Tantangan Belajar Online untuk Anak dan Solusinya Zenius Education

Tantangan Belajar Online untuk Anak

Apa kabar, Ayah dan Ibu? Bagaimana nih perjalanan proses belajar anak Anda, selama pandemi ini?

Minggu lalu, ZeniusLand telah mengadakan webinar gratis perdana bernama ZeniusLand Parent Hub, dengan topik Pentingnya #BelajarRasaMain untuk Anak”, dengan dua pembicara yang keren banget. Apakah Ayah dan Ibu sudah ikut webinar tersebut?

Kalau terlewat, nggak masalah, kok. Ayah dan Ibu bisa baca artikel kali ini, yang merangkum dan membagikan kembali materi dari Artika Sari Devi (mom influencer dan Putri Indonesia 2004), serta Samanta Elsener, M.Psi (psikolog anak dan keluarga) soal tantangan belajar online yang dihadapi anak dan orang tua.

Berdasarkan sharing pembicara serta berbagai pertanyaan yang dilontarkan para orang tua, belajar online memang memiliki tantangan tersendiri baik untuk anak maupun orang tua yang mendampingi.

Ada yang menanyakan soal masalah rentang kemampuan konsentrasi, cara memotivasi belajar, serta peran orang tua dalam proses belajar online anak. Apakah Ayah dan Ibu memiliki kegelisahan yang sama?

tantangan belajar online anak
Ilustrasi tantangan belajar online anak. (Arsip Zenius)

Ayah dan Ibu boleh banget ya, berbagi soal tantangan dan masalah belajar online anak yang dirasakan selama pandemi ini, melalui kolom komentar.

Siapa tahu, sharing dan pertanyaan Ayah dan Ibu bisa dijadikan topik untuk acara Zeniusland Parent Hub selanjutnya. 

Untuk  kabar terbaru mengenai penyelenggaraan webinar di waktu yang akan datang, pastikan Ayah dan Ibu mengikuti Instagram ZeniusLand, supaya nggak ketinggalan informasi.

Sekarang, langsung saja kita mulai bahas berbagai tantangan belajar online yang dirasakan orang tua dan anak, serta solusi yang bisa dilakukan.

Tantangan Belajar Online untuk Anak

Pada bagian ini, kita akan bahas beberapa masalah belajar anak yang telah disampaikan oleh Artika dan Samanta pada webinar yang lalu.

Emosi dan Motivasi Anak Menurun

emosi dan motivasi anak menurun
Ilustrasi emosi dan motivasi anak menurun. (Arsip Zenius)

Seiring dengan berjalannya waktu semasa pandemi ini, apakah anak Anda mulai mengeluh dan nggak semangat belajar? 

“Kalo awal-awal pandemi mereka seneng banget, begitu udah mulai enam bulan, mulai muncul rasa bosan, mulai satu tahun, mulai muncul rasa frustasi, kok nggak ngerti-ngerti, ya,” ungkap Samanta.

Ya, mungkin saja awalnya anak merasa senang, karena nggak perlu bangun sepagi biasanya, dan bebas dari kemacetan yang sebelumnya harus dilalui setiap pagi.

Namun, setelah beberapa bulan berlalu, anak mulai merasa jenuh dan frustasi. Berjam-jam duduk di depan layar, tanpa interaksi langsung dengan teman dan guru, belajar online mulai terasa nggak efektif dibanding belajar tatap muka. 

Artika sempat sharing, soal bagaimana sekolah online itu seperti hukuman bagi anaknya yang paling kecil. Zoey, yang notabene punya gaya belajar kinestetik, perlu menggunakan tubuhnya secara fisik untuk belajar dengan efektif.

“Nah, adiknya ini yang kelas 3 SD ini, dia ini anak kinestetik, nggak bisa diem. Jadi memang energinya perlu disalurkan, dan sekolah online itu awalnya bagi dia, seperti hukuman.” 

Oleh karena itu, Artika kerap mengajak anaknya untuk beraktivitas, bergerak, dan berolahraga ketika waktu istirahat datang, untuk meningkatkan semangat dan motivasi belajar di kelas selanjutnya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menumbuhkan Motivasi Belajar?

Learning Loss

learning loss pada anak
Ilustrasi learning loss pada anak. (Arsip Zenius)

Learning loss atau hilangnya pengetahuan dan kemampuan siswa (The Glossary of Education Reform, 2013, seperti yang dikutip pada Zenius, 2021), menjadi salah satu isu yang beberapa kali diangkat dalam proses belajar selama pandemi ini.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu learning loss serta penyebab dan dampaknya, Ayah dan Ibu bisa baca artikel di bawah ini, ya.

Baca Juga: Learning Loss, Kemunduran dalam Proses Belajar Siswa

Pada dasarnya, learning loss pada belajar online dapat terjadi karena berbagai faktor. Misalnya, karena kendala teknis seperti koneksi Internet yang buruk serta kurangnya pendampingan orang tua, yang menyebabkan adanya kesenjangan proses pendidikan.

Samanta bercerita, pada awalnya seorang anak yang baru kelas 1 SD di awal pandemi, nggak ada masalah, ketika belajar baca tulis secara daring di rumah.

“Tantangannya berbeda. Yang tadinya gampang, diaplikasikan secara belajar online, kayaknya masih bisa ikutin, nih. Lama-lama kan, (materi) Matematikanya bertambah,” jelas Samanta.

Ketika anak mulai naik kelas, misalnya, di kelas 3 SD menemui perkalian, pecahan, dan materi pelajaran Matematika lainnya yang semakin susah, materi pun dirasa semakin sulit. 

Ketika menemui situasi seperti itu, anak rentan merasa nggak bisa. Menurut Samanta, “Itu membuat rasa kompetensi dari anak menurun drastis.”

Sehingga, anak pun jadi malas belajar, “Akibatnya mereka nggak punya motivasi, aku nggak usah belajar deh, kayaknya belajar itu kepalaku udah buntu banget.”

Dampak kejenuhan yang utama, tambahnya, anak merasa belajar menjadi percuma.

Baca Juga: 9 Tips Mendampingi Anak Belajar di Rumah Saat Pandemi

Konsentrasi Anak Terbatas

rentang konsentrasi anak saat belajar online
Ilustrasi rentang konsentrasi anak saat belajar online. (Arsip Zenius)

Menurut Samanta, anak berumur lima tahun nggak mungkin punya rentang konsentrasi hingga satu jam. Apalagi, guru menyampaikan materi secara daring, di mana anak hanya bisa duduk diam menghadap layar.

Menurutnya, anak SD kelas 1 hingga kelas 2 biasanya memiliki rentang konsentrasi 40 menit. Sedangkan, anak kelas 3 ke atas, memiliki rentang waktu konsentrasi 60 menit ke atas, bila dalam lingkungan belajar tatap muka.

Lain cerita ketika mereka main game, 3–5 jam pun bisa dibabat habis sampai lupa makan dan minum. Bener banget nggak nih, Ayah dan Ibu?

Oleh karena itu, Psikolog Samanta menyarankan, ”Gimana memotivasi belajar anak, ya salah satunya yang bisa kita lakukan dengan memberikan salah cara simulasi yang fun, seperti bermain.”

zeniusland

Download ZeniusLand

Aplikasi edukasi online dipenuhi dengan cerita seru dan permainan interaktif, untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Dirancang khusus untuk anak usia 7–12 tahun.

Tantangan Belajar Online untuk Anak 25
Tantangan Belajar Online untuk Anak 26

Solusi Belajar Online untuk Anak

Berikut ini berbagai peran orang tua dalam membimbing anak, dan membuat belajar online lebih seru.

Berikan Pengawasan dan Bimbingan Secara Bergantian

Orang tua mengawasi anak belajar online
Orang tua mengawasi anak belajar online. (Arsip Zenius)

Sebisa mungkin, orang tua ikut mendampingi dan mengawasi anak ketika belajar online. Ingat, guru yang dulu berperan sebagai pengawas dan pendamping sedang terpisah oleh jarak dengan anak kita.

Perlu diperhatikan, ketika mendampingi anak, Samanta berpesan untuk pastikan proses belajar seru namun tetap kontekstual. Dalam arti, hindari menyuapi anak sambil belajar dan menyalakan TV.

Hal tersebut bisa membuat anak bingung, apakah saat tersebut merupakan waktu belajar, makan, atau bermain.

Artika yang kebetulan memiliki dua anak yang cukup berbeda umurnya, melakukan pengawasan terhadap mereka di satu ruangan yang sama. 

“Untuk memudahkannya, saya mengumpulkan anak saya di satu ruangan, tapi memang harus berjarak ya, jadi adiknya dengan saya di pojok sebelah sini, kakaknya di pojok sebelah sana.”

Menurut Artika, hal tersebut membuat pengawasan ambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga lebih gampang. Ia bisa menyetrika di kasur, sambil memantau anak-anaknya.

Memberikan Kesabaran Lebih

Hal ini gampang diucap, namun memang perlu usaha lebih untuk dilakukan ya, Ayah dan Ibu. Samanta mengingatkan, bahwa memarahi anak bisa menurunkan motivasi anak untuk belajar.

“Kita harus tahan-tahan diri, jangan dimarahin, apalagi dimaki-maki,” pesannya. ”Itu akan nurunin motivasi anak belajar banget.”

Dalam keadaan sekolah online, di mana anak rentan jenuh dan frustasi, sebaiknya orang tua pun memberikan dukungan lebih dengan memberi semangat.

Tentu saja, ketegasan dan disiplin tetap harus ada. Namun, pastikan Ayah dan Ibu menghindari teriakan serta kritikan yang sifatnya menjatuhkan anak, ya. Sebaliknya, berikan saran yang disertai dengan pemahaman.

Misalnya, apabila anak Anda mengalami penurunan nilai, hindari memberi kritik yang menjatuhkan dan memarahinya dengan suara yang tinggi. Sebaiknya, cari tahu penyebab penurunan nilai tersebut dan pahami apa yang anak Anda lalui.

Adakan Istirahat dan Aktivitas Menarik

Untuk menghadapi rasa jenuh dan frustasi anak yang harus duduk berjam-jam di depan layar, Ayah dan Ibu bisa coba adakan aktivitas yang menarik ketika sedang nggak belajar online.

Setiap sekolah biasanya memiliki kebijakan masing-masing. Ada yang menyediakan istirahat sebentar sebelum setiap kelas online.

Nah, Ayah dan Ibu bisa menyesuaikan dengan jadwal masing-masing, dan menggunakan waktu tersebut untuk refreshing bagi anak. Sehingga, belajar nggak terkesan monoton.

Ada beberapa contoh aktivitas yang dilakukan Artika ketika anaknya sedang dalam waktu istirahat. Tentu saja, ini tergantung dengan minat anak juga, ya.

Contohnya, ketika ada istirahat selama 30 menit, Artika menggunakan waktu tersebut untuk mengajak anaknya bergerak, entah untuk olahraga (seperti lompat tali dan berenang) atau ikut memetik sayur di kebun untuk dimasak nantinya.

Gimana, nih? Kira-kira anak Anda suka aktivitas apa? Bisa coba dijelajahi ya, apa minat anak Anda yang kiranya bisa memberi variasi terhadap proses belajar.

Dengarkan dan Tanggapi Omongan Anak

Sesuai dengan pembahasan soal motivasi yang disampaikan oleh Samanta, terdapat dua macam motivasi belajar, yaitu motivasi belajar ekstrinsik dan intrinsik.

Anak kita memerlukan keduanya, lho. Sebagai informasi, motivasi belajar intrinsik merujuk pada motivasi yang berasal dari dalam diri anak sendiri. 

Sedangkan, motivasi belajar ekstrinsik mengacu pada motivasi belajar yang berasal dari luar. Contohnya, dari Ayah dan Ibu.

Lantas, gimana ya, cara meningkatkan motivasi ekstrinsik dari kita? Mudah sekali, Ayah dan Ibu

Setelah anak belajar online, tanyakanlah apa yang telah mereka pelajari. Cobalah untuk ikut penasaran, dan benar-benar mendengarkan apa yang mereka ceritakan.

Orang tua berdiskusi dengan anak
Orang tua berdiskusi dengan anak. (Arsip Zenius)

Apabila misalnya mereka bercerita tentang materi yang baru saja mereka pelajari, Ayah dan Ibu bisa coba berikan pertanyaan yang sifatnya reflektif. 

Misalnya, mereka belajar bahwa air laut itu asin. Maka, Anda bisa coba bertanya, kenapa air laut itu asin?

Selain itu, jika mereka bertanya tentang pengetahuan, yang jawabannya nggak diketahui oleh Ayah dan Ibu, ikutlah mencari tahu bersama-sama dengan anak Anda, ya. Sehingga, rasa penasaran anak terus berkembang.

Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Motivasi Belajar di Masa Pandemi

Belajar Rasa Bermain

Dari pembahasan dan solusi belajar online sebelumnya, tentu Ayah dan Ibu sudah mendapatkan banyak wawasan, ya. Nah, sekarang kira-kira bagaimana ya cara membuat belajar nggak monoton dan justru, terasa seperti bermain?

Nah, Ayah dan Ibu sudah kenal sama yang namanya ZeniusLand belum? ZeniusLand menyediakan materi belajar yang seru banget untuk anak SD.

Ketika belajar dengan ZeniusLand, anak Anda bisa belajar sambil bermain bersama Tiga Sekawan dan berbagai karakter Disney favorit, lho.

Kalau Ayah dan Ibu belum tahu soal ZeniusLand, bisa langsung klik banner di bawah ini untuk informasi lebih lanjut ya.

Tantangan Belajar Online untuk Anak 27


Baik, Ayah dan Ibu, itulah pembahasan singkat mengenai tantangan belajar online anak serta solusinya. Bila ada pertanyaan mengenai ZeniusLand atau topik kali ini, silakan tulis di kolom komentar, ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Referensi

Learning Loss, Kemunduran dalam Proses Belajar Siswa – Zenius Untuk Guru (2021)

Bagikan Artikel Ini!