Benci Mendengar Rekaman Suara Sendiri, Kok Bisa? 17

Benci Mendengar Rekaman Suara Sendiri, Kok Bisa?

Ada yang inget gak momen ketika harus dengerin rekaman suara sendiri di hape, terus jadi mikir, “Kok suara gue aneh banget? Ini beneran suara gue yang sehari-hari didenger sama orang lain?” Yang kayak gini pernah kejadian di aku, sering banget malah hehe.

Waktu masih kerja sebagai reporter di media online, berhadapan dengan narasumber jadi rutinitas liputan sehari-hari. Entah itu buat liputan peristiwa, tulisan tematik yang timeless, atau konfirmasi perihal suatu isu. Beres wawancara, tiba lah saatnya mendengarkan file rekaman dengan narsum.

Nah, di momen-momen kayak gini, masih ada perasaan aneh tiap harus dengerin rekaman suara sendiri. Suara yang keluar dari alat perekam di hape terasa janggal banget. “Nih beneran suara gue nih? Kok kayak suara orang lain?”

Ternyata, hal itu juga dirasakan sama kawan-kawan lainnya sesama reporter. Makanya, ketimbang saling bertukar file rekaman wawancara, banyak yang lebih memilih ngasih transkripnya langsung dalam bentuk teks.

rekaman suara
Dok. Markus Spiske via rawpixel.com

Pengalaman itu bisa jadi gambaran sedikit, sebegitu anehnya suara kita menurut diri kita sendiri. Kalian pernah mengalami hal yang sama? Penasaran gak sih, sumber perasaan aneh itu dari mana asalnya? Alat perekam yang mengubah suara asli kita atau memang begitu adanya suara kita sehari-hari?

Fenomena ini menurut Neel Bhatt, dokter spesialis bedah THT dari University of Washington, sebenarnya wajar terjadi. Dalam tulisannya di The Conversation, Bhatt membagikan pengalamannya yang secara rutin merekam pembicaraan dengan pasien yang memiliki masalah suara. Lewat rekaman-rekaman yang diambil, Bhatt melacak perubahan dalam suara pasien dari satu sesi kunjungan ke sesi kunjungan berikutnya.

Berdasarkan data suara pasien, Bhatt bisa menentukan terapi atau pembedahan yang paling tepat untuk pasien. Dalam satu sesi konsultasi, tiap pasien diperdengarkan ulang suara rekamannya sendiri. Ternyata, sesi ini jadi momen yang sulit buat pasien-pasien Bhatt. Kenapa? Alasannya sama persis dengan cerita di awal tulisan ini. Pasien-pasien Bhatt merasa gak nyaman saat harus mendengar file rekaman suara mereka sendiri.

Mereka mengajukan pertanyaan yang sama, “Apakah saya benar-benar terdengar seperti itu?”

Kok bisa ya, kita seakan-akan gak mengenali suara sendiri gitu? Menurut Bhatt, adanya anggapan aneh terhadap suara sendiri disebabkan perpaduan fisiologi dan psikologi seseorang. Buat penjelasan selengkapnya, kita bahas satu per satu ya.

Beda rute suara ‘asli’ dan rekaman untuk sampai ke otak

Masih ingat materi Sistem Koordinasi? Kalian bisa baca lagi di artikel blog yang udah pernah bahas Sistem Koordinasi ini ya. Nah, aktivitas mendengar suara itu berkaitan dengan sistem koordinasi tubuh. Seperti namanya, koordinasi, sistem ini membutuhkan kerja sama dari berbagai organ tubuh supaya bisa berfungsi dengan baik.

Sistem koordinasi melibatkan sistem saraf, sistem indera, dan sistem endokrin (hormon). Ketiganya saling bahu membahu dalam mengatur seluruh aktivitas tubuh, termasuk aktivitas mendengar dalam keseharian kita. Aktivitas ini melibatkan telinga sebagai salah satu alat indera manusia.

Alat indera ini secara umum menjadi yang paling awal menerima semua rangsangan atau impuls. Rangsangan dapat diartikan sebagai seluruh pesan yang diterima tubuh dari lingkungan luar. Pesan itu ya berupa suara yang kamu dengar, rasa makanan yang kamu makan, dan benda yang tersentuh kulitmu. Pesan-pesan tersebut ditangkap oleh ujung saraf di dalam alat indera yang peka terhadap rangsangan, namanya reseptor.

Reseptor tersebut kemudian meneruskan informasi ke otak. Ada beberapa macam reseptor, selengkapnya bisa kamu tonton di playlist video belajar milik Zenius ini ya. Reseptor yang bertanggung jawab dalam menerima rangsangan suara adalah mechanoreceptor.

Gambar di bawah ini memperlihatkan struktur telinga yang berperan dalam mekanisme pendengaran. Apa aja bagian-bagian di dalam telinga? Sebagaimana diperlihatkan gambar, struktur telinga terdiri dari pinna (daun telinga), auditory canal (saluran penerima stimulus suara dari pinna menuju telingan bagian dalam), membran tympani (gendang telinga), tiga tulang kecil (malleus, incus, stapes), koklea (rumah siput, terhubung ke saraf-saraf auditori), oval and round window (jendela tempat keluar-masuknya suara), dan semicircular canal (berperan untuk keseimbangan).

Benci Mendengar Rekaman Suara Sendiri, Kok Bisa? 18

Bagian koklea atau rumah siput berperan mengantarkan informasi suara ke otak besar, tempat suara diolah dan diterjemahkan. Nah, tidak semua stimulus suara dikirim dengan cara yang sama menuju ke otak. Ada stimulus suara yang kita hasilkan sendiri saat bicara, alias tanpa perantara alat perekam. Ada stimulus suara yang berasal dari rekaman audio. Keduanya menempuh rute berbeda buat sampai ke otak.

Saat mendengar rekaman suara kita sendiri, suara mengalir melalui udara dan masuk ke dalam telinga. Suara menggetarkan bagian gendang telinga dan tiga tulang kecil yang bersebelahan. Tulang-tulang kecil ini kemudian meneruskan getaran suara ke koklea yang lanjut menstimulasi sel saraf akson. Dari akson, suara dikirim sebagai sinyal pendengaran ke otak.

Lain ceritanya dengan suara sendiri yang kita dengar secara langsung. Letak perbedaannya tentu karena dalam hal ini, kita bersuara sekaligus mendengar. Jadi gak cuma telinga yang memproses getaran suara, tapi juga pita suara kita. Proses mendengar dalam hal ini memang masih melibatkan proses yang sama dengan cara suara dari file rekaman didengar. Bedanya, ada getaran dari pita suara merambat ke tulang tengkorak.

Jadi, suara ‘asli’ yang kita dengar saat berbicara secara langsung, sebenernya berasal dari dua sumber. Kenapa dua? Saat berbicara, suara yang kita hasilkan menjadi gelombang yang merambat lewat udara sebelum akhirnya masuk ke dalam telinga. Sama kan kayak proses yang dilewatin suara dari file rekaman? Tapi, ada lagi getaran suara yang merambat ke tulang tengkorak, asalnya dari pita suara yang aktif saat kita berbicara.

Begitu sampai ke tulang tengkorak, suara mengalami penurunan frekuensi. Makanya, wajar aja kalau kita terbiasa mempersepsikan suara sendiri lebih dalam dan nge-bass. Sebagai perbandingan, suara dari file rekaman punya frekuensi yang lebih tinggi. Karena itu, suara dari alat perekam terdenger lebih tipis dan bernada lebih tinggi. Gak heran kan kalau kita sering menganggap rekaman suara sendiri cempreng banget?

Alasan psikologis

Kenapa suara sendiri di alat perekam kita anggap aneh? Sederhananya, karena suara itu layaknya suara baru buat kita. Kita punya persepsi sendiri terhadap suara yang kita hasilkan saat bicara sehari-hari. Ada juga persepsi orang lain terhadap suara kita yang bisa kita dengarkan dalam bentuk rekaman.

Tentu, kita lebih familiar dengan suara yang kita dengar langsung saat berbicara kan? Begitu dengar suara kita dalam versi lain di file rekaman, wajar aja kita merasa aneh dan asing. Padahal kedua sama-sama suara sendiri, cuma beda medium perambatannya aja.

Nah, itu penjelasan mengenai penyebab kita punya tendensi gak suka sama suara kita sendiri di alat perekam. Kalau ada topik lain yang mau kamu request, silakan tulis aja di kolom komentar ya. Sampai juga di artikel berikutnya!

Baca Juga:

Kupas Tuntas Materi Sistem Koordinasi Manusia

Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran?

Kenapa Putus Cinta Bikin Dada Nyesek?