exposition text

Materi Bahasa Inggris Kelas 11: Exposition Text

Artikel ini akan membahas mengenai materi exposition text, mulai dari struktur, bentuk, hingga ciri kebahasaannya

Hi, Sobat Zenius! Balik lagi, nih, sama gue Adieb. Gimana kabar lo semua? Semoga semuanya tetap sehat, ya, di tengah-tengah pandemi virus corona yang masih berlangsung. Meski pandemi masih berlangsung dan mungkin di antara lo masih menjalani kelas online, jangan patah semangat buat belajar, ya! Terlebih, di era digital saat ini lo bisa belajar dari media mana saja, salah satunya lewat artikel blog ini atau lewat materi video pembelajaran yang udah disediakan di Zenius, ya, guys!

Nah, dalam kesempatan kali ini, gue mau coba membawakan ke lo semua materi bahasa Inggris kelas 11, nih!

“Aduh, bang, nggak bisa bahasa enggres”

Eits, santai. Semua orang, termasuk lo, bisa belajar bahasa Inggris dengan mudah, asalkan lo tekun dan giat. Buat lo yang duduk di kelas 11, mungkin saat ini sedang berkutat dengan materi bahasa Inggris tentang exposition text. Betul apa betul?

“Wah, iya betul banget! Gue masih gak paham, nih, materi ini”

Secara garis besar, teks eksposisi ini berguna banget buat lo saat nanti masuk kuliah. Pasalnya, lo akan dituntut untuk membuat essay dalam frekuensi yang cukup banyak sebagai tugas kuliah. Oleh karena itu, lo bisa pelajari dari sekarang, nih, secara cuma-cuma lewat Zenius!

Jangan khawatir, dalam artikel ini gue akan coba mengupas tuntas mengenai exposition text, mulai dari pengertian, struktur, ciri kebahasaan, dan masih banyak lagi bahasan seru. Biar rileks, lo bisa siapin teh atau kopi sama cemilan dulu. Kalau udah, yuk, simak penjelasannya bersama-sama!

Apa Itu Exposition Text?

exposition text
Credit Gif by clipart-library.com

Sebelum masuk ke pembahasannya, gue mau tanya sesuatu, deh, sama lo. Lo biasanya kalau main internet ngapain, sih?

View Results

Loading ... Loading ...

Kalau jawaban lo baca-baca artikel di internet, entah itu di blog atau media online, lo sebenarnya udah nggak asing dengan exposition text.

Secara umum, exposition text adalah teks yang ditulis untuk menjelaskan mengenai pandangan suatu hal atau opini dari seorang penulis sekaligus berusaha mengajak atau mempengaruhi pembaca untuk setuju dengan opini tersebut. Biasanya, tulisan ini dibuat dalam bentuk essay dan disebarkan di berbagai macam media, seperti blog pribadi, media online, atau bahkan koran.

Si penulis biasanya membawakan isu-isu yang sedang viral atau hangat dibicarakan oleh orang-orang. Dikarenakan exposition text ini adalah suatu opini atau essay yang ditulis berdasarkan pandangan dari si penulis, maka jangan heran jika terjadi pro dan kontra dari berbagai orang.

Lo mungkin pernah atau sering menemukan artikel di internet, lantas dalam hati berkata “betul juga, nih, artikel” Nah, secara tidak langsung lo sedang membaca exposition text yang ditulis oleh orang lain.

Semua orang, termasuk lo, bisa membuat teks eksposisi sendiri, lho! Akan tetapi, nggak bisa sembarangan juga, lho. Lo juga harus melakukan riset yang mendalam serta mengetahui ciri kebahasaan dan strukturnya.

Baca Juga: Materi Bahasa Inggris Kelas 10: Congratulations and Responding to Congratulations

Exposition General Structure

exposition text adalah
Credit Image by pixabay.com

Sama kayak misal lo mau menulis novel, nulis teks eksposisi juga ada struktur-struktur yang perlu lo pelajari. Struktur ini akan membantu lo untuk membuat kerangka teks atau naskah. Jadi, lo gak kehilangan jejak lagi, nih, saat mau nulis essay atau artikel. Kira-kira apa, aja, sih, strukturnya?

1. Thesis statement

Struktur pertama exposition text adalah thesis statement. Nah, pada paragraf ini, biasanya si penulis mulai memperkenalkan kepada pembaca mengenai topik atau isu yang akan dibicarakan di dalam artikel atau essay. Nah, di bagian ini, lo perlu riset mendalam dulu, nih, kira-kira isu apa yang ingin lo bahas. Jangan lupa juga, ya, kumpulkan berbagai macam sumber  yang kredibel sebagai penguat opini lo.

Misalnya, nih, karena saat ini sedang marak-maraknya belajar online, lo mengangkat isu tentang “Online learning is more exhausting than offline learning”. Mungkin, lo juga merasakan hal seperti ini karena capek menatap laptop selama berjam-jam dan nggak ada interaksi langsung ke temen lo.

Kebanyakan, thesis statement ini ditaruh oleh penulis di awal paragraf sebagai perkenalan. Akan tetapi, ada juga beberapa baru mengangkat isu atau topiknya di tengah-tengah essay.

2. Arguments

Struktur selanjutnya adalah arguments. Setelah lo melemparkan topik atau isu di dalam essay, lo juga harus menguatkan hal tersebut dengan argumen atau pendapat yang lo punya. Misalnya, nih, kan lo tadi mengangkat isu “online learning more exhausting than offline learning”. Nah, lo bisa menguatkan topik tersebut dengan argumen yang lo punya. Tipsnya lo bisa membuat argumen atau alasan lewat sumber atau referensi yang udah lo cari sebelumnya.

Misalnya, lo tambah dengan kalimat “online learning is very tired because we can’t talk directly to each other”. Beberapa orang merasa lelah karena nggak bisa bercanda atau ngobrol langsung dengan temannya saat menjalani kelas online. Sebab, pada hakikatnya berbicara lewat offline lebih menyenangkan dibandingkan online.

3. Reiteration/Reinforcement

Struktur terakhir dari exposition text adalah reiteration atau reinforcement. Hmm apa itu? Pada struktur ini, lo bisa memperkuat kembali statement atau pernyataan tesis yang udah lo lemparkan di awal essay atau paragraf tadi.

Tadi di contoh awal, kan, kita ambil tesis atau topik seperti ini “online learning more exhausting than offline learning” Nah, lo bisa memperkuat pernyataan tersebut dengan kalimat seperti ini “Although offline learning is exhausting too, but online learning more exhausting because we can’t play or talk to friends”

Nah, ada hal yang perlu lo tau, nih, dari struktur ketiga ini. Jadi, struktur reiteration terdiri dari dua jenis, yaitu conclusion dan persuasion.

  • Persuasion itu sifatnya sebuah ajakan. Biasanya, persuasion ini bisa ditemukan di teks eksposisi yang berbentuk hortatory
  • Conclusion itu lebih cenderung ke kesimpulan. Nah, biasanya conclusion bisa lo temukan di teks eksposisi yang berbentuk analytical

“Wah, kok bisa ada dua jenis teks eksposisi gitu?”

Nah, kalau lo semakin penasaran mengenai kedua jenis tersebut dan perbedaannya apa, yuk, beralih ke pembahasan selanjutnya!

Baca Juga: Sebelum Belajar Pronunciation Bahasa Inggris, Kamu Perlu Tahu Ini!

Analytical vs Hortatory

Materi Bahasa Inggris Kelas 11: Exposition Text 25
Credit Image by pixabay.com

Lo udah paham kalau exposition text adalah suatu teks yang berisi pandangan suatu hal dari seorang penulis, sekaligus mengajak para pembaca untuk menyetujui hal tersebut. Selain itu, lo juga udah tau, nih, apa saja struktur di dalam teks eksposisi itu sendiri.

Nah, buat menguji kepahaman lo tentang exposition generaic structure, gue punya dua contoh teks eksposisi, yang satu bentuknya hortatory dan yang satu analytical. Dari dua teks tersebut, pelajari, deh, kira-kira bagian mana yang termasuk thesis statement, arguments, dan reinforcement/reiteration?

Contoh hortatory exposition text: 

People are starting to abandon the habit of wearing masks and keeping their distance amid the pandemic that has been going on for nearly nine months. Is it okay to ignore the health protocols? The answer is absolutely no. We should keep obeying the health protocols because the pandemic is not over yet. 

In the early pandemic, most of the people are discipline in obeying the health protocols such as wearing mask, washing hands, and keeping a distance. These days, there is a pandemic fatigue where people are tired of being restricted for months in this pandemic. 

However, this phenomenon cannot be a reason for us to ignore the health protocols. It is because there is no cure yet which to combat the ferocity of the coronavirus. The most important thing that we can do is stick to health protocols so that we can break the chain of virus spread. 

In addition, CDC or Centers for Disease Control and Prevention recommends us to wear mask since it can prevent us from getting or spreading the virus. 

Therefore, we need to continue to protect ourselves from exposure to the virus for the good of ourselves and others. To overcome fatigue in the midst of a pandemic, we can try to keep in touch with the people closest to us so that we do not feel bored. We should remember that everyone can be exposed to viruses and vaccines still cannot be used, so it is important to always implement health protocols, especially when there is an urgent matter that requires us to leave the house.
Sumber: kompas.com

Udah ketemu belum mana yang thesis, arguments, sama reinforcement? Yap, benar sekali! Mari kita bahas satu per satu, ya.

Dilihat dari paragraf pertama, itu bisa kita sebut sebagai thesis statement-nya. Mengapa demikian? Sebab, si penulis mulai melempar topik atau isu mengenai pandemi yang masih berlangsung, tapi orang-orang udah mulai abai sama protokol kesehatan atau prokes. Intinya, di sini penulis menegaskan kalau kita masih berada di tengah pandemi.

Kemudian, di paragraf kedua sampai keempat, itu merupakan bagian dari arguments. Si penulis mulai memperkuat topik di atas dengan argumen atau pendapatnya. Di situ dia menyebutkan kalau di awal pandemi orang-orang masih taat protokol kesehatan. Akan tetapi, saat ini orang-orang mulai capek atau lelah sama pandemi sehingga menimbulkan fenomena pandemic fatigue.

Terus, dia menyebutkan kalau fenomena tersebut (pandemic fatigue) tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan protokol kesehatan. Dia juga memperkuat argumennya dengan mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada obat untuk menjinakkan virus corona.

Nah, paragraf kelima itu merupakan reinforcement yang termasuk dalam jenis persuasion. Kok bisa? Di paragraf terakhir, penulis mengajak pembaca untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Lalu, ia juga menekankan kalau seandainya bosan karena pandemi, pembaca bisa menghubungi orang-orang terdekatnya. Terakhir, penulis juga mengajak untuk tetap berada di rumah saja dan keluar rumah jika ada keperluan yang benar-benar mendesak.

Gimana? Udah mulai melekat, kan, pembahasan struktur teks eksposisi. Kalau masih perlu latihan, gue masih ada, nih, contoh teks eksposisi, tapi bentuknya analytical. Yuk, identifikasi lagi mana thesis, arguments, dan reinforcement-nya.

Contoh analytical exposition text:

Management of trash is very important in Indonesia. As one of the countries with big amount of trash from many sectors, proper management is necessary.

Firstly, it is important to provide healthy environment. When the trash is not managed well, it will create area where bacteria can live.

Moreover, it can cause some health issues, and breathing issues become one of them that can be caused by bed smell of the trash. Furthermore, bad management of trash can lead to flood. When it is not managed well, trash can block the flow of water.

As the result, water debit can increase during the rainy season and the channels of water cannot deliver the water well. That is why it is very important to manage the trash and it is better to promote the recycling process.
Sumber: inggrism.com

Kira-kira mana yang merupakan bagian thesis statement-nya? Ya, betul! Di paragraf pertama, di situ penulis udah mulai menjabarkan mengenai isu atau topik yang ingin dibicarakan, yaitu mengenai pentingnya mengelola sampah di Indonesia. Di situ juga ditambahkan kalau Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah sampah yang besar dari berbagai sektor. Wah, mengerikan, ya?

Nah, di paragraf kedua dan ketiga, itu merupakan bagian dari arguments, di mana penulis menguatkan isu atau topik tersebut dengan pendapat yang ia utarakan. Misalnya, ia menuliskan kalau sampah tidak dikelola dengan baik, maka hal tersebut akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri.

Tidak sampai situ, di paragraf ketiga penulis menjabarkan lagi dampak dari sampah yang tidak dikelola dengan baik, seperti menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan dan masalah pernapasan. Lalu, penulis juga menegaskan kalau pengelolaan sampah yang buruk juga akan mengakibatkan terjadinya banjir karena terjadinya penyumbatan.

Di paragraf terakhir, sudah dipastikan kalau itu termasuk pada bagian reinforcement. Akan tetapi, pada kasus ini reinforcement yang tergambar merupakan bentuk dari conclusion atau dikategorikan sebagai analytical. Kenapa demikian? Sebab, si penulis menyimpulkan kembali apa yang telah ia tuliskan sebelumnya. Di situ, ia menuliskan bahwa sangat penting untuk mengelola sampah dengan baik supaya debit air saat hujan dapat mengalir dengan baik. 

Nah, kita udah membedah satu-satu, nih, mengenai analytical dan hortatory. Dari contoh di atas, kira-kira lo bisa menyimpulkan nggak persamaan dan perbedaan dari analytical vs hortatory?

Yap, secara garis besar, persamaan antara hortatory dan analytical sama-sama mempunyai tiga struktur, yaitu thesis statement, arguments, dan reiteration/reinforcement.

Sementara itu, perbedaan dari keduanya terletak pada bagian reiteration. Kalau hortatory exposition text adalah teks yang lebih cenderung ke persuasion atau mengajak pembaca, sedangkan analytical exposition text adalah teks yang cenderung mengarah ke conclusion atau menyimpulkan penjelasannya.

Language Features Exposition Text

Kita sudah bahas banyak, nih, tentang exposition text, mulai dari pengertiannya, strukturnya, hingga bentuk-bentuknya.

Nah, di pembahasan kali ini gue akan coba menjelaskan ke lo semua mengenai language features atau unsur kebahasaan yang biasanya digunakan pada exposition text. Secara rangkumannya, setidaknya ada tiga yang biasa digunakan, yaitu causal conjunctions, indefinite pronouns, dan Verb to Noun forms. Kita akan bahas satu per satu.

Baca Juga: Asking and Giving Opinions: Cara Menyampaikan Setuju dan Tidak Setuju Dalam Bahasa Inggris

Language Features: Causal Conjunctions

exposition text
Credit Image by pixabay.com

Sudah nggak asing, kan, dengan istilah causal conjunctions? Yap, istilah tersebut artinya adalah kata-kata atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan penyebab, alasan, dan penjelasan dari suatu aksi dalam suatu kalimat. 

Pasti lo pernah menemukan kalimat yang seperti ini, “An apple falls down because of gravity” Nah, kalimat tersebut terdapat sebab dan akibat, di mana apel bisa jatuh karena penyebabnya adalah gravitasi. Lo memperhatikan suatu frasa yang unik atau gimana gitu, nggak, dalam kalimat tersebut? Yap, kata “because of” dalam contoh kalimat tersebut masuk ke dalam causal conjunctions.

Causal conjunction sendiri ada empat tipe. Apa saja itu?

  • Subordinating conjunctions
  • Coordinating conjunctions
  • Prepositions
  • Adverbs

Supaya bisa lebih jelas memahami keempat tipe di atas, gue coba memberikan kata apa saja yang bisa masuk ke dalam empat tipe tersebut lewat tabel di bawah ini

Subordinating conjunctionsCoordinating ConjuntionsPrepositionsAdverbs
BecauseForBecause ofvery
Since AndDue toquickly
AsNortoo
But
Or
Yet
So
Tabel Subordinating conjunctions

Contoh penggunaan kalimatnya:

  1. Contoh subordinating conjunctions: “she failed the test because she didn’t study”

Dari contoh tersebut, kita bisa melihat kalau main clause-nya adalah “she failed the test”. Setelah itu, diikuti dengan konjungsi “because” serta alasan di belakangnya.

Nah, mungkin lo bertanya-tanya, “bedanya subordinating conjunctions sama prepositions apa? Kan sama-sama because artinya karena”

Supaya lebih jelas, berikut gue berikan contoh prepositions

  1. Contoh prepositions: “Some chemicals are banned because of their damaging effects on the environment”

Secara garis besar, preposition ini juga berfungsi sebagai adverbial prepositional phrase atau memodifikasi kata kerja. Contoh di atas, kata “because of” memodifikasi kata kerja dari “banned” itu sendiri.

Sebenarnya, contoh prepositions di atas juga bisa dipakai dengan kata “because”. Akan tetapi, klausa selanjutnya harus diubah dan jadi seperti ini 

“Some chemicals are banned because their effect are damaging on the environment”

Kalimat di atas menjadi subordinating conjunctions sehingga rumusnya harus diikuti dengan verb/subject di belakangnya.

  1. Contoh coordinating conjunctions: “Would you like cereal or toast for breakfast?”
  2. Contoh adverbs: “Samsul is very small”

Language Features: Indefinite Pronouns

Materi Bahasa Inggris Kelas 11: Exposition Text 26
Credit Image by pixabay.com

Kali ini kita beralih ke pembahasan language features selanjutnya, yaitu indefinite pronouns. Masih fokus, kan, nih belajar materinya? Hehe. Kalau udah agak ngantuk, siapin dulu kopi atau teh beserta cemilannya!

Secara garis besar, indefinite pronouns ini dibagi menjadi dua, yaitu singular indefinite pronouns dan plural indefinite pronouns.

Singular indefinite pronouns

“Apaan, tuh, singular indefinite pronouns?”

Simpelnya, istilah ini artinya kata ganti yang bentuknya satu atau single dan juga tidak terdefinisikan. Dalam praktiknya, singular indefinite pronouns ini digunakan untuk tiga hal, yaitu person, thing, dan person and thing. 

  1. Singular indefinite pronouns for person

Ada banyak sekali contoh kata atau frasa untuk person. Dan mungkin, lo juga udah gak asing lagi.

  • anyone/anybody-> “Is anybody home?”
  • someone/somebody->”There’s someone knocking at the door”
  • everyone/everybody->”He is smart person in class, everyone knows him”
  • no one/nobody->”I’m just a speck of dust in this universe. Nobody knows me”
  1. Singular indefinite pronouns for thing

Kalau sebelumnya penggunaan untuk orang atau person, kali ini penggunaan untuk thing. Ini dia contoh kata atau frasanya.

  • something->”Can I ask you something?”
  • anything->”Please tell me what I have to do, I’ll do anything for you”
  • everything->”Because you are everything to me”
  • nothing->”But everything means nothing if i ain’t got you”
  1. Singular indefinite pronouns for person and thing

Nah, di bagian ini kita akan membahas mengenai singular pronouns yang bisa digunakan untuk person dan thing

  • another->”You seem to like the food. Would you like another?”
  • each->”Each was made with love and patience”
  • either->”There is coffee and tea, you can have either”
  • neither->”My dad and my brother got into an accident. Neither was hurt”
  • much->”Much has happened since we moved”
  • little->”A little is better than none”
  • less->”Less is more”
  • enough->”Enough is enough”

Sudah paham apa itu singular indefinite pronouns? Kesimpulannya, singular indefinite pronouns adalah kata ganti atau kata-kata yang menggantikan seseorang atau sesuatu hal, tetapi tidak spesifik.

Plural Indefinite Pronouns

Plural indefinite pronouns adalah kata ganti yang tidak spesifik, tetapi digunakan untuk bentuk atau hal-hal plural (jamak atau lebih dari satu). Dikarenakan berbentuk jamak, maka plural ini menggunakan To Be are dan were.

Beberapa contoh kata atau frasa yang termasuk ke dalam plural indefinite pronouns adalah sebagai berikut:

  • both->”There are a book and food. Both look good”
  • many->”Many people have applied to the vacancy”
  • few->”But the company is very selective. Only few are called”
  • fewer->”And fewer are chosen”
  • several->”Most of the stores are closed, but several are still open”
  • others->”If you don’t take the chance, others will”

Nah, itu dia beberapa contoh kata atau frasa dari plural indefinite pronouns. 

Baca Juga: Tips Ngerjain Soal Reading pada UTBK Bahasa Inggris

Language Features: Verbs to Nouns

Materi Bahasa Inggris Kelas 11: Exposition Text 27
Credit Image by pixabay.com

Sekarang, kita beralih ke pembahasan verb to nouns. Tanpa lo sadari, mungkin pas lo baca-baca artikel atau buku bahasa Inggris pasti sering menemukan fenomena perubahan bentuk kata. Yap, biasanya fenomena perubahan bentuk kata yang sering terjadi adalah dari verb (kata kerja) ke nouns (kata benda).

Coba lo lihat contoh di bawah ini:

“The contractors build a tall building”

Gimana? Lo menyadari suatu hal? Yap, di situ ada perubahan bentuk kata yang terjadi dari build ke building. Build artinya membangun, sedangkan building artinya bangunan. Nah, fenomena seperti ini biasanya disebut sebagai nominalization.

Dalam nominalization, kata benda yang diubah biasanya ditambahkan dengan suffix atau yang biasa kita kenal dengan imbuhan di akhir kalimat. Nah, ada berbagai macam suffix yang biasanya dipakai untuk mengubah verb menjadi noun. Apa sajakah itu? Simak di bawah ini beserta contohnya!

  • -al: Arrive->arrival
  • -ure: Fail->failure
  • -ance: Annoy->annoyance
  • -ence: Prefer->preference
  • -age: Marry->marriage
  • -ing: Bless->blessing
  • -ery: Bake->bakery
  • -ment: Agree->agreement
  • -tion: Celebrate->celebration
  • -sion: Express->expression

“Lah, terus caranya bagaimana buat kita mengetahui imbuhan apa yang tepat untuk digunakan pas mau mengubah verb ke noun?”

Jawabannya adalah, nggak ada rumus pasti mengenai hal tersebut. Salah satu caranya adalah lo harus banyak-banyak membaca dan menambah vocabulary secara mandiri.

Pertanyaannya, emang seberapa penting, sih, nominalization ini? Pemakaian nominalization ini dinilai penting karena membantu kita untuk menghindari pengulangan verb di dalam satu kalimat yang sama. Jadi, kalimatnya bisa dibaca lebih enak lagi pastinya.

Selain verb to noun, ada juga perubahan kata benda ke kata verb yang biasanya disebut sebagai denominalization. Nah, penjelasan tersebut bisa lo pelajari secara lengkap lewat materi video yang sudah disiapkan oleh Zenius di sini, guys!

Itu dia penjelasan mengenai exposition text. Kini, lo nggak perlu bingung lagi pas baca exposition text dan disuruh menentukan, mana thesis, argument, sama reiteration-nya. 

Kalau ada yang mau ditanyakan, jangan ragu buat tulis di kolom komentar, ya! Secepat mungkin akan gue bales. Sampai ketemu di pembahasan materi selanjutnya!

Bagikan artikel ini