Edmond Halley

Edmond Halley – Pemeta Langit dan Laut

Biografi Edmond Halley (1656-1742), tokoh astronomi Inggris ini tidak hanya membahas tentang masa kecil dan pendidikan Edmond saja namun juga perannya dibalik penemuan Komet Halley dan kepopuleran Hukum Newton beserta penemuan-penemuan hebat lainnya.

Hai Sobat Zenius! Lo tau nggak sih kalo hukum Newton nggak akan dikenal tanpa Edmond Halley. Pasti Sobat Zenius bertanya-tanya “Loh, kok bisa? Bukannya penemu Hukum Newton adalah Sir Isaac Newton? Emangnya Edmond Halley itu siapa?”. 

Sebelumnya, sobat Zenius pernah denger yang namanya Komet Halley belum nih? Komet ini berkaitan erat dengan seorang tokoh astronom Inggris yang terkemuka di dunia bernama Edmond Halley. Jasanya di dunia sains diantaranya adalah pemetaan lautan yang membantu kapal untuk berlayar dan berlabuh, ilmu terkait orbitan komet dan gerak bintang di antarikasa, dan dukungan dalam revolusi sains dunia.

Lukisan Edmond Halley
Lukisan Edmond Halley. (Foto: Courtesy of the National Portrait Gallery, London)

Pasti lo udah nemuin kesamaan nama beliau dengan Komet Halley kan? Yup! Nama komet tersebut memang diambil dari nama belakang Edmond Halley. Apakah beliau merupakan penemu Komet Halley? Lalu, bagaimana beliau bisa berhubungan dengan hukum Newton? 

Tenang, gue udah siapin jawabanya kok. Yuk, simak artikel ini! 

Masa Kecil Edmond Halley

Edmond Halley lahir pada tanggal 8 November 1656 di Shoreditch, Inggris. Ia merupakan anak pertama dari keluarga wirausahawan yang sukses dan berkecukupan. Ayahnya yang juga dipanggil dengan nama Edmond berasal dari keluarga Derbyshire. Pada saat penggunaan sabun menyebar ke seluruh Eropa, ia menjadi pembuat sabun sukses di London. 

Semenjak usia muda, ayahnya sudah menyadari kemampuan dan ketertarikan Halley terhadap pengamatan planet dan bintang yang luar biasa. Ayahnya pun menyediakan buku-buku dan alat-alat untuk menunjang belajarnya. Lo juga pasti pernah ngalamin diberi fasilitas oleh orang tua untuk belajar suatu hal kan? Mungkin di zaman sekarang ini fasilitas yang diberikan dapat berupa gadget ya Sobat. Tapi sayangnya di saat Edmond muda belum ada yang namanya digitalisasi. Sehingga fasilitasnya kurang lebih ya alat-alat fisik yang bisa digunakan secara manual seperti teleskop dan kompas. Sobat masih ada yang sering pake kompas manual nggak nih? Atau sudah pakai kompas yang ada di Smartphone masing-masing?

Perjalanan Pendidikan Edmond Halley

Awalnya, Edmond menuntut ilmu dari guru privat yang disediakan oleh ayahnya untuk belajar di rumah. Namun, setelah menyadari bakat kejeniusan Edmond, ia mengirimkan buah hatinya ke St. Paul’s School untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Semenjak memasuki sekolah itu, Edmond mulai mempelajari variasi magnetik (sudut antara arah utara sebenarnya dan arah utara magnet) dan astronomi dengan serius. Saking berbakatnya dalam dunia astronomi, bahkan seorang pembuat bola dunia bernama Moxon mengatakan bahwa jika sebuah bintang dipindahkan, Edmond akan langsung menemukannya. Sedangkan bakat nya dalam bidang magnetik ditunjukan dari pencapaiannya pada umurnya 16 tahun yang berhasil membuat pengukuran variasi magnetik pertamanya. Hasil pengukuran tersebut nantinya akan diikutsertakan pada karya publikasinya dalam beberapa tahun mendatang.

Di umurnya yang ke 17 pada tahun 1673, Edmond terdaftar sebagai mahasiswa di Queen’s College, Universitas Oxford, dan sudah menjadi ahli astronomi. Umur 17 tahun udah jadi ahli astronom? Kok bisa?

Edmond Halley kuliah di Universitas Oxford
Foto Universitas Oxford (Foto: Unsplash)

Ternyata koleksi alat-alat yang difasilitasi oleh ayahnya benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal oleh Edmond lho sobat. Terbukti dengan keikutsertaannya dalam observasi penting kelompok ilmiah maha-elit di Oxford yang disebut The Royal Society. Saat itu, ia bekerja untuk Flamsteed seorang astronom kerajaan Inggris pertama (Astronomer Royal) untuk mengamati okultasi Mars oleh bulan yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk sebuah paper berjudul Philosophical Transactions of the Royal Society pada tahun 1675.

Pada tahun yang sama, Edmond meninggalkan studinya di Oxford guna melaksanakan program pemetaan bintang-bintang belahan bumi Selatan di St Helena. Programnya pun didukung oleh King Charles II. Setelah kembali ke Inggris pada 1678, ia mempublikasikan katalog bintang belahan bumi Selatan yang terdiri dari 341 bintang. Dalam katalog ini, Halley mendeskripsikan posisi dari masing-masing bintang itu. Penemuan nya ini pun akhirnya ditambahkan dalam peta bintang.

Katalog Bintang Belahan Bumi Selatan oleh Edmond Halley
Katalog Bintang Belahan Bumi Selatan oleh Edmond Halley (Foto: POWERHOUSE COLLECTION)

Walaupun ia tidak menyelesaikan studinya di Oxford, namun dengan karya-karya besarnya yang sangat berpengaruh di dunia ilmu pengetahuan, King Charles II menganugerahkan gelar lulusan dari Universitas Oxford pada 3 Desember 1678. Wow! Keren bukan?

Hukum Newton Dapat Dikenal Berkat Edmond Halley

Nah, sekarang gue mau bahas nih hubungannya Edmond Halley dengan pemublikasian Hukum Newton. Pasti lo penasarankan?

Oke, yuk kita menilik perjalanan Halley pada tahun 1682!

Pada tahun itu, sebenarnya Halley memiliki ide penelitian yang sangat brilian terkait alasan komet mengorbit matahari. Namun, sayang nya ia belum bisa membuktikan ide nya tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi Sir Isaac Newton di Universitas Cambridge untuk mencari jawabannya. Eh, ternyata Newton malah sudah menemukan jawabannya lho sobat. Penemuannya ini terkait prinsip-prinsip gravitasi yang ia kembangkan dari peristiwa apel yang jatuh. Iya bener, penemuan nya ini yang nantinya ia bubuhkan menjadi Hukum Newton I, II, dan III. 

Ayo siapa yang udah pernah belajar tentang hukum ini di sekolah? Atau jangan-jangan udah lupa nih? Kalo lo pengen belajar tentang Hukum Newton, lo bisa cek artikel Zenius yang berjudul Hukum Newton 1, 2 dan 3 dalam Keseharian ya Sobat! 

Ilustrasi Hukum Newton
Ilustrasi Hukum Newton (Foto: Unsplash)

Halley dianggap memiliki kejeniusan matematika yang lebih dari Newton, karena bisa dibilang ia memberikan konfirmasi langsung atas temuan Newton itu dan menggunakanya dalam prediksi kometnya. Saat itu, Newton tidak berminat untuk mempublikasikan penemuannya itu. Halley pun mendorong Newton untuk menerbitkan karyanya. Saat itu The Royal Society (komunitas elit sains Inggris) sedang tidak bisa memberikan bantuan dana untuk pemublikasian karya Newton. Halley pun rela menggunakan dana pribadinya untuk mencetak karya Isaac Newton yang hingga saat ini terkenal dengan judul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica. Hayo siapa disini yang suka bagi-bagi cuan ke temen-nya? Boleh lah gue jadi temen lo juga. Hehe bercanda Sobat!

Philosophiae Naturalis Principia Mathematica oleh Isaac Newton
Philosophiae Naturalis Principia Mathematica. (Foto: Courtesy of the Joseph Regenstein Library, The University of Chicago)

Tidak hanya memberikan dukungan finansial lho. Halley juga lah yang mengedit teks manuskrip Principia, menulis laudatory atau puji-pujian dalam bahasa Latin untuk menghormati penulisnya, dan mengecek sekaligus mengoreksi bukti-bukti. Karya Isaac Newton tersebut akhirnya berhasil dipublikasikan pada tahun 1687.

Jadi gitu ceritanya, kenapa Edmond Halley sangat berperan dalam mempopulerkan Hukum Newton. Lo bisa bayangin nggak sih? Pada tahun itu, belum ada yang namanya Twitter, Google atau social media lainnya. Bahkan belum ada yang namanya internet. Jadi, kalo karyanya nggak dipublikasikan dalam bentuk buku, teori-teori Hukum Newton itu mungkin nggak akan dikenal dan diakui dunia. Repot kan ya kalo sampe begitu? Pasti perkembangan sains jadi lambat. Nah, oleh karena itu, seperti yang disampaikan oleh seorang profesor filsafat alam di Universitas Cambridge, Alan Cook, dorongan Halley terhadap Newton mungkin merupakan kontribusi terbesarnya bagi sains bahkan diterapkan langsung oleh Halley dalam pengamatannya terhadap Komet Halley.

Dari pada makin penasaran, yuk, langsung saja kita bahas tentang kesamaan nama Edmond Halley dengan Komet Halley!

Komet Halley

Komet adalah benda langit yang mengorbit pada matahari yang sering disebut sebagai bintang berekor. Sama dengan komet pada umumnya, Komet Halley juga mengelilingi matahari dengan bentuk orbit yang lonjong atau elips. Komet Halley adalah komet paling terkenal di dunia karena kunjungannya ke bumi secara periodik dan dapat disaksikan langsung oleh manusia. Penampakannya pun terang dan bercahaya ketika diamati dari bumi. Tapi kemungkinan besar si lo belum pernah melihatnya secara langsung karena penampakan Komet Halley terakhir terjadi pada tahun 1986 dan penampakan selanjutnya baru akan terjadi lagi dalam kurun waktu 40 tahun mendatang. Lama ya? Untuk Sobat yang udah gak sabar pingin liat, bisa liat dulu dari gambar Komet Halley melintasi bumi pada tahun 1986 dibawah ini.

Komet Halley 1986
Komet Halley, 1986. (Foto: NASA/National Space Science Data Center)

Kebanyakan orang biasanya mengira bahwa Komet Halley ditemukan oleh Edmond Halley. Namun ternyata komet ini tidak ditemukan olehnya lho! Sebenarnya komet ini sudah terlihat penampakannya beberapa kali pada tahun 1305, 1380, 1456, 1531, dan 1607 berdasarkan catatan pengamatan astronomi yang saat itu ada. Namun pengamat sebelumnya belum menyadari bahwa penampakan-penampakan tersebut menunjukan objek yang sama. Hal itu baru disadari setelah Halley mengamati dan melakukan perhitungan terhadap komet yang muncul pada tahun 1682. Halley menyatakan bahwa komet tersebut bersifat periodik dan merupakan objek yang sama dengan objek di tahun-tahun yang sudah disebutkan diatas. Penemuannya tersebut kemudian dituangkan pada bukunya yang berjudul A Synopsis of the Astronomy of Comet yang diterbitkan pada tahun 1705.

Tidak hanya berhasil memprediksi bahwa Komet Halley muncul setiap 75 atau 76 tahun sekali pada langit malam, namun prediksi nya terbukti setelah kemunculan komet Halley di tahun 1758. Sayangnya, ia tidak bisa menyaksikan sendiri peristiwa itu lantaran ia tutup usia 15 tahun sebelumnya. Dengan kecerdasan Halley dalam dunia matematika, ia juga menunjukan bahwa tidak seperti keyakinan Newton tentang orbit komet yang hanya berbentuk parabola, ada komet yang bentuk orbitnya elips. Komet Halley menjadi contohnya. 

Ia menjadi orang pertama yang melacak periode komet dan terbukti benar. Sebagai penghargaan akan hasil studinya yang luar biasa itu, dinamailah komet itu dengan namanya yaitu Komet Halley atau Halley’s Comet.

Nah, lo juga bisa jadi hebat kaya Halley kalo punya keinginan yang kuat lho. Inovasi-inovasi Sobat Zenius di dunia astronomi bakalan dibutuhin banget di masa depan. Untuk itu, lo juga bisa mulai baca-baca juga artikel Zenius lainnya yang berjudul 6 Teori Pembentukan Tata Surya dan Mengenal Sistem Tata Surya. Kalau lo penasaran tentang kehidupan di luar angkasa, lo juga bisa cek artikel yang berjudul Potensi Adanya Kehidupan Lain di Luar Planet Bumi.

Hujan Meteor Eta Aquarid

Lo tau atau inget nggak sih di bulan April-Mei kemarin ada fenomena antariksa yang bikin langit malam jadi bersinar seperti senyumannya? Eh! Maksudnya seperti karya seni hehe. Fenomena itu ternyata merupakan hujan meteor Eta Aquarid lho Sobat! Hujan meteor ini merupakan hasil dari terbakarnya sisa debu komet Halley ketika berpotongan dengan orbit bumi sehingga menghasilkan cahaya yang menerangi langit malam. Menurut NASA, hujan meteor tersebut aktif mulai 19 April hingga 28 Mei 2021 dan berpuncak pada 5 Mei 2021 dini hari.

Hujan meteor Eta Aquarid dari Komet Halley
Pemandangan meteor Eta Aquarid meluncur di langit malam di atas Gunung Bromo, di pulau Jawa, Indonesia (foto: © Justin Ng ditampilkan di laman space.com)

Penemuan dan Pencapaian Penting Edmond Halley Lainnya

Meskipun Halley terkenal sebagai seorang astronom dunia melalui penemuan periodik komet dan pemetaan bintang-bintang. Lo tau nggak kalo ternyata Halley ini minat nya banyak banget. Di luar dunia angkasa, ia juga berperan dalam inovasi kartografer dan menggeluti bidang geomagnetik. Dibawah ini, gue akan bagikan beberapa hasil karyanya yang berpengaruh baik di langit maupun lautan. Hehe

Pertama, pada tahun 1686, Halley mempublikasikan peta meteorologi pertama yang memetakan arah angin di lautan. Peta ini merupakan permulaan dari peta tematik yang hingga saat ini digunakan untuk menggambarkan penyebaran geografis, iklim, populasi, hingga kekayaan.

Peta meteorologi Perancis oleh Edmond Halley
Peta meteorologi Perancis oleh Edmond Halley (Foto: https://lib-dbserver.princeton.edu/)

Lalu dalam ekspedisinya yang selanjutnya, ia memetakan dan mengilustrasikan variasi magnetik bumi. Peta yang dipublikasikan pada tahun 1701 ini merupakan peta yang menggunakan garis isogonic pertama. Garis isogonic merupakan garis yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya di bumi dimana nilai deklinasi atau variasi magnetiknya sama. Peta ini dibuat dengan pengukuran variasi magnetik guna menemukan garis isogonic yang dapat diperlakukan sebagai garis bujur. 

Peta isogonic Samudra Atlantik Utara dan Selatan oleh Edmond Halley
Peta isogonic Samudra Atlantik Utara dan Selatan oleh Edmond Halley (Foto: https://lib-dbserver.princeton.edu/)

Garis bujur itu sangat penting dalam pelayaran lho Sobat. Tanpa mengetahui letak garis bujur lo nggak akan bisa mengetahui posisi lo di lautan dan mengakibatkan hilangnya kapal. 

Pada waktu itu memang penunjuk garis bujur pada kompas belum akurat, sehingga garis isogonic dapat sangat membantu. Sayangnya, karena variasi magnetik yang berubah-ubah mengakibatkan karya Halley ini tidak dapat digunakan. Namun karyanya ini tetap dianggap sebagai peta terpenting dalam sejarah kartografi atau pembuatan peta. 

Melenceng dari dunia perpetaan, temuan Halley kali ini berkaitan dengan asuransi. Hm, kok bisa ya? 

Jadi, pada tahun 1693, Halley meluncurkan sebuah tabel kematian atau tepatnya tabel populasi. Tabel ini berisi data terkait angka kelahiran dan kematian masyarakat kota Breslau yang sekarang disebut Kota Wroclaw. Table ini dipublikasikan dalam jurnal milik Royal Society yang berjudul Philosophical Transactions. Nah tabel ini menjadi inspirasi dalam memperkirakan probabilitas kematian dan kelangsungan hidup masyarakat dalam jenjang umur tertentu. Hal ini lah yang menjadi salah satu dasar pembuatan tabel aktuaria asuransi jiwa hingga saat ini.

Karya mengagumkan lainnya adalah sebuah Diving Bell, alat yang memungkinkan penyelam untuk berada di dasar laut dalam waktu yang cukup lama. Karyanya ini dituliskan pada paper-nya yang berjudul The Art of Living under Water: Or, a Discourse concerning the Means of furnishing Air at the Bottom of the Sea, in any ordinary Depths. Bell ini dapat berfungsi karena hasil dari pemanfaatan tekanan air yang mendorong udara ke atas dan memberikan kantong udara di dalam bell. Karya ini kemudian dikembangkan menjadi lebih aman di kemudian hari dan pada abad ke-20 berperan dalam maraknya industri minyak lepas pantai.

Diving Bell Karya Halley
Diving Bell Karya Halley (Foto: Les merveilles de la science, 4. Public Domain.)

Walaupun Edmond Halley tidak memiliki banyak gelar pendidikan, namun pada tahun 1704 ia terpilih menjadi profesor Savilian geometri di Oxford, lho. Lebih lagi, pada 1720 ia terpilih menjadi Astronomer Royal kedua Inggris. Astronomer Royal diciptakan oleh King Charles II dan merupakan sebuah jabatan paling bergengsi dalam sejarah astronomi. Pemegang jabatan ini bertugas untuk memberikan saran kepada Ratu terkait masalah astronomi dan terdaftar dalam rumah tangga kerajaan.

Penutup

Nah, udah cukup lengkap kan perkenalan Edmond Halley di artikel ini?

Dari artikel ini, Sobat Zenius bisa mengenal masa kecil, perjalanan pendidikan, dan pencapaian sekaligus penemuan dari sosok Astronomer Royal kedua Inggris ini.

Walaupun memiliki sebutan sebagai ahli astronomi, ternyata Halley juga memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang matematika, magnetik bumi, hingga pembuatan peta yang memampukan dirinya untuk menghasilkan begitu banyak karya ilmiah penting dalam revolusi ilmu sains. Semoga dari cerita tentang Edmond Halley ini, lo semua jadi lebih semangat lagi ya untuk belajar dan berinovasi.

Sekian dulu dari gue

Kalo lo punya pertanyaan atau saran tokoh yang perlu dibahas di artikel selanjutnya, lo bisa tulis di kolom kementar ya.

Referensi

Bellhouse, D. R. (2011). A new look at Halley’s Life Table. Journal of the Royal Statistical Society: Series A (Statistics in Society), 174(3), 823–832. https://doi.org/10.1111/j.1467-985x.2010.00684.x 

Eggen, O. J. (2021, November 4). Edmond Halley. Encyclopædia Britannica. Diakses pada 6 November 2021, dari https://www.britannica.com/biography/Edmond-Halley.

Goodrich, R. J. (2021, January 19). The undersea world of Edmond Halley. Medium. Diakses pada 7 November 2021, dari https://medium.com/lessons-from-history/the-undersea-world-of-edmond-halley-272214a7fbac.

Gowing, R. (1995). Halley, Cotes, and the Nautical Meridian. Historia Mathematica, 22(1), 19–32. https://doi.org/10.1006/hmat.1995.1002

H E, B. (1961). The savilian professors’ houses and Halley’s Observatory at Oxford. Notes and Records of the Royal Society of London, 16(2), 179–186. https://doi.org/10.1098/rsnr.1961.0037

Halley’s Diving Bell (MHS narratives: IRN 30364). Museum of the History of Science. (2016, June 22). Diakses pada 7 November 2021, dari http://www.mhs.ox.ac.uk/collections/imu-search-page/narratives/?irn=30364&index=0.

Howell, E. (2017). Halley’s comet: Facts about the most famous comet. Space.com. Diakses pada 7 November 2021, from https://www.space.com/19878-halleys-comet.html.

O’Connor, J. J., & Robertson, E. F. (2000). Edmond Halley – Biography. Maths History. Diakses pada 7 November, 2021, dari https://mathshistory.st-andrews.ac.uk/Biographies/Halley/#reference-16.

Today’s Engineer. (2019). Geomagnetism and Edmond Halley (1656-1742). Engineering and Technology History Wiki. Diakses pada 7 November 2021, dari https://ethw.org/Geomagnetism_and_Edmond_Halley_(1656-1742).

The Trustees of Princeton University. (n.d.). Meteorology. Princeton University. Diakses pada 7 November 2021, dari https://lib-dbserver.princeton.edu/visual_materials/maps/websites/thematic-maps/quantitative/meteorology/meteorology.html.

Wilford, J. N. (1985). Sir Edmund Halley: Orbiting forever in Newton’s Shadow. The New York Times. Diakses pada 7 November 2021, dari https://www.nytimes.com/1985/10/29/science/sir-edmund-halley-orbiting-forever-in-newton-s-shadow.html.

Bagikan artikel ini