Sacagawea, Gadis Indian Pemandu Ekspedisi AS

Biografi Sacagawea

Tahukah kamu kisah hidup Sacagawea, seorang wanita Indian yang memandu ekspedisi bersejarah Amerika Serikat? Yuk, simak selengkapnya disini!

Halo sobat Zenius, di artikel kali ini kita kenalan sama salah penjelajah yang memandu ekspedisi AS yuk! Sebelumnya kalian pernah nggak sih dengar nama Sacagawea? Buat kalian yang belum pernah dengar, mungkin kalian akan lebih familiar dengan salah satu karakter di film “Night at the museum” dibawah ini

Karakter Sacagawea
Karakter Sacagawea di film Night At The Museum (Dok. Wiki Fandom)

Di film, Sacagawea digambarkan sebagai gadis pintar dari suku Shoshone yang menjadi pemandu dan penerjemah pada ekspedisi Lewis dan Clark. Ekspedisi Lewis dan Clark ini bertujuan untuk menjelajahi sepanjang tepi sungai Louisiana dan Pasifik Barat Laut, yang mana menjadi babak bersejarah dalam penjelajahan Amerika.

Seorang anak perempuan dari kepala suku pedalaman memimpin salah satu ekspedisi bersejarah Amerika? Hmm, menarik bukan? Yuk kita simak kisah hidupnya.

Awal Kehidupan Sacagawea

Ilustrasi Sacagawea
(Dok. Biography)

Sacagawea terlahir di Lemhi, Idaho pada sekitaran tahun 1788. Sebagai anak perempuan dari kepala suku Shoshone, namanya yang dibaca Sakajaweya memiliki arti “penjelajah” atau “wanita burung”

Suku Shoshone
Suku Shoshone (Dok. Wikimedia Commons)

Masa kecilnya hingga saat ini banyak yang masih menjadi misteri. Namun, diketahui pada tahun 1800 di usianya yang ke-12, ia ditangkap oleh suku Indian Hidatsa bersama dengan gadis kecil lain dari desanya dan dijadikan tahanan.

Menurut beberapa ahli sejarah, suku Indian Hidatsa yang bersekutu dengan suku Mandan memang sering menyerang suku Shoshone. Orang Indian Hidatsa ini memiliki senjata yang lebih maju yaitu senapan api yang disediakan oleh pedagang kulit putih, hal ini lah yang membuat mereka lebih unggul dibandingkan suku Shoshone.

Sacagawea, Gadis Indian Pemandu Ekspedisi AS 25
Suku Indian Hidatsa (Dok. Wikimedia Commons)

Suku Shoshone yang kalah telak karena kekurangan alat senjata seringkali menjadi korban, harta benda mereka dirampas dan dihancurkan, lalu anggota keluarga mereka dibunuh atau diculik.

Sacagawea yang tertangkap kemudian dibawa ke perkemahan suku Indian Hidatsa di sekitaran sungai Missouri. Disana ia dijual kepada Toussaint Charbonneau, seorang pedagang berdarah Prancis dan Kanada. Charbonneau menjadikan Sacagawea dan gadis-gadis Shoshone lainnya sebagai istri, mereka menetap bersama di pemukiman Indian Hidatsa, Metaharta.

Ekspedisi Lewis dan Clark

Ekspedisi Lewis dan Clark
Ekpedisi Lewis dan Clark (Dok. Biography)

Pada tahun 1803, Presiden amerika kala itu Thomas Jefferson membeli wilayah barat Louisiana dari Prancis. Daerah tersebut berukuran dua kali lipat luas Amerika serikat. Saking luasnya daerah tersebut, Jefferson meminta Meriwether Lewis dan William Clark melaksanakan ekspedisi sepanjang 2 tahun untuk mencatat apa saja yang mereka temui.

Kru ekspedisi Lewis dan Clark
Kru ekspedisi Lewis dan Clark (Dok. History)

Lewis dan Clark melaksanakan ekspedisi mereka menggunakan 3 kapal dengan 40 kru lainnya. Selama musim dingin, Lewis dan Clark memutuskan untuk berkemah sejenak di desa Mandan, Hidatsa yang dekat dari kediaman keluarga Charbonneau.

Awalnya Charbonneau lah yang ditunjuk menjadi penerjemah dan pemandu untuk ekspedisi Lewis dan Clark. Namun, karena ekspedisi ini akan mengarah ke barat yaitu lokasi suku Shoshone maka mereka juga merekrut istrinya, Sacagawea sebagai pemandu dan penerjemah mereka.

Saat diminta sebagai pemandu ekspedisi Lewis dan Clark, Sacagawea sedang mengandung anak pertamanya dengan Charbonneau. Namun, Lewis dan Clark tetap mengajaknya bepergian karena percaya bahwa pengetahuan gadis tersebut terkait suku Shoshone akan sangat berguna bagi mereka.

Sacagawea, Gadis Indian Pemandu Ekspedisi AS 26
Sacagawea dan bayinya (Dok. Biography)

Pada bulan Februari 1805, Sacagawea melahirkan anaknya yang diberi nama Jean Baptiste Charbonneau di perkemahan Lewis dan Clark. Clark memanggilnya “Pomp” yang berarti anak pertama dalam bahasa Shoshone. Bersama dengan bayi dan suaminya, Sacagawea dan kru ekspedisi Lewis dan Clark lainnya berangkat meninggalkan perkemahan mereka pada tanggal 7 April 1805.

Walaupun menjelajah jauh sambil membawa bayi, Sacagawea banyak membantu ekspedisi Lewis dan Clark dengan keahlian yang dimilikinya. Karena terbiasa tumbuh besar di pedalaman, ia dapat mengetahui tanaman apa saja yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan. Bahkan saat kapal yang ditumpanginya terguling karena ombak,  mampu menyelamatkan semua muatan termasuk perlengkapan dan dokumen penting.

Sebagai satu-satunya wanita, dengan membawa anak di gendongannya ia juga menjadi simbol perdamaian ke tempat manapun yang mereka datangi.

foto sacagawea
(Dok. Lewis-Clark)

Tidak hanya itu, Sacagawea yang telah lama terpisah dari keluarga dan sukunya secara ajaib bertemu dengan saudara laki-lakinya, Cameahwait yang telah menjadi kepala suku Shoshone menggantikan ayah mereka. Karena pertemuannya kembali itu lah yang memungkinkan ekspedisi berjalan lancar dengan membeli kuda dari suku Shoshone untuk menyeberangi gunung Rocky.

Pertemuannya dengan Cameahwait, tidak menghalangi gadis tangguh itu untuk tetap melanjutkan ekspedisi ke arah barat laut.

Perkemahan Terakhir, Benteng Clatsop

Fort Clatsop
Benteng Clatsop (Dok. National Park Service)

Atas panduan Sacagawea, tim ekspedisi berhasil mencapai pantai pasifik pada November, 1805. Mereka memutuskan untuk berkemah, bersiap-siap menghadapi datangnya musim dingin. Mereka membangun pemukiman sementara yang mereka sebut sebagai benteng Clatsop.

Benteng Clatsop ini dibangun dekat daerah yang sekarang bernama Astoria, Oregon. Mereka menetap di benteng Clatsop hingga bulan Maret di tahun berikutnya.

Sacagawea beserta anak dan suaminya menetap bersama rombongan ekspedisi hingga balik ke arah timur, tepatnya kembali ke desa mereka yaitu desa Mandan. Selama perjalanan Clark merasa dekat dan sayang sekali dengan Jean Baptiste Charbonneau, Clark bahkan sampai menawarkan bantuan agar Jean yang akrab dipanggil Pomp bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik.

Akhir Perjalanan

Sacagawea, Gadis Indian Pemandu Ekspedisi AS 27
(Dok. U.S Mint)

Setelah ekspedisinya bersama Lewis dan Clark selesai, Sacagawea bersama suami dan anaknya menetap dengan suku Indian Hidatsa selama ±3 tahun. Pada tahun 1809, mereka sekeluarga bepergian ke St. Louis untuk membaptis Jean Baptiste Charbonneau dan menitipkannya kepada Clark agar mendapatkan hidup dan pendidikan yang lebih layak.

Tiga tahun setelahnya, dikabarkan bahwa ia melahirkan anak keduanya yang diberi nama Lisette. Beberapa bulan setelah kabar menggembirakan tersebut dikabarkan bahwa Sacagawea menghembuskan nafas terakhirnya di pemukiman Manuel, Dakota Selatan pada tahun 1812. 

Beberapa sejarawan lainnya mengatakan, bahwa Sacagawea masih hidup dan kembali ke suku Shoshone sehingga yang dikabarkan meninggal adalah istri Charbonneau lainnya. Hal ini tidak lain sebab munculnya rumor dimana pada tahun 1875 seorang wanita di sekitar reservasi sungai angin mengaku sebagai Sacagawea dan menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 1884.

Namun diluar kontroversi tahun meninggalnya, jasa gadis Indian yang pemberani ini banyak diabadikan sebagai patung, monumen, perangko, dan juga nama daerah. Bahkan di tahun 2000, sosoknya muncul pada uang koin Amerika Serikat.


Wah, siapa sangka ya dari seorang gadis kepala suku pedalaman bisa menjadi bagian dari sejarah yang bahkan wajahnya diabadikan dalam mata uang! Menginspirasi banget ya kisah hidupnya. Kalau menurut sobat Zen, nilai moral apa aja nih yang bisa diambil dari kisah hidup Sacagawea? Yuk, coba komen di bawah ya!


Baca Juga Artikel Biografi Lainnya

Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama di Asia

Edmond Halley – Pemeta Langit dan Laut

George W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang Berperang Melawan Terorisme

Bagikan Artikel Ini!