakyatnya. Nah, puisi ini juga diyakini berasal dari ritual kuno dan digunakan sebagai nyanyian dengan tujuan untuk mendongeng pas lagi melakukan upacara seperti upacara keagamaan, pernikahan, hingga pemakaman.

Lalu, hadirlah puisi yang dipercaya sebagai puisi tertua hingga saat ini, yaitu The Epic of Gilgamesh pada sekitaran tahun 2100–1200 Sebelum Masehi (SM). Puisi ini juga ditemukan di Mesopotamia.

Beranjak memasuki periode abad pertengahan, tepatnya pada masa perang, mulai muncul bentuk-bentuk puisi baru. Perubahan yang bisa dirasakan yaitu puisi menjadi lebih berima dan bernuansa balada.

Contohnya salah satu puisi yang hadir pada abad ke-12 berjudul Beowulf (700–1000 Masehi), puisi ini bercerita tentang seorang pejuang yang berusaha untuk menyelamatkan rakyatnya.

Pada era ini juga muncul para penyanyi atau penyair keliling yang menyanyikan puisi tentang keindahan serta kekuasaan Tuhan. Jadi, mereka membacakan puisi sambil bernyanyi dengan maksud menyebarkan pesan ketika melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sejak saat itu, puisi berkembang, deh. Nggak cuma buat hiburan saja, tapi puisi juga menjadi salah satu hal yang penting di bidang pendidikan, di mana para bangsawan diharapkan bisa menulis puisi karya mereka sendiri.

Bentuk puisi juga lebih luas lagi, seperti berbicara tentang; alam, cinta, agama, hingga topik abstrak yang dekat dengan perang dan kematian.

Puisi juga digunakan sebagai alat komunikasi tanpa berbicara, lho. Misalnya nih, seseorang tertangkap atau sedang bersembunyi dari musuh, biasanya orang tersebut bakal meninggalkan puisi di dinding atau pohon sebagai pesan.

Memasuki tahun 1100 M, puisi mulai tumbuh tapi nggak begitu berpengaruh seperti sebelumnya, karena orang di zaman ini khawatir kalau terlalu banyak bersikap terbuka dengan meluapkan emosi melalui puisi, bisa menyebabkan masalah mental seperti depresi dan histeria.

Di era Renaisans, puisi mulai digunakan buat pertunjukkan, nih. Apalagi di era ini sering disebut dengan The Golden Age atau Zaman Keemasan sastra. Penyair juga banyak yang menuliskan puisi mereka dan menyajikannya dalam bentuk lagu.

Mulai abad ke-18 hingga tahun 1850, mulai muncul yang namanya puisi romantis. Puisi jenis ini dianggap lebih relatable karena lebih banyak menulis tentang kehidupan sehari-hari. Maksud romantis di sini yaitu puisi lebih fokus pada perasaan dan emosi dibandingkan logika.

hari puisi nasional
Ilustrasi puisi romantis. (Arsip Zenius)

Jenis puisi seperti ini juga masih menjadi salah satu jenis puisi yang paling banyak digemari hingga saat ini.

Oh iya, sebagai sebuah karya sastra, puisi juga nggak luput sama yang namanya kritik sastra, nih. Ya … nggak semua puisi bisa diterima juga, lho. Ada beberapa puisi yang bahkan dianggap terlalu ‘tajam’, apalagi puisi yang dibuat pada masa peperangan.

Tapi, kritik sastra ini nggak selamanya memiliki arti negatif, kok. Bahkan, kritik sastra ini penting juga dilakukan untuk menilai sebuah karya. Kalau elo penasaran sama apa itu kritik sastra dan contohnya, elo bisa nonton video materi belajar Kritik Sastra dan Esai di bawah ini, ya!

Sejarah Hari Puisi Nasional

Wah, setelah mengenal sejarah puisi, ternyata puisi sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, ya! Lama banget!

Nah, kalau tadi gue ajak elo membahas sejarah puisi di dunia, sekarang gue mau ngajak elo buat menelusuri sejarah Hari Puisi Nasional. Kira-kira, gimana awalnya sampai Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April?

Ada cerita menarik di baliknya nih, Sobat Zenius.

Elo masih ingat pembahasan mengenai Hari Buku Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 23 April, kan? Tanggal tersebut dipilih sekaligus untuk memperingati hari kematian para penulis legendaris dunia, yaitu Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, dan William Shakespeare.

Nah, alasan Hari Puisi Nasional ditetapkan setiap tanggal 28 April juga nggak jauh berbeda sama alasan ditetapkannya Hari Buku Sedunia, lho. Penetapan 28 April ini sekaligus untuk memperingati hari kematian salah satu penyair terbaik Indonesia, Chairil Anwar, yang wafat pada 28 April 1949.

Jadilah Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April.

alasan hari puisi nasional diperingati setiap tanggal 28 april
Alasan Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April. (Arsip Zenius, dok. Wikimedia Commons)

Baca Juga: Materi Unsur Pembangun Puisi

Sosok Chairil Anwar dan Puisinya

Chairil Anwar merupakan salah satu sastrawan yang paling berpengaruh di Indonesia. Lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, Chairil Anwar dikenal sebagai pelopor angkatan ‘45 dalam dunia sastrawan Indonesia.

Chairil memulai kariernya ketika berusia 20 tahun, yaitu pada tahun 1942 dengan sebuah sajak yang berjudul Nisan. Puisi ini dibuat untuk menunjukkan rasa cintanya kepada neneknya yang juga terinspirasi dari kematian neneknya. Hingga tahun 1949, Chairil diyakini telah membuat kurang lebih 90-an karya, lho.

Nisan karya Chairil Anwar

1942

untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahta

Oktober, 1942

Tapi, jumlah pasti dari puisi yang dibuat oleh Chairil Anwar nggak bisa dipastikan, nih. Karena ada perbedaan dari data yang tersedia. Menurut data yang ada di dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1978) saja, Chairil telah menuliskan 72 sajak asli dengan 2 sajak saduran, 11 sajak terjemahan, 7 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.

Jadi, kalau dihitung-hitung … Chairil Anwar memiliki karya yang berjumlah 96 judul. Ada salah satu puisinya yang terkenal banget sampai hari ini dengan judul Aku (1943). Puisi Aku ini memiliki makna tentang semangat perjuangan seseorang sampai ke titik darah penghabisan. Ibaratnya, nggak peduli seberapa banyak tantangan yang ada, orang ini bakal terus berjuang sampai akhir.

Puisinya Chairil Anwar juga masih digemari sampai sekarang, lho. Kira-kira, gimana sih cara menilai puisi? Elo bisa pelajari caranya di 5 Kriteria Penilaian Puisi Beserta Formatnya – Materi Bahasa Indonesia Kelas 10, nih.

Buat elo yang belum pernah membaca puisinya, inilah puisi Aku karya Chairil Anwar.

Aku karya Chairil Anwar

1943

Kalau sampai waktuku 

Ku mau tak seorang kan merayu 

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang 

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku 

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari 

Berlari 

Hingga hilang pedih perih

Dan akan lebih tidak peduli 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Kehadiran sosok Chairil Anwar sangat menginspirasi dunia sastra Indonesia. Karyanya nggak cuma membangkitkan semangat kebangsaan pada masa penjajahan, tetapi juga memiliki pengaruh di dunia pendidikan.

Karena sosoknya yang sangat menginspirasi inilah, Hari Puisi Nasional diperingati bertepatan dengan hari wafatnya Chairil Anwar. Selain untuk memberikan penghormatan terhadap Chairil, Hari Puisi Nasional juga sekaligus diperingati untuk terus memberdayakan karya sastra (khususnya puisi) dan mengenalkannya kepada para generasi penerus bangsa.

Buat elo yang tertarik untuk mengenal sosok Chairil Anwar semasa hidupnya, elo bisa baca biografi lengkapnya dalam artikel Chairil Anwar, Sastrawan Pelopor Angkatan ‘45, ya!

Perkembangan Tren Literatur Era Modern

Kalau kita melihat perkembangan puisi hingga hari ini, rasanya eksistensi puisi nggak pernah padam, ya. Apalagi dengan banyaknya bermunculan para penyair baru dengan warna yang fresh dan bermacam-macam.

Lalu, bagaimana dengan perkembangan puisi dalam tren literatur di era modern seperti sekarang?

Perkembangannya terlihat cukup signifikan, lho. Kalau kita kembali lagi ke sejarahnya, berabad-abad lalu, puisi hanya bisa dinikmati sebagai tulisan di atas tablet. Kemudian mulai berkembang menjadi syair dalam lagu, tulisan di kertas-kertas, hingga jadi sebuah script yang digunakan dalam pertunjukkan.

Di era modern seperti sekarang, perkembangan puisi tentu semakin meroket lagi. Apalagi gue sempet mention sebelumnya kalau kehadiran puisi masih sangat digemari oleh banyak orang., Jjadi, para penyair atau penulis puisi semakin banyak yang berkarya di sini.

Contohnya yaitu dengan hadirnya publikasi digital, di mana puisi dikemas sebagai buku digital yang bisa elo beli dan download dengan mudah. Publikasi digital atau digital publishing sendiri merupakan hasil dari kemajuan teknologi komputer.

ilustrasi e-book
Ilustrasi e-book atau buku digital. (dok. Pixabay)

Melansir konten Perpustakaan Nasional, Pengaruh Digital Publishing/E-Publishing dalam Penelusuran Sumber Informasi (2012), publikasi digital pertama kali muncul dan berkembang pada tahun 80-an hingga 90-an. Jadi, percetakan secara digital ini merupakan metode penerbitan dengan nggak menggunakan kertas, melainkan menerbitkan secara online.

Perkembangan ini sangat memudahkan pembaca, karena elo sebagai pembaca bisa membaca puisi dan karya sastra lainnya lewat perangkat elektronik (gadget) dengan mudah. Sekarang pun sudah banyak toko buku online yang menyediakan buku digital seperti contohnya Google Books dan Amazon Kindle.

Selain mulai banyak buku-buku puisi yang dipublikasi secara digital, perkembangan puisi dalam tren literasi modern juga bisa dirasakan dengan hadirnya kegiatan malam puisi. Apa tuh maksudnya?

Kegiatan malam puisi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk para penikmat puisi menulis dan membacakan karya puisinya di depan orang banyak. Kalau masih belum kebayang maksudnya seperti apa, elo bayangin aja acara stand-up comedy.

Kalau di stand-up comedy, para komika yang membacakan materi lucu mereka di depan orang banyak. Nah, kalau di kegiatan malam puisi, para penikmat puisi lah yang melakukan hal tersebut.

Salah satu kegiatan malam puisi ini pernah dilakukan oleh para mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia sebagai bentuk perayaan Hari Perempuan Internasional tahun 2019. Mereka menulis dan membacakan puisi karya mahasiswa bertemakan Perempuan pada saat itu.

Baca Juga: Sapardi Djoko Damono, “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi”

Penyair dan Media Sosial

Nggak berhenti sampai di situ, perkembangan puisi juga sudah sampai ke media sosial nih, Sobat Zenius. Nggak jarang kita bisa menikmati karya puisi dalam bentuk postingan di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, hingga dalam bentuk podcast.

Jadi, puisi sekarang nggak cuma bisa dinikmati sebagai bacaan saja, tetapi ada pula penulis yang membacakan puisi mereka dan membuatnya sebagai konten berupa video atau podcast. Biasanya gue suka banget konten yang kayak gini, nih! Karena pesan dan makna puisinya terasa lebih sampai ketika dibacakan langsung.

Oh iya, kalau elo suka main media sosial Twitter, mungkin elo cukup familiar sama akun dengan username @literarybase (Literary Base). Akun ini sudah eksis sejak tahun 2018 dan merupakan akun menfess yang berisikan banyak konten literasi atau karya sastra.

Nggak jarang banyak orang yang mengirimkan hasil karya mereka melalui akun base tersebut. Karya sastranya juga beragam mulai dari cerita pendek, fan fiction, hingga puisi. Akun ini memiliki sekitar 450 ribu pengikut di Twitter, lho!

Dengan banyaknya jumlah pengikut tersebut, hal ini membuktikan kalau generasi Milenial dan generasi Z, yang mendominasi populasi Twitter, memiliki ketertarikan yang kental terhadap dunia sastra saat ini. Mereka bukan hanya menjadi seorang penikmat, tetapi juga mencoba untuk menciptakan sebuah karya yang kemudian dibagikan di sana.

Baca Juga: Struktur Puisi, Unsur, Ciri dan Contohnya! – Materi Bahasa Indonesia Kelas 10

Nah, Sobat Zenius, gimana nih pendapat elo setelah melihat sejarah puisi dan bagaimana perkembangannya saat ini? Kalau menurut gue, sih, dengan semakin mudahnya berkarya di era digital seperti sekarang, bakal melahirkan banyak penulis baru juga.

Apalagi sekarang nggak sulit untuk mempublikasi sebuah karya. Elo nggak perlu mencetak karya menjadi sebuah buku dengan sampul tebal dan lainnya. Kalau elo punya sebuah karya, baik itu karya tulis, lagu, maupun gambar, elo bisa langsung membagikannya dengan mudah lewat media sosial.
Jadi, tak perlu ragu untuk berkarya ya, Sobat Zenius!

Selamat Hari Puisi Nasional!

poetry – Poetry and prose – Britannica Encyclopedia
The Historical Timeline of Poetry: 5000BC- Present – Pick Me Up Poetry
Chairil Anwar, Sastrawan Pelopor Angkatan ‘45 – Zenius Education (2021)
Hari Puisi Nasional: Mengenang Wafatnya Legenda Penyair Chairil Anwar – Kemdikbud (2021)
Artmosphere x Psikopdar: Malam Puisi – Psikologi Universitas Indonesia (2019)
Majalah Pengaruh Digital Publishing/E-Publishing dalam Penelusuran Sumber Informasi (2012) – Perpustakaan Nasional

Bagikan Artikel Ini!