Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran? 41

Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran?

Belakangan, jagat sosial media lagi ramai dengan perbincangan soal kesurupan. Kasus kesurupan bisa dibilang peristiwa langka, tapi ada gak dari kalian yang pernah mengalaminya langsung? Atau pernah terjadi ke orang-orang terdekat? Seperti beberapa pemberitaan yang kerap muncul. Fenomena kesurupan ini sering mengelilingi ruang lingkup sekolah, terutama di momen menjelang ujian.Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran? 42 Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran? 43Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran? 44

Dari gambaran di dunia nyata maupun film, orang kesurupan rata-rata nunjukkin gejala yang mirip: badan berontak hebat, suara berubah lain, jadi lebih agresif–bahkan bisa berujung menyerang orang lain. Seperti seakan-akan dia bukan dirinya lagi. Karena itu, fenomena kesurupan sering dipercaya sebagai kondisi saat tubuh seseorang “diambilalih” makhluk lain.

Sebenernya gimana sih orang kesurupan dari sudut pandang medis? Karena selama ini, kata kesurupan hampir selalu sinonim dengan kerasukan setan atau makhluk halus. Kepercayaan seperti itu di tengah masyarakat sudah berlangsung dari zaman ke zaman. Tapi ada gak ya penjelasan ilmiah buat fenomena kesurupan ini?

Nah, beberapa waktu lalu Zenius berkesempatan ngobrol bareng dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, psikiater atau dokter spesialis jiwa dan perilaku yang sehari-hari berpraktik di Rumah Sakit Siloam, Bogor. Dari dr. Jiemi, banyak pengetahuan ilmiah yang dibeberin nih terkait kesurupan menurut sudut pandang medis.

Bagaimana Kesurupan Terjadi Menurut Medis?

Jadi dalam dunia kedokteran, orang kesurupan bisa menjadi gejala dari adanya gangguan disosiasi atau disebut juga Dissociative Trance Disorder (DTD). Seperti namanya “disosiasi”, pengidap DTD mengalami keterpisahan dengan dirinya sendiri. Kondisi ini bikin dia hilang kontak dengan pikiran, memori, perasaan, perilaku, bahkan identitas utuhnya.

orang kesurupan
Potongan adegan dalam film “The Exorcism of Emily Rose”.

Karena bagian-bagian dirinya tidak ter-integrated itu, sistem koordinasi di tubuhnya mengalami kekacauan. Makanya orang kesurupan bisa bertingkah di luar kendalinya. Tiba-tiba ngamuk tanpa sebab atau ketawa-ketawa sendiri. Ini yang bikin orang kesurupan suka disangka berubah jadi sosok lain.

Kalau begitu, apa orang kesurupan bisa disebut mengidap kepribadian ganda? Untuk pemahaman lebih jauhnya, kita bahas satu per satu mulai dari apa itu Dissociative Trance Disorder, gejala-gejalanya, sampai kaitannya dengan gangguan kepribadian. Baca sampai tuntas ya!

Seperti namanya, trance dalam bahasa Inggris berarti keadaan tidak sadar. Dissociative Trance Disorder (DTD) merupakan salah satu jenis Dissociative Disorder atau gangguan disosiasi. Dissociative Disorder tergolong gangguan mental dan terdiri dari beberapa penyakit lain seperti Dissociative Amnesia, Dissociative Fugue, dan Dissociative Identity Disorder.

Dissociative Trance Disorder merupakan salah satu jenis gangguan disosiasi yang paling dekat gejalanya dengan orang kesurupan. Gangguan ini dibagi lagi ke dalam dua tipe: Possession Trance dan Trance Disorder. 

Ada perbedaan khas di antara keduanya. Dalam kasus Possession Trance, seseorang seakan berganti identitas baru dan kerap dipersepsikan sebagai kerasukan roh halus. Pengidapnya bakal mengalami amnesia sesaat terhadap situasi, waktu, keadaan sekitar, lupa nama dan identitasnya sendiri. 

Bagaimana Orang Kesurupan Menurut Ilmu Kedokteran? 45

Studi terbitan The Canadian Journal of Psychiatry pada 2011 meneliti laporan terkait 402 kasus DTD di beberapa negara. Di antara pasien dengan indikasi Possession Trance, tercatat 44% sampai 56% di antaranya mengalami halusinasi penglihatan dan/atau halusinasi suara. 

Halusinasi adalah kondisi di mana organ sensorik (melihat, mendengar, atau merasakan sentuhan) salah mengartikan sesuatu yang enggak nyata sebagai stimulus. Orang yang berhalusinasi akan mendengar suara-suara yang sebenernya enggak ada. Juga melihat sesuatu yang enggak tampak buat orang sehat lainnya.

Karena itu, sering kan lihat orang kesurupan teriak meronta-ronta? Kayak ketakutan sama sesuatu? Bisa jadi kondisi itu karena dia sedang melihat hal-hal yang enggak kasat mata kecuali sama dirinya sendiri.

Sedangkan untuk kasus Trance Disorder, seseorang masih mampu menyadari identitas aslinya tapi kehilangan kesadaran terhadap kejadian di sekitar. Dia bakal sulit memahami kejadian yang sedang berseliweran di depannya. Orang yang menderita Trance Disorder juga bisa mengalami kesulitan bicara ataupun bergerak.

Apa penyebab DTD?

Berdasarkan keterangan dr. Jiemi, penyebab seseorang mengalami DTD bisa bermacam-macam.

  • Trauma

Tekanan emosi yang berat karena kejadian mendadak, seperti ditinggal orang terdekat karena kematian, bisa memicu trauma psikologis. Sebagai respons, jiwa memberikan mekanisme pertahanan dengan tidak mengutuhkan diri alias memisahkan antara pikiran, memori, perasaan, hingga keseluruhan identitasnya. 

Dengan adanya bagian diri yang terpecah-pecah itu, identitas aslinya seolah-olah lenyap. Jadi damage dari rasa berduka itu gak kena ke dirinya langsung, karena seakan muncul “identitas lain” buat menerima rasa itu.

Saya bukan diri saya, maka rasa sakit ini juga bukan punya saya,”

kira-kira begitu situasi di dalam kejiwaannya. 

  • Stres

Stres adalah reaksi tubuh terhadap tekanan. Pemicunya (stressor) bisa macam-macam, misalnya saat menjelang ujian sekolah. Waktu ujian mepet tinggal bentar lagi. Makin deket hari H, perasaan makin campur aduk. Gugup, was-was, takut gak lulus. Perasaan-perasaan itu numpuk berhari-hari sampai berujung stres berat. 

Kondisi stres seperti itu jika semakin parah tanpa ada penanganan bisa bikin seseorang berhalusinasi. Gejala ini juga muncul pada orang yang menderita gangguan psikotik.

Gejala-gejala Dissociative Trance Disorder

  • Amnesia

Seperti bahasan sebelumnya, DTD bisa menyebabkan terputusnya hubungan antara pikiran, ingatan, perasaan, dan identitas diri. Pengidapnya bakal hilang ingatan untuk sementara waktu saat episode DTD berlangsung.

  • Derealization

Situasi ini merupakan perubahan persepsi seseorang akan realita di sekitarnya. Orang dan benda yang dia lihat bisa tampak berubah-ubah ukuran dan bentuk, bahkan terasa ada dan tiada. Seolah-olah ada tabir yang misahin dia sama lingkungannya. Hal ini karena kondisi derealization bisa menciptakan distorsi dalam sistem indera, termasuk indera penglihatan.

  • Depersonalisation

Seperti yang jamak kita lihat pada orang kesurupan: sikap, sifat, suaranya berubah drastis dari biasa. Hal itu mungkin dipicu karena ia sedang mengalami yang namanya depersonalisation-perasaan terpisah dari diri sendiri, salah satu gejala khas DTD.

Karena terpisah itu, seakan-akan dia bisa melihat langsung dirinya sendiri beraktivitas di depan matanya. Persis kayak nonton film. Dalam beberapa kasus, depersonalisation dapat menyebabkan timbulnya perasaan tubuh tiba-tiba membengkak seperti raksasa, atau menyusut kian kecil sampai dia merasa dirinya terbenam ke tanah.

  • Identity alteration

Pengidap DTD merasakan dirinya berubah jadi orang lain. Bisa aja dia tiba-tiba yakin kalau dirinya pelukis, padahal bukan.

  • Identity confusion

Kebingungan dalam menjelaskan diri sendiri menjadi salah satu tanda DTD. Pengidapnya sulit menjelaskan hal-hal yang sebelumnya bikin mereka tertarik, kayak hobi atau makanan favorit. Bisa jadi, mereka akan kebingungan ketika diminta menyebut nama, pekerjaan, atau agamanya.

Apakah DTD sama dengan kepribadian ganda?

Kalau baca lagi tanda-tandanya, secara harfiah DTD bisa dimengerti sebagai kondisi “terpecahnya diri”. Tapi enggak sama dengan kepribadian ganda (Dissociative Identity Disorder/DID) seperti yang diidap karakter Kevin Wendell Crumb di film Split.

DID yang tergolong gangguan jiwa berat ini biasanya dipicu trauma ekstrem berkepanjangan. DID-nya Kevin Crumb setelah ditelusuri, adalah hasil dari penganiayaan bertubi-tubi semasa kecil. Sebagai respons trauma, kondisi kejiwaan Kevin mulai mencari cara buat lari dari realitas yang menyiksa itu.

Jadi lah Kevin menyediakan tubuhnya sebagai inang dari 23 kepribadian. Jadi waktu trauma masa kecilnya muncul, identitas-identitas pengganti bisa pasang badan melindungi identitas asli. Lebih banyak trauma, lebih banyak identitas yang diciptakan. 

kepribadian ganda
Patricia, salah satu identitas alter karakter Kevin Crumb di film “Split”. (Dok. Universal Pictures)

Meskipun DID dan DTD sama-sama gangguan disoasi, tapi keduanya berbeda dari segi penyebab dan gejala-gejala khas. DTD yang bikin orang tampak kesurupan, bisa hilang dengan sendirinya. DTD pada kasus orang yang akan menghadapi ujian, misalnya. Kalau stressor-nya udah lewat seiring dengan berakhirnya ujian, gejala-gejala DTD pun bisa mereda.

Di lain sisi, gangguan kepribadian ganda disebabkan trauma yang lebih kompleks. Seperti masa kecil yang penuh kekerasan dapat memicu munculnya kepribadian-kepribadian lain dalam satu tubuh. Di dunia spesialis kejiwaan, DID juga masih jadi bahan perdebatan.

Ada beberapa ahli yang meragukan adanya diagnosis DID. Dari hasil sejumlah penelitian, gangguan kepribadian ganda bukan termasuk diagnosis tunggal, tapi bagian dari gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang biasa diidap veteran perang.

Sampai sini, mungkin ada yang jadi mikir:

“Berarti kesurupan termasuk gangguan jiwa dong?”

Nah, yang perlu kamu inget, vonis gangguan mental buat gejala apapun baru boleh jatuh setelah pemeriksaan dokter. Secara medis, keadaan kejiwaan seseorang dikatakan terganggu jika ada distress (penderitaan) dan disfungsi atau ketidakmampuan untuk beraktivitas seperti biasa. Sehingga biasanya, pengidap gangguan mental sulit bekerja, sekolah, atau berbaur secara sosial.

Mungkin gak kesurupan jadi gejala penyakit lain?

Bisa aja. Mungkin ada orang kesurupan yang kita lihat bukan termasuk gejala gangguan disosiasi, tapi penyakit kejiwaan lain seperti Psychotic Disoder. Ada dua gejala khas dari gangguan psikotik, yakni delusi dan halusinasi.

Orang yang mengalami delusi punya keyakinan di luar nalar, semisal dia percaya kalau dirinya keturunan alien. Pernah dengar orang kesurupan ngeracau ngaku-ngaku macan? Orang yang lagi berdelusi memang berpegang pada kepercayaan atau konsep yang diyakini seratus persen. Gak bisa digoyahkan atau dipatahkan siapapun. Padahal, orang sehat memandangnya ngawur.

Sedangkan halusinasi kayak bahasan sebelumnya. Orang yang berhalusinasi mempersepsi sesuatu yang tidak ada sebagai ada entah itu secara visual, auditorik, atau sensasi sentuhan. Gejala-gejala psikotik pada awalnya bisa jadi bersifat hilang timbul, intermittent. Kalau tidak diobati tentu akan memberat, lebih sering, dan berlangsung lebih panjang.

Apa sih yang ada di dalam kepala orang saat dia kesurupan?

Nah, kesurupan itu kan sebenarnya bukan terminologi saintifik. Kesurupan juga bisa jadi gejala untuk beberapa penyakit berbeda. Sebagaimana yang udah dibahas, orang tampak kerasukan saat sebetulnya dia sedang mengalami gangguan disosiasi, berhalusinasi, atau delusi.

Sebagai contoh, ketika orang kesurupan menunjukkan gejala halusinasi. Secara umum, ia sedang mengalami masalah pada bagian saraf atau fungsi otaknya. Neurotransmitter, zat kimia penghantar pesan antar sel saraf, mengalami gangguan sehingga terjadi salah tangkap informasi. Sebenernya tidak ada informasi, tapi ditangkap sebagai ada informasi. Terjadi lah halusinasi. Organ sensorik mempersepsikan adanya stimulus suara, visual, atau rasa sentuhan yang sebenernya gak nyata.

Ada orang kesurupan di depan kita. Nunjukkin gejala-gejala yang sama persis dengan paparan di tulisan ini. Perlu enggak dibawa ke dokter buat berobat?

Sewaktu-waktu, ada orang di sekitarmu yang mengalami kesurupan dan masuk kriteria DTD. Pengobatan medis bisa jadi perlu, bisa jadi enggak karena harus ada diagnosis dulu. Buat tahu diagnosisnya, tentu pasien harus diperiksa dokter dulu. Berdasarkan pengalaman dr. Jiemi Ardian, sangat sering terjadi kasus orang kesurupan yang ternyata didiagnosa mengidap SchizopreniaBipolar Disorder, atau Psychotic Disorder. 

Jadi, jangan buru-buru diagnosis sendiri ya. Minta pendapat ahli supaya penanganannya juga tepat sasaran. Melalui tulisan ini, semoga stigma yang selama ini mengelilingi peristiwa kesurupan bisa perlahan memudar. Kalau ada topik lain yang mau kamu request, silakan tulis aja di kolom komentar.

Buat kamu yang mau cari tahu lebih banyak soal kesehatan mental, bisa sapa dr. Jiemi langsung lewat akun sosial medianya di Instagram dan Twitter. Ada konten-konten menarik dari dr. Jiemi yang juga rutin tayang di YouTube.

Bagikan artikel ini