Biografi Pratiwi Sudarmono

Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama di Asia

Tahukah kamu kisah Pratiwi Sudarmono, seorang guru besar ahli mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI yang menjadi astronot perempuan pertama di Asia? Yuk simak selengkapnya disini ya!

Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama di Asia 9
Astronot di luar angkasa (Dok. Pixabay)

Halo Sobat Zenius! Siapa nih yang waktu kecil dulu bercita-cita ingin menjadi astronot? Kayaknya keren banget ya bisa kerja di luar angkasa. 

Sobat Zen tahu nggak kalau ternyata astronot perempuan pertama di Asia berasal dari Indonesia loh! Beliau adalah Pratiwi Sudarmono, yaitu astronot dari Indonesia yang turut serta dalam proyek NASA pada tahun 1986 silam. Sayangnya misi tersebut harus dibatalkan karena suatu insiden.

Sekarang langsung kita bahas tuntas aja yuk biografi dari salah satu perempuan hebat kebanggan Indonesia!

Masa Muda Pratiwi Sudarmono

pratiwi sudarmono
Potret Pratiwi Sudarmono dengan atribut astronot (Dok. Wikipedia)

Pratiwi Sudarmono dilahirkan dengan nama lengkap Pratiwi Pujilestari Sudarmono, pada 31 Juli 1952, di Bandung, Jawa Barat. Pratiwi merupakan anak pertama dari enam bersaudara, yang sejak kecil memang sudah menunjukkan rasa ketertarikannya pada hal-hal yang berhubungan dengan luar angkasa.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar Pratiwi sudah memantapkan hatinya dan bercita-cita untuk menjadi bagian dari Indonesian Space Experiment (INSPEX). Setelah menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Bandung, Pratiwi lanjut bersekolah SMA di Jakarta. Dilansir dari beberapa sumber, setelah tamat SMA, Pratiwi lanjut mengenyam pendidikan di jurusan kedokteran Universitas Indonesia (UI) hingga menerima gelar master di tahun 1977.

Setelah lulus, Pratiwi melanjutkan karirnya sebagai staff pengajar dan peneliti di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI. Namun, pada tahun 1984 Pratiwi terbang ke Jepang untuk melanjutkan studinya dan berhasil meraih gelar doktor pada jurusan Research Institute for Microbial Diseases di Universitas Osaka. Beliau merupakan perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor pada bidang kedokteran di universitas Jepang loh Sobat Zen!

Impian Pratiwi dan Indonesia

pratiwi sudarmono NASA
Pratiwi Sudarmono melakukan pelatihan spesialis muatan (Dok. NASA)

Pada tahun 1985, pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan NASA untuk menjalankan misi Wahana Antariksa atau Space Shuttle yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 1986 menggunakan pesawat ulang-alik Columbia

Misi ini bertujuan membawa satelit komersial yaitu Skynet 4A, Westar 6S dan Palapa B3. Satelit Palapa B3 sendiri merupakan satelit milik Indonesia loh! Keren ya ternyata perkembangan dari teknologi luar angkasa kita. Makanya pemerintah kita merasa perlu Sobat Zen untuk melibatkan astronot dari Indonesia sendiri.

Dari sini Pratiwi Sudarmono lah yang terpilih untuk mewakili Indonesia dalam misi tersebut. Kerennya lagi, Pratiwi berhasil mengalahkan 207 kandidat dengan 25 perempuan diantaranya. Pada saat itu, Pratiwi masih berprofesi sebagai pengajar dan peneliti divisi genetika dan mikrobiologi di UI loh! Pada misi ini Pratiwi akan menjalani peran sebagai spesialis muatan untuk pesawat ulang alik Columbia.

Pratiwi dijadwalkan untuk berangkat ke antariksa membawa satelit Palapa B3 dari pusat peluncuran roket di Florida, Amerika Serikat. Rencananya, Pratiwi akan terbang pada Juni 1986 bersama dengan astronot lainnya dari Inggris sebagai pembukaan peluncuran satelit Palapa dan mengerjakan eksperimen ilmiah lainnya.

Karena pencapaiannya ini, tentu saja nama Pratiwi menjadi terkenal dan banyak diliput media baik dari dalam maupun luar negeri. Pratiwi bahkan digadang-gadang sebagai kartini modern yang menjadi ikon perempuan karena pencapaiannya sebagai calon astronot perempuan pertama di Asia yang akan segera terbang ke luar angkasa.

Musibah Challenger

kru Challenger
Potret 7 awak astronot pesawat ulang-alik Challenger (Dok. History)

Tepat 5 bulan sebelum pelaksanaan misi Pratiwi, terjadi sebuah insiden memilukan yang menyebabkan semua misi NASA ke luar angkasa ditangguhkan selama tiga tahun.

Pada 28 Januari 1986, NASA hendak menjalankan misi STS-51-L dengan menggunakan pesawat ulang-alik Challenger milik Amerika Serikat. Tepat setelah 73 detik mengudara, pada ketinggian 15-16 km pesawat ini meledak dan memakan korban 7 orang kru astronot yang salah satunya adalah guru pertama yang akan berangkat dan tinggal di luar angkasa.

Meledaknya pesawat ulang alik Challenger

Tragedi ini sangatlah memilukan sebab disaksikan oleh jutaan orang dari seluruh dunia melalui siaran televisi. Apalagi karena adanya guru yang disertakan sebagai awak kru pesawat, peluncuran bersejarah ini juga ditonton langsung oleh anak-anak sekolah.

Insiden ini menyebabkan agenda penerbangan pesawat ulang-alik Columbia yang akan membawa Pratiwi dibatalkan. Satelit Palapa B3 akhirnya diluncurkan menggunakan roket delta tanpa menyertakan awak astronot Indonesia. Walaupun begitu Pratiwi tetap membuat bangga Indonesia dengan berbagai macam prestasinya, banyak dikenal publik, serta menjadi idola kaum muda khususnya bagi mereka yang juga bercita-cita menjadi astronot.

Pratiwi Sudarmono Sekarang

Prof Pratiwi Sudarmono
Prof. dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, PhD, SpMK(K) (Dok. FKUI)

Walaupun batal terbang ke luar angkasa, Pratiwi tetap berangkat ke Amerika Serikat sesuai rencana. Pratiwi tetap mendapatkan pelatihan spesialis muatan dari Februari hingga Mei 1986 dan juga melaksanakan pemotretan sebagai dokumentasi salah satu awak kru misi NASA dengan atribut astronotnya.

Pratiwi yang batal mengangkasa pun balik menjadi civitas kampus dan kembali menekuni karirnya sebagai pengajar serta ilmuwan. Sosok kartini modern ini banyak meraih berbagai pencapaian loh Sobat Zen!

Sejak 1994 sampai 2000, Pratiwi menjabat sebagai Ketua Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Lalu di tahun-tahun berikutnya Pratiwi ikut serta dalam program Sarjana Fulbright New Century di Amerika Serikat.

Pada tahun 2019 silam, Pratiwi mendapatkan penghargaan recognition for Inspiring Women in STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) atas inspirasi dan kontribusinya selama ini.

Sampai sekarang, Pratiwi Sudarmono yang menjadi salah satu ikon perempuan perkasa Asia ini telah diangkat sebagai Profesor atau Guru besar Ahli Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI. 


Walaupun batal terbang ke angkasa, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa Ibu Pratiwi Sudarmono merupakan perempuan perkasa yang ikonik ya Sobat Zen! 

Gimana? dari kalian sendiri adakah yang tertarik melanjutkan impian Ibu Pratiwi dan impian rakyat Indonesia untuk terbang ke antariksa menjadi astronot? Coba tulis di kolom komentar ya!


Baca Juga

Biografi Marie Curie, Ilmuwan Wanita Pertama Pemenang Nobel

Rosalind Franklin: Penemu Struktur DNA yang Terlupakan

Kartini: Bukan Hanya tentang Kebaya

Bagikan Artikel Ini!