Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi?

empati dalam komunikasi.

Lelucon Chris Rock tentang istri Will Smith dianggap nggak berempati. Apa itu empati dalam komunikasi, khususnya dalam berkomedi? Yuk, cari tahu selengkapnya!

Cuy, elo masih ingat nggak sama insiden Will Smith dan Chris Rock yang jadi trending topic sejagad raya akhir Maret 2022 lalu? Yups, yang kejadiannya waktu malam penghargaan Oscar 2020 itu.

Gue ajak flashback dikit ya, barangkali elo lupa atau bahkan belum tahu sama sekali. So, waktu itu, penghargaan Academy Awards ke-94 dilaksanakan pada 27 Maret 2022. Ada satu momen ketika stand-up comedian Amerika, Chris Rock, nge-joke tentang istri Will Smith, Jada Pinkett Smith.

Chris bikin joke tentang Jada yang disangkutpautin sama film G. I. Jane. For your information nih, G. I. Jane nyeritain tentang tentara perempuan yang berkepala botak. Sementara itu, Jada juga punya penampilan yang sama karena penyakit Alopecia (penyakit pada kulit kepala yang bikin rambut rontok) yang dimilikinya sejak tahun 2018.

Awalnya, hadirin Oscar pada ketawa, termasuk Jada dan Will Smith. Namun, selang beberapa saat, Will Smith naik ke atas panggung dan menghampiri Chris. Tiba-tiba aja, Will langsung nampar wajah Chris dan balik lagi ke tempat duduknya.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 65
Gif Chris Rock setelah ditampar Will Smith pada malam penghargaan Oscar 2022. (Dok. tenor.com)

Nggak sampai situ aja. Waktu Will Smith udah duduk, dia neriakin kalimat yang intinya nyuruh Chris nggak ngomongin istrinya lagi. Meskipun Chris Rock bilang kalau apa yang diomongin cuma lelucon, Will Smith tetap negasin ke Chris buat nggak ngebahas istrinya lagi.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 66
Gif Will Smith marah kepada Chris Rock pada malam penghargaan Oscar 2022. (Dok. tenor.com)

Hanya dalam sejam setelah insiden itu, Will Smith auto jadi trending topic dunia di Twitter. 1,862 juta tweet ngomongin aksi Will Smith tersebut.

Netizen Twitter terpecah menjadi dua. Ada yang menyayangkan aksi Will Smith karena udah melakukan kekerasan di atas panggung yang ditampilkan secara live dan ditonton di seluruh dunia, termasuk anak-anak.

Di sisi lain, sebagian netizen mendukung apa yang dilakukan Will Smith. Aksinya dianggap sebagai pembelaan terhadap istrinya. Ada netizen menganggap lelucon Chris Rock sebagai bully dan nggak berempati sama kondisi Jada.

So, kali ini, gue mau ngajak elo membahas dua pelajaran dari insiden Will Smith dan Chris Rock: memahami lelucon yang benar dan pentingnya sikap empati dalam komunikasi.

Here we go.

Mengenal Lelucon dan Black Humour

Buat membuka pembahasan tentang insiden Chris Rock dan Will Smith, gue mau ngenalin elo dulu tentang dunia perhumoran.

Emang, apa itu humor?

Menurut jurnal What Makes Things Funny (2020), humor adalah sesuatu tujuannya buat menghibur orang. Humor ada yang bentuknya verbal, ada yang nonverbal. Humor verbal disampaikan melalui perkataan atau teks, sedangkan humor nonverbal wujudnya berupa gambar atau bahasa tubuh.

Nah, satu dari contoh humor verbal adalah lelucon. Lelucon atau joke merupakan sesuatu yang dikatakan atau dilakukan untuk membuat orang tertawa.

Lelucon Chris Rock termasuk sebagai dark joke. Dark joke disebut juga sebagai black humor, atau humor gelap.

“Gimana tuh maksud humor gelap? Lucu tapi bikin takut gitu?”

Ya nggak literally gelap nggak ada cahaya juga. Dalam jurnal berjudul Cognitive and Emotional Demands of Black Humour Processing: The Role of Intelligence, Aggressiveness, and Mood (2017), black humour adalah humor yang menggunakan topik serius, kayak kematian, penyakit, penderitaan, atau tragedi, tetapi dibawakan dengan cara yang lucu.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 67
Ilustrasi black humor atau dark joke. (Arsip Zenius)

Misalnya, topik yang dibahas adalah tentang seseorang yang punya penyakit, kayak Jada Pinkett Smith tadi. Orang yang menggunakan black humour bakal membahas tentang penyakit tersebut secara terbuka, dengan cara yang mereka rasa santuy.

Harapannya, orang yang punya penyakit itu bisa lebih mudah menerima penyakitnya, tanpa takut buat dihakimi. Black humour bisa membantu orang memproses perasaan yang mungkin nggak bisa mereka lakukan atau rasakan sebelumnya.

Baca Juga: Jenis Jenis Emosi, Kenali Dirimu Lebih Dekat!

Apa Sih yang Bikin Sesuatu Jadi Lucu?

“Kalau black humour bisa bikin orang lebih ‘menerima kenyataan’ atas penderitaannya, kenapa Will Smith justru nggak terima sama lelucon Chris Rock?”

Ya … namanya juga humor; complicated kayak hubungan elo sama dia. Terkadang, ketika elo bikin lelucon, si A mungkin ngerasa kalau candaan elo lucu. Namun, belum tentu si B menganggap candaan elo lucu. Bahkan, bisa jadi B ngira kalau lelucon elo itu nggak pantas.

Terus, gimana menilai lelucon yang benar-benar lucu dan bikin ketawa, dan lelucon yang nggak pantas? Jadi, begini ….

Dalam dunia perlucuan, ada teori yang disebut sebagai benign violation theory. Menurut Humor Research Lab, teori itu nyebutin tiga kondisi yang bikin sesuatu menjadi lucu, yaitu kalau (1) ada sesuatu yang nggak sesuai keadaan normal yang seharusnya terjadi, tetapi (2) nggak membahayakan dan elo tetap ngerasa baik-baik aja, dan (3) dua syarat tersebut harus terjadi secara bersamaan.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 68
Benign Violation Theory, tentang apa yang membuat sesuatu menjadi lucu. (Arsip Zenius)

Misalnya, Amber udah lima tahun hidup dengan kanker otak. Lisa pun nge-joke di depan Amber. Niatnya, sih, biar Amber nggak putus asa sama hidupnya.

Lisa: “Zodiak, zodiak apa yang botak?”

Amber: “Apaan?”

Lisa: “Cancer. Soalnya, rambutnya rontok melulu karena kemoterapi.”

Amber: “Yeee, nggak gitu konsepnya ….” (ketawa)

Dari dialog di atas, lelucon kalau zodiak Cancer berkepala botak karena kemoterapi, dianggap nggak sesuai konsep kehidupan normal yang semestinya. Soalnya, secara normal, zodiak Cancer nggak ada hubungan apa pun sama kebotakan dan kemoterapi. Situasi ini memenuhi syarat pertama: ada sesuatu yang berada di luar keadaan normal yang semestinya.

Meskipun Amber punya kanker otak, dia nggak merasa sakit hati sama lelucon Lisa. Bahkan, Amber justru ketawa. Amber ngerasa kalau lelucon Lisa masih fine-fine aja. So, ini memenuhi syarat kedua: nggak membahayakan dan penerimanya tetap ngerasa baik-baik aja sama itu.

Kedua kondisi ini harus terjadi, buat masuk ke syarat ketiga dan mencapai tujuannya, yaitu bikin Amber ketawa.

Lelucon Lisa nggak akan jadi lucu kalau salah satu dari tiga syarat itu nggak ada, atau salah satunya gagal.

Misalnya, joke Lisa jadi nggak lucu lagi kalau setelah Amber tanya, “Apaan?”, Lisa jawabnya, “Oke, udah, lupakan. Ganti topik.” Dengan kata lain, sesuatu nggak jadi lucu lagi kalau syarat pertama berhenti.

Atau, Lisa justru lebih agresif buat bikin jokes tentang kanker, dan bikin Amber ngerasa nggak nyaman lagi, terancam kesabarannya, dan sakit hati. Intinya, sesuatu nggak jadi lucu lagi kalau salah satu unsur itu hilang, atau justru dilakukan secara berlebihan.

Dan yang penting, apa yang dianggap nggak berbahaya tergantung sama penerimanya. Jadi, humor itu subjektif ya guys, tergantung penerimanya.

Baca Juga: Bagaimana Kondisi Otak Orang Marah?

Lelucon Kok Bikin Orang Marah?

Berarti, Will Smith nganggap joke Chris Rock tentang istrinya berbahaya, dong?

Balik lagi sama yang gue sebutin di awal tadi, humor itu subjektif. Penggunaan humor yang tepat tergantung sama gimana orang yang bikin lelucon bisa memahami dan berempati sama penerimanya.

Poinnya adalah, humor berkaitan dengan tingkat empati yang bikin humor.
 

Hubungan antara humor dan empati ditunjukkan dalam empat gaya humor yang akan gue jelasin berikut ini.

Menurut jurnal Individual Differences in Uses of Humor and Their Relation to Psychological Well-being: Development of the Humor Styles Questionnaire (2003), ada empat gaya humor, yaitu affiliative humor, self-enhancing humor, aggressive humor, dan self-defeating humor.

Affiliative humor dan self-enhancing humor termasuk ke dalam humor adaptif yang sifatnya positif. Sebaliknya, aggressive humor dan self-defeating humor termasuk ke dalam humor maladaptif yang cenderung negatif.

Elo bisa lihat perbedaan keempat gaya humor tersebut pada gambar di bawah ini, ya.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 69
Ilustrasi empat gaya humor. (Arsip Zenius)

Menurut jurnal berjudul The Relation between Humor Styles and Empathy (2010), humor adaptif punya hubungan positif sama empati, simpati, kasih sayang, dan memandang dari perspektif orang lain. Sebaliknya, humor maladaptif punya hubungan negatif dengan sikap empati dalam komunikasi dan nggak melihat dari perspektif orang lain.

Orang yang menggunakan humor agresif bakal bikin targetnya ngerasa tersinggung dan tersakiti secara psikologis. Oleh karena itu, mereka yang menggunakan humor agresif cenderung rendah empati dalam komunikasi. Mereka nggak ngebantu targetnya buat healing dari pengalaman buruknya. Selain itu, orang yang menggunakan humor agresif juga kesulitan ngerasain apa yang dirasakan targetnya.
 

Baca Juga: Contoh Sikap Peduli Terhadap Sesama dan Manfaatnya untuk Anak

Emang, Empati Itu Apa Sih?

Dari tadi, istilah “empati” muncul terus, ya. Elo juga udah tahu hubungannya lelucon sama tingkat empati seseorang yang bikin lelucon itu. Emang, empati dalam komunikasi itu apa sih? Bedanya apa sama simpati?

Empati adalah perasaan peduli atau terhubung yang mendalam sehingga berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain. Empati adalah proses memahami pengalaman seseorang, mengenali perasaan orang lain, penyebab perasaan tersebut, dan menempatkan diri pada posisi orang lain tanpa benar-benar jadi bagian dalam pengalaman itu.

Sementara itu, simpati adalah perasaan peduli atau prihatin terhadap seseorang tanpa berusaha buat memahami atau merasakan lebih dalam apa yang dirasakan orang tersebut.

Misalnya, teman elo lagi galau. Elo disebut bersimpati ketika elo beliin dia seblak, tetapi nggak berusaha kepo dan memahami lebih dalam tentang alasan dia galau.

Sedangkan, elo disebut berempati ketika elo tanya ke dia, “Elo kenapa galau? Gue ngerti kok, rasanya. Pasti berat, ya? Gue bisa bantu apa buat elo?”

Dengan empati dalam komunikasi, elo bisa aja melakukan tindakan nyata, kayak beliin dia seblak juga, sambil lanjut curhat.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 70
Gif ilustrasi empati dalam komunikasi. (Dok. tenor.com)

So, saat kita berempati, kita mencoba memahami orang lain. Untuk memahami orang lain, kita butuh berinteraksi, butuh tahu kondisi orang tersebut. Empati kemudian mendorong terjadinya komunikasi dan interaksi. Elo bisa belajar selengkapnya tentang empati di sini, ya.

Gimana caranya berempati ketika elo lagi ngelempar lelucon ke orang lain?

Buat bikin lelucon dengan tetap berempati ke orang lain, elo perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Pastikan motif elo emang bikin energi positif di sekitar elo, nggak bermaksud buat merugikan pihak tertentu.
  2. Kenali lebih dulu keadaan pikiran dan selera humor orang lain yang menerima lelucon elo.
  3. Tunjukkan nada yang positif, nggak ngegas, dan pesan nonverbal (gestur dan mimik muka) yang nggak menyinggung atau merendahkan orang lain ketika menyampaikan lelucon.
  4. Kenali sinyal nonverbal dari penerima lelucon elo. Apakah dia kelihatan santuy dan menerima joke elo dengan terbuka, atau malah tertutup dan kelihatan tersinggung.

Kalau ada yang tersinggung sama lelucon elo, gimana caranya buat berempati sama perasaannya?

Menurut Psychology Today, kalau ada yang menganggap lelucon elo nggak lucu dan bahkan menyinggung, segera hentikan lelucon itu. Tahan keinginan elo buat membela diri, dan nggak bilang kalau itu cuma bercandaan doang.

Kalau keinginan membela diri muncul dalam diri elo, tahan dan tarik napas dalam-dalam. Elo bisa melakukan kontak mata sama orang tersebut dan minta maaf.

Elo bisa bilang sama dia, “Gue minta maaf ya. Bagian mana yang menurut elo salah?” Dengan cara itu, elo bisa tahu apa yang dia rasakan waktu menerima lelucon elo.

Elo juga perlu nanya, gimana caranya biar dia bisa move on dari ketersinggungan itu. Sisanya, tinggal elo lakukan aja. Anggap aja itu jadi pelajaran buat elo, biar elo bisa mikir dulu keadaan pikiran dan selera humor orang lain sebelum bikin lelucon.

Bahaya Kurangnya Empati dalam Komunikasi

Terus, gimana kalau black humor yang negatif itu keterusan? Apa akibatnya kalau kita kurang empati dalam komunikasi?

Mengutip Very Well Mind, kurangnya empati dalam komunikasi bisa menyebabkan beberapa hal berikut:

  1. Komunikasi Menjadi Buruk

Nggak bisa memahami perasaan orang lain bisa bikin komunikasi dengan orang tersebut jadi lebih sulit. Kurangnya empati dalam komunikasi juga bikin orang tersebut salah tafsir tentang apa yang orang lain katakan. Akibatnya, terjadi miskomunikasi dan berujung konflik.

  1. Hubungan dengan Orang Lain Jadi Bermasalah

Kurangnya empati dalam komunikasi bikin hubungan dengan orang lain jadi bermasalah. Konflik bisa terjadi ketika orang lain ngerasa kalau perasaan dan kebutuhannya nggak dipahami. Jadinya, sulit buat kedua belah pihak untuk punya hubungan dekat dan saling membantu.

  1. Kurangnya Perilaku Membantu

Ketika orang nggak merasakan empati dalam komunikasi sama orang lain, dia cenderung nggak terlibat dalam tindakan yang membantu orang tersebut, apabila orang itu butuh bantuan.

Hal ini nggak mempengaruhi individu aja, tetapi juga bisa “menular” secara sistemik ke lingkup yang lebih besar, kayak kelompok, masyarakat, sampai pemerintah. Orang-orang yang butuh bantuan jadi nggak mendapatkan dukungan yang semestinya, karena kurangnya empati dalam komunikasi ketika dimintai tolong dan diajak berdialog.

  1. Merugikan Orang Lain

Dampak kurangnya empati dalam komunikasi ini biasanya ditemukan di dunia medis, kayak merawat pasien.

Menurut jurnal A study of empathy decline in students from five health disciplines during their first year of training (2011), perawat yang nggak melibatkan empati dalam komunikasi dengan pasiennya akan bikin mereka ngurusin pasien tanpa kasih sayang, hanya menganggap sebagai kerjaan aja. Hasilnya, pasien punya pengalaman yang buruk waktu dirawat dan bikin kesehatannya jadi menurun.

Baca Juga: Mengapa Pengetahuan Sosiologi Perlu Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari, ya?

Cara Empati dalam Komunikasi

So, elo pasti nggak mau kan, kalau poin 1-4 di atas terjadi di diri elo? Itulah kenapa kita perlu belajar cara empati dalam komunikasi.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 71
Gif empati dalam komunikasi. (Dok. giphy.com)

Buat mengembangkan empati dalam komunikasi, elo bisa melakukan cara-cara berikut:

  1. Jadilah Pendengar yang Aktif

Pendengar aktif adalah ketika elo ngasih tanggapan kepada lawan bicara elo. Tanggapan itu bisa dalam bentuk kontak mata, ekspresi wajah, dan gestur. Berbagai hal itu nunjukkin kalau elo benar-benar terlibat dalam percakapan, dan lawan bicara elo ngerasa kalau elo memahami apa yang diceritakannya.

Elo juga ngasih respons dengan ngasih pertanyaan terbuka setelah lawan bicara elo cerita. Itu menunjukkan empati dalam komunikasi.

Elo nggak hanya sekedar mendengarkan, tetapi benar-benar memahami perasaan atau pesan yang lawan bicara elo coba sampaikan. Hasilnya, si dia jadi pengen cerita lebih banyak ke elo dan membangun kepercayaan antara elo dan dia.

  1. Kasih Masukan

Sikap empati dalam komunikasi berarti nggak nge-judge orang saat orang itu cerita, bahkan ketika elo ngasih masukan. Pastikan elo ngasih masukan ketika lawan bicara elo minta masukan dari elo. Kalau elo ngasih nasihat ke dia tanpa dia minta, elo bakal dikira nge-judge.

  1. Beri Kenyamanan Fisik dan Emosional

Empati dalam komunikasi nggak hanya ditunjukkan melalui emosi atau perkataan aja, tetapi juga bisa melalui sentuhan fisik, kayak nepuk punggung atau memeluk.

Elo bisa menggunakan sentuhan fisik yang sesuai buat menyampaikan bahwa elo memahami apa yang dia rasakan. Sentuhan fisik bisa melepaskan hormon dopamin dan serotonin dalam tubuh. Hasilnya, suasana hati lawan bicara elo jadi lebih baik dan bikin mentalnya kurang terbebani.

  1. Validasi Apa yang Dia Alami

Validasi adalah alat yang ampuh untuk berempati dalam komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang cuma ingin keamanan dan kekuatan dari orang lain dalam hidupnya.

Ketika elo mendengarkan dan memvalidasi apa yang dia ceritakan, elo secara nggak langsung menerima dia ke dalam circle elo. Berempati adalah ketika elo menerima emosi yang dirasakan orang lain dan bikin elo ngerasa kalau elo juga ngerasain itu di dunia nyata. 

Misalnya, ketika teman elo lagi sakit dan ngerasa sedih sama sakit yang dirasakan. Elo mengiyakan apa yang dirasakan itu, seolah elo juga lagi ngalamin apa yang dialami.

Elo juga nggak nyinggung perasaannya dengan menganggap enteng apa yang sedang dia hadapi. Jadinya, teman elo nggak ngerasa sendirian.

*********************************************

Finally, kita udah mengupas tuntas tentang lelucon dan kaitannya dengan empati dalam komunikasi. Hal yang kelihatan sepele dan mungkin jarang kita perhatikan, ternyata penting banget dan ngefek besar buat kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Btw, Zenius punya video khusus buat elo, yang ngebahas tentang empati dalam komunikasi. Kalau elo mau belajar lebih dalam tentang empati dalam komunikasi, elo bisa akses videonya dengan klik gambar di bawah ini. Pastikan elo udah punya akun Zenius, ya.

Belajar dari Insiden Will Smith dan Chris Rock, Gimana Pentingnya Empati dalam Komunikasi? 72

Gue mau tanya nih sama elo. Dari insiden Will Smith dan Chris Rock, pelajaran apa sih yang elo ambil? Pernah nggak, elo mengalami atau melihat peristiwa yang sama? Atau, elo punya tips buat empati dalam komunikasi? Kasih tahu gue di kolom komentar, ya!

Baca Juga: Cinta Masa Remaja, Apa Hubungannya dengan Pubertas?

Referensi

“Can’t You Take a Joke?”: What to Do When Teasing Hurts – Psychology Today (2019)

Dynel, Marta. (2009). “Beyond a Joke: Types of Conversational Humor.” Language and Linguistics Compass, 3(5): 1284–1299.

Hampes W. P. (2010). “The relation between humor styles and empathy.” Europe’s Journal of Psychology, 6, 34–45.

How to Show Empathy: 4 Techniques to Practice Empathizing – MasterClass (2022)

Managing Conflict with Humor – Help Guide

Martin R. A., Puhlik-Doris P., Larsen G., Gray J., Weir K. (2003). “Individual differences in uses of humor and their relation to psychological well-being: Development of the Humor Styles Questionnaire.” Journal of Research in Personality, 37 (1)., 48–75.

Nunes, Paula, dkk. (2011). “A Study of Empathy Decline in Students from Five Health Disciplines during Their First Year of Training”. International Journal of Medical Education, 2: 12-17.

The Importance of Active Listening – Gift of Life Institute (2020)

Warren, Caleb, dkk. (2021). “What Makes Things Funny? An Integrative Review of the Antecedents of Laughter and Amusement”. Personality and Social Psychology Review, 25(1): 41-65.

What to Do If You or a Loved One Lack Empathy – Very Well Mind (2021)

Wilinger, Ulrike, dkk. (2017). “Cognitive and Emotional Demands of Black Humour Processing: The Role of Intelligence, Aggressiveness, and Mood”. Cognitive Processing, 18: 159-167.

Bagikan Artikel Ini!