Curah Hujan – Pengertian, Klasifikasi, dan Alat Pengukurnya – Materi Geografi Kelas 10

Curah Hujan Pengertian, Klasifikasi, Alat Pengukur

Guys, pernah nggak sih rumah elo kebanjiran? Terutama ketika musim hujan tiba, pasti banyak tuh media yang memberitakan tentang wilayah yang dilanda banjir. Bahkan, karena banjir banyak orang yang diharuskan mengungsi karena rumahnya tenggelam.

Nah, menurut elo apa sih yang menjadi penyebab banjir ini?

Yap, salah satu penyebab banjir yakni karena curah hujan yang tinggi. Bahkan, Indonesia sendiri termasuk ke dalam 10 besar negara dengan curah hujan tertinggi di dunia, lho.

 curah hujan tinggi menyebabkan banjir
Banjir di Jakarta tahun 2013. (Dok. Wikimedia Commons)

Lantas, apa yang dimaksud dengan curah hujan? Bagaimana cara menentukan curah hujan? Yuk, cari tahu!

Pengertian Curah Hujan

Berdasarkan pengertiannya, curah hujan adalah jumlah hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Nah, untuk menentukan besarnya curah hujan, elo membutuhkan suatu alat ukur nih, guys. Alat pengukur curah hujan disebut dengan fluviograf dan satuan curah hujan yang biasanya digunakan adalah milimeter (mm). Adapun klasifikasi hujan menurut bentuknya butirannya, yaitu: 

  1. Hujan gerimis (drizzle), yaitu hujan yang diameter butirannya kurang dari 0,5 mm. 
  2. Hujan salju (mow), yaitu hujan yang terdiri dari kristal es. Umumnya, suhu udaranya di bawah 0 derajat celcius.
  3. Hujan batu es, yaitu hujan yang berwujud batu es.
  4. Hujan deras (rain), yaitu hujan yang diameter butirannya kurang lebih 7 mm.

Besar kecilnya curah hujan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat memengaruhi curah hujan.

  • Jarak dari sumber air
  • Suhu tanah dan perairan
  • Arah angin
  • Garis lintang
  • Luas daratan
  • Ketinggian
  • Deretan pegunungan

Curah hujan sendiri bisa diklasifikasikan menjadi beberapa macam nih, guys. Misalnya saja, klasifikasi curah hujan tahunan pada gambar di bawah ini. 

Klasifikasi curah hujan tahunan
Klasifikasi curah hujan tahunan. (Arsip Zenius)

Tipe Curah Hujan

Berdasarkan pola umum terjadinya, terdapat 3 (tiga) tipe curah hujan di Indonesia, yakni tipe ekuatorial, tipe monsun dan tipe lokal. 

  1. Tipe Ekuatorial 

Ekuatorial merupakan tipe curah hujan dengan pola bimodal (dua puncak hujan). Umumnya, terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober. Adapun wilayah yang termasuk ekuatorial yaitu Sumatera Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Utara.

  1. Tipe Monsun

Tipe curah hujan berikutnya adalah monsun. Curah hujan satu ini memiliki pola unimodal. Di mana, bulan Juni, Juli, dan Agustus terjadi musim kering sedangkan bulan Desember, Januari, dan Februari terjadi bulan basah. Kemudian, enam bulan sisanya merupakan periode peralihan atau pancaroba. 

Adapun wilayah yang termasuk tipe monsun yaitu Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Papua, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

  1. Tipe Lokal

Tipe curah hujan satu ini mirip dengan monsun yakni memiliki pola unimodal. Namun, bentuknya berlawanan dengan monsun. Adapun wilayah yang termasuk tipe lokal yaitu Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Maluku, dan Kalimantan Utara. 

Baca Juga: 5 Jenis Klasifikasi Tipe Iklim

Curah Hujan di Indonesia

Seperti yang udah gue singgung di awal, Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara dengan curah hujan tinggi. Menurut elo apa sih yang menjadi penyebab curah hujan di Indonesia tinggi?

Nah, kalau mau ngomongin tingginya curah hujan, sebaiknya kita bahas sedikit dulu nih tentang hujan. Sobat Zenius, tahu kan bagaimana pembentukan hujan?

Ya, simpelnya sih pembentukan hujan terjadi ketika air laut, sungai, atau danau mengalami penguapan akibat penyinaran matahari. Sehingga, terbentuklah awan. Semakin banyak uap air, maka awan pun mulai berubah warna menjadi abu-abu. 

Nah, awan inilah yang biasanya kita sebut awan mendung nih, guys. Awan mendung ini pun akan terus menerima uap air sampai mengakibatkan hujan turun. 

ilustrasi awan mendung
Ilustrasi awan mendung. (Dok. Unsplash)

Karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa, intensitas matahari yang sangat tinggi dapat ditemukan di sini.

Panas matahari dapat menyebabkan banyak uap air yang mendorong pembentukan awan. Semakin banyak awan, semakin tinggi pula kesempatan suatu wilayah untuk turun hujan

Itulah sebabnya, mengapa Indonesia memiliki potensi curah hujan yang tinggi. Jadi, elo jangan heran lagi ya kenapa Indonesia memiliki curah hujan tinggi. 

Selain itu, curah hujan yang tinggi juga dapat dipengaruhi oleh ketersedian air di wilayah tersebut. Seperti yang elo tahu, Indonesia merupakan negara kepulauan yang 70% wilayahnya terdiri dari laut. Dengan demikian, kombinasi antara intensitas matahari dan hamparan laut yang luas di Indonesia menjadi alasan kenapa Indonesia sering dilanda hujan.

Curah hujan di Indonesia juga dipengaruhi oleh sirkulasi angin muson yang bertiup setiap enam bulan sekali, sehingga mengakibatkan Indonesia memiliki dua musim. 

Pada bulan April-September, Indonesia dilalui angin muson timur yang berasal dari Australia. Sepanjang perjalanan, angin ini banyak melewati gurun dan lahan kering. Oleh karena itu, angin ini tidak membawa banyak uap air dan menandakan musim kemarau di Indonesia. 

Sementara itu pada bulan Oktober-Maret, Indonesia dilalui angin muson barat yang berasal dari Cina. Berbeda dengan angin muson timur, angin muson barat sebagian besar melewati wilayah laut. Sehingga, angin muson barat banyak membawa uap air dan musim hujan bagi Indonesia.

Berikut ini merupakan peta curah hujan di Indonesia pada bulan Maret 2022.

peta curah hujan di Indonesia
Peta curah hujan di Indonesia. (Dok. BMKG)

Baca Juga: Daerah A Hujan, Daerah B Terang, Kenapa Intensitas Hujan Tiap Daerah Berbeda beda?

Contoh Soal Curah Hujan

Yuk, uji kemampuan elo dengan mengerjakan contoh soal curah hujan di bawah ini! 

  1. Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan adalah …. 

A. seismograf

B. fluviograf

C. neraca

D. mikrometer

E. anemometer

Jawaban dan Pembahasan:

Curah hujan dapat diukur dengan menggunakan fluviograf. Sehingga jawaban yang tepat adalah B. 

  1. Data mengenai ketinggian dan curah hujan tersimpan dalam bentuk ….

A. area

B. grid

E. dot

C. vektor

D. coding

Jawaban dan Pembahasan:

Data mengenai ketinggian dan curah hujan tersimpan dalam bentuk titik (dot). Sehingga jawaban yang tepat adalah C.

Baca Juga: Hujan Es: Penyebab, Proses Terjadi, dan Dampaknya ke Lingkungan

Nah, itu dia guys contoh soal curah hujan yang bisa gue kasih. Kalau elo masih penasaran dan mau lanjut ngerjain soal-soal try out UTBK bisa langsung kunjungi aplikasi Zenius, ya. Selain itu, elo juga bisa belajar ulang materi hari ini dengan cara klik banner di bawah ini. Yuk, belajar bersama Zenius!

CTA video belajar geografi zenius

Referensi:

Karakter Curah Hujan di Indonesia – Jurnal Geografi Universitas Negeri Semarang (2010)

Evaluasi Pengukuran Curah Hujan Antara Hasil Pengukuran Permukaan (AWS, HELLMAN, OBS) dan Hasil Estimasi (Citra Satelit =GSMaP) Di Stasiun Klimatologi Mlati Tahun 2018 – Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (2020)

Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Potensi Bahaya Longsor dengan Pendekatan Sistem Informasi Geografis di Kolonodale Kabupaten Morowali Utara – Jurnal Unsrat (2017)

Bagikan Artikel Ini!