Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 57

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya

C :“Gue kemarin abis mimpi dipatok ular, tauk,  kira-kira apa yah artinya?”

A : “Lo mau ketemu jodoh kali”

B : “Ati-ati, dipatok itu kan bahaya. Bisa aja bakalan ada nasib ga enak bentar lagi” 

 

Beberapa di antara lo pasti pernah mikir kayak gini. Lo mimpi dan terasa nyata, abis itu ketika lo bangun, lo bertanya-tanya : mimpi gue barusan artinya apa ya? . Wah, lo mulai menerka-nerka dan berselancar di internet buat nyari jawaban, ya kan? . Ada seorang pemikir nih dari abad ke-20 yang terkenal banget sama teorinya yang kontroversial, dia adalah Sigmund Freud. 

Beberapa dari lo mungkin kenal dia lewat teori psikoanalisisnya, atau beberapa dari lo ada yang mengenalnya lewat series netflix berjudul “Freud” lewat deretan episodenya Hysteria, Trauma, Somnambulant, Totem and Taboo, Catharsis, Suppression. Dari manapun lo dengar namanya, di sini gue ingin ngajak lo untuk mendalami kepribadian dan perjalanan hidup seorang Freud. Dan buat lo yang nanti tertarik berkuliah di psikologi, siap-siap untuk ketemu tokoh yang satu ini sampai ngulik ke akar-akarnya, haha, so di sini gue ingin ngasih brief introduction pada lo semua.  

Sebagaimana para penemu teori di dunia ini, Freud juga pasti mengajukan teorinya berdasarkan rentetan pengalaman hidup yang ia refleksikan. Kita akan ngulik bareng pengalaman hidupnya yang bentukannya kek gimana sih sehingga ia bisa menjadi salah satu theorist segede sekarang. 

Biografi Sigmund Freud 

 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 58

Sigmund Freud 

Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil 

Gak ada yang tahu secara pasti kapan Freud dilahirkan, beberapa buku biografinya ada yang nyebut antara tanggal 6 Maret atau 6 Mei tahun 1856. Tapi yang pasti, tercatat kalau dia lahir di Freiberg , Moravia, yang saat ini disebut dengan “Republik Ceko”. Freud ini adalah anak sulung dari pasangan Jacob dan Amalie Nathanson Freud. Meski demikian, Freud sejatinya sudah punya dua abang dari pernikahan ayahnya sebelumnya, yaitu Emanuel dan Phillip. 

Sejak kecil, Freud emang lebih dekat dengan ibunya ketimbang sama ayahnya. Sampai-sampai, ketika  baru berusia 1,5 tahun, Sang Ibu melahirkan anak kedua yang bernama Julius. Freud yang sudah lengket banget dengan ibunya ini cemburu sama adiknya. Kelahiran ini tentu berdampak signifikan bagi perkembangan psikologis Freud kala itu. Adiknya yang masih bayi ini ya gak ngerti apa-apa, tapi si Freud sudah memendam permusuhan dan berharap kalau adiknya mati saja.  Jadilah kenyataan. Ketika Julius meninggal pada usia 6 bulan karena masalah kesehatan, Sigmund Freud merasa bersalah sebab  dipikirnya, dendam yang ia buat telah menyebabkan kematian adiknya itu. 

Ketika Freud masih menginjak usia 3 tahun, tahun dimana Charles Darwin menerbitkan bukunya yang tersohor yakni The Origin of Species, sekitar tahun 1859, Keluarga Freud meninggalkan Kota Freiberg dan memutuskan untuk tinggal di Leipzig, kemudian pindah lagi ke Wina akibat bangkrutnya bisnis ayahnya. 

 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 59

Sigmund Freud dan Sang Ibu

Nah, meski Freud ini merupakan anak sulung dari Jacob dan Amalie, dia ini gak begitu dekat dengan ketujuh adiknya guys, seperti yang gue bilang tadi, dia selalu bersikap manja ke ibunya. Hubungannya yang dekat dengan sang ibu ini lah yang berpengaruh pada teorinya kelak, keterikatan itu yang kemudian membawanya ke tahun-tahun berikutnya untuk mengamati bahwa hubungan anak laki-laki dengan sang ibu adalah yang paling sempurna dan paling bebas bagi manusia. 

Sejak kecil, yang namanya Sigmund Freud ini guys udah kelihatan banget cerdasnya. Di usianya yang ke-8, Freud sudah melahap habis buku karya Shakespeare, dia sangat mengagumi kelihaian Shakespeare dalam menulis dan memahami sifat manusia. Selain itu, ia juga memiliki bakat yang luar biasa dalam hal bahasa. Lo bayangin, bocah usia segitu udah secara otodidak belajar berbagai bahasa seperti bahasa Latin, Yunani, Prancis, Spanyol, Italia, dan Inggris. Gak heran di kemudian hari, ia menjadi salah satu nominasi Nobel Prize di bidang sastra dan mendapatkan penghargaan Goethe. 

Besar di tengah keluarga penganut Yahudi bukan lah hal yang mudah bagi Freud. Soalnya, di masa-masa itu, 

 

Keinginan untuk mengejar “Fame” 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 60

Sigmund Freud

Menginjak usia belasan, sama seperti sebagian remaja zaman sekarang yang ingin viral, Freud pun demikian. Toh dia nyadar kalau dia cerdas, dia bermimpi untuk buat penemuan yang monumental dan bisa tenar dari situ. Hal ini yang kemudian mendorongnya untuk membuat sebuah teori. 

Dia selalu menjadi murid termuda di sekolahnya dan tidak pernah absen menjadi ketua kelas, pada usianya yang ke-17 tahun, Freud lulus dengan predikat Summa Cumlaude. Hingga menjelang kelulusannya dari sekolah menengah atas, Freud sebenarnya tertarik untuk berkarir di bidang hukum , politik, dan bahkan militer. Tetapi, lagi-lagi, perkenalannya dengan buah pikir Goethe melalui esai-esai tentang alam, ditambah hadirnya teori evolusi Darwin di zaman itu membangkitkan minat Freud terhadap sains. Makanya, dia memutuskan untuk ngambil jurusan kedokteran di University of Vienna pada tahun 1873 silam. 

Sebenarnya sih, Freud niat masuk jurusan kedokteran bukan karena  benar-benar suka dengan praktek kedokteran, tapi  untuk lebih memahami tentang “sifat manusia”, yes, human nature. Makanya, dia banyak menghabiskan waktu untuk meneliti hal-hal yang berkaitan dengan fisiologis manusia. Ini pula yang bikin Freud lulusnya lama, bahkan menghabiskan waktu hingga 8 tahun buat menyelesaikan studinya ini. Ditambah lagi, dia memang punya minat yang luas, jadi mudah banget terdistraksi. Kelihatannya aja kuliah kedokteran, tapi dia ngulik bidang sosial humaniora. Misalnya, dia bisa tetiba menghabiskan banyak waktu buat belajar filsafat dan bahkan di sela-sela studinya, ia menerjemahkan buku John Stuart Mill ke dalam bahasa jerman. Di perkuliahannya, Freud menjalin hubungan profesional dengan seorang temannya bernama Josef Breuer. Seorang ilmuwan Wina yang memiliki reputasi saintifik yang cemerlang. Melalui orang tersebut, Freud banyak belajar tentang “catharsis”, sebuah teknik untuk menyembuhkan gejala histeris dengan cara “menceritakannya”. Saat berlatih menggunakan teknik catharsis ini, Freud secara bertahap menemukan teknik free association. Salah satu kontribusi besarnya di bidang psikologi klinis. 

Begitu lulus dari kuliahnya di tahun 1881, Freud tertarik untuk bekerja di laboratoriumnya Ernst Brucke, laboratorium yang sering ia kunjungi juga untuk penelitian bidang kedokteran, saat  masih berkuliah.  

 

Kehidupan Karir 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 61

Sigmund Freud

Tepatnya di tahun 1882, Freud karena masalah keuangan dan nyatanya karir di bidang penelitian (meski itu sesuai minatnya), tidak cukup untuk nge-cover biaya hidupnya, Freud mau gak mau beralih karir ke praktik kedokteran. Ia bekerja di Rumah Sakit Umum, dimana ia memperoleh pengalaman dalam hal bedah, penyakit dalam, psikiatri, dermatologi, dan penyakit saraf. Hingga ia merasa enjoy dengan bidang neurologi. Gegara nyemplung di bidang neurologi inilah, Freud mulai nih, coba-coba membedah efek kokain bagi kestabilan mental. Ia bercerita pada kekasihnya, Martha Bernays kalau ia abis nemuin “obat ajaib” yang ampuh buat mengatasi depresinya. Dari situ deh, Freud mulai kecanduan. Lalu di tahun 1884, ia menerbitkan artikel tentang pengaruh “obat” tersebut. 

 

Ketergantungan Kokain dan Nikotin: Awal Sebuah Teori 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 62

Sigmund Freud

Gegara perkenalannya dengan kokain, sekitar tahun 1884, Freud menjadi tertarik untuk menyelami topik kokain dan fungsinya setelah tahu kalau kokain juga berhasil digunakan di bidang militer untuk meningkatkan energi dan daya tahan prajurit. Freud terus aja tuh ketagihan, dan ia sendiri mikir bahwa obat itu menghilangkan perasaan depresinya dan menyembuhkan gangguan pencernaannya, serta ngebantu dia bekerja. Jadi, gak kerasa tuh adanya efek samping. Tapi, bukan Freud namanya kalau gak mempengaruhi orang lain. Freud ngajak-ngajak temannya, saudaranya, kolega, hingga pasiennya untuk menjajal kokain dan ngerasain efeknya (Jones, 1953). Waktu itu, Freud udah ngerasa kek jadi seorang dokter “sejati”. Berhasil menemukan “obat” buat ngilangin depresi dan bangkitin gairah. 

Selain itu, Freud juga kecanduan nikotin. Di masa dewasanya, ia bisa merokok rata-rata 20 buah sehari! . Di usia yang belum genap 40 tahun, ia sudah menderita gangguan jantung. Dokter sebayanya menyarankan untuk berhenti mengonsumsi kokain, tetapi si Freud ini bandel banget guys. Gia malah makin menjadi-jadi. Sebagai seorang dokter juga, sebenarnya Freud udah aware sama resiko kesehatan yang akan ditanggungnya, tapi yaa gitu deh, doi nggak bisa berhenti. 

 

Berkenalan dengan Ilmu Psikologi – Hypnosis 

Di sekitar tahun 1885, Freud menerima beasiswa ke Paris selama 4 bulan  untuk belajar di bawah bimbingan Jean Martin Charcot. Charcot ini merupakan seorang neurologist asal Perancis yang memiliki reputasi internasional dalam spesialisasi neurologi terutama pada gangguan histeria. Topik yang pada kala itu sempat menarik minat seorang Sigmund Freud. FYI , histeria itu kayak gangguan yang biasanya ditandai dengan kelumpuhan dari fungsi bagian tubuh tertentu. Dari situlah, Freud memulai ketertarikannya pada bidang psikopatologi. Dalam studinya itu, ia mempelajari penggunaan teknik hipnosis. Teknik yang kemudian menyumbang besar pada teorinya kelak. 

Sigmund Freud dan Analisis Mimpinya 63

Hypnosis

Pada pasiennya, biasanya si Freud melakukan teknik hipnosis kepada pasiennya. Tapi setelah bertahun-tahun, ia menilai bahwa teknik ini tidak efektif gitu. Kenapa? Sebab seringkali Freud nemuin pasiennya yang tidak terhipnotis sama sekali saat mereka berbaring di sofa, lalu Freud mengatakan, “Sekarang kamu bisa mengingat permasalahan itu dulu”. Pasiennya ini sebenarnya saat disuruh mengingat pertama kali mereka mengalami gejala tertentu, bukan dalam keadaan tidak sadar, jadi kesannya kek dibuat-buat. Makanya, Freud mencoba untuk cari alternatif teknik lainnya untuk membuat pasiennya menjadi jujur dan luwes dalam menceritakan pengalamannya. Freud mulai menjajal banyak cara, mulai dari memegang kepala pasiennya dan memaksa mereka buat berbicara bebas mengenai apa yang muncul di pikiran mereka. Tapi selanjutnya, ia juga nyadar kalo ia bahkan nggak perlu untuk menyentuh kepala pasiennya untuk  membuat mereka bercerita dengan jujur.  Hingga lahirlah teknik konseling yang terkenal darinya, yang disebut Free Association . Dalam teknik ini, pasien sebenarnya tetap dalam kondisi sadar atau terjaga, yang biasanya Freud hanya perlu menghilang dari hadapan pasien. Biasanya di belakang pasien supaya si pasien merasa sedang sendirian dan dapat menyatakan curhatannya secara jujur dan spontan. Bukannya orang kalo tidak ada yang ngeliat suka jujur nampilin diri sendiri? 

 

Menganalisis Diri Sendiri dan Mimpi 

Oleh karena adanya kompleksitas ketika melakukan proses terapi, Freud mulai menyadari untuk dapat menganalisis secara efektif, ia harus mampu menganalisis dirinya terlebih dahulu. Jadilah di tahun tersebut, Freud menyisihkan waktu untuk mengulik dan menganalisis dirinya sendiri, hal ini juga menjadi reaksi dari kematian ayahnya di tahun 1896. Meskipun kala itu, tidaklah terlalu mengherankan saat ayahnya berpulang karena memang sudah tua dan penyakitan, tapi ini tu kek affected deeply sama kehidupan personal Freud. Kalau dengan pasiennya, biasanya ia menggunakan Free Association, saat menganalisis dirinya sendiri, Freud menggunakan cara yang lebih Advanced  yaitu mulai menganalisis alam bawah sadarnya melalui Analisis mimpi.  Ia saat itu berasumsi bahwa alam bawah sadar manusia adalah tempat dimana kejujuran-kejujuran batin dan pengalaman traumatis itu ditekan. Dan ia melihat mimpi sebagai hal simbolis dari manifestasi pikiran yang dipendam tersebut. Jadi, jika ia dapat menganalisis dengan benar simbol dan arti mimpi tidurnya (gejala histeria), ia dapat mengetahui akar masalahnya. 

Teknik analisis mimpi atau yang dunia kenal dengan istilah Dream Analysis kemudian menjadi cara kedua Freud setelah Free Association  untuk menyadap pikiran alam bawah sadar. Freud beranggapan bahwa teknik ini tu merupakan pintu pembuka buat ngulik alam bawah sadar manusia. Dia bilang, “ The interpretation of dreams is the royal road to knowledge of the unconscious activities of the mind”. Tekniknya tersebut, ia jelaskan dalam sebuah karya ilmiah dengan judul “The Interpretation of Dreams” (1900). Atau dalam bahasa Indonesianya disebut “Tafsir Mimpi”. 

 

Tafsir Mimpi Menurut Pandangan Freud

Selama tidur, kesadaran seseorang kan menurun. Dan ketika terjadi mimpi, apa yang tampak pada mimpi adalah sisi manifestasinya, dan tentang apa sebenarnya mimpi itu adalah sisi latennya. Freud nyimpulin bahwa setiap mimpi adalah pemenuhan keinginan. Mimpi mewakili pemenuhan dari keinginan manusia di alam bawah sadar (yang kata Freud, kebanyakan terkait dengan hal-hal seksual dan kekanakan). Artinya, mimpi itu dapat menjadi ekspresi simbolis dari keinginan yang tidak bisa diungkapkan atau dipuaskan oleh si pemimpi secara langsung di kehidupan nyata, karena mungkin ia cemas? Tapi hal yang tampak simbolis dan diekspresikan dalam mimpi itu cukup samar. Jadi perlu dianalisis dulu mimpinya, untuk mengetahui sebenarnya apa sih keinginan terpendam dari si pemimpi itu. Baru-baru ini, dorongan untuk bermimpi berhubungan dengan hal-hal terkait nafsu atau “appetitive interest” (Solms, 2004). 

Bagi Freud, aktivitas analisis mimpi itu tidaklah mudah. Hanya orang-orang yang mendalami dan paham ilmu psikoanalisis yang dapat melakukannya. Seseorang harus memahami cara kerja mimpi yang menyamarkan keinginan terdalam seseorang  dalam bentuk simbolis. Jadi di dalam mimpi, ketika seseorang ingin ngelakuin sesuatu, biasanya buka kayak gitu yang ada di mimpi, bukan ia sedang ngelakuin sesuatunya, tetapi lebih kepada adanya simbol-simbol yang ada di mimpi itu. Simbol-simbol yang merepresentasikan aktivitas aslinya. Biar lo lebih jelas, gue udah nulisin  ilustrasi analisis mimpi ala Freud di artikel ini , lo simak percakapan Freud dengan Jung …

 

Bagaimana Ilmu Neurosains Sekarang Memandang Fenomena Mimpi? 

Dalam sudut pandang ilmu neurosains, fenomena “bermimpi” adalah apa yang terjadi ketika otak aktif namun terputus dari rangsangan eksternal dan tanpa adanya refleksi diri. Aktivitas bermimpi erat kaitannya dengan skema memori seseorang, pengetahuan umum, dan informasi episodik yang menghasilkan simulasi dunia (Domhoff, 2003). 

Anyway, gue terlebih dahulu akan ngejelasin apa itu “aktivitas bermimpi”. Kata Desseilles (2011), bermimpi dapat didefinisikan sebagai keadaan mental yang terjadi selama tidur. Mimpi ini biasanya diisi dengan peristiwa-peristiwa yang fiktif dan terorganisir seperti rangkaian cerita yang menghadirkan pengalaman sensorik, persepsi, hingga emosional secara internal. Pada tahun 1975, interpretasi mimpi dipandang dapat memprediksi masa depan. Mundur lagi di tahun 1700-an, mimpi dipandang dapat mencerminkan kesehatan mental seseorang. 

Tapi nih, ketika kebanyakan orang ngerasa kalo mimpi itu memiliki makna atau arti khusus dengan tujuan yang bakalan berguna buat kita, ilmu sains justru skeptis, alih-alih menganggap hal yang sama, sebagian ilmuwan justru menganggap bahwa mimpi itu merupakan sebuah produk dari evolusi yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Artinya, ya have no meaning. Bahwa sebenarnya, mimpi itu semacam potongan-potongan kenangan yang kita miliki dan dirangkai bersama. Kenangan ini bisa jadi hal-hal yang terlalu memorable bagi kita atau hal-hal yang sering kali kita pikirkan. 

Teori yang lebih baru menyebutkan bahwa aktivitas bermimpi dapat menjadi aktivitas yang adaptif yang terkait dengan regulasi emosi, pembelajaran, dan memori. Aktivitas bermimpi mengaktifkan kembali pengalaman individu yang relevan dan terjadi selama ia bangun dan sadar. Jadi kek terulang lagi ke alam mimpi lo (Cipolli et al 2004; Schwartz 2010). Sebenarnya nih, otak tetap aktif loh, ketika lo sedang bermimpi. Dan bahkan bermimpi ini memiliki tujuan yang berkaitan dengan evolusi, yang sebenarnya juga dirasakan oleh mamalia selain manusia. Ini memungkinkan kita buat bersiap-siap untuk mengatasi situasi mengancam dan lebih siap menghadapinya ketika sudah bangun di kehidupan nyata. 

Mimpi juga berkaitan dengan pemrosesan emosi, loh guys. Beberapa bagian di otak memproses memori dan emosi visual yang kemudian berhubungan dengan aktivitas bermimpi. Sebuah studi yang dilakukan di Sleep and Neuroimaging Laboratory di Universitas Berkeley menunjukkan bahwa selama tidur, sistem limbik di otak (yang berkaitan dengan emosi dan rasa takut) memblokir emosi negatif seperti ketakutan dan kemarahan. Jadi, mungkin aktivitas bermimpi itu terkait dengan keadaan emosional. Di sisi lain, mereka yang kurang tidur, ketika dites REM (memiliki lebih sedikit aktivitas bermimpi) akan lebih sulit memproses emosi mereka sendiri di jam bangunnya. 

 

Penutup 

Well, guys. Meski teorinya Freud ini banyak menerima kritik dan kerap dipertanyakan segi “saintifik” nya, nyatanya, ilmuwan besar psikologi ini telah menyumbang gagasan besar bagi ranah psikologi. Teori-teorinya yang berakar dari unconsciousness (ketidaksadaran) menjadi titik mula bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Seperti penelitian tentang “mimpi” menggunakan metode REM (Rapid Eye Movement) di tahun 1950-an. 

Selain itu, kalo lo ingat Free Association , teori yang ditemukan oleh Freud di atas, itu sampai sekarang, FYI, banyak juga dipakai di bidang psikologi klinis atau konseling. Inilah mengapa Freud, meskipun teorinya hari ini dikritik oleh banyak pihak, tetap dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

 

——————————————————————————————————-

Referensi: 

 

Feist, J., Feist, G J., Roberts, TA. (2018). Theories of Personality. McGrawHill Education 

 

Hergenhahn, B.R., Henley, T. B. (2014). An Introduction to the History of Psychology. Wadsworth Cengage Learning

 

Kenny, D. T. (2018). Freud, Sigmund. Encyclopedia of Personality and Individual Differences, 1–8. doi:10.1007/978-3-319-28099-8_1707-1 

 

Molnar, M. (1996). Sigmund Freud (1856–1939): Life and Work. Journal of Medical Biography, 4(4), 236–243. doi:10.1177/096777209600400409 

https://www.sigmundfreud.net/

 

Mutz, J., Javadi, A. H. Exploring the Neural Correlates of Dream Phenomenology and Altered States of Consciousness During Sleep. Neuroscience of Consciousness, Volume 2017, Issue 1, 2017, nix009, https://doi.org/10.1093/nc/nix009

 

Nir, Y., Tononi, G. Dreaming and The Brain : From Phenomenology to Neurophysiology. 

 

https://choosemuse.com/blog/the-science-of-dreams-what-happens-in-the-brain-when-we-dream/

 

https://greatergood.berkeley.edu/article/item/why_your_brain_needs_to_dream

 


Temukan beragam biografi tokoh yang berpengaruh di sini : 

Carl Gustav Jung: Arti Introvert dan Ekstrovert Menurut Pencetus Aslinya 

John Dewey: Memupuk Semangat Merdeka Belajar dari Kisah Bapak Filsafat Pendidikan

 

Bagikan artikel ini: