alasan banjir terjadi

Kenapa Banjir Bisa Terjadi?

Artikel ini membahas mengenai penyebab kenapa banjir bisa terjadi secara umum.

Dalam artikel sebelumnya yaitu artikel yang membahas mengenai mitigasi bencana, kita mengetahui bahwa banjir termasuk dalam jenis bencana alam dimana terjadinya genangan air secara berlebihan yang merendam daratan. Apakah penyebab utama dari bencana alam selalu dari alam? Tidak juga, rasanya kurang tepat kalo kita menyebut penyebab banjir itu sepenuhnya dari alam karena pada dasarnya ada faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir yang bukan dari alam. 

Dilansir dari Earth Works banjir didefinisikan sebagai luapan air yang merendam tanah yang biasanya kering, dan merupakan peristiwa cuaca buruk alami yang paling umum dan tersebar luas. Dimana kenyataannya banjir tidak hanya terjadi di Indonesia aja, tapi negara lain juga pernah mengalami banjir seperti banjir yang melanda Kumamoto, Jepang pada bulan juli 2020 kemarin, dan juga banjir yang melanda Meksiko khususnya di negara bagian Tabasco, Chiapas, dan Veracruz pada november 2020 kemarin, dan masih banyak lagi. 

Sebenarnya apa aja faktor-faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan banjir? Nah, pada artikel ini kita kan membahas mengenai beberapa penyebab banjir secara umum, yuk kita bahas satu persatu 🙂

Curah Hujan yang Tinggi

Faktor yang satu ini mungkin udah kalian tebak sejak awal sebagai penyebab banjir yaitu curah hujan yang tinggi atau cuaca ekstrem. Nah biar lebih kebayang perhatiin tabel indikator curah hujan 24 jam untuk wilayah indonesia dibawah ini:

Kategori Curah Hujan  24 jamCurah Hujan 24 jam
Berawan (abu-abu)0 mm/hari
Hujan Ringan (Hijau)0,5 – 20 mm/hari
Hujan Sedang (Kuning)20 – 50 mm/hari 
Hujan Lebat (Oranye)50 – 100 mm/hari
Hujan Sangat Lebat (Merah)100 – 150 mm/hari
Hujan Ekstrem (Ungu)>150 mm/hari

Sumber: BMKG

Yang dimaksud oleh satu milimeter air hujan pada tabel indikator di atas berarti air hujan yang turun seluas 1 meter persegi memiliki ketinggian 1 milimeter jika air hujan tidak mengalir, meresap dan meluap. Yang artinya jika suatu wilayah dihujani lebih dari (>) 150 mm dalam sehari, maka wilayah tersebut dikategorikan mengalami hujan ekstrem. 

Meskipun faktor curah hujan ini terlihat terjadi secara alami, sebenarnya meningkatnya curah hujan juga dipengaruhi oleh meningkatnya gas emisi akibat ulah dan perilaku manusia, sehingga menyebabkan terjadinya pemanasan global, atau temperatur bumi naik dan menyebabkan lebih banyak penguapan sehingga curah hujan meningkat. 

Meningkatnya Permukaan Air Laut

grafik permukaan air laut
Sumber gambar: NASA Goddard Space Flight Center

Faktor ini juga berhubungan erat dengan pemanasan global dimana dampak dari pemanasan global yang pernah kita bahas pada artikel sebelumnya salah satunya adalah mencairnya gletser es di kutub. 

Berbeda dengan banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, meningkatnya permukaan air laut disebabkan bertambahnya volume air laut yang berasal dari es-es di kutub yang mencair sehingga menyebabkan yang biasa disebut banjir rob, dimana daratan pada daerah pesisir jadi tergenang atau mengalami banjir. Selain itu banjir rob juga dapat diperparah atau menjadi lebih tinggi bila permukaan tanah pada daerah tersebut mengalami penurunan. 

Sistem Drainase yang Buruk

Tidak dapat dipungkiri, perencanaan sistem drainase yang baik sangat  berperan yang penting dalam menyeimbangkan sistem perairan baik disuatu wilayah, dimana secara sederhana sistem drainase yang buruk menyebabkan air mudah meluap ke permukaan tanah ketika wilayah tersebut dihujani terus menerus atau mengalami curah hujan tinggi sampai ekstrem. 

Kita ambil contoh yang paling familiar bagi kita yaitu Banjir di Jakarta pada bulan februari 2021 ini kemarin, seorang asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta yaitu Yusmada Faizal mengungkapkan bahwa sistem drainase di jakarta didesain berdasarkan curah hujan 50-100 mililiter per hari, dimana catatan dari BMKG curah hujan pada saat itu mencapai kategori ekstrem yaitu 160 mm/hari pada berbagai daerah yang merata dan menyebabkan terjadinya banjir, dimana daerah paling terdampaknya adalah daerah jakarta selatan dan jakarta timur. 

Selain itu menurut Nirwono Joga seorang pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, beliau mengungkapkan bahwa penyebab utama dari banjir jakarta kali ini (februari 2021) adalah sistem drainase yang buruk, dimana menurutnya terlepas dari derasnya hujan, saat ini drainase di jakarta hanya berfungsi sebanyak 33% saja, hal ini dibuktikan dari pernyataan Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang juga menyatakan bahwa terjadinya banjir akibat air mengantri masuk saluran dan memintah pemprov DKI untuk segera melebarkan saluran air.

Dalam ilmu teknik sipil perencanaan suatu sistem drainase itu sendiri perlu memperhitungkan berbagai aspek seperti data curah hujan setiap tahunnya, intensitas hujan, membuat debit rencana akibat curah hujan, limbah rumah tangga sehingga didapatkan debit total atau kapasitas saluran drainase.

Dari contoh permasalahan banjir di atas kalian jadi paham kan kenapa perencanaan sistem drainase yang buruk sangat berperan dalam menyebabkan banjir.

Kurangnya Daerah Resapan Air

Selain sistem drainase yang buruk, sistem tata kelola perkotaan yang buruk juga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir, sebagaimana kita tahu bahwa pohon memiliki akar yang berfungsi menyerap air dari dalam tanah. Banyaknya tata guna lahan yang berubah dari daerah resapan air menjadi beton, aspal, gedung-gedung bertingkat, perumahan, jalanan, dan pembangunan infrastruktur lainnya yang tentunya menyebabkan daerah resapan air semakin berkurang. 

Selain disebabkan beralih fungsinya tata guna lahan, penggundulan atau penebangan hutan secara masif atau berskala besar atau eksploitasi hutan juga menyebabkan semakin berkurangnya daerah resapan air, padahal daerah resapan air dan juga sumur resapan merupakan salah satu bentuk penanggulangan banjir secara non struktur. 

Hal ini dibuktikan dari menyusutnya hutan di pulau kalimantan sebagai salah satu paru-paru dunia, dilansir dari The UN Food & Agriculture Organization (FAO) pada periode 2000-2008 angka deforestasi pada hutan kalimantan mencapai 1,8 juta hektar per tahun, dan menyebabkan Indonesia dianugerahi sebagai negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia pada tahun 2008. 

Dan pada januari 2021 kemarin, wilayah kalimantan selatan dilanda banjir, dimana berdasarkan hasil analisis LAPAN untuk periode 10 tahun yaitu (2010-2020) terjadi penurunan hutan primer sebanyak 13 ribu hektar, penurunan hutan sekunder sebanyak 116 ribu hektar, penurunan luas sawah sebanyak 146 ribu hektar, dan penurunan luas semak belukar sebanyak 47 ribu hektar.

Penurunan Permukaan Tanah

Dilansir dari Jurnal JAI Vol. 7 No.2, 2014 karya P. Nugro Rahardjo, Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT, Pada dasarnya penurunan permukaan tanah atau land subsidence terjadi akibat tidak seimbangnya kecepatan antara pengambilan air tanah dengan pengisian air tanah kembali. 

Secara teknis dapat digambarkan sebagai berikut, tanah yang pada awalnya mengandung air tanah, mengalami peningkatan kepadatan akibat pengambilan air tanah sehingga menyebabkan adanya rongga-rongga kosong pada tanah, sehingga tanah menjadi lebih padat dan mengalami penurunan. 

Untuk di jakarta sendiri, eksploitasi air tanah terjadi akibat maraknya pembuatan sumur ilegal, yaitu menurut Dinas Perindustrian dan Energi DKI mencatat pada tahun 2018 terdapat 4.252 titik sumur air tanah di seluruh wilayah jakarta, padahal pada tahun itu menurut Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya DKI Jakarta tercatat terdapat sekitar 5 ribu gedung bertingkat di atas 4 lantai, sehingga Tim Gerakan Penyelamatan SDA Komisi Pemberantasan Korupsi berasumsi sedikitnya ada sekitar 10 ribu sumur air tanah ilegal atau tidak terpantau, karena pada umumnya sebuah gedung yang memerlukan 3-4 sumur air tanah. 

The New York Times pada tahun 2017 memprediksi kota Jakarta akan menjadi kota besar yang paling cepat tenggelam, dan mengungkapkan terlepas dari pemanasan global yang terjadi, yang menjadi masalah adalah kota itu sendiri sedang “menenggelamkan” dirinya. 

Menurut The New York Times, Faktanya, Jakarta tenggelam lebih cepat daripada kota besar lainnya di planet ini (bumi), bahkan lebih cepat, daripada perubahan iklim yang menyebabkan laut naik. Penyebab utamanya adalah karena sekitar 40% warga jakarta yang menggali sumur ilegal.

Nah kurang lebih itulah guys beberapa penyebab dari terjadinya banjir secara umum, meskipun faktor alam yang ikut andil dalam terjadinya banjir, namun tidak sedikit juga dampak dari perilaku kita sebagai manusia yang juga menjadi penyebab banjir, kita bisa mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga lingkungan kita yang saat ini kita miliki. Selain itu, bagi kalian yang penasaran dan tertarik memperdalam mengenai perencanaan sistem drainase, kalian mungkin cocok masuk jurusan teknik sipil loh, karena di jurusan teknik sipil kalian juga akan mempelajari mengenai merancang drainase, bendungan dan infrastruktur keairan lainnya. Semoga artikel ini berguna ya bagi kalian ya 🙂

Baca juga Artikel Lainnya

Jurusan Teknik Sipil

5 Hal yang Kuliah Teknik Sipil Banget

Pencemaran Lingkungan