Perbedaan El Nino dan La Nina Beserta Ciri-Ciri dan Dampaknya

Perbedaan El Nino dan La Nina Beserta Ciri-Ciri dan Dampaknya 17

Elo ngerasain nggak sih, akhir-akhir ini curah hujan lagi tinggi? Tiap ngegalau sambil ngelihatin jendela kamar, eh, petir menyambar, terus tiba-tiba udah turun hujan aja. Gue yang awalnya galau, jadi pengin bikin mi instan.

Gue langsung ngebatin, “Perasaan musim hujan biasanya berhenti di bulan Februari kalau nggak Maret, deh. Kok, April gini, langit masih aja nangis? Udah, cukup gue aja deh yang galau mulu, langit jangan”.

Karena gue ngerasa kegalauan gue tersaingi sama langit, gue langsung browsing di internet buat nyari alasannya. Biasanya, April sudah masuk musim kemarau. Nah, ini kenapa masih sering hujan, ya?

Musim penghujan yang lama karena El Nino dan La Nina.
Ilustrasi musim penghujan. (Arsip Zenius

Akhirnya, ketemulah dua “dalang” yang bikin langit galau. Mereka adalah El Nino dan La Nina. Gue jadi penasaran dan ingin kenalan sama El Nino dan La Nina. Apa yang bikin keduanya terjadi, dan apa dampaknya untuk kehidupan?

Buat menjawab itu, gue mau ngajak elo kenalan juga sama El Nino dan La Nina. Soalnya, keduanya nggak hanya berpotensi mempengaruhi lingkungan sekitar, tetapi juga muncul di soal Sosial Humaniora (Soshum) Geografi UTBK. 

So, baca sampai habis, ya!

Apa Itu Fenomena El Nino dan La Nina?

Apa yang terlintas di benak elo ketika dengar El Nino dan La Nina? Mungkin ada yang mikir kalau mereka kayak nama anak kembar, ya.

Istilah El Nino dan La Nina berasal dari bahasa Spanyol. Kalau elo mau tahu arti El Nino dan La Nina, El Nino berarti “anak laki-laki”, dan La Nina artinya “anak perempuan”.

“Tuh, kan benar, kayak anak kembar laki-laki dan perempuan! Cocok nih jadi referensi nama anak masa depan!”

Eits. Sebelum elo menjadikan El Nino dan La Nina cadangan nama anak-anak elo di masa depan, elo perlu tahu, apa yang dimaksud El Nino dan La Nina.

El Nino dan La Nina merupakan fenomena cuaca yang berbeda.
Ilustrasi perbedaan El Nino dan La Nina. (Dok. Arsip Zenius/imgflip.com)

El Nino & La Nina adalah fenomena cuaca yang sama-sama berkaitan dengan perubahan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik. Namun, keduanya punya perbedaan.

El Nino adalah fenomena meningkatnya suhu Samudra Pasifik bagian timur. Sehingga,  air permukaan laut yang lebih hangat (kita sebut sebagai kolam panas) bergeser dari bagian barat Samudra Pasifik (dekat Papua, Indonesia) ke arah timur (dekat Peru, Amerika Selatan).

Sementara itu, La Nina kebalikan dari El Nino.

La Nina adalah fenomena menurunnya suhu Samudra Pasifik bagian timur. Jadi, yang suhunya panas waktu El Nina adalah Samudra Pasifik bagian barat. Sehingga, kolam panas bergeser dari bagian timur Samudra Pasifik (dekat Peru) ke arah barat (dekat Papua).

So, kata kunci pengertian El Nino dan La Nina ada pada pergeseran kolam panas. Namun, perbedaan El Nino dan La Nina yaitu kalau kolam panas El Nino bergerak dari Papua ke Peru, maka kolam panas La Nina bergeser dari Peru ke Papua.

Baca Juga: Dinamika Hidrosfer (Siklus Air) dan Manfaatnya Bagi Kehidupan – Materi Geografi Kelas 10

Proses Terjadinya La Nina dan El Nino

Setelah elo tahu apa itu fenomena El Nino dan La Nina, mungkin elo bertanya-tanya, “Kenapa suhu laut di bagian timur meningkat waktu El Nino, dan suhu laut di bagian barat meningkat waktu La Nina?”

Tadi kan udah gue sebutin tuh, kalau El Nino dan La Nina terjadi di wilayah Samudra Pasifik, terutama di dekat Papua dan Peru. Nah, Papua dan Amerika Selatan ini dilewati sama garis khatulistiwa.

Menurut jurnal The Indo-Pacific Warm Pool: critical to world oceanography and world climate (2016), hal itu bikin permukaan air laut yang dilewati garis khatulistiwa punya suhu yang hangat, yaitu di atas 28 derajat Celcius sepanjang tahun. Air laut yang bersuhu hangat itu disebut sebagai kolam panas.

Elo bisa lihat ilustrasi di bawah ini, ya.

Kondisi normal Samudra Pasifi jika tidak terjad El Nino dan La Nina.
Kondisi normal Samudra Pasifik jika tidak terjadi El Nino dan La Nina. (Arsip Zenius)

Gambar di atas mengilustrasikan Samudra Pasifik dalam kondisi normal, sebelum El Nino atau La Nina menyerang. Bagian Samudra Pasifik yang dilewati khatulistiwa dan dekat sama Papua akan memiliki kolam panas. Air laut di sekitar situ lebih hangat.

Ketika permukaan air laut di situ lebih hangat, atmosfer di atasnya bakal terpengaruh. Suhunya bakal meningkat, dan tekanan udara menjadi rendah.

Sementara itu, kondisi di Peru kebalikannya. Suhu permukaan air laut di dekat Peru rendah, dan tekanan udaranya tinggi.

Selain itu, sesuai hukum alam per-angin-an, angin bergerak dari wilayah bertekanan udara tinggi ke wilayah bertekanan udara rendah. So, angin pasat (angin yang bergerak dari wilayah subtropis ke wilayah khatulistiwa) otw dari Peru ke Papua.

Selama otw dari Peru ke Papua, angin pasat kan lewat di atas Samudra Pasifik, tuh. Angin pasat kemudian membawa uap air dari samudra. Sesampainya di dekat Papua, uap air itu membentuk awan di atas kolam panas. Semakin banyak uap air yang dibawa, awan yang terbentuk juga makin banyak, dan terjadilah hujan.

Itu kondisi normalnya, ya, guys.

Terus, gimana proses terjadinya La Nina dan El Nino?

Gue mulai dari El Nino, ya. El Nino merupakan kebalikan dari kondisi normal. Elo bisa lihat ilustrasinya di bawah ini.

Proses terjadinya El Nino di Samudra Pasifik.
Ilustrasi proses terjadinya El Nino dibandingkan keadaan normal. (Arsip Zenius)

El Nino terjadi ketika kolam panas yang ada di bagian tengah-barat, dekat Papua, bergeser ke bagian timur Samudra Pasifik, alias dekat Peru.

Fenomena itu bikin suhu udara di bagian barat (Papua) menjadi rendah, dan tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, di bagian timur (dekat Peru), suhunya meningkat dan tekanan udaranya rendah.

Balik lagi ke hukum alam peranginan, angin bergerak dari wilayah bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah.

Nah, waktu El Nino, angin pasat bergerak dari dekat Papua (yang bertekanan udara tinggi) menuju ke Peru (yang bertekanan udara rendah) dengan membawa uap air. Nantinya, uap air itu ngumpul jadi awan di atas kolam panas dekat Peru, dan terjadilah musim penghujan di wilayah tersebut.

“Terus, gimana kalau La Nina?”

Sebenarnya, kondisi ketika La Nina sebelas dua belas sama keadaan normal. Namun, kondisi La Nina lebih ekstrem. La Nina adalah kebalikan dari El Nino.

Proses terjadinya La Nina dan El Nino.
Ilustrasi proses terjadinya La Nina dan El Nino. (Arsip Zenius)

Seperti yang elo lihat pada gambar di atas, waktu La Nina, kolam panas yang ada di bagian tengah-barat Samudra Pasifik bergeser ke wilayah barat semua. Jadinya, kolam panas ngumpul di dekat Papua, Indonesia.

Suhu udara di bagian barat (dekat Papua) pun menjadi tinggi, dan tekanan udaranya rendah. Sebaliknya, di bagian timur (dekat Peru), suhu udaranya rendah dan tekanan udaranya tinggi.

Angin pasat kemudian bergerak dari dekat Peru menuju ke dekat Papua. Uap air yang dibawa angin pasat membentuk awan di atas wilayah kolam panas dekat Papua, dan menghasilkan hujan di wilayah tersebut.

Dari proses terjadinya La Nina dan El Nino di atas, udah ketahuan dong, kalau El Nino dan La Nina merupakan bentuk perubahan iklim. Buat elo yang kepo sama apa itu perubahan iklim, elo bisa baca di sini, ya.

Kok bisa El Nino dan La Nina jadi bentuk perubahan iklim? Soalnya, keduanya mempengaruhi perubahan cuaca maupun pola hujan.

Hal itu berkaitan sama penyebab terjadinya El Nino dan La Nina. Menurut buku Tanya Jawab: La Nina, El Nino, dan Musim di Indonesia (2020), penyebab terjadinya El Nino dan La Nina adalah interaksi antara laut dan atmosfer di atasnya. Laut yang dimaksud adalah kolam panas, dan atmosfer di atasnya adalah suhu, tekanan udara, sampai awan yang terbentuk.

Jadi, perubahan pada atmosfer di atasnya bakal mempengaruhi kekuatan angin pasat yang datang. Sehingga, cuaca atau pola hujan di wilayah itu juga terpengaruh.

Baca Juga: Unsur Pembentuk Cuaca – Materi Geografi Kelas 10

Ciri-Ciri El Nino dan La Nina

Dari penjelasan gue di atas, udah tahu dong, gimana aja ciri-ciri El Nino dan La Nina.

Kalau disimpulkan, ciri-ciri El Nino dan La Nina adalah sebagai berikut:

El Nino

  • Suhu udara meningkat dibandingkan suhu normal.
  • Curah hujan rendah di dekat Papua (Indonesia).
  • Curah hujan tinggi di dekat Peru (Amerika Selatan).
  • Angin pasat dari arah timur melemah, karena angin yang seharusnya bergerak dari Peru ke Papua (dalam kondisi normal) menjadi bergerak dari Papua ke Peru.

La Nina

  • Suhu udara menurun dibandingkan suhu normal.
  • Curah hujan tinggi di di dekat Papua (Indonesia).
  • Curah hujan rendah di dekat Peru (Amerika Selatan).
  • Angin pasat ke arah barat menguat, searah dengan kecepatan angin dalam kondisi normal.

“Terus, Indonesia sekarang lagi ngalamin El Nino atau La Nina nggak?”

Ada cara mengidentifikasi El Nino dan La Nina.

Misalnya, elo bisa mendeteksinya lewat cuaca yang lagi terjadi di Papua saat ini. Papua kan bagian dari negara kita tercinta, yang beriklim tropis. So, Papua cuma punya dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Normalnya, kalau berdasarkan BMKG, musim kemarau terjadi pada April-Oktober. Sedangkan, setelah Oktober-April, terjadi musim penghujan di Indonesia. Ingat, itu kalau perhitungan normalnya, ya.

Kita lihat saat ini, bulan April 2022. Seharusnya kan, udah masuk musim kemarau. Namun, hujan masih aja sering jatuh ke tanah +62 sampai saat ini. Berarti, bisa jadi, Indonesia lagi dilanda La Nina saat ini. Soalnya, ciri La Nina adalah musim penghujan yang lebih panjang di Indonesia.

Sebaliknya, kalau Desember tahun ini masih aja bikin elo ingin minum es buah melulu di siang hari dan cuaca di malam hari jadi lebih dingin, itu berarti El Nino lagi datang ke Indonesia. Soalnya, musim kemarau jadi lebih panjang di Indonesia.

So, ingat ya, El Nino identik sama cuaca kering dan La Nina identik sama cuaca basah di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Siklon Tropis dan Penyebabnya – Materi Geografi Kelas 10

Dampak El Nino dan La Nina

Apa sih dampak El Nino dan La Nina secara umum? Elo bisa lihat gambar di bawah ini, ya.

Ilustrasi dampak El Nino dan La Nina. (Arsip Zenius).
Ilustrasi dampak El Nino dan La Nina. (Arsip Zenius)

Terus, apa dampak La Nina dan El Nino bagi Indonesia?

Beberapa dampak El Nino dan La Nina antara lain:

  1. Wilayah Indonesia mengalami kekeringan saat El Nino.

Waktu El Nino terjadi, curah hujan di Indonesia menjadi rendah. Soalnya, suhu udara di bagian barat Samudra Pasifik (dekat Papua) lebih panas, sehingga musim kemarau menjadi lebih lama. Jadinya, wilayah Indonesia mengalami kekeringan.

“Emang, daerah Indonesia mana saja yang terdampak El Nino dan La Nina?”

Daerah yang terdampak antara lain Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Soalnya, wilayah-wilayah tersebut berada di garis khatulistiwa, yang merupakan jalur angin pasat.

  1. Wilayah Indonesia terkena banjir saat La Nina.

Berkebalikan dengan El Nino, La Nina bikin curah hujan di Indonesia meningkat, sehingga musim penghujan menjadi lebih lama. Ketersediaan air pun meningkat dan menyebabkan banjir di wilayah-wilayah yang gue sebutin di atas.

  1. Merebaknya berbagai penyakit.

Kekeringan akibat El Nino maupun banjir akibat La Nina bikin merebaknya berbagai penyakit, seperti diare, kolera, dan leptospirosis.

Curah hujan yang tinggi karena La Nina juga bikin udara lebih lembap dan dingin. So, potensi warga +62 buat terkena flu, Demam Berdarah Dengue (DBD), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan penyakit kulit juga lebih besar.

  1. Gagal panen.

Menurut jurnal Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina: Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya terhadap Produksi Pangan (2006), El Nino dan La Nina sama-sama ngerugiin produksi pertanian.

Gue kasih contoh pertanian yang terkena pengaruh El Nino dan La Nina, ya. Waktu El Nino, ketersediaan air kan menurun tuh, karena kekeringan. Jadinya, tanaman pertanian pun rusak karena kekurangan air, apalagi tanaman yang baru ditanam. Soalnya, tanaman yang baru ditanam nggak tahan terhadap kekurangan air. Akhirnya, gagal panen, deh.

Begitu juga waktu La Nina. Karena La Nina bikin Indonesia kelebihan air, tanaman-tanaman pun jadi rusak. Kelembapan udara dan curah hujan yang tinggi waktu La Nina juga memicu peningkatan hama dan banjir yang merusak tanaman.

  1. Biaya melaut jadi lebih mahal.

Menurut jurnal Adaptasi Nelayan Perikanan Laut Tangkap dalam Menghadapi Perubahan Iklim (2014), cuaca akibat El Nino dan La NIna bikin biaya melaut jadi naik.

Kok bisa? Soalnya, kolam panas kan bergeser tuh, waktu El Nino dan La Nina. Hal itu bikin ikan-ikan di laut juga nyari tempat makan yang suhunya bersahabat dengan tubuh mereka.

Populasi ikan pun berpindah, dan nelayan harus nyari cara alternatif buat nemuin tempat baru ikan-ikan tersebut. Kalau nggak, produksi ikan bakal menurun dan ngaruh ke penghasilan nelayan.

Dampak La Nina dan El Nino bagi Indonesia.
Ilustrasi dampak La Nina dan El Nino bagi Indonesia. (Arsip Zenius)

Begitu guys, perbedaan dampak El Nino dan La Nina. Sekarang, kita meluncur ke latihan soal, yuk!

Baca Juga: 10 Dampak Pemanasan Global Bagi Bumi dan Kesehatan, Apa Saja?

Contoh Soal El Nino dan La Nina Beserta Pembahasan

Biar makin paham sama materi El Nino dan La Nina, gue mau kasih contoh soal buat elo. Coba jawab, ya!

Soal 1

El Nino dan La Nina merupakan fenomena anomali yang terjadi di Samudera Pasifik bagian timur dan barat yang berdampak pada wilayah daratan di sekitarnya. Bencana alam merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari akibat dari terjadinya El Nino dan La Nina. Maka dari itu, manakah di antara bencana alam di bawah ini yang dapat terjadi akibat peristiwa El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik?

A. Banjir di wilayah Papua selama terjadinya El Nino

B. Kekeringan di wilayah Papua selama terjadinya La Nina

C. Banjir di wilayah Peru selama terjadinya El Nino

D. Badai tropis di wilayah Papua selama terjadinya La Nina

E. Badai tropis di wilayah Peru selama terjadinya El Nino

Pembahasan

El Nino mengakibatkan curah hujan rendah di wilayah Papua, sehingga terjadi kekeringan di wilayah tersebut. Sebaliknya, El Nino bikin curah hujan di wilayah Peru lebih tinggi, dan musim hujan di sana jadi lebih lama. Jadi, El Nino bikin kekeringan di Papua dan banjir di wilayah Peru.

La Nina kebalikan dari El Nino. La Nina menyebabkan curah hujan di wilayah Papua meningkat, sehingga musim penghujan lebih lama di sana. Sebaliknya, La Nina bikin wilayah Peru mengalami kekeringan, karena curah hujan di sana rendah.

Jadi, jawaban yang tepat adalah C. Banjir di wilayah Peru selama terjadinya El Nino.

Soal 2

La Nina berdampak pada suhu permukaan yang lebih tinggi di wilayah Samudera Pasifik bagian barat dibandingkan Samudera Pasifik bagian timur. Apa dampak yang terjadi kepada pola angin tetap di Samudera Pasifik pada saat La Nina terjadi?

A. Menguatnya angin pasat

B. Melemahnya angin pasat

C. Angin pasat berhembus dari Samudra Pasifik bagian barat ke timur

D. Angin pasat berhembus dari Samudra Pasifik bagian timur ke barat

E. Angin pasat datang dari segala arah

Pembahasan

Yang ditanyakan dalam soal ini adalah dampak La Nina terhadap angin tetap, alias angin pasat.

Waktu La Nina, angin pasat bergerak dari timur (dekat Peru) ke arah barat Samudra Pasifik (dekat Papua). Angin pasat ini searah dengan kecepatan angin dalam kondisi normal. Sehingga, angin pasat menguat.

Jadi, jawabannya adalah A. Menguatnya angin pasat.

****************************************************

Yuk, Belajar UTBK Bareng Zenius!

Nah, gimana nih, Sobat Zenius, udah paham belum sama si kembar El Nino dan La Nina? Buat ngerti lebih lengkapnya tentang materi El Nino dan La Nina, elo bisa akses video materi dari Zenius. Cukup klik gambar di bawah ini, dan pastikan elo udah punya akun Zenius, ya.

Perbedaan El Nino dan La Nina Beserta Ciri-Ciri dan Dampaknya 18

Elo juga bisa nemuin materi Geografi lainnya dari Zenius di sini, buat bahan belajar UTBK. Kalau elo mau mengasah pemahaman elo dengan ngerjain latihan soal, langsung meluncur aja ke Soal Geografi UTBK.

Segitu dulu dari gue. Selamat belajar, guys, dan semoga lancar UTBK-nya!

Baca Juga: Mengenal Klasifikasi dan Jenis-Jenis Laut – Materi Geografi Kelas 10

Ditulis oleh: Iman Fadhilah dari Universitas Negeri Jakarta, bagian dari Kampus Merdeka 2022

Diperbaharui oleh: Citra Agusta Putri Anastasia

Editor: Dita Nurliani

Referensi

El Nino dan La Nina – Video Materi Bencana Meteorologi, Geografi, Zenius Education

De Deckker, Patrick. (3016). “The Indo-Pacific Warm Pool: critical to world oceanography and world climate”. Geoscience Letters, 3(20): 1-12.

Irawan, Bambang. (2006). “Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina: Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya terhadap Produksi Pangan”. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 24(1): 28-45.

Moegni, Nurtjahja; Rizki, Ahmad; Prihantono, Gigih. (2014). “Adaptasi Nelayan Perikanan Laut Tangkap dalam Menghadapi Perubahan Iklim”. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 15(2): 182-189.

Pusat Informasi Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Klimatologi, BMKG. (2020). Tanya Jawab: La Nina, El Nino, dan Musim di Indonesia. Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika.

Bagikan Artikel Ini!