Penyerbuan Bastille: Awal Revolusi Prancis 25

Penyerbuan Bastille: Awal Revolusi Prancis

14 Juli menjadi hari bersejarah yang mengawali Revolusi Prancis. Rakyat menyerbu penjara Bastille yang jadi simbol kesewenang-wenangan Raja Louis XVI.

Prancis yang kita kenal hari ini pernah berabad-abad menjalankan sistem pemerintahan monarki, sebelum revolusi pecah pada 1789 dan kerajaan runtuh. Raja Louis XVI menjadi raja terakhir sebelum digantikan Napoléon Bonaparte sebagai kaisar pertama Prancis.

Pada 14 Juli 1789, peristiwa yang dikenal sebagai Penyerbuan Bastille menandai ketegangan telah  memuncak setelah bertahun-tahun Prancis mengalami krisis. Sebenarnya, krisis juga melanda negara-negara lain di Eropa karena perang tanpa henti. Kondisi ini diperparah dengan kesewenang-wenangan penguasa yang menindas rakyat kecil, sebagaimana gaya pemerintahan monarki absolut yang diterapkan Prancis. Artinya, kekuasaan raja gak boleh diganggu gugat. Raja mempercayai bahwa rakyat lah yang mengabdi kepadanya, bukan Raja yang mengabdi kepada rakyatnya.

Penyerbuan Bastille: Awal Revolusi Prancis 26

Padahal di mata rakyat, raja gak becus memerintah. Segala kebijakan raja selalu berpihak ke kaum bangsawan dan agamawan, seperti contohnya nih, kedua golongan itu dibebaskan dari membayar pajak. Jadi, pajak hanya diwajibkan untuk golongan kelas bawah. Petani-petani yang udah miskin itu, masih dibebani buat bayar pajak ke kerajaan.

Kondisi terus memanas ketika rakyat yang sangat menderita harus menyaksikan kaum bangsawan bermewah-mewahan. Pendapatan pajak justru dipakai untuk membiayai kehidupan glamor penghuni istana, khususnya istri Raja Louis XVI, Marie Antoniette. Di sisi lain, utang kerajaan terus menumpuk karena ambisi berperang. Harga pangan melambung tinggi. Rakyat semakin tercekik karena iuran pajak, buat makan aja udah sulit, sehingga banyak kelaparan di mana-mana.

Kok bisa sih kekuasaan lalim begitu bisa langgeng? Kerajaan memastikan kekuasaan mereka gak tersentuh hukum dengan tidak membuat hukum. Di Prancis saat itu, ini yang terjadi:

  1. Tidak ada undang-undang dasar (berarti gak ada peraturan yang disepakati semua orang).
  2. Ada parlemen, anggotanya boleh kritik tapi gak punya kekuatan mengusulkan aturan hukum, jadi gak bisa mengubah keadaan.
  3. Tidak ada hukum, kalau raja gak suka orang, siapapun itu, dia bisa dihukum mati tanpa proses peradilan.

Serentetan kejadian pun mengantar ke peristiwa Revolusi Prancis. Apa aja? Secara garis besar, ada beberapa peristiwa yang kemudian memicu pecahnya Revolusi Prancis.

Penyebab Revolusi Prancis

  • Raja menaikkan besaran pajak. Penghuni kerajaan udah terlalu terlena dengan kehidupan sosialita, tapi pendapatan negara terus berkurang. Istri Raja, Ratu Marie Antoniette, doyan pesta dan menghamburkan uang buat belanja perhiasaan. Buat menyelamatkan diri dari kebangkrutan, datang bisikan-bisikan dari para bangsawan ke raja supaya menaikkan besaran pajak dari rakyat.
  • Ketimpangan sistem di parlemen. Bisa dibilang, parlemen di monarki Prancis saat itu gak berfungsi sebagaimana mestinya. Ada tiga kamar di badan parlemen: (1) Golongan bangsawan, (2) Golongan pemuka agama, dan (3) Golongan rakyat biasa. Meskipun jumlah rakyat biasa lebih banyak, tapi percuma buat beraspirasi karena satu golongan hanya bernilai satu suara. Seringnya, golongan bangsawan hanya mau bersekutu dengan pemuka agama.
  • Aspirasi rakyat selalu ditolak. Karena merasa ada ketimpangan sistem di parlemen, perwakilan dari golongan rakyat menuntut hak suara mereka ditambah. Tapi Raja menolak tuntutan itu.

Penyerbuan Bastille: Awal Revolusi Prancis 27

  • National Assembly terbentuk. Karena keputusan di parlemen tidak memihak rakyat, golongan ketiga membentuk National Assembly. Terbentuknya majelis baru ini dianggap sebagai ancaman bagi raja. Segala aktivitas National Assembly pun berusaha dipersulit sedemikian rupa. Rakyat semakin marah menyaksikan raja terus menyalahgunakan kekuasaan.

Penyerbuan Penjara Bastille

Semakin tertekan penindasan raja, amukan massa pun meledak. Saat fajar pada tanggal 14 Juli 1789, kerumunan besar yang membawa senapan, pedang, dan berbagai senjata darurat menyerbu Penjara Bastille. Bangunan kastil itu digunakan raja untuk memenjarakan tahanan politik. Karenanya, Bastille menjadi simbol kesewenang-wenangan raja.

Bernard-René Jordan de Launay, gubernur militer Bastille, naik ke benteng dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Massa pun merangsek masuk dan berhasil menyita mesium dan meriam. Para tahanan politik pun dibebaskan. Saat Launay dibawa ke Hotel de Ville untuk diadili, massa yang keburu emosi justru menyerangnya sampai tewas.

Baca Juga:

Demokrasi Liberal, Kala Pemerintahan Indonesia Dikepalai Perdana Menteri

Mengenal Pemilu di Indonesia

Stalin: Ketika Seorang Paranoid Memimpin Negara Terbesar di Dunia

Gelombang semangat revolusioner meluas dengan cepat hingga ke pedesaan. Para petani berontak melawan penguasa daerah yang selama ini mengeksploitasi rakyat miskin. Mereka menjarah dan membakar rumah para petugas pemungut pajak dan tuan tanah.

Perebutan Bastille melambangkan akhir dari rezim kerajaan. Revolusi Prancis berhasil menggulingkan monarki yang berkuasa ribuan tahun. Pada 1792, monarki resmi dihapuskan dan disusul berdirinya Republik Perancis yang menganut nilai liberte (kebebasan), egalite (kesetaraan), dan fraternite (persaudaraan). Raja Louis XVI dan istrinya, Marie Antoinette, dihukum penggal setahun kemudian.

revolusi prancis
Penyerbuan Penjara Bastille apda 14 Juli 1789. (Sumber: Wikimedia Commons)

Pengaruh Revolusi Prancis

Revolusi sosial

  • Feodalisme dihapuskan, kaum bangsawan tidak lagi punya hak-hak istimewa, mereka sama seperti rakyat biasa yang harus bayar pajak.
  • Kelas sosial disetarakan, semua orang dari semua kelas sosial punya hak yang sama, seperti untuk mengenyam pendidikan di sekolah.
  • Monarki diruntuhkan, Prancis menjadi salah satu negara yang di Eropa yang tidak punya raja, beda dengan Spanyol, Belanda, Inggris, dan Belgia.
  • Agama Kristen dikesampingkan, agama ini dianggap sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan raja. 
  • Standar dibakukan, dibuat satuan ukuran Sistem Internasional (SI) meter, kilogram, kilometer. Sebelumnya, ukuran yang digunakan masih berupa 1 kepal, 1 hasta, 1 kaki, satuan-satuan yang gak universal ini bisa dimanipulasi karena zaman Prancis pra-revolusi, penguasa daerah bisa bikin ukuran-ukuran sendiri terkait berat emas batangan, misalnya, untuk memuluskan praktik korup mereka.

Tumbuhnya nasionalisme di Eropa

Ada rasa kebangsaan Prancis, rakyat bersatu meruntuhkan monarki ketika raja berusaha menggalang bantuan dari saudara-saudaranya di luar negeri. 

Ada hukum yang mengatur warga sipil

Napoleonic Code resmi berlaku 21 Maret 1804 untuk mengatur hak dan kewajiban warga sipil. Perangkat hukum ini disusun pemerintahan Napoleon Bopanaparte sebagai revisi atas sistem hukum Prancis warisan kerajaan.

Dampak utama yang ditimbulkan Revolusi Prancis adalah terhapusnya feodalisme dan beralih ke sistem yang lebih liberal. Semangat revolusi yang bergelora di Prancis menyebar sangat pesat hingga ke penjuru dunia seperti Spanyol, Jerman, Rusia, Austria, dan Italia. Hingga kemudian, Revolusi Prancis dianggap sebagai cikal bakal tumbuhnya paham demokrasi, parlementer, dan republik.

Tanggal 14 Juli kemarin baru aja diperingati Bastille Day, hari penyerbuan Bastille yang menjadi tonggak Revolusi Prancis. Zenius Original Production merilis film animasi yang menggambarkan detik-detik sebelum Revolusi Prancis pecah. Tayang eksklusif tepat tanggal 20 Juli 2021 di aplikasi Zenius. Buat nonton, kamu bisa unduh app Zenius lewat Playstore dan App Store. Selamat menonton!