Jeanne d’Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis

Biografi Jeanne d'Arc

Tahukah kamu kisah hidup Jeanne d’Arc, seorang prajurit perempuan yang memimpin kemenangan Prancis namun berakhir tragis? Simak kisah selengkapnya disini ya!

Halo sobat Zenius! Sesuai judul artikel di atas, kali ini gue mau ajak kalian kenalan sama prajurit perempuan dari Prancis yang berhasil mendobrak batasan gender dalam bidang militer, yaitu Jeanne d’Arc. Kalau kalian merasa masih bingung kenapa sih harus kenalan sama doi, well fakta berikut ini mungkin bakal bikin kalian penasaran dan tertarik untuk kenal Jeanne lebih dalam.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 57
Jeanne d’Arc yang akan dibakar (Dok. History)

Jeanne d’Arc hanyalah seorang petani dan peternak dari pedesaan kumuh di Prancis. Namun di usianya yang ke-18, Jeanne mengaku mendapatkan petunjuk ilahi hingga akhirnya mampu memimpi prajurit Prancis menuju kemenangan atas Inggris pada perang yang berlangsung ratusan tahun.

Walaupun berhasil membawa kemenangan, setahun kemudian Jeanne malah dieksekusi dengan cara dibakar depan publik. Baru 500 tahun setelahnya, Jeanne mendapatkan gelar greatest saint (orang suci) dan menjadi simbol perdamaian, persatuan, serta nasionalisme rakyat Prancis.

Wah, menarik banget bukan Sobat Zen, dari mulai gimana awalnya Jeanne bisa yakin kalau dia dapat petunjuk dari Tuhan sampai gimana ceritanya Jeanne yang berjasa malah dibakar hidup-hidup? Langsung aja deh yuk kita kenalan sama perempuan hebat satu ini!

Masa Muda Jeanne d’Arc

Jeanne d'Arc
Jeanne d’Arc sebagai penggembala (Dok. Look and Learn)

Jeanne d’Arc atau biasa disebut Joan of Arc, terlahir pada tahun 1412 di pedesaan kecil Domremy, Prancis. Jeanne mendapatkan julukan The Maid of Orleans karena orang tuanya Jacques d’Arc dan Romée hanyalah petani yang serba kekurangan.

Namun, Jeanne tumbuh dengan penuh kasih sayang. Ia banyak belajar keterampilan rumah tangga seperti berbenah, merawat hewan ternak, dan menjahit dari Ibunya. Karena keterbatasan finansial dan pengetahuan, Jeanne kecil pun tidak pernah berkelana jauh dari rumah.

Jeanne lahir jauh sebelum masa Revolusi Prancis dimulai, jadi pada masa itu Prancis masih menganut sistem pemerintahan monarki. Walaupun desa tempat tinggal Jeanne saat itu jauh terpencil dari kerajaan, mereka tetap setia pada pemerintahan mahkota Prancis.

Kebetulan juga Jeanne terlahir pada saat Prancis terlibat perang jangka panjang dengan Inggris, yang kini dikenal sebagai Hundred Years War. Awal perang ini sih klise ya sobat Zen, tentu saja tidak jauh-jauh dari permasalahan pewaris tahta kerajaan Prancis.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 58
Hundred Years War (Dok. History)

Setelah kelahiran Jeanne, perang antara Prancis dengan Inggris sedang memanas. Apalagi di tahun 1415, Raja Henry V Inggris menginvasi Prancis Utara yang pada saat itu merupakan daerah perbatasan tanpa hukum, sehingga banyak dipenuhi oleh bandit. 

Karena daerah tersebut merupakan daerah tanpa hukum, sehingga tentu tidak sulit bagi Inggris memukul mundur prajurit Prancis. Karena kemenangannya saat itu, Inggris pun mendapatkan dukungan dari para rakyat Burgundian Prancis.

Berdasarkan Perjanjian Troyes di tahun 1420, disepakati bahwa tahta kerajaan Prancis jatuh ke tangan Raja Henry V sebagai wali dari Raja Charles VI Prancis yang gila. Buat kalian yang belum tahu, Raja Charles VI ini merasa bahwa dirinya terbuat dari kaca yang akan hancur apabila disentuh orang lain.

Jadi, sedikit masuk akal sih ya tahta kuasanya diwalikan kepada sosok yang lebih berwenang dan rasional. 

Namun tentu drama ini tidak selesai sedamai itu sobat Zen, karena sayangnya Raja Charles dan Henry meninggal dalam jarak yang berdekatan. Menyisakan putra mahkota Henry yang saat itu masih bayi.

Karena dirasa ada celah untuk menggulingkan kuasa Inggris atas Prancis, para rakyat Prancis mulai berbondong-bondong berpindah haluan dan mendukung putra Charles sebagai penguasa selanjutnya.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 59
Saint Jeanne d’Arc (Dok. Franciscan Media)

Pada saat yang bersamaan, Jeanne tumbuh menjadi perempuan yang taat beragama karena ia sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh yang menurutnya ilham dari Tuhan. Seiring berjalannya waktu, mimpi Jeanne menjadi semakin jelas. 

Atas bimbingan dari St. Michael dan St. Catherine, Jeanne dibawa ke hadapan Charles yang saat itu sedang menyusun rencana penggulingan kuasa Inggris atas Prancis. 

St. Michael dan St. Catherine merasa yakin bahwa mimpi yang dialami Jeanne adalah petunjuk dari tuhan untuk menyelamatkan Prancis dan menjadikan Charles VII sebagai raja Prancis yang sah.

Bertemu dengan Charles VII

Charles VII
Charles VII, The Dauphin (Dok. Wikipedia)

Pada bulan Mei 1428, berdasarkan mimpinya Jeanne memutuskan untuk pergi ke Vaucouleurs dan menghubungi komandan tentara saat itu, Robert de Baudricourt. Awalnya tentu Robert menolak permintaan Jeanne, apalagi saat itu Jeanne d’Arc hanyalah seorang petani perempuan dari desa terpencil.

Robert baru menyetujui permintaan Jeanne di tahun 1429, setelah melihat banyaknya penduduk yang mendukung Jeanne. Walaupun butuh waktu yang lama tapi akhirnya Jeanne berhasil juga meyakinkan Robert. Coba kalau kalian yang di posisi Jeanne, akankah kalian menunggu hingga setahun lamanya? Atau menyerah dan mending balik aja lagi ke desa?

Demi pertemuannya dengan Charles, Jeannes sampai harus memotong pendek rambutnya dan mengenakan pakaian laki-laki selama 11 hari perjalanannya menuju daerah musuh, tempat Charles berada.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 60
Jeanne d’Arc dengan rambut pendeknya (Dok. Wikimedia Commons)

Sama seperti Robert, awalnya Charles ragu memenuhi undangan audiensi Jeanne, apalagi ia tahu Jeanne hanyalah seorang petani muda dari desa terpencil, namun mengaku bisa menyelamatkan Prancis.

Jeanne berhasil meyakinkan Charles, setelah membuktikan kemampuan penglihatannya. Charles pada saat itu berpura-pura menyamar dan berbaur menjadi staff kerajaan, yang mana hal ini berhasil diketahui oleh Jeanne. Waw ajaib banget ya kemampuan Jeanne, kalau sekarang mungkin Jeanne bakal dijuluki sebagai anak indigo kali ya Sobat Zen.

Setelah pertemuan berkesan pertama itu, Charles dan Jeanne berbincang-bincang lebih lanjut terkait isi mimpi yang dialami oleh Jeanne. Karena masih menaruh keraguan, Charles mengutus seorang ahli teolog untuk memeriksa Jeanne.

Hasilnya nihil, tidak ada kebohongan dari Jeanne. Hanya ada kejujuran, kesalehan, kesucian, dan kerendahan hati. Ini jujur keren banget sih Sobat Zen.

Pertempuran Orleans

Karena review dari orang-orang terhadap Jeanne tidak ada yang buruk dan meragukan, Charles akhirnya mengutus perempuan berusia 17 tahun itu untuk turut serta ikut dalam pertarungan Orleans.

Dalam perjalanannya menuju daerah perang, Jeanne diberikan bekal baju besi dan kuda untuk membantu serangkaian pertempuran mulai tanggal 4 Mei hingga 7 Mei 1429. Walaupun Jeanne memiliki kemampuan yang ajaib, Jeanne tetaplah remaja biasa yang bisa terluka.

Prancis berhasil menang mengalahkan Inggris pada bulan Juni, dengan arahan dan pimpinan dari Jeanne. Hal ini tentu membawa nama Jeanne semakin terkenal di masyarakat.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 61
Jeanne d’Arc meraih kemenangan pada pertempuran Orleans (Dok. Wikipedia)

Walaupun misi yang diberikan Charles pada Jeanne berbuah kemenangan, Charles masih belum menaruh kepercayaan penuh pada semua omongan dan nasihat Jeanne.

Padahal Jeanne hanya ingin Charles naik tahta menjadi raja, namun Charles dan para penasehatnya malah menjadi bersikap lebih waspada pada Jeanne. Memang tidak bisa ditebak. Ya walaupun ujung-ujungnya Charles tetap naik tahta dan dinobatkan sebagai Raja Charles VII pada 18 Juli 1429 sih.

Penangkapan Jeanne

Setelah bertahta, Raja Charles VII memerintahkan Jeanne untuk ikut bergabung pada pertempuran serangan Burgundia di Compiègne. Pada saat perang berlangsung, Jeanne tidak sengaja jatuh dari kudanya dan tertinggal di luar gerbang kota.

Hal ini tentunya tidak disia-siakan oleh para bangsa Burgundian yang menangkap Jeanne dan menjadikannya tahanan selama berbulan-bulan. Inggris melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menjadikannya hadiah propaganda dan menukar Jeanne dari bangsa Burgundian dengan sejumlah 10.000 francs.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 62
Penangkapan Jeanne d’Arc (Dok. Wikimedia Commons)

Kejadian berikutnya jujur cukup mengesalkan sobat Zen, karena nyatanya Raja Charles VII yang masih tidak percaya dengan kekuatan Jeanne memutuskan untuk tidak mengambil tindakan apa-apa. Bahkan setelah semua kemenangan dan jasa yang dilakukan oleh Jeanne.

Para prajurit Inggris akhirnya menyerahkan Jeanne kepada gereja untuk diadili sebagai bidat. Bidat sendiri merupakan orang yang sesat dalam ajaran agama Kristen. Jeanne dijatuhi 70 tuduhan sebagai bidat yang termasuk diantaranya adalah ilmu sihir dan aliran sesat.

Wah menyebalkan banget ya Sobat Zen, hal ini membuktikan betapa kuno, kolot, dan tertutupnya pemikiran orang-orang zaman dulu.

Jeanne d'Arc, Prajurit Suci Prancis yang Berakhir Tragis 63
Jeanne d’Arc sedang diadili (Dok. Famous Trial)

Proses pengadilan Jeanne berjalan lama, mulai dari 21 Februari hingga 24 Maret 1431. Selama sebulan itu Jeanne diinterogasi belasan kali oleh pengadilan. Namun, Jeanne tetap bersikukuh dan menjawab tegas kalau ia tidak bersalah. Apalagi tuduhan yang dituduhkan juga tidak masuk akal.

Bukannya ditahan di gereja dengan para biarawati sebagai penjaga, Jeanne malah ditahan di penjara militer. Jeanne yang masih berusia 19 tahun saat itu banyak mendapatkan ancaman pemerkosaan dan siksaan. Jeanne sampai mengikat erat-erat pakaian perangnya menggunakan belasan tali untuk melindungi dirinya. 

Merasa frustasi karena tidak bisa menjatuhkan hukuman pada Jeanne, pengadilan akhirnya memutuskan untuk menghukum Jeanne karena gaya berpakaiannya yang seperti laki-laki. Sangat tidak masuk akal ya Sobat Zen. 

Akhir Hayat Jeanne d’Arc

Jeanne d'Arc
Jeanne d’Arc dihukum mati (Dok. French Daily News)

Tepat pada 29 Mei 1431, pengadilan mengumumkan bahwa Jeanne bersalah atas ilmu sihir dan gaya berpakaiannya yang seperti laki-laki. Sehingga pada 30 Mei pagi, Jeanne dibawa ke pasar di Rouen dan dibakar hidup-hidup dihadapan 10.000 orang. 

Beberapa legenda mengatakan bahwa hati Jeanne selamat dari kobaran api karena kesucian dan kemurniannya. Namun, diluar itu abu Jeanne disebar di daerah Seine.


Setelah kematian Jeanne d’Arc, pertempuran Hundred Years War masih berlangsung selama 22 tahun lagi. Namun, pada akhirnya Raja Charles VII tetap mempertahankan tahta dan kekuasaannya.

Pada tahun 1456, Raja Charles VII memerintahkan untuk melakukan penyelidikan ulang pada kasus Jeanne yang ternyata resmi terbukti bahwa Jeanne tidak bersalah dari semua tuduhan yang dituduhkan.

Hampir 500 tahun kemudian setelah kematiannya, Jeanne diakui telah menjalani kehidupannya dengan penuh kebajikan heroik sehingga Ia pun dikanonisasi sebagai santo (orang suci) pelindung Prancis pada 16 Mei 1920.

Walaupun kisah Jeanne d’Arc ini berakhir tragis, namun kejujuran dan keteguhan hati Jeanne ini patut dicontoh Sobat Zen! Kalau menurut kalian pesan moral apa saja sih yang bisa diambil dari kisah hidup Jeanne ini? Coba komen di bawah ya!


Baca Juga

Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama di Asia

Sacagawea, Gadis Indian Pemandu Ekspedisi AS

Oprah Winfrey, Miliarder Perempuan Afrika-Amerika Pertama di Abad 20

Bagikan Artikel Ini!