Model Pembelajaran STAD – Zenius untuk Guru

Model Pembelajaran STAD menggunakan kelompok beranggotakan 4-5 orang.

Bapak dan Ibu Guru pasti pernah mengalami asyiknya mengerjakan tugas di dalam kelompok. Mulai dari excitement menemukan teman kelompok, menyelesaikan tugas bersama, hingga menampilkan hasil kerja sama kelompok, membuat mengerjakan tugas jadi lebih asyik.

Antusiasme yang sama tentunya juga akan dirasakan oleh peserta didik Bapak dan Ibu Guru semua ketika model pembelajaran kooperatif, yang menempatkan mereka dalam kelompok-kelompok kecil diterapkan di kelas.

Empat orang tergabung dalam satu kelompok dalam penerapan metode pembelajaran STAD.
Ilustrasi belajar dalam kelompok dalam penerapan metode pembelajaran STAD. (Arsip Zenius)

Tapi, adanya perbedaan atau heterogenitas tingkat kemampuan akademik siswa di dalam kelompok dapat menghambat proses pembelajaran mereka tidak ya? 

Penelitian membuktikan, bahwa mengerjakan tugas di dalam kelompok kecil dengan heterogenitas kemampuan akademik justru dapat meningkatkan motivasi dan pencapaian belajar siswa, lho. 

Yiping Lou (2013)

Nah, model pembelajaran yang menerapkan sistem pengelompokan siswa seperti itu kita kenal juga dengan sebutan STAD. STAD merupakan singkatan dari Student Teams Achievement Division, dalam bahasa Indonesia berarti divisi prestasi tim siswa.

Model pembelajaran STAD ini juga cocok digunakan baik oleh pendidik yang sudah berpengalaman tinggi maupun yang masih pemula. Karena, model pembelajaran ini merupakan model yang sangat sederhana untuk menerapkan pendekatan kooperatif.

Apa itu model pembelajaran STAD, bagaimana langkah-langkah penerapannya, alasan mengapa model tersebut layak diterapkan, dan kekurangan dan kelebihannya akan disampaikan dalam artikel ini. 

Oleh karena itu, untuk mengenal lebih lanjut tentang model pembelajaran STAD, kita simak bersama penjelasannya sampai selesai, yuk!

Apa itu Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD?

Kepanjangan dari STAD adalah Student Teams Achievement Division
Ilustrasi Kepanjangan dari STAD. (Arsip Zenius)

Melansir laporan dari Robert E. Slavin (1978), model pembelajaran STAD ini dirancang oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya di Universitas John Hopkins. 

Model pembelajaran STAD adalah strategi pembelajaran kooperatif dimana siswa dengan tidak hanya perbedaan gender dan etnis, namun juga perbedaan tingkat kemampuan akademik dikelompokan dalam satu kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang (Slavin, 1980). 

Dalam kelompok kecil tersebut, setiap siswa diharapkan bisa saling bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ada. 

Model ini pun menjadi salah satu cara untuk memacu penguasaan materi yang memanfaatkan adanya semangat saling mendukung dan membantu diantara anggota kelompok yang dibentuk.

Nah, begitu lah kurang lebih pengertian STAD dari Slavin. Selain Slavin, banyak juga yang sudah mencoba mendefinisikan STAD menggunakan pembahasaan yang berbeda-beda. Namun, pengertian model pembelajaran STAD menurut para ahli lain kurang lebih sama dengan milik Slavin.

Baca Juga: Pendidikan Inklusif di Indonesia – Zenius untuk Guru

Kenapa Model Pembelajaran STAD Layak untuk Dipilih

Sebenarnya, ada beberapa model pembelajaran kooperatif lain selain STAD yang Bapak dan Ibu Guru dapat temukan, seperti Team Game Tournament (TGT), Jigsaw, dan Group Investigation (GI). Lalu, kenapa STAD dapat menjadi pilihan yang layak untuk diterapkan?

Menurut Robert Slavin, metode pembelajaran STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Ilustrasi ungkapan Robert Slavin mengenai metode pembelajaran STAD. (Arsip Zenius)

Alasan yang pertama adalah seperti yang disampaikan oleh Slavin pada ilustrasi di atas,  model pembelajaran STAD merupakan pilihan yang tepat bagi Bapak dan Ibu Guru yang belum terlalu berpengalaman dengan pendekatan kooperatif karena model ini sangat sederhana. 

Kesederhanaannya dapat Bapak dan Ibu Guru lihat dari langkah-langkah penerapannya yang tidak terlalu banyak. 

Alasan yang ke dua adalah adanya manfaat-manfaat dari penerapan model pembelajaran STAD dan kerja kelompok terhadap keberhasilan siswa, seperti pada gambar di bawah ini.

5 manfaat penerapan metode pembelajaran STAD.
Ilustrasi manfaat penerapan metode pembelajaran STAD. (Arsip Zenius)

Kok, bisa ya penerapan model pembelajaran STAD memberikan manfaat-manfaat di atas pada siswa? 

Ternyata, menurut menurut laporan dari Phys.org (2014), sudah ada eksperimen yang dapat menjelaskan hal tersebut, lho. Eksperimen tersebut dilakukan oleh seorang asisten profesor psikologi di Stanford, Gregory Walton dan rekannya Priyanka Carr.

Mereka berdua menemukan, bahwa memberikan rasa atau isyarat bahwa seseorang sedang bekerja sama dengan orang lain dapat meningkatkan motivasi intrinsik seseorang untuk mengerjakan suatu hal.

Dengan tingginya motivasi intrinsik tersebut, siswa pun jadi lebih bersemangat ketika mengerjakan tugas dan tidak mudah kelelahan walaupun tugasnya menantang.

Seperti yang saya pernah disampaikan dalam artikel yang berjudul 4 Langkah Menuju Sukses dalam Pendidikan dan Masa Depan, motivasi intrinsik ini sangat penting dalam pembelajaran karena siswa jadi memiliki minat belajar atau kemauan sendiri untuk berusaha dan tidak perlu ada paksaan dari guru, teman, maupun orang tua. 

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran STAD dapat menjadi pilihan yang tepat untuk Bapak dan Ibu Guru sekalian. 

Baca Juga: Pentingnya Mengetahui Minat Belajar Siswa – Zenius untuk Guru

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran STAD

Seperti metode pembelajaran pada umumnya, penerapan metode pembelajaran STAD juga memiliki kelebihan dan kelemahan.

Berikut ini adalah kelebihan dan kelemahan model pembelajaran STAD dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ninada Wahyu (2019). Data yang didapatkan dalam penelitian tersebut diambil dari interview dengan guru yang sudah berpengalaman dalam penerapan model ini dalam pengajaran pemahaman bacaan. 

KelebihanKelemahan
Memacu kreatifitas siswa dengan adanya kesempatan untuk bertukar ide dengan siswa lainnya.Meningkatkan pemahaman siswa dengan adanya proses diskusi dalam kelompok.Mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.Situasi dapat menjadi tidak kondusif jika siswa mulai membicarakan hal lain di luar pelajaran.Kurangnya keaslian jawaban siswa karena memilih untuk hanya meniru temannya.
Dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan STAD, guru dapat menyesuaikan perencanaan manajemen kelas mereka.
5 manfaat penerapan metode pembelajaran STAD.

Baca Juga: Mengelola dan Manajemen Kelas – Zenius untuk Guru

Langkah-Langkah Model Pembelajaran STAD

Sebelum kita membahas tentang langkah-langkah penerapan metode pembelajaran ini, ada baiknya jika Bapak dan Ibu Guru mengenal 5 komponen utama yang menjadi karakteristik model pembelajaran STAD di bawah ini.

5 komponen utama penerapan metode pembelajaran STAD.
Ilustrasi 5 komponen utama metode pembelajaran STAD. (Arsip Zenius)


Model pembelajaran STAD adalah model pembelajaran yang menggunakan beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 siswa untuk memastikan bahwa setiap siswa menguasai materi yang diberikan. 

Oleh karena itu, lima komponen di atas akan sangat dibutuhkan dalam langkah-langkah penerapan metode pembelajaran ini. 

Supaya Bapak dan Ibu Guru dapat mendapatkan gambaran tentang bagaimana lima komponen itu akan digunakan, mari kita tengok langkah-langkah penerapan metode pembelajaran STAD di bawah ini 

6 langkah penerapan metode pembelajaran STAD menurut Robert Slavin.
Ilustrasi langkah-langkah penerapan metode pembelajaran STAD. (Arsip Zenius)

Selanjutnya, berikut ini rincian kegiatan yang perlu dilakukan oleh Bapak dan Ibu Guru dalam setiap langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar.

No.LangkahKegiatan/Perilaku Guru
1.Menyampaikan Tujuan Pembelajaran dan MotivasiPada langkah pertama ini, guru dapat menyampaikan tujuan yang ingin dicapai pada akhir pembelajaran dan juga memberikan motivasi kepada siswa supaya semangat dalam belajar.
2.Menyampaikan MateriGuru memberikan penjelasan terkait materi yang dibahas pada sesi pembelajaran. 
3.Membentuk KelompokGuru memberikan arahan kepada siswa untuk membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5 orang yang memiliki sifat heterogenitas.
4.Membimbing kelompok dalam belajar dan bekerjaPada langkah ini, guru membimbing kelompok secara bergantian untuk memastikan setiap kelompok dapat bekerja sama dengan baik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.Pada langkah ini juga, guru mengimplementasikan dua komponen utama di kelas, yaitu kerja tim dan rekognisi tim.
5.EvaluasiEvaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan komponen presentasi kelas yang dilanjutkan dengan kuis atau tes. Komponen presentasi kelas dilakukan bersama dengan teman sekelompok masing-masing. Sedangkan, komponen kuis dilakukan setelah presentasi selesai dan dikerjakan secara individu.Nilai dari kuis individual kemudian akan direkap untuk melihat progres nilai per individunya dan juga untuk dijumlah dan di rata-rata sebagai nilai kelompok.
6.Memberikan Apresiasi atau RewardTerakhir, guru dapat memberikan penghargaan bagi kelompok yang hasil penilaiannya menunjukan peningkatan dan juga untuk seluruh kelompok atas keaktifannya selama bekerja kelompok.Pada langkah ini, guru menerapkan komponen rekognisi tim.

Untuk meningkatkan tingkat keberhasilan penerapan metode pembelajaran STAD ini, Bapak dan Ibu Guru juga dapat menerapkan tips yang diambil dari penelitian yang dilakukan oleh Arifah, seorang guru SMK di Bogor, Jawa Barat pada tahun 2018 di bawah ini.

1. Memberikan penjelasan terkait langkah-langkah kooperatif yang akan diterapkan dalam pembelajaran pada siswa.

2. Memberikan dorongan pada siswa untuk berkontribusi dalam diskusi kelompok dan kelas.

3. Menyampaikan materi pelajaran dengan runtut dan tidak tergesa-gesa.

4. Memastikan alokasi waktu pengerjaan kuis atau tes individual cukup

Demikianlah informasi terkait metode pembelajaran STAD yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini.

Setelah membaca artikel ini, saya yakin Bapak dan Ibu Guru sudah memiliki gambaran tentang apa yang harus dipersiapkan dan yang harus dilakukan dalam penerapannya.

Bapak dan Ibu guru penyampaian materi turut menjadi penentu keberhasilan pembelajaran STAD, maka penyusunan materi bahan ajar perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Nah, untuk menghemat waktu dan mempermudah proses penyusunan materinya, Bapak dan Ibu Guru bisa memanfaatkan ratusan video mater dan latihan soal untuk siswa yang sudah disediakan di dalam LMS Zenius, lho. Untuk mengakses LMS-nya, silahkan klik banner di bawah ini. 

lms zenius untuk guru zenru

Referensi

The Use of Student Team – Achievement Division (STAD) in Teaching Reading Comprehension at The Second Grade of SMP 2 Banyudono in Academic Year 2019/2020 – Ninda Wahyu Lestari (2019)

Experimentation of Cooperative Learning Model STAD-TGT Type against Student’s Learning Results – Hasmyati & Suwardi (2018)

Cooperative Learning – Robert Slavin (2015)

Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalitas Guru – Kuniasih & Sani (2015)

Student Teams Achievement Divisions (STAD) Technique in The Teaching Writing Narrative Text – Linta Hayatunisa (2014)

Research Shows that Working Together Boosts Motivation  – Phys.org (2014)

Cooperative Learning: Development in Research – Robyn M. Gillies (2014)

Student Team Achievement Divisions (STAD) Techniques through the Moodle to Enhance Learning Achievement – Monchai Tiantong & Sanit Teemuangsai (2013)

Penggunaan metode STAD (Student Team Achievement Divisions) untuk Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X TGB 1 pada Mata Pelajaran Autocad di SMKN 1 Singosari – Rosita Rahayu Syafii (2012)

Within Class Grouping – Yiping Lou (1996)

Cooperative Learning  – Robert E. Slavin (1980)

Students Teams and Comparison among Equals: Effects on Academic Performance and Student Attitudes – Robert E. Slavin (1978)

Bagikan Artikel Ini!