Sapardi Djoko Damono, “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi”

Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono (1940-2020) merupakan salah satu sastrawan terkenal di Indonesia yang termasuk ke dalam sastrawan angkatan ‘70-an. Selengkapnya ada di biografi ini, ya!

Hi, guys! Jumpa lagi sama gue. Gue akan bahas tentang sosok sastrawan terkenal di Indonesia lagi nih, guys. Siapa dia? Ya, dia adalah Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono terkenal sebagai penyair. Selain itu, ia juga dikenal sebagai dosen, pengamat sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra.

Beliau terkenal dengan sajak-sajaknya yang berjudul “Aku Ingin”, “Yang Fana Adalah Waktu”, dan “Hujan Bulan Juni”. Nih, gue kasih salah satu sajaknya.

Aku Ingin
(Sapardi Djoko Damono)
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Ada yang unik dengan puisi di atas. Puisi tersebut kerap digunakan seorang kekasih untuk diberikan kepada pasangannya. Bahkan, puisi ini sampai tercantum di dalam undangan-undangan pernikahan. Namun, Sobat Zen tahu gak sih makna dari puisi tersebut?

Makna dari puisi tersebut tidaklah se-simple “mencintaimu dengan sederhana”, tapi jika Sobat Zen analisis setiap baitnya, Sobat Zen akan menyadari jika sebenarnya puisi ini lebih memiliki makna tentang “kasih yang tak sampai” atau “bertepuk sebelah tangan”. Sebagaimana pernyataan dari Sapardi sendiri saat diwawancarai oleh Najwa Shihab, ia mengatakan “Sebelum sempat menyampaikan cintanya, sudah jadi abu. Jadi nggak sampai.”

Nah lho, kalau maknanya seperti itu, berarti umumnya orang-orang salah menafsirkannya dong? Jawabannya iya. Jadi, untuk memaknai suatu puisi jangan setengah-setengah, ya, Sobat Zen. Hal ini untuk menghindari penggunaan puisi yang tidak tepat seperti pada contoh puisi ini dan undangan pernikahan.

Langsung saja nih baca kelanjutannya biar Sobat Zen makin kenal dengan sosok Sapardi Djoko Damono.

Sapardi Djoko Damono
Potret Sapardi Djoko Damono (Sumber: Jawa Pos)

Siapa itu Sapardi Djoko Damono?

Sapardi Djoko Damono, sastrawan angkatan 70-an, lahir di Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia adalah anak pertama dari pasangan Sadyoko dan Saparian. Sapardi tinggal bersama orang tuanya di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Orang tuanya tidak ada yang memiliki darah seniman, kecuali kakeknya yang seorang abdi dalem. Kakeknya bertugas sebagai dalang dan penatah wayang di Keraton Surakarta.

Berdasarkan kalender Jawa, kelahiran Sapardi bertepatan dengan bulan Sapar. Mungkin itu adalah alasan mengapa orang tuanya memberikannya nama Sapardi. Sebagai tambahan, ibunya juga lahir pada bulan yang sama, sehingga tidak mengherankan jika ibunya bernama Sapariah. Terdapat hal menarik dari kepercayaan orang Jawa tentang bulan Sapar, mereka percaya bahwa orang-orang yang lahir pada bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Sapardi kerap dipanggil dengan inisialnya, yaitu SDD. SDD dikenal melalui puisi-puisinya mengenai hal-hal sederhana, tetapi penuh dengan makna kehidupan. Beberapa karyanya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun umum.

Sapardi kecil menjalani hidupnya dalam kecamuk perang kemerdekaan. Sebagai anak yang tumbuh dalam kondisi seperti itu, pemandangan-pemandangan seperti pesawat bom yang meledak dan membakar rumah-rumah besar merupakan hal biasa bagi Sapardi.

Sapardi Djoko Damono menikah dengan wanita Jawa bernama Wardiningsih. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, seorang perempuan (Rasti Sunyandani) dan seorang laki-laki (Rizki Henriko).

Kemampuan SDD di bidang seni cukup lengkap, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan. Sapardi sering mengisi acara puisi dan memberikan arahan tentang bagaimana cara membawakan puisi yang baik. Dari banyaknya kemampuan, tampaknya bidang sastra memang merupakan bidang yang paling menonjol. 

Tidak hanya menulis puisi, SDD juga menulis cerita pendek. Selain itu, masih banyak kegiatan SDD lainnya, seperti menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar. Sapardi juga sedikit menguasai pewayangan, hal tersebut tidak lain karena kakeknya yang menjadi abdi dalem dan bekerja sebagai dalang.

Kehidupan Awal dan Pendidikan Sapardi Djoko Damono

Sapardi mengisahkan bahwa pada awal kehidupannya terbilang berkecukupan. Namun, kehidupan memang seperti roda yang terus berputar, kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Demikian halnya dengan Sapardi dan keluarnya, mereka harus menjalani hidup yang naik-turun.

Menurut kesaksian Sapardi tentang masa-masa sulitnya, ia hanya makan bubur setiap pagi dan sore. Ibunda Sapardi, Sapariah, berjualan buku untuk menafkahi keluarganya. Sementara ayahnya, Sadyoko, harus hidup mengembara untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang saat itu menangkapi kaum laki-lak karena tentara Belanda berpikir tentara/pejuang itu kebanyakan laki-laki.

Pada awalnya, Sadyoko mengikuti jejak kakek Sapardi, yaitu bekerja sebagai abdi dalem di Kraton Kasunanan. Setelah menikah dengan Sapariah, Sadyoko menjadi pegawai negeri sipil di Jawatan Pekerjaan Umum. Sementara itu, pekerjaan sang kakek adalah sebagai abdi dalem Kasunanan Surakarta. Sang kakek juga memiliki keahlian dalam menatah wayang kulit. 

Pada tahun 1943, keluarga Sadyoko memisahkan diri dari keluarga kakeknya. Saat itu, terjadi peralihan kekuasaan atas Indonesia dari Belanda ke Jepang. Keluarga Sadyoko kemudian menyewa sebuah rumah di kampung Dawung. Ketika itu, ibunda Sapardi hampir direkrut oleh pasukan Jepang untuk dijadikan prajurit. Beruntung saat itu ia sedang mengandung adik Sapardi, Soetjipto, sehingga bisa selamat dari perekrutan Jepang.

Setelah kekalahan Jepang pada tahun 1945, keluarga Sadyoko kembali pindah ke Ngadijayan. Di desa Ngadijayan, keluarga tersebut tinggal di rumah orang tua dari pihak ibu. Rumah itu sangat luas, tetapi sang kakek tidak dapat menata hidup dengan baik dan berujung digadaikannya rumah tersebut tanpa bisa ditebus hingga akhir hayatnya. 

Tindakan sang kakek tidak diketahui oleh putra-putrinya, ia pun tidak memberitahukannya kepada mereka. Rumah itu dilelang dengan harga rendah sepeninggal sang kakek. Uang hasil penjualan dibagi kepada tiga orang anaknya, ibu Sapardi dan kedua pamannya.

Pada tahun 1957, Sadyoko pergi meninggalkan Ngadijayan dan pindah ke kampung bernama Komplang. Sapardi menafsirkan bahwa keputusan ayahnya itu merupakan usaha agar mendapatkan tanah yang luas dan suasana yang lebih tenang.

Belum ada listrik di tempat tinggal Sapardi yang baru. Keadaan desa saat itu juga masih sangat sepi, sehingga menimbulkan perasaan aneh bagi Sapardi. Sebab, sebelumnya Sapardi kerap keluyuran untuk menonton pagelaran wayang kulit di Ngadijayan. Secara perlahan, Sapardi terbiasa dengan keadaan yang berbeda itu. 

Sapardi memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. Disebabkan oleh suasana yang ‘aneh’, Sapardi memiliki banyak waktu luang dan ‘kesendirian’ yang tidak bisa didapatkannya di tengah kota. Meskipun begitu, ia tetap ‘keluyuran’ sembari menikmati ‘kesendirian’-nya. ‘Keluyuran’ yang dimaksud berada dalam dunia batinnya sendiri.

Dalam ‘kesendirian’-nya, Sapardi mulai menulis puisi. Sapardi mengatakan bahwa “Saya belajar menulis pada bulan November 1957”. Sekitar satu bulan setelah dirinya belajar menulis, sajaknya dimuat di majalah kebudayaan yang terbit di Semarang. Pada tahun berikutnya, sajak-sajaknya mulai menghiasi berbagai halaman penerbitan yang dipimpin oleh HB. Jassin.

Gairahnya dalam menulis didapat dari hobinya membaca. Sejak kecil, Sapardi sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia sangat menyukai karangan dari Karl May, William Saroyan, WS Rendra, dan TS Eliot. Menurutnya, pada waktu ia kelas dua SMA, buku-buku mereka sangat populer di kalangan remaja yang suka membaca.

Karya TS Eliot sebenarnya tidak terlalu mudah untuk dicerna oleh seorang pelajar SMA. Sapardi mengakui jika hanya bisa memahami sekitar 25% saja atau mungkin kurang dari itu. Sapardi memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar dan untuk memuaskan rasa ingin tahunya, tidak hanya buku yang dibaca, tetapi juga gejala-gejala alam (kehidupan).

Murder in Cathedral karangan TS Eliot yang bernuansa “Kristiani” merupakan salah satu terjemahan Sapardi. Setelahnya, sempat muncul spekulasi bahwa Sapardi menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Katolik. Menurut Sapardi, ada kemungkinan jika dugaan bahwa ia pernah mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berasal dari puisi-puisinya dalam buku Duka-Mu Abadi (1969). Puisi-puisi di dalam buku itu banyak menggunakan diksi yang berasosiasi dengan kekristenan dan menyajikan imaji-imaji yang bernuansa kekristenan.

Faktanya, Sapardi tidak pernah masuk sekolah Katolik. Pendidikan dasar Sapardi ditempuh di Sekolah Dasar Kasatrian, sekolah itu diperuntukan khusus untuk kaum laki-laki kerabat Kraton. Namun, Sapardi mengakui jika ia pernah ikut sekolah minggu pada saat masih kecil, tetapi Sapardi sebenarnya hanya main-main saja karena dirinya memang suka keluyuran. 

Ini menunjukkan jika Sapardi hanya mendapat pendidikan formal. Bedanya, sekolah itu memberikan kesempatan siswanya untuk mengikuti pelatihan menabuh gamelan dan menari tarian Jawa. Namun, terlihat sejak SMA, Sapardi lebih suka bermain dengan gitar daripada memainkan alat musik tradisional Jawa.

Sapardi menempuh pendidikan selanjutnya di SMP Negeri II Solo di wilayah Mangkunagaran. Lalu, pada tahun 1955, ia melanjutkan ke SMA Negeri 2 Surakarta di Margoyudan. Di sana, Sapardi mulai menulis sajak dan dimuat di beberapa surat kabar. 

Setelah Sapardi lulus SMA, ia memilih Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Kemampuannya dalam menulis berkembang saat menempuh kuliah di jurusan tersebut hingga tahun 1964.

Catatan ini menepis semua dugaan tentang Sapardi masuk sekolah Katolik. Istilah-istilah yang digunakan Sapardi di dalam karyanya, seperti Yesus, Golgota, Qain, dan Abil, diduga ia dapat dari buku-buku bacaan atau ketidaksengajaan saat menghadiri sekolah minggu.

Usai studinya di UGM, Sapardi menikah dengan Wardiningsih yang merupakan adik kelasnya. Lalu, ia memulai kariernya dengan bekerja sebagai dosen di IKIP Malang Cabang Madiun (sekarang Univ. PGRI Madiun) tahun 1964⎼1968 dan perguruan tinggi lainnya di Solo. Kemudian, ia pindah ke Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 1969⎼1974.

Pada tahun 1970⎼1971, Sapardi pernah memperdalam pengetahuannya tentang humanities di University of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat. Ia mengambil program non-gelar dan belajar ilmu dasar humaniora di universitas tersebut.

Sepulangnya dari Hawaii, Sapardi tetap mengajar di Universitas Diponegoro hingga tahun 1973. Kemudian, pada tahun 1974, Sapardi pindah ke Jakarta dan mengajar sebagai dosen di Jurusan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Pada tahun 1989, Sapardi Djoko Damono menyelesaikan studi doktoralnya dan memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra. Disertasinya berjudul Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur.

Pekerjaan Seorang Sapardi

Awal karier seorang Sapardi Djoko Damono, banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan sebagai dosen di perguruan tinggi. Selain sebagai dosen, dia juga pernah menjabat sebagai pembantu dekan dan ketua prodi. Berikut adalah posisi-posisi yang pernah diisi oleh Sapardi:

  • Dosen dan Ketua Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Malang Cabang Madiun (1964⎼1968);
  • Dosen di  Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro (1968⎼1973);
  • Dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (1974⎼2005);
  • Pembantu Dekan III Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun (1979⎼1982);
  • Pembantu Dekan I Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1982⎼1996);
  • Dekan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1996⎼1999);
  • Guru Besar Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, (1995⎼2005).

Meskipun SDD sudah pensiun sebagai guru besar, ia masih aktif dalam berbagai kegiatan sebagai konsultan dan penguji di beberapa perguruan tinggi dan Badan Bahasa.

Saat menjalani karier di bidang pendidikan, Sapardi juga memiliki dan menjalani pekerjaan lainnya. Dia pernah bekerja sebagai berikut:

  • Direktur Pelaksana “Yayasan Indonesia” Jakarta (1973⎼1980);
  • Redaksi majalah sastra Horison (tahun 1973);
  • Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (sejak 1975);
  • Anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977⎼1979);
  • Anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, Jakarta (sejak 1983);
  • Anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka, Jakarta (sejak 1987);
  • Sekretaris Yayasan Lontar, Jakarta (sejak 1987);
  • Ketua Pelaksana Pekan Apresiasi Sastra 1988, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta (1988).

Sejak tahun 1970, Sapardi sering kali diundang untuk menghadiri seminar dan membaca puisi di berbagai negara. Dalam pengembangan kariernya, Sapardi juga mengikuti kegiatan-kegiatan sastra tingkat internasional, seperti berikut:

  • Menghadiri Translation Workshop dan Poetry International, Rotterdam, Belanda (1971);
  • Menghadiri Seminar on Literature and Social Change in Asia di Australia National University, Canberra (1978);
  • Penulis dalam Festival Seni di Adelaide (1978); 
  • Mengikuti Biennale International de Poesie di Knokke-Heist, Belgia (1978); 
  • Menjabat Country Editor majalah Tenggara Journal of Southeast Asian Literature, Kuala Lumpur (1978);
  • Anggota penyusun Anthropology of Asean Literature, COCI, ASEAN (1982);
  • Menjadi panelis dalam Discussion dan sebagai anggota Komite Pendiri Asean Poetry Centre di Bharat Bhavan, Bhopal, India (1988).

Pada tahun 1986, Sapardi mencetuskan argumen untuk mendirikan sebuah organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Argumen tersebut ia sampaikan di depan peserta Penataran Sastra Tahap I dan Tahap II Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, di Wisma Arga Mulya, Bogor. Tahun 1988, setelah dua tahun, diumumkan nama organisasi profesi kesastraan itu, yaitu Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI). 

Sapardi Djoko Damono sendiri adalah ketua umum dari Hiski Pusat dan menjabat selama tiga periode. Selain itu, ia tercatat juga pernah menjadi bagian dari Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV) atau Lembaga Bahasa Kerajaan Belanda. 

Karya Sapardi Djoko Damono

Selain menulis sajak, Sapardi juga aktif menulis karya sastra lainnya seperti cerpen dan novel. Karya-karyanya tersebut diterbitkan dalam buku-bukunya yang berjudul:

  • Duka-Mu Abadi (1969);
  • Mata Pisau (1974); 
  • Akuarium (1974);
  • Perahu Kertas (1983);
  • Sihir Hujan (1984);
  • Hujan Bulan Juni (1994);
  • Arloji (1998);
  • Ayat-Ayat Api (2000);
  • Mata Jendela (2000); 
  • Pengarang Telah Mati (2001);
  • Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2003);
  • Kolam (2009).
Sapardi baca puisi
Sapardi Djoko Damono membaca sajak (sumber: gramedia)

Sebagai pakar sastra, Sapardi menulis beberapa buku yang sangat penting, yaitu:

  • Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978);
  • Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979);
  • Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999);
  • Novel Jawa Tahun 1950-an:Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996);
  • Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999);
  • Sihir Rendra: Permainan Makna (1999);
  • Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal (2004). 

Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya asing ke bahasa Indonesia, contohnya Lelaki Tua dan Laut (Hemingway), Daisy Manis (Henry James), Sayap-sayap Patah (Kahlil Gibran). Produktifitasnya memang tidak diragukan, ia bahkan menulis esai dan mengisi kolom di surat kabar.

Tidak hanya menerjemahkan karya orang lain, karyanya pun juga diterjemahkan. Pada tahun 1986, Jepang sebagai salah satu penerbit sastra dunia menerjemahkan dan menerbitkan tiga buah esai dan beberapa sajak Sapardi. Sajak-sajak Sapardi lainnya diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, seperti Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Perancis, Hindi, Jerman, dan Arab serta dimasukkan ke dalam antologi puisi dunia.

Bakat Seni Lainnya

Sapardi belajar melukis dari sahabatnya yang bernama Jeihan. Jeihan Sukmantoro adalah orang yang dikenal sebagai pelukis ekspresionisme terkemuka Indonesia. Semasa SMA, Sapardi menjalin pertemanan dengan Jeihan yang saat itu adalah seorang pengelola majalah dinding. Sapardi sering mengisi majalah dinding itu. 

Mereka terus menjalin persahabatan hingga dewasa. Pada 29 Juli 2005, Jeihan pernah mempersembahkan sebuah patung khusus untuk Sapardi saat pameran lukisan Jeihan di Jakarta. Patung tersebut merupakan patung Sapardi telanjang.

Sapardi Melukis
Sapardi Melukis (Sumber: Republika)

Tidak hanya menjadi sahabat seorang pelukis, bakat melukis juga dimiliki oleh Sapardi. Lukisannya pun pernah dilelang untuk kegiatan amal dengan beberapa pelukis lain, di antaranya Danarto. 

Bakat lain yang dimiliki Sapardi adalah menjadi seorang sutradara. Ia pernah menangani pentas drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Selain berperan di balik layar, ia juga pernah tampil sebagai aktor dalam teater yang dipimpin WS Rendra.

Sapardi memiliki keahlian lainnya, yaitu bermain alat musik gitar. Ia sempat bermain band tatkala masih di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Beberapa di antaranya menjadi lirik lagu-lagu cinta yang sering dinyanyikan paduan suara saat pesta pernikahan. 

Pendapat Tokoh Lain

Sapardi Djoko Damono memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah sastra Indonesia. Dalam buku Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern (1988), Pamusuk Eneste mengelompokkan Sapardi Djoko Damono ke dalam Sastrawan Angkatan 1970-an.

Prof. A. Teeuw, pakar sastra dari Belanda, menyebut Sapardi sebagai cendekiawan muda dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989). Lebih-lebih, ia juga mengungkapkan bahwa Sapardi merupakan seorang penyair yang orisinil, kreatif, dan kerap melakukan percobaan-percobaan baru yang mengejutkan.

Abdul Hadi WM mengagumi Sapardi karena puisi-puisi Sapardi memiliki banyak kesamaan dengan persajakan Barat akhir abad ke-19 yang disebut simbolisme. Perlu disadari jika Sapardi memilih tetap berada dalam hubungan konvensi-konvensi persajakan agar dapat memahami karya-karya Sapardi dengan baik.

Penghargaan dan Akhir Perjalanan

Berkat sumbangsihnya dalam kesusastraan, Sapardi telah banyak menerima penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Penghargaan-penghargaan itu, antara lain:

  • Cultural Award (1978) dari Australia;
  • Anugerah Puisi Putra (1983) dari Malaysia;
  • Mataram Award (1985) dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat;
  • SEA Write Award (1986) dari Thailand;
  • Anugerah Seni (1990) dari Indonesia;
  • Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI;
  • Habibie Center (2001);
  • Penghargaan Achmad Bakrie Award for Literature (2003);
  • Khatulistiwa Award (2004), dan mungkin masih ada beberapa penghargaan lainnya yang luput disebutkan.
Yang Fana Adalah Waktu
(Sapardi Djoko Damono)

Yang fana adalah waktu. Kita abadi: 
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga 
sampai pada suatu hari 
kita lupa untuk apa. 

"Tapi, 
yang fana adalah waktu, bukan?" 
tanyamu. Kita abadi.

Pada hari Minggu, 19 Juli 2020, sastrawan Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Eka Hospital BSD Tangerang Selatan. Sebelum meninggal, Sapardi Djoko Damono sempat dirawat intensif sejak 9 Juli 2020.

Penyair termasyhur ini dikebumikan di Taman Pemakaman Giritama Bogor, Jawa Barat. Untuk mematuhi protokol kesehatan, keluarga almarhum tidak mengizinkan pelayat ikut serta karena SDD meninggal di tengah pandemi Covid-19. Meskipun begitu, keluarga mengizinkan para pelayat untuk datang ke rumah duka di Komplek Dosen UI Nomor 113, Jalan Ir H Djuanda, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. 

Nah, itu dia biografi yang bisa gue sampaikan ke Sobat Zen. Gimana? Sudah makin kenal, ya, dengan sosok sastrawan Sapardi Djoko Damono. Beliau menjadikan kesederhanaan sebagai gayanya untuk menulis. Hal itu membuat kita dapat merasakan hubungan dengan karya-karyanya. Yang fana adalah waktu, Sapardi abadi.

Sobat Zen juga bisa mulai menulis dengan sesuatu yang dekat dan melekat dengan kehidupan Sobat Zen. Mungkin, dengan begitu, Sobat Zen bisa menciptakan karya-karya yang diterima oleh orang-orang yang merasakan dan secara tidak langsung dapat memproyeksikan apa yang mereka baca karena memiliki kedekatan yang sama dengan Sobat Zen.

Update terus blog Zenius untuk mengetahui biografi dari tokoh-tokoh lainnya, ya, guys. Jangan lupa juga untuk terus ikuti keseruan lainnya dari Zenius di YouTube! Sampai jumpa!

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2012. Sapardi Djoko Damono. Diakses pada 9 November 2021, dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Sapardi_Djoko_Damono

Institut Kesenian Jakarta. 2020. Obituari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Diakses pada 9 November 2021, dari https://ikj.ac.id/kronik-seni/obituari-prof-dr-sapardi-djoko-damono/

Suntama, Permadi. 2020. Pengaruh Sapardi Djoko Damono dalam Sejarah Kesusasteraan Indonesia. Diakses pada 9 November 2021, dari https://tirto.id/pengaruh-sapardi-djoko-damono-dalam-sejarah-kesusasteraan-indonesia-eLmw

Asih, Ratnaning. 2020. Kata Mendiang Sapardi Djoko Damono soal Makna Ingin Mencintai dengan Sederhana. Diakses pada 9 November 2021, dari https://www.liputan6.com/showbiz/read/4309318/kata-mendiang-sapardi-djoko-damono-soal-makna-ingin-mencintai-dengan-sederhana

Welianto, Ari. 2020.  Biografi Sapardi Djoko Damono: Penyair Legendaris Indonesia. Diakses pada 9 November 2021, dari https://www.kompas.com/skola/read/2020/07/19/115000469/biografi-sapardi-djoko-damono-penyair-legendaris-indonesia

Tokoh.id. 2010. Penyair Kaliber Dunia (Sapardi Djoko Damono). Diakses pada 9 November 2021, dari https://tokoh.id/biografi/1-ensiklopedi/penyair-kaliber-dunia/

Baca Artikel Lainnya

Chairil Anwar

Eka Kurniawan

WS Rendra

Bagikan Artikel Ini!