pernikahan dini

Langsung Nikah Setelah Lulus Sekolah, Aman kan?

Mungkin bisa diasumsikan rata-rata pembaca Blog Zenius belum memasuki usia dua puluh. Masih sibuk dengan dunia sekolah, berkutat sama soal-soal, atau ada yang baru aja melewati masa deg-degan nungguin hasil UTBK. Kalau gak mikirin sekolah, ya mikirin gimana kehidupan kuliah nanti. Terus waktu baca judul tulisan ini, kok jadi ngomongin nikah? Kecepetan gak sih bahas begituan? 

Gak salah sih di usia remaja kayak sekarang, kamu menganggap masih prematur banget buat ngobrolin nikah. Mungkin masih banyak cita-cita yang ingin kamu dahulukan ketimbang berumah tangga. Tapi, kalau cek realitanya, ternyata ada banyak pasangan menikah dari kalangan remaja, bahkan anak-anak.

Beberapa minggu belakangan, isu pernikahan dini lagi ramai dibahas nih. Publik berbondong-bondong memprotes tayangan di televisi nasional yang dianggap mempromosikan perkawinan anak. Tapi, kalau melihat data sepanjang tahun kemarin, polemik pernikahan dini udah mencuat sejak lama lantaran jumlahnya naik drastis selama pandemi COVID-19.

Mengutip dari katadata.id, ada 34.000 permohonan dispensasi kawin yang diajukan ke Pengadilan Agama selama Januari – Juni 2020, 97%-nya dikabulkan pengadilan. Angka ini meningkat dari tahun 2019 yaitu sebanyak 23.700 perkara dispensasi kawin.

dispensasi pernikahan dini

Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah serta merta mengubah pola hidup masyarakat. Kebijakan pemerintah mengatur adanya penurunan aktivitas masyarakat untuk menghindari kontak langsung. Peralihan aktivitas ke sistem online gak hanya untuk perkantoran aja. Kegiatan sekolah juga diubah menjadi sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kesiapan pelaksanaannya belum bisa dibilang seratus persen. Sekolah, anak didik, dan juga keluarga masih beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Kajian dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI pada Februari 2021 menyebut alasan maraknya pernikahan dini semenjak pandemi, tidak jauh berbeda dengan penyebabnya pada kondisi normal.

Praktik menikahkan anak kebanyakan didorong faktor ekonomi dan pendidikan. Penutupan sekolah ketika situasi ekonomi memburuk memaksa orangtua menikahkan anak-anaknya. 

“Anak yang tidak sekolah dianggap menjadi beban ketika dikombinasikan dengan penurunan penghasilan keluarga. Oleh karena itu, orang tua menikahkan anaknya dengan tujuan memindahkan beban tersebut kepada orang lain.” – Puslit Badan Keahlian DPR RI

Terus, jadi muncul pertanyaan-pertanyaan kayak: “Nikah muda emang gak apa-apa, ya?”, “Emang bisa anak umur 15 tahun nikah?”, dan sebagainya. Ada banyak juga yang berpandangan pernikahan dini itu gak masalah karena banyak orang jaman dahulu juga begitu. Tapi, hanya karena suatu kebiasaan banyak dilakukan oleh orang jaman dahulu, bukan berarti lantas baik atau relevan untuk hari ini. Contoh jaman dulu perempuan gak boleh sekolah, apakah berarti sekarang perempuan gak apa-apa dilarang sekolah? 

Lantas gimana menyikapi isu pernikahan dini? Gimana menurut sains? Kita bahas satu per satu ya.

Memangnya anak-anak boleh nikah?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, penting banget untuk memahami batas usia minimal untuk menikah yang sah secara hukum. Undang-undang Perkawinan No. 16 tahun 2019 mengatur syarat pria dan wanita harus mencapai usia 19 tahun untuk menikah. Di bawah batasan usia itu, kedua calon mempelai tergolong masih anak-anak.

Kalau memang ada alasan mendesak, pengadilan bisa memberikan dispensasi izin menikah bagi keduanya, tapi pernikahannya tergolong pernikahan dini atau di bawah umur. Dispensasi harus dibarengi bukti dari saksi-saksi sebelum izin menikah disahkan. Penyertaan bukti dan saksi ini untuk memastikan gak ada unsur pemaksaan atau eksploitasi.

Nah, kalau ada pertanyaan “emang gak apa-apa ya anak-anak nikah?”, kira-kira apa jawabannya? Well, pertanyaan kayak gini gak bisa kita jawab sebatas dengan penalaran ilmiah atau scientific reasoning aja. Playlist video-video ZenXplore di aplikasi Zenius udah beberapa kali mengulas topik penalaran saintifik, salah satunya bertajuk Mispersepsi Sains. Kemasan video animasi yang menarik dengan durasi super ringkas bikin topik bahasannya mudah banget kamu cerna. Buat nonton, cukup login via akun Google, Twitter, dan Facebook milikmu.

Pada dasarnya, sains hanya membaca realita yang ada. Sains berurusan sama fakta, apa yang sesungguhnya terjadi, bukan bicara ideal atau tidaknya sesuatu. Sehingga pertanyaan-pertanyaan ranah sains berkutat pada “Apa sih yang ada di kenyataan?”, “Bagaimana A bisa berakibat pada B?”, dan “Apakah suatu klaim benar terbukti sesuai fakta?”.

pertanyaan ranah sains

Apakah sesuatu boleh atau tidak berada di luar ranah sains. Misalnya buat memutuskan baik gak sih suatu tindakan, peran sains bukan memberi nasihat. Tapi, sains bukan sama sekali gak bisa terlibat buat menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Lebih tepatnya, sains bisa membantu ngasih fakta-fakta buat mendukung tiap keputusan baik atau buruk. Itu poin pertama.

Poin kedua, harus ada tujuan yang ingin kamu capai. Tentuin dulu tujuanmu, baru realita yang udah diungkap sains bisa kamu arahin sesuai tujuanmu itu.

Kita ambil contoh paling gampang ya. Kamu pengen jajan kuliner yang lagi ngetren nih, yang kekinian banget, brown sugar milk tea misalnya. Tapi di sisi lain, kamu mau jaga kesehatan juga. Nah, misal kamu mau mencari tahu boleh gak sih minum boba? Kalau kita bedah resepnya, minuman boba terbuat dari tepung tapioka, gula merah, fresh milk, dan teh. Gak ada satu pun senyawa toksik yang membahayakan kesehatan. Berarti aman-aman aja kan untuk dikonsumsi?

Tapi gimana dengan penderita diabetes? Menurut penelitian, varian boba drink dengan topping tapioka punya kadar gula lebih tinggi dari minuman soda kaleng. Dalam secangkir boba, ada campuran 18,5 sendok teh gula. Sedangkan, batas konsumsi gula supaya gula darah pengidap diabetes tetap stabil adalah maksimal 6 sendok teh atau sekitar 25 gram per hari.

Dari contoh kasus sederhana ini, kita bisa menarik kesimpulan kalau baik buat satu orang, belum tentu baik juga buat orang lainnya. Dari fakta-fakta yang udah teruji kebenarannya, kamu bisa memilih sendiri apa yang sesuai buat kamu.

Terus gimana soal pernikahan dini? Nah, dalam pernikahan akan ada aktivitas seksual dari pasangan suami-istri. Sains bisa dipakai untuk mengetahui dampak hubungan seks saat sistem reproduksi belum matang. Sebelumnya, Zenius sempat ngobrol dengan dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, dokter spesialis kandungan. Jadi fokus pembahasan tulisan ini akan mengerucut ke dampak hubungan seks bagi anak perempuan.

Antara pernikahan dini dan kesiapan sistem reproduksi

Secara biologis, sistem reproduksi perempuan baru mencapai kematangan saat berusia 18 tahun. Di bawah usia 18 tahun, sistem reproduksi masih berkembang. Dunia kedokteran menggolongkan perempuan di bawah usia 18 tahun sebagai anak-anak. Jadi kalau ada cewek umur 17 tahun sakit, dia masih dirujuk ke dokter spesialis anak.

Memangnya apa efek hubungan seks dini ke organ reproduksi perempuan? Ada setidaknya dua hal yang penting buat kamu tahu.

  • Sel-sel di organ reproduksi yang masih muda rentan terkena infeksi

Saat proses maturasi sel, serangan infeksi bisa jadi sulit dilawan. Selain karena organ reproduksi belum berfungsi sempurna, daya tahan tubuh usia anak-anak juga masih rendah. Risiko penularan penyakit seksual menjadi sangat besar. Penularan penyakit seksual ini bisa dilihat dalam jangka pendek, seperti pada penyakit kondiloma akuminata atau kutil kelamin, keputihan berulang, dan infeksi jamur.

Gimana dengan efek jangka panjangnya? Dalam pelajaran Biologi, kita udah belajar bahwa ada proses pembuahan setelah aktivitas seksual terjadi. Dalam proses itu, sel sperma harus bertemu dengan sel telur. Karena sel telur tersimpan di ovarium yang berada di sisi kanan dan kiri rahim, butuh tempat pertemuan yang sejalur sama pergerakan sperma.

Dari jutaan sel telur, cuma satu sampai dua yang matang dan kemudian dilepaskan dari ovarium. Pelepasan sel telur ini dinamakan ovulasi. Sel telur kemudian bergerak ke tuba falopii dan bertemu dengan sel sperma. Nah, sebelumnya sampai ke sana, sperma ngelewatin mulut rahim (serviks) dulu. Saat tahapan ini lah paparan virus sangat mudah terjadi.

Semisal sperma udah terinfeksi virus Human papillomavirus (HPV), apa yang terjadi? Sel-sel di mulut rahim yang masih berkembang pada anak akan sangat mudah ikut terpapar virus. Risikonya lebih tinggi ketimbang pada wanita dewasa.

organ penyusun sistem reproduksi pada wanita
Organ-organ penyusun sistem reproduksi pada wanita (sumber gambar: ncbi.nlm.nih.gov)

Dampaknya memang gak langsung terasa. Mungkin gejala baru muncul beberapa tahun kemudian. Pemaparan virus HPV mulanya akan membawa sel-sel normal di serviks ke kondisi displasia, di mana sel normal berubah menjadi tidak normal. Perubahan terjadi secara bertahap hingga muncul sel kanker di daerah serviks. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan penyakit kanker serviks, penyebab kematian nomor dua wanita Indonesia setelah kanker payudara.

  • Risiko kehamilan

Tadi udah dibahas soal hubungan seks dini. Gimana dengan kehamilan dini? Contoh, seorang anak bisa survive hamil 9 bulan. Penanganan akan lebih intensif saat melahirkan nanti. Untuk bisa melahirkan normal, tulang panggul harus mencapai 10 centimeter. Ukuran panggul yang kurang dari 10 cm akan mempersulit janin untuk keluar dari kandungan ibunya.

Anak-anak di bawah 18 tahun hampir mustahil punya ukuran panggul sesuai syarat persalinan normal. Panggulnya belum cukup kuat untuk dilewati bayi. Kemungkinan menjalani operasi caesar meningkat. Kalau dipaksa melahirkan normal, apa efeknya? Bisa terjadi retak atau patah tulang panggul.

Karena di bagian tengah tubuh, ada sekat yang memisahkan tulang panggul kanan dan kiri. Kalau ada peregangan berlebih yang terjadi saat persalinan normal, tulang panggul akan patah dan terpisah. Untuk beberapa saat, sang ibu tidak akan mampu berjalan usai melahirkan. Pada kehamilan kedua, misal saat dia dewasa nanti, dokter akan melarangnya melahirkan secara normal.

Jabaran dua hal tadi baru dari segi kesehatan fisik aja. Di bidang kesehatan mental, peneliti juga mengamati soal pernikahan dini. Dalam jurnal Pediatrics terbitan 2011 seperti dikutip Huffington Post, periset menemukan bahwa anak perempuan di bawah 18 tahun yang menikah lebih berisiko mengalami gangguan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan Bipolar Disorder.

Dari temuan itu, peneliti menemukan pernikahan dini sebagai sumber utama trauma psikologis. Persoalan pernikahan dini juga terbuka untuk perspektif dari aspek lain, seperti kondisi keuangan, agama, adat, juga preferensi moral. Pertanyaan “Boleh gak sih menikah dini?” bisa dijawab dengan merefleksi ke diri masing-masing.

Baca Juga:

Sistem Reproduksi Wanita dan Gangguannya

Sistem Reproduksi Pria dan Gangguannya

Ketahui Penyebab dan Cegah Kanker Serviks Sedari Dini