Ismail Marzuki, Komponis Bergelar Pahlawan Nasional

Ismail Marzuki

Ismail Marzuki (1914-1958) merupakan komponis yang menciptakan lagu-lagu nasional serta mendapatkan gelar pahlawan nasional berkat jasanya. Ketahui kisahnya di sini!

Hi, guys! Gue mau bahas salah satu pahlawan nasional lagi nih. Kali ini gue bahas biografi dari Ismail Marzuki. Siapa yang pernah mendengar lagu “Indonesia Pusaka”, “Halo-Halo Bandung”, atau “Rayuan Pulau Kelapa”? Lagu-lagu tersebut diciptakan oleh Ismail Marzuki, guys. Sobat Zen juga mungkin mengenal lirik lagu berikut.

Minal aidin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin 
Selamat para pemimpin 
Rakyatnya makmur terjamin

Ya! Itu juga salah satu karya Ismail Marzuki yang berjudul “Hari Lebaran”, sering banget kita dengar saat bulan Ramadhan. Gue juga curiga kalau dari lagu ini lah masyarakat Indonesia akhirnya mengawinkan klausa “Minal aidin wal faidzin dengan “Maafkan lahir dan batin” sebagai ucapan di hari Lebaran. 

Ismail Marzuki diangkat menjadi pahlawan nasional pada tanggal 5 November 2004 melalui Keppres No. 089/TK/2004. Tidak banyak lho pahlawan nasional yang diangkat dari bidang seni. Rasanya, masyarakat Indonesia sepakat bahwa Ismail Marzuki berhasil menumbuhkan semangat kebangsaan dengan nada dan irama yang ia buat. Kepribadiannya tercermin dalam setiap karya yang dia buat. Karyanya memiliki peran tersendiri dalam perjuangan kemerdekaan serta memberikan makna dan visi yang berarti.

Bagi Sobat Zen yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya, mungkin tidak asing dengan nama Ismail Marzuki karena namanya diabadikan menjadi sebuah nama gedung kesenian, yakni Taman Ismail Marzuki atau TIM. Lokasinya berada di Cikini, Jakarta Pusat, dan berdekatan dengan Jakarta Planetarium.

Ayo, kita mengenal lebih lanjut sosok Ismail Marzuki!

Ismail Marzuki
Potret Ismail Marzuki (Sumber: Wikimedia)

Kehidupan Awal Ismail Marzuki

Ismail Marzuki lahir pada tanggal 19 Mei 1914 di Kwitang, Jakarta Pusat. Kalau melihat dari Wikipedia sih nama aslinya adalah Ismail dan Marzuki adalah nama ayahnya. Jadi, penulisan sebenarnya gini Ismail (bin) Marzuki, tetapi orang-orang lebih memilih untuk memanggilnya Ismail Marzuki.

Ismail merupakan anak keturunan Betawi dari pasangan Marzuki dan Solehah. Ibunya wafat tidak lama (tiga bulan) setelah melahirkan Ismail. Lalu, Ismail tinggal bersama ayah dan kakaknya. 

Ayahnya merupakan sosok yang cukup disegani kala itu, ia pandai memainkan alat musik seperti kecapi dan cakap dalam syair-syair islami. Ayahnya juga memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli piringan hitam dan “mesin ngomong” (gramofon). Jadi, tidak heran jika nantinya Ismail memiliki keahlian dalam musik juga.

Ismail memiliki nama panggilan lain saat masih kecil, yakni Maing. Sejak kecil, Maing sudah menunjukkan perbedaan dari anak-anak lainnya. Ia menunjukkan ketertarikannya dalam bidang musik. Orang-orang di sekitarnya pun mulai mengakuinya.

Selain itu, Maing senang tampil necis dengan baju yang disetrika hingga licin dan menggunakan sepatu mengkilat serta mengenakan dasi. Maing juga dikenal sebagai pribadi yang luhur dan pintar. Ia mahir berbahasa belanda yang mendukung bakatnya dalam musik. Perpaduan antara keahlian musik dan berbahasa membuat orang-orang Belanda memanggilnya dengan nama Benjamin/Benyamin atau Ben.

Pendidikan Ismail Marzuki

Saat kecil, ayahnya menyekolahkan Ismail Marzuki di sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Ia mendapatkan nama panggilan Benjamin/Benyamin di sekolah ini. Tidak lama ia mengenyam pendidikan di sana, ayahnya memiliki kekhawatiran jika anaknya akan bersifat kebelanda–belandaan. Oleh sebab itu, Ismail Marzuki pindah ke Madrasah Unwabul–Salah di Kwitang untuk melanjutkan pendidikannya. 

Ismail sering mendapatkan alat-alat musik sederhana dari ayahnya. Setiap kenaikan kelas, Ismail diberikan oleh ayahnya hadiah seperti harmonika dan gitar. Setelah lulus, Ismail melanjutkan studi di MULO dan membentuk grup musiknya sendiri. Di sana, ia bisa memainkan alat musik banjo dan gemar memainkan lagu-lagu barat dengan gaya dixieland (aliran dalam jazz).

Setamatnya di MULO, Ismail bekerja sebagai kasir di Socony Service Station dengan gaji sekitar 30 gulden sebulan. Dari gajinya, ia menabung dan membeli sebuah biola. Namun, pekerjaan sebagai kasir kurang cocok baginya. Ia pun beralih pekerjaan sebagai verkoper (penjaja keliling) piringan hitam produksi Columbia dan Polydor dengan gaji tidak tetap. Letak kantornya yang baru berada di Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Juanda), Jakarta.

Karier Ismail Marzuki

Pekerjaan sebagai penjual piringan hitam rupanya hanya sekadar batu loncatan bagi Ismail Marzuki untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia banyak mendapat kenalan artis selama bekerja di sana. Lalu, pada tahun 1936, Ismail menjadi pemain gitar, saksofon, dan harmonium pompa dalam perkumpulan orkes Lief Java. Namun, secara perlahan, masyarakat lebih mengenalnya sebagai penyani bersuara berat dan dalam (bariton) hingga beberapa kawannya memberikan julukan “Bing Crosby Kwitang”. Bing Crosby adalah penyanyi Amerika yang kala itu sedang digandrungi.

Lief Java
Ismail Marzuki (Kanan Bawah) dan Orkes Lief Java (Sumber: Wikiwand)

Pada kisaran tahun 1936-1937, Ismail Marzuki memperluas pengetahuannya dengan mempelajari jenis-jenis lagu tradisional dan lagu Barat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa lagu ciptaannya pada periode itu, contohnya “My Hula-Hula Girl”. Lagu ciptaannya juga dijadikan tema lagu untuk film “Terang Bulan”, lagu yang dimaksud adalah “Bunga Mawar dari Mayangan” dan “Duduk Termenung”.

Ismail Marzuki sangat kreatif dan dapat mengaransemen berbagai aliran dalam musik, dari lagu barat, irama keroncong, lagu religi, dan langgam melayu pun dikuasainya. Ismail juga melakukan terobosan pada lagu melayu. Ia memasukkan instrumen akordeon sebagai ganti harmonium pompa.

Pada tahun 1940, Perang Dunia II mulai memberikan pengaruh pada kehidupan di Hindia-Belanda. Radio Nederlandsch-Indische Radio-Omroep Maatschappij (NIROM) pun membatasi acara siaran musiknya. Hal itu mendorong masyarakat di Jakarta untuk membuat radio sendiri yang bernama Vereniging Oostersche Radio Omroep (VORO) di daerah Kramat Raya.

Setiap malam minggunya, ada siaran khusus dari orkes Lief Java dengan penyanyi lain, yakni Annie Landouw. Di sana, Ismail Marzuki juga mengisi acara lawak dengan menggunakan nama samaran “Paman Lengser” dan ditemani oleh “Botol Kosong” alias Memet.

Pada tahun 1940, Ismail Marzuki menikahi penyanyi keroncong bernama Eulis Zuraidah. Pertama kali Eulis mengenal Ismail adalah saat lagu “O Sarinah” menjadi hits di radio. Lalu, pada Maret 1942, Jepang membubarkan radio NIROM dan menggantinya dengan nama Hoso Kanri Kyoku. 

Ismail tetap bersiaran di RRI ketika Indonesia merdeka. Selanjutnya, Belanda kembali menguasai RRI pada tahun 1947, Ismail pun membuat keputusan untuk keluar dari RRI karena tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Ismail baru akan kembali ke RRI setelah berhasil diambil alih kembali oleh Indonesia. Pada masa ini, ia memimpin Orkes Studio Djakarta dan menciptakan lagu “Pemilihan Umum”. Lagu tersebut baru diperdengarkan pertama kali pada Pemilu 1955.

Di bawah naungan RRI, sesaat setelah kemerdekaan, Ismail Marzuki juga membentuk kelompok musik Empat Sekawan sekaligus menjadi penganransemen dalam kelompok itu. Dinamakan demikian karena jumlah personelnya hanya empat orang, yaitu Saleh Soewita (gitar), Ishak (contra-bass), Jachja (biola), dan Ariston da Cruz (piano). Grup ini dibuat dengan tujuan untuk menurunkan suhu politik yang setiap saat bisa berubah menjadi pertempuran.

Empat Sekawan
Orkes Empat Sekawan Bentukan Ismail Marzuki (Sumber: Encyclopedia Jakarta-Tourism)

Lagu Perjuangan

Pada tahun 1931, kala masih berusia 17 tahun, Ismail Marzuki menggubah lagu “O Sarinah”. Lagu itu menggambarkan kondisi bangsa yang tertindas. Setelah tahun 1942, Ismail Marzuki mulai menciptakan lagu-lagu perjuangan. Pada awalnya, lagu-lagunya seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai” dan “Kembang Rampai dari Bali” masih berupa puitis lembut dan mengarah pada aliran seriosa.

Pada masa penjajahan Jepang, Ismail melakukan perlawanan melalui lagu. Ia mulai menciptakan lagu-lagu yang bertemakan perjuangan pada periode 1943-1944,  seperti  “Bisikan Tanah Air” dan “Indonesia Tanah Pusaka”. Ia juga menggubah mars “Gagah Perwira” untuk PETA (Pembela Tanah Air) dan “Rayuan Pulau Kelapa”.

Kepala Departemen Propaganda Jepang (Sendenbu), Hitoshi Shimizu, menaruh curiga pada lagu-lagu tersebut dan melaporkannya ke Polisi Militer Jepang (Kempeitai). Ismail mendapat panggilan dari Kempeitai untuk dimintai keterangan untuk lagu-lagu yang disiarkan di radio. Panggilan ini berbuah ancaman untuk Ismail Marzuki. Namun, ia tidak berhenti dan malah menciptakan lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda” pada tahun 1945.

Setelah masa Perang Dunia II, Ismail Marzuki terus menciptakan beberapa lagu, antara lain “Jauh di Mata di Hati Jangan” (1947) dan “Halo-halo Bandung” (1948). Ketika itu, Ismail beserta istri pindah ke Bandung karena rumah mereka di Jakarta telah hancur terkena hantaman peluru mortir.

Saat Ismail tinggal di Bandung Selatan, ayahnya meninggal di Jakarta. Ia terlambat menerima berita, sehingga ayahnya telah beberapa hari dimakamkan ketika ia ke Jakarta. Kepergian ayahnya dan pemandangan kembang-kembang yang telah layu memberikan ilham pada Ismail untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.

Dalam perjalannya, Ismail produktif dalam menciptakan lagu. Terdapat lagu-lagu lain tentang masa perjuangan yang bergaya romantis. Meskipun begitu, tidak sedikit pun mengurangi semangat perjuangan, contohnya adalah lagu “Sepasang Mata Bola”, “Ke Medan Jaya”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, dan “Selendang Sutra”.

Sobat Zenius dapat mendengar atau melihat lagu “Oh Kopral Jono” dan “Sersan Mayorku” jika mencari lagu yang syairnya ringan dan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dicerna. Lagu-lagu itu berkisah tentang kehidupan kemedekaan. Lalu, ada lagu hiburan populer, yakni “Tinggi Gunung Seribu Janji” dan “Juwita Malam” yang bernapaskan cinta serta diberi nuansa perjuangan kemerdekaan

Lagu “Aryati” dan “Oh Angin Sampaikan” adalah lagu romantis murni hiburan yang digarap secara populer, tetapi memiliki bentuk atau bobot seriosa. Pada tahun ‘50-an, Ismail masih menciptakan lagu, di antaranya “Irian Samba” (1950) dan lagu “Inikah Bahagia” (1957).

Ismail Marzuki masih belum puas, meski ia sudah mencapai pembuatan lagu yang ke 100-an. Sampai-sampai, lagunya yang ke-103 pun tidak sempat diberi judul dan syair. Salah satu lagu ciptaan Ismail Marzuki yang terpopuler adalah “Rayuan Pulau Kelapa”. Pada masa pemerintahan Orde Baru, lagu ini digunakan sebagai lagu penutup siaran oleh TVRI. Berikut adalah beberapa karya Ismail Marzuki yang terkenal hingga saat ini:

  • Aryati
  • Gugur Bunga
  • Melati di Tapal Batas (1947)
  • Wanita
  • Rayuan Pulau Kelapa
  • Sepasang Mata Bola (1946)
  • Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)
  • O Sarinah (1931)
  • Keroncong Serenata
  • Kasim Baba
  • Bandaneira
  • Lenggang Bandung
  • Sampul Surat
  • Karangan Bunga dari Selatan
  • Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)
  • Juwita Malam
  • Sabda Alam
  • Roselani
  • Rindu Lukisan
  • Indonesia Pusaka

Akhir Perjalanan Sang Komponis

Suatu ketika, Ismail Marzuki diberi hadiah saksofon oleh kawannya yang mengidap penyakit paru-paru. Setelahnya, Ismail merasakan gangguan pada paru-parunya. Ismail mendapatkan penjelasan dari dokter, lalu ia pun memusnahkan alat tiup tersebut. Namun, penyakit paru-paru mengganggunya sejak saat itu.

Ismail Marzuki meninggal karena penyakit paru yang diderita dalam usia 44 tahun pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Pada tahun 1968, Ismail Marzuki mendapat penghormatan dengan dibukanya sebuah taman dan pusat kebudayaan/kesenian di Cikini, Jakarta Pusat. Taman yang dimaksud adalah Taman Ismail Marzuki. Saat ini (2021), Taman Ismail Marzuki sedang dalam proses revitalisasi yang dilakukan oleh Pemprov DKI. Pada tahun 2004, Ismail Marzuki pun dianugerahkan gelar pahlawan nasional.

Taman Ismail Marzuki
Patung Ismail Marzuki di Pintu Masuk TIM (Sumber: Encyclopedia Jakarta-Tourism)

Nah, itu saja informasi tentang Ismail Marzuki yang bisa gue sharing dengan Sobat Zenius. Lagu-lagu Ismail Marzuki banyak yang dijadikan lagu nasional, lho. Melalui seni (lagu) juga dapat membangkitkan semangat perjuangan. Bahkan, ia sampai dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Jadi, bagi elo yang berkecimpung dalam bidang seni jangan berkecil hati, bangsa ini memandang seni dengan nilai tinggi kok. So, jangan berhenti untuk berkarya, ya, Sobat Zenius!

Update terus blog Zenius untuk membaca artikel lainnya, ya! Jangan lupa juga untuk terus ikuti keseruan lainnya dari Zenius di YouTube! Sampai jumpa!

IKPNI. Tanpa Tahun. Ismail Marzuki. Diakses pada 1 Desember, dari https://ikpni.or.id/pahlawan/ismail-marzuki/

Jakarta Smart City. 2016. Sepuluh Karya Ismail Marzuki Dikenang Hingga Kini. Diakses pada 1 Desember, dari https://smartcity.jakarta.go.id/blog/88/sepuluh-karya-ismail-marzuki-dikenang-hingga-kini

Komarudin. 2021. 6 Fakta Unik Ismail Marzuki, Musisi Betawi yang Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional. Diakses pada 1 Desember, dari https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4707245/6-fakta-unik-ismail-marzuki-musisi-betawi-yang-dinobatkan-sebagai-pahlawan-nasional

Baca Artikel lainnya

Dewi Sartika

Djuanda Kartawidjaja

MH Thamrin

Bagikan Artikel Ini!