Ini Alasannya Ilmuwan Nggak Percaya Zodiak – Serba-serbi Zodiak

percaya zodiak

Sobat Zenius percaya zodiak dan ramalannya nggak? Menurut elo, ramalan zodiak itu akurat nggak sih?

Menurut elo, ramalan zodiak itu akurat atau nggak?

View Results

Loading ... Loading ...

Kalau elo udah baca artikel Zenius tentang astronomi dan astrologi, elo pasti udah paham kalau banyak ilmuwan yang mengkritik bahkan sampai menolak astrologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.

Soalnya, astrologi kan ilmu yang mengaitkan fenomena benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang dengan nasib seseorang. Nah menurut para ilmuwan ini, fenomena benda-benda langit nggak ada hubungannya dengan nasib seseorang.

Contohnya nih, apakah kalau elo keluar rumah di malam hari saat bulan nggak kelihatan bakalan kena sial? Belum tentu, kan?

Alasan seperti ini yang bikin banyak ilmuwan menolak astrologi dan nggak percaya zodiak. 

Tapi tunggu dulu, ilmuwan-ilmuwan ini nggak asal menolak lho. Mereka melakukan serangkaian penelitian untuk mendukung penolakan ini.

Baca Juga: Ramalan Astrologi : Beneran Atau Omong Kosong Doang?

Penemuan Zodiak Ke-13 oleh NASA

Beribu-ribu tahun sebelum teleskop ditemukan oleh Galileo Galilei, bangsa Babilonia udah mengamati pergerakan benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. 

Salah satu objek pengamatan favorit bangsa ini adalah bintang. Para pengamat bintang atau sekarang disebut ahli astrologi ini seneng banget bikin berbagai garis yang menghubungkan bintang-bintang di langit jadi berbagai bentuk, entah itu benda, binatang, bahkan manusia. Kalau sekarang kita menyebut bentuk-bentuk bintang itu konstelasi atau rasi bintang.

Lalu, apa yang salah dengan rasi bintang hasil pengamatan bangsa Babilonia?

Masalahnya dimulai ketika bangsa Babilonia membuat zodiak berdasarkan rasi bintang ini. Zodiak yang diciptakan oleh bangsa Babilonia ini disusun berdasarkan rasi bintang mana yang dilewati matahari. Setelah diamati, ternyata ada tiga belas rasi bintang yang dilewati matahari dalam setahun.

Diagram rasi bintang zodiak ciptaan bangsa Babilonia
Diagram rasi bintang zodiak ciptaan bangsa Babilonia (Arsip Zenius, dok. Tumblr NASA)

Bangsa Babilonia pengen tuh, memberikan satu simbol rasi bintang untuk setiap bulan yang ada di kalender mereka. Masalahnya, di kalender Babilonia cuma ada 12 bulan. 

Rasi bintang yang ditemukan kelebihan satu, dong? Yaa… terpaksa deh. Bangsa Babilonia memutuskan untuk mengabaikan salah satu rasi bintang yang ada, yaitu rasi bintang Ophiuchus. Makanya, zodiak yang kita kenal sekarang cuma punya dua belas rasi bintang.

Fast forward, tiga ribu tahun setelah terciptanya zodiak oleh bangsa Babilonia. Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) penasaran, apakah benar zodiak ciptaan Babilonia cuma punya 12 rasi bintang? Supaya nggak penasaran, para ilmuwan NASA melakukan berbagai macam pengamatan dan perhitungan astronomi..

Ternyata setelah dihitung dan diamati, posisi langit berdasarkan perhitungan bangsa Babilonia nggak akurat. Soalnya, sumbu bumi itu sebenarnya nggak tegak lurus, tapi miring 23,5 derajat. Jadinya, posisi langit seharusnya bergeser sebanyak 23,5 derajat dari perhitungan bangsa Babilonia.

Nggak cuma itu, para ilmuwan NASA juga menemukan kalau setiap rasi bintang memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan matahari untuk melewati masing-masing rasi bintang juga berbeda. 

Contohnya, matahari butuh waktu selama 45 hari untuk melewati rasi bintang Virgo. Tapi, untuk melewati rasi bintang Scorpius cuma butuh waktu selama 7 hari. Perbedaannya jauh banget ya?

Dari pengamatan dan perhitungan ini, NASA berkesimpulan kalau bangsa Babilonia mengabaikan fakta kalau matahari beneran bergerak melalui tiga belas rasi bintang, bukan dua belas. NASA juga bikin kesimpulan kalau perhitungan zodiak ala Babilonia ini cuma cocoklogi doang dengan langsung membagi dua belas rasi bintang sesuai dengan jumlah hari yang ada dalam setahun.

Penemuan NASA ini sempat bikin heboh netizen di internet, lho. Beberapa media bahkan membuat berita kalau NASA mengganti susunan zodiak yang sudah ada sejak ribuan tahun.

Buat meluruskan berita ini, NASA merilis pernyataan di akun Tumblr mereka kalau mereka cuma bikin perhitungan saja. Pernyataan ini sekaligus menjadi bukti kalau para ilmuwan nggak percaya zodiak.

We didn’t change any zodiac signs … We just did the math. – NASA

Ilmuwan-ilmuwan NASA gaul juga ya, sampai punya akun Tumblr.

Baca Juga: Galaksi Kita Bima Sakti Nggak Sendiri, Ini Bukti Menurut Edwin Hubble

Tesis Carl Jung, Antara Siklus Bulan dan Menstruasi

Selain para ilmuwan NASA, salah satu tokoh psikologi modern Carl Gustav Jung juga menolak teori-teori astrologi. FYI, Carl Jung ini adalah ahli psikologi yang memperkenalkan konsep kepribadian introvert dan ekstrovert. 

percaya zodiak
Carl Gustav Jung, salah satu tokoh psikologi modern
(Dok. Wikimedia Commons)

Para ahli psikologi pada masa Carl Jung sebenarnya masih menggunakan teori-teori astrologi yang mengaitkan rasi bintang atau zodiak dengan perilaku manusia kok. Bahkan ahli psikologi dan dokter saat itu mengaitkan siklus menstruasi perempuan dengan siklus peredaran bulan. Mungkin dari sini kali ya, munculnya istilah “datang bulan”?

Tapi suatu hari Carl Jung yang saat itu masih jadi muridnya Sigmund Freud aka bapak psikoanalisis modern membaca teori Einstein tentang relativitas.

Berdasarkan teori relativitas Einstein, Carl Jung mulai mempertimbangkan kaitan antara perilaku manusia dengan relativitas waktu, ruang, dan persyaratan psikisnya. Terinspirasi dari Einstein, Carl Jung mulai menulis tesisnya sendiri tentang sinkronisitas psikis. 

Carl Jung mencontohkan temuannya ini dengan menjelaskan bahwa siklus menstruasi perempuan tidak disebabkan oleh siklus bulan. Kita sebagai manusia hanya mengaitkan apa yang terjadi pada diri kita dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Salah satunya adalah mengaitkan pergerakan benda-benda langit dengan kejadian-kejadian yang saat itu sulit dipahami oleh manusia.

Pada dasarnya, menurut Carl Jung jiwa kita sebagai manusia adalah sistem yang mengatur diri sendiri, sama halnya dengan sistem organ tubuh manusia. Secara sadar atau tidak, jiwa kita mencari penjelasan terhadap apa yang kita alami dengan alasan yang dapat diterima oleh nalar. 

Makanya, banyak teori-teori astrologi yang awalnya dipercaya, setelah diteliti lebih lanjut ternyata memiliki penjelasan yang lebih masuk akal dan dapat dibuktikan.

Tapi kok sampai sekarang masih ada yang percaya zodiak, ya? Kalau menurut teori psikologi, ini namanya barnum effect. Apa sih barnum effect itu? Cari tahu penjelasan lengkapnya dengan baca artikel ini, ya!

Jangan lupa, elo juga bisa baca berbagai penjelasan mengenai astrologi, zodiak, sampai sejarahnya dengan membaca artikel-artikel series Serba-serbi Zodiak di bawah ini.

Serba-serbi Zodiak:

Bagian 1: Apa Itu Zodiak? Sejarah dari Masa ke Masa

Bagian 2: Astronomi dan Astrologi, Serupa Tapi Tak Sama

Bagian 3: Ini Alasannya Ilmuwan Nggak Percaya Zodiak

Bagian 4: Elo Percaya Ramalan Zodiak? Kena Barnum Effect, Nih!

Referensi:

  • Is Astrology Real? Here’s What Science Says – Scientific American (2020)
  • Constellations and the Calendar – Akun Resmi Tumblr NASA (2016)
  • Debunking Astrology as A Pseudoscience – The Concordian (2019)
Bagikan Artikel Ini!