Evolusi Divergen dan Konvergen – Materi Biologi Kelas 12

Evolusi Divergen dan Konvergen Zenius Education

Ada beberapa teori evolusi dari dulu hingga sekarang, mulai dari klasifikasi Aristoteles hingga observasi Darwin. Tapi, apa sih bukti kalau evolusi makhluk hidup itu memang terjadi? Ada beberapa bukti dan di antaranya adalah pola adaptasi yang terbagi atas evolusi divergen dan konvergen.

Sebelumnya, lo udah belajar tentang asal-usul makhluk hidup–mungkin dimulai dari teori Generatio Spontanea (Aristotle, 300 SM) sampe akhirnya muncul berbagai pandangan evolusioner. Lo bisa coba baca-baca dengan salah satu pencetus teorinya, Charles Darwin, di sini.

Kali ini, gue bakal ngebahas bukti-bukti evolusi. Masih ada beberapa orang yang menganggap kalo teori evolusi itu yaudah sekedar teori aja–mungkin lo salah satunya. Tapi, teori-teori evolusi yang kita kenal hari ini tentunya udah terbukti secara ilmiah.

Baca Juga: Berbagai Pandangan Keliru tentang Teori Evolusi.

Nah, bukti-buktinya tuh apa aja, sih? Ada 7 bukti yang kalo dibahas dalam satu artikel bakal panjang banget. Gue bakal kenalin lo secara singkat ke semuanya, tapi setelah itu kita akan fokus hanya ke salah satunya, yaitu bukti pola adaptasi.

Bukti-Bukti Evolusi

Pengamatan Langsung

Pengamatan langsung ini adalah bukti yang gampang banget buat didapetin. Nope, kita gak harus time travelling ke masa lalu buat observasi evolusi dari zaman dahulu. Kita bisa mengamati secara langsung proses sebuah evolusi, contohnya pada kasus Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA). Lebih akrabnya, mungkin lo pernah denger kalo lo lagi sakit dan dikasih antibiotik sama dokter, itu harus dihabisin semua. Ini ada kaitannya sama evolusi bakteri yang bikin lo sakit. Penasaran gak, prosesnya gimana? Bisa nonton video belajar Zenius ini, ya!

Contoh lain adalah evolusi ikan stickleback yang memiliki perubahan bentuk tubuh karena seleksi alam akibat perubahan kondisi habitatnya–dari Lake Washington yang sangat tercemar hingga setelah restorasi, danaunya jadi bersih banget sekarang. Video yang membahas tentang stickleback juga udah ada di sini, yaps.

Artificial Selection (Seleksi Buatan)

Kalo seleksi alam itu dilakukan oleh predator, ekosistem, dan faktor alam lainnya, seleksi buatan terjadi karena campur tangan manusia. Manusia melihat mana yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dalam menyeleksi. Contohnya pada tanaman wild mustard. Satu tanaman ini bisa menghasilkan berbagai tanaman lainnya yang sekarang banyak kita konsumsi, berkat seleksi buatan.

Setelah mengawinsilangkan wild mustard dengan berbagai variasi, seperti yang berbunga tebal hingga berdaun lebar dan banyak hasil seleksi buatan, lo sekarang dikelilingi oleh ‘keturunan’ tanaman ini: kembang kol, brokoli, kale, kailan, dan lain-lain.

Contoh hasil kawinsilang wild mustard Zenius Education
Brokoli, kol, dan kailan merupakan hasil kawinsilang berbagai variasi wild mustard (Arsip Zenius)

Pelajari lebih lanjut tentang artificial selection di video Zenius dengan klik banner di bawah ini.

Evolusi Divergen dan Konvergen - Materi Biologi Kelas 12 9

Baca Juga: Mengapa Anak Bisa Mirip Dengan Orang Tuanya? – Materi Biologi Kelas 12

Homologi Molekuler & Embriologi

Bukti ini menunjukkan kesamaan di tingkat molekuler (sekuens DNA dan gen fungsional). Lo pasti sering denger kalo manusia itu mirip sama kera. Tapi, kenapa manusia gak berbulu banyak kayak kera? Terus, lo tau ga, kalo manusia dan ikan itu punya gen yang sama? Kaget kan? Manusia dan ikan sama-sama punya pharyngeal slit, tapi karena perbedaan ekspresi gen, nanti tumbuhnya juga jadi organ-organ yang berbeda. Kepo gak sih, cara kerjanya gimana? Bisa lo simak di video belajar ini, ya!

Nah, dua contoh tadi menunjukkan kalo yang membedakan beberapa organisme itu bukan gennya, melainkan ekspresi gennya. Gen itu kan DNAnya, tapi ekspresi gen itu aktivasi DNAnya meliputi proses translasi, transkripsi, dan lain-lain yang bisa dipengaruhi oleh intensitas, durasi, dan lokasi gen diaktifkan.

Homologi Organ

Bukti ini merujuk kepada kesamaan tingkat struktur atau organ. Contohnya kita bandingkan tyrannosaurus, kelelawar, burung gereja, dan kumbang. Keempat hewan ini punya satu kesamaan, yaitu memiliki sayap. Tetapi, tiga yang pertama memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat, karena apabila dibandingkan, sayap-sayapnya merupakan modifikasi dari tangan mereka. Hal ini dapat dilihat dari struktur tulangnya. Sedangkan kalo kumbang atau serangga pada umumnya, sayapnya merupakan bagian dari lipatan kulit, tidak menyatu dengan tangan dan kakinya.

Catatan Fosil

Fosil adalah struktur yang ditinggalkan sebuah organisme setelah mereka mati. Biasanya kalo bagian tubuh, biasanya kerangkanya yang tidak dimakan oleh spesies lain atau letaknya tersembunyi bakal mengalami proses fosilisasi yang mengawetkan hingga bisa ditemukan puluhan ribu hingga jutaan tahun setelahnya. Dari fosil bisa dipelajari berbagai informasi seperti struktur tulang atau struktur khusus lainnya untuk mengidentifikasi pola pergerakannya, perilaku makannya, hingga pola adaptasinya.

Biogeografi

Melalui bukti ini, lo bisa mempelajari pola distribusi dan persebaran sebuah spesies. Misalnya, di suatu gurun pasir di Mesir ditemukan fosil paus purba. Kenapa bisa ada paus di tengah gurun pasir? Nah, disinilah lo bisa pake biogeografi untuk menjawabnya. Bukan berarti pausnya terdampar sampai ke gurun, melainkan ada kemungkinan dulunya, gurun tersebut merupakan lautan. Kesimpulannya, perubahan lokasi merupakan bagian dari evolusi, karena juga menyebabkan perubahan spesies.

Pola Adaptasi

Akhirnya, kita sampe ke bukti berupa pola adaptasi. Misalnya lo bandingin bentuk paruh burung gereja sama burung pelatuk. Paruh burung gereja pendek tapi tebal, terus makanannya biji-bijian. Di sisi lain, burung pelatuk paruhnya panjang dan runcing untuk mematuk batang pohon agar bisa membuat sarang. Perbedaan ini merupakan hasil dari pola adaptasi karena perilaku makan dan kebiasaan masing-masing burung. Jadi, dalam pola adaptasi, kita membandingkan spesies berbeda yang punya morfologi dan kebiasaan berbeda sebagai hasil dari adaptasi tiap spesies tersebut terhadap habitatnya. Nah, pola adaptasi ini ada dua, yaitu evolusi divergen dan konvergen.

Adaptive Radiation atau Evolusi Divergen

Pola adaptasi berbeda dari organisme-organisme dengan nenek moyang yang sama disebut dengan adaptive radiation atau evolusi divergen. Karena adanya perbedaan gaya hidup dan tekanan seleksi yang berbeda, jadinya cara mereka adaptasi pun berbeda. Makanya, satu nenek moyang bisa menghasilkan beragam keturunan.

Evolusi Divergen Burung Zenius
Ilustrasi evolusi divergen pada burung (Arsip Zenius)

Di atas, kita punya gambar beberapa jenis burung. Semua burung berasal dari nenek moyang yang sama–memiliki paruh dan sayap. Perbedaan bentuk tubuh khususnya paruh tuh sesuai sama makanan dan kebiasaan mereka.

Misalnya pada vulture, paruhnya berbentuk demikian untuk mempermudah waktu mereka lagi makan bangkai. Plus, kepalanya juga botak, supaya bakteri dari bangkai itu gak menyebabkan infeksi kalo ngumpul di bulu. Kalo botak kan bisa langsung kena panas gitu.

Tapi, kalo pada kolibri, paruhnya lebih runcing dan melengkung kebawah. Kenapa? Karena makanannya nektar yang berada di dasar bunga, jadi perlu paruh yang seperti itu.

Burung pelatuk gak bisa mematuk pohon kalo paruhnya kayak burung beo. Kolibri gak bisa mengambil nektar kalo paruhnya pendek kayak burung gereja.

Kesimpulannya, bentuk paruh yang berbeda dari setiap burung itu merupakan solusi–sebuah pola adaptasi dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing burung, sehingga dari keberagaman ini, lahirlah berbagai organisme dari nenek moyang yang sama.

Baca Juga: Panduan Belajar Materi Biologi Kelas 12 Semester Satu SMA

Evolusi Konvergen

Kebalikan dari evolusi divergen, evolusi konvergen mengacu pada evolusi organisme-organisme yang berasal dari nenek moyang berbeda, namun karena mereka menghadapi permasalahan yang sama entah itu dari perilaku makan atau kebiasaan, mereka mengalami adaptasi yang mirip.

Evolusi Konvergen Pteranodon dan Pelican Zenius
Ilustrasi evolusi konvergen Pteranodon dan Pelican (Arsip Zenius)

Contoh yang gue pake kali ini adalah Pterosaurus yang mirip sama burung. Emang mirip, tapi nenek moyang mereka beda ya! Pterosaurus hidup jutaan tahun lalu dan doi bukan burung. Tapi, mereka punya permasalahan dan kebutuhan yang sama dengan burung. Gambar di atas menunjukkan kemiripan bentuk paruh yang disesuaikan dengan perilaku makannya.

Pteranodon dan pelican makan ikan dengan meraup menggunakan paruhnya yang berkantong–seperti memancing pake jaring. Quetzalcoaltus dan stork mencari makan dengan mencaplok ikan. Dsungaripterus memiliki paruh panjang dan mencuat ke atas seperti avocet karena mereka makan kerang yang cangkangnya keras dan harus dibuka dengan dicongkel. Kemudian, pterodaustro memiliki ‘sikat’ dalam paruhnya sama seperti flamingo untuk menyaring makanan seperti plankton dan udang-udang kecil. Jadi, mereka datang dari nenek moyang yang berbeda, tetapi pola adaptasinya mirip.

Nah, setelah baca-baca tentang ketujuh bukti evolusi, jadi makin keliatan kan kalo emang makhluk hidup itu terus berevolusi dari dulu hingga sekarang dan kalo teori-teori evolusi yang pernah lo baca atau denger itu semua didukung oleh bukti-bukti ilmiah juga. Tadi, lo juga udah mempelajari lebih jauh mengenai evolusi divergen dan konvergen melalui contoh burung. Untuk mereview pemahaman lo, gue udah siapin dua pertanyaan setelah penutup ini. Oke deh, sekian dulu artikel kali ini, ya!

Contoh Soal dan Pembahasan

SOAL

  1. Mengapa bentuk paruh burung berbeda-beda?
    a. karena hubungan kekerabatan burung sangat dekat.
    b. karena semua burung punya gaya hidup dan makanan yang sama.
    c. karena hubungan kekerabatan burung tidak dekat.
    d. karena semua burung punya gaya hidup dan makanan yang berbeda.
  2. Mengapa ada kesamaan bentuk paruh pterosaurus dan burung?
    a. karena hubungan kekerabatan masing-masing sangat dekat.
    b. karena masing-masing punya gaya hidup dan makanan yang sama.
    c. karena hubungan kekerabatan masing-masing tidak dekat.
    d. karena masing-masing punya gaya hidup dan makanan yang berbeda.

PEMBAHASAN

  1. Jawaban: d
    Pembahasan: sesuai dengan evolusi divergen, meskipun semua burung nenek moyangnya sama, gaya hidup dan makanan mereka berbeda-beda, sehingga dari satu nenek moyang bisa ada beberapa spesies dengan paruh yang berbeda-beda.
  2. Jawaban: b
    Pembahasan: evolusi konvergen menunjukkan bahwa spesies-spesies yang mengalami tantangan yang sama, solusinya juga sama. Dalam kasus ini, tantangannya adalah gaya hidup dan makanan, solusinya adalah bentuk paruh yang sesuai.
Bagikan Artikel Ini!