Pengertian Glasnost dan Perestroika Beserta Dampak Kebijakannya

Materi tentang kebijakan glasnost dan perestroika dalam keruntuhan Uni Soviet

Kalau ngomongin masa kecil, apa game kesukaan elo? Kalau sekarang sih, gue suka main game Mobile Legends. Namun, dulu gue suka main game monopoli bareng teman-teman di rumah.

Yap! Monopoli yang mainnya dengan cara jual-beli negara itu, lho. Duh, dulu gue jago banget. Pokoknya, gue jadi salah satu pemain yang berhasil beli dan menguasai banyak negara, deh.

Nah, dari berbagai negara yang ada di monopoli, salah satunya itu ada negara yang namanya Uni Soviet. Dulu sih, gue nggak terlalu memperhatikan, ya.

Namun sekarang setelah gue pikir-pikir lagi, Uni Soviet itu negara mana, ya? Kok, sekarang jarang banget terdengar, sih?

Ternyata, Uni Soviet ini negara yang memang sudah runtuh dari tahun 1991, lho. Hasil dari keruntuhannya itu menghasilkan berbagai negara bagian, salah satunya Rusia.

Kok bisa, sih? Ternyata, penyebab salah satu negara di game monopoli tersebut bisa runtuh itu karena kebijakan glasnost dan perestroika.

Biar elo nggak bingung, gue coba jelasin di sini, ya.

Konsep Glasnost dan Perestroika

Sebelum gue ngebawa elo lebih jauh, kita kenalan dulu sama satu per satu konsep dari kebijakannya, ya. Simpelnya sih, glasnost dan perestroika adalah sebuah kebijakan di negara Uni Soviet.

Peta negara Uni Soviet dan ke-15 negara bagian di dalamnya
Wilayah negara Uni Soviet (dok. Wikimedia Commons oleh Aris Katsaris)

Buat penjelasan lebih rincinya, gue coba bahas satu per satu di bawah ini, ya.

Konsep Glasnost

Pertama, ada konsep atau kebijakan glasnost. Kebijakan ini diusung oleh Mikhail Gorbachev pada tahun 1986. Gorbachev sendiri merupakan seorang sekretaris jenderal dari Communist Party of Soviet Union (CPSU). 

Sebelum gue cerita lebih jauh, gue mau ngasih tahu sedikit informasi tambahan tentang  kebijakan glasnost ini. Sebenarnya, kebijakan ini sudah dikenalkan dari tanggal 5 Desember 1965 oleh Andrei Sinyavsky dan Yuli Daniel.

Andrei Sinyavsky dan Yuli Daniel, dua orang yang pertama kali mengenalkan konsep glasnost di tahun 1965
Andrei Sinyavsky dan Yuli Daniel (dok. Wikimedia Commons oleh Rob Mieremet/Anefo)

Siapa itu Sinyavsky dan Daniel? Mereka adalah sastrawan dan juga seseorang yang menciptakan propaganda anti Uni Soviet.

Dikarenakan propaganda yang mereka ciptakan, pemerintah memutuskan untuk mengadili mereka. Namun, sistem pengadilan di Soviet yang kebetulan merupakan negara komunis itu cukup tertutup. Jadi, keputusan hukuman dari sidang akhirnya nggak dikasih tahu ke masyarakat luas.

Nah, pas masyarakat tahu soal pengadilan Sinyavsky dan Daniel, masyarakat minta pemerintah buat terbuka pas mengadili mereka. Intinya, masyarakat mau tahu putusan akhir untuk hukuman mereka berdua.

Makanya, kebijakan glasnost yang diperkenalkan Mikhail Gorbachev berarti sebuah transparansi atau keterbukaan kepada masyarakat. Maksudnya, negara Soviet diajak buat lebih terbuka dari sisi mengurus pengadilan dan kenegaraan.

Konsep Perestroika

Kalau untuk perestroika sendiri, merupakan sebuah political movement of reformation atau sebuah gerakan reformasi politik. Gerakan ini juga diusung oleh Mikhail Gorbachev pada tahun 1986.

Sama kayak kebijakan glasnost, konsep perestroika ini dibentuk di Tolyatti, salah satu kota di Rusia, gengs. Pada saat itu, Gorbachev menyarankan negara Uni Soviet buat mengatur ulang pemerintahannya atau mengadakan restrukturisasi

Kenapa? Soalnya, waktu itu ada yang namanya nomenklatur. Sederhananya, ini kayak kumpulan orang-orang yang punya jabatan penting di pemerintahan Uni Soviet atau anggota elit partai. 

Nah, semua kepemimpinan negara Soviet itu diatur sama nomenklatur. Gorbachev merasa itu nggak adil buat masyarakat, soalnya banyak banget yang korupsi, dan menyelewengkan wewenangnya.

Akibatnya apa? Yap! Perekonomian Soviet jadi nggak baik alias menurun. Makanya, Gorbachev menyarankan adanya reformasi politik. 

Jadi, tujuan dari kebijakan perestroika ini untuk mengadopsi reformasi ekonomi atau memajukan ekonomi negara

Simpelnya, Soviet mau menerapkan kebijakan ekonomi negara Barat supaya bisa memajukan perekonomian negaranya pelan-pelan. Kebijakan ekonomi yang diusung sama Soviet ini mulai dari sistem perdagangan di pasar, sampai peraturan penyebaran insentif.

Nggak cuma dari sisi perekonomian aja. Kebijakan perestroika juga membuat nomenklatur yang hanya melibatkan elit partai itu menghilang. Jadi, yang mengurus perekonomian dan negara ini nggak cuma mereka aja. Contohnya, ada perusahaan swasta yang ikut berkembang juga di baliknya.

Sampai sini, semoga elo paham sama gambaran umum dari kebijakan konsep glasnost dan perestroika, ya. Kalau masih bingung, boleh banget langsung dengerin aja penjelasan dari tutornya Zenius lewat banner di bawah ini.

cta peristiwa glasnost dan perestroika

Baca Juga: Latar Belakang Perang Dunia 1 dan Kronologinya – Materi Sejarah Kelas 11 

Kebijakan Perestroika dan Glasnost

Dari penjelasan konsep glasnost dan perestroika di atas, kira-kira elo bisa menyimpulkan maksud dari kebijakannya, nggak?

Jadi, maksud dari politik glasnost dan perestroika adalah untuk memperbaharui kebijakan politik, ekonomi, sampai sistem kenegaraan di Uni Soviet.

Nah, alasan diberlakukannya kebijakan perestroika dan glasnost yaitu supaya perekonomian Soviet meningkat. Soalnya, kalau perekonomian negara menurun, otomatis masyarakat Soviet juga kena dampaknya, dong? Bisa jadi ada krisis ekonomi juga nantinya.

Terus, di atas gue sempat ngejelasin kalau Soviet merupakan negara tertutup, kan? Nah, reaksi yang timbul setelah Gorbachev menggulirkan glasnost dan perestroika yaitu negara Soviet menjadi lebih terbuka sama masyarakatnya.

Apa sih, contoh pelaksanaan glasnost dalam berbagai bidang? Salah satunya di sistem pemerintahan yaitu Soviet yang akhirnya mengusung politik demokrasi. 

Yap! Akhirnya, ada juga yang namanya pemilihan umum (Pemilu) buat anggota kongres pertama di tahun 1989. Selain anggota kongres, pemilu juga diadakan buat pemilihan presiden, nih. Hasilnya, Gorbachev berhasil menjabat di tahun 1990.

Mikhail Gorbachev, pengusung konsep perestroika sekaligus presiden terpilih untuk negara Uni Soviet
Mikhail Gorbachev, pengusung konsep perestroika dan Presiden Uni Soviet (dok. Wikimedia Commons oleh Veni)

Terus, pengadilan di Soviet jadi lebih terbuka. Banyak tahanan tanpa alasan yang akhirnya dibebaskan juga.

 Baca Juga: Latar Belakang Perang Dunia 2 dan Kronologinya – Materi Sejarah Kelas 11 

Dampak Kebijakan Perestroika dan Glasnost

Kalau dilihat dari penjelasan di atas, kayaknya kebijakan glasnost dan perestroika ini berjalan dengan lancar, ya? Buktinya, Soviet berhasil menjadi negara yang mengusung demokrasi.

Namun nyatanya, nggak sesimpel itu, lho. Bahkan, kebijakan glasnost dan perestroika ini menyebabkan runtuhnya Uni Soviet. Lho, kok bisa? 

Kenapa glasnost menjadi pemicu runtuhnya Uni Soviet? Menurut informasi tambahan yang gue dapat dari BBC, hal ini dikarenakan perekonomian Soviet yang udah terlanjur anjlok.

Sebenarnya, tujuan kebijakan glasnost dan perestroika ini kan buat memajukan perekonomian Soviet, ya. Namun pada saat itu, perekonomian Soviet sudah berat banget buat dilakukan reformasi.

Walaupun konsep pasar diperkenalkan, barang-barang yang biasa dikonsumsi jadi tetap langka. Terus, inflasi juga meningkat tanpa henti. Kebayang dong, separah apa perekonomiannya?

Terus di tahun 1990, pemerintah juga memberlakukan reformasi moneter di mana tabungan masyarakat yang jumlahnya sedikit akan dihapus. Nah, gimana nggak makin kecewa masyarakatnya, ya? 

Makanya, salah satu alasan runtuhnya Soviet ini dikarenakan perekonomian yang turun. Terus, apa dampak glasnost dan perestroika bagi geopolitik dunia? Hmm ….

Hal ini berhubungan sama dampak keruntuhan Uni Soviet, gengs. Salah satunya, yaitu berakhirnya Perang Dingin.

Terus, apa lagi dampaknya? Cukup banyak dan kompleks, lho. Elo bisa cari tahu dampaknya versi yang lebih rinci di artikel Dampak Runtuhnya Uni Soviet dan Penjelasannya, ya. 

Baca Juga: Dari Perang Dagang karena Rempah, Menjadi Republik Indonesia 

Contoh Soal Glasnost dan Perestroika

Wah, gue jadi tahu kalau ternyata kebijakan glasnost dan perestroika ini jadi salah satu penyebab keruntuhan Uni Soviet, ya.

Nah, tapi elo tahu nggak, kalau kebijakan perestroika ini mirip banget sama kebijakan yang pernah ada di China? Langsung aja nih, jawab salah satu contoh soal dari kuis tentang materi kita hari ini, ya.

Contoh Soal 1

Kebijakan perestroika mirip dengan kebijakan ekonomi China pada masa pemerintahan ….

A. Mao Zedong

B. Deng Xiaoping

C. Xi Jinping

D. Zhou Enlai

Jawaban:

Pada masa pemerintahan Deng Xiaoping, Cina juga merasa bahwa mereka perlu mengadaptasi kemajuan negara-negara kapitalis di blok barat namun tanpa menyerahkan kendali politik.

Jadi, jawaban yang paling tepat untuk soal ini adalah B.

Kesimpulan

Intinya, kebijakan glasnost (peradilan dan keterbukaan) dan perestroika (rekonstruksi pemerintahan) ini sebenarnya sama-sama melahirkan dampak yang positif dan negatif juga, gengs.

Positifnya, Soviet pada saat itu jadi lebih terbuka kepada masyarakat. Negatifnya, karena perekonomian Soviet udah terlanjur anjlok, jadi bisa menyebabkan keruntuhan negara juga, deh.

Kalau menurut elo sendiri, sebenarnya kedua kebijakan ini jadi menguntungkan atau merugikan, sih?

Setelah belajar tentang salah satu kebijakan di Soviet, gue punya berita baik buat elo, nih. Jadi, Zenius punya fasilitas buat elo latihan try out, lho. Yap! Ada puluhan soal di dalamnya yang bisa elo kerjain. Penasaran? Elo bisa langsung klik link di bawah ini, ya!

Latihan Try Out Bareng Zenius 

Selain latihan soal, gue mau ngasih elo salah satu materi pembelajaran Sejarah lainnya yang nggak kalah seru. Nah, video materi Sejarah di bawah ini langsung diajarin sama salah satu tutor kita juga. Langsung aja gue kasih videonya, ya!

Reference:

Dampak Perang Dingin Glasnost dan Perestroika – Materi UTBK Zenius

Momen saat Uni Soviet, blok Komunis kuat, runtuh 30 tahun lalu: Penyebabnya dari kepemimpinan Mikhail Gorbachev sampai kekecewaan warga – BBC Rusia (2021)


Sumber foto: Wikimedia Commons

Bagikan Artikel Ini!