pembelajaran tatap muka terbatas

Peran Guru dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)

Di beberapa bulan terakhir, kebijakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) mulai diberlakukan secara bertahap. Apakah sekolah Bapak/Ibu guru termasuk yang sudah menerapkan kegiatan ini?

Berbagai tantangan mengajar sudah Bapak/Ibu guru lalui selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Meskipun tidak mudah, berkat ketangguhan Bapak/Ibu guru kita bisa melewati masa-masa sulit tersebut. Hingga kini, pembelajaran tatap muka mulai kembali dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dimulainya PTMT pastinya membuat Bapak/Ibu guru dan juga siswa merasa senang karena proses belajar mengajar bisa kembali dilakukan secara langsung. Meski begitu, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan selama kegiatan PTMT diantaranya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah.

Kebijakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)

Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri, PTMT dilakukan setelah pendidik dan tenaga kependidikan divaksinasi secara lengkap. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menargetkan di akhir Juni 2021 sebanyak 5 juta guru, tenaga pendidik, dan kependidikan sudah mendapatkan vaksinasi. Secara bertahap, akhirnya saat ini sekolah di daerah berzona hijau dan kuning mulai melaksanakan PTMT dengan memenuhi berbagai syarat.

pembelajaran tatap muka terbatas
Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di beberapa sekolah (Foto kiriman guru di komunitas ZenRu)

Melihat perkembangan dan kebutuhan pembelajaran selama pandemi, penyelenggaraan pendidikan pun selalu dikaji secara mendalam. Prinsip penyelenggaraan pendidikan selama pandemi COVID-19 meliputi dua hal:

  • Kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan
  • Mempertimbangkan tumbuh kembang dan hal anak selama pandemi

Berdasarkan prinsip tersebut, PTMT pun dilaksanakan sebagai upaya untuk menghindari gejala learning loss yang dialami siswa, yaitu berkurangnya jam belajar dan semangat belajar saat PJJ sebelumnya. Dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah, penyelenggaraan PTMT juga perlu memperhatikan protokol kesehatan yang ada.

“Sebuah studi menemukan bahwa pembelajaran tatap muka secara langsung menghasilkan pencapaian akademik lebih baik dibandingkan dengan saat PJJ.”

Selain menghindari gejala learning loss, pelaksanaan PTMT juga bertujuan untuk mencegah terjadinya dampak sosial negatif berkepanjangan akibat pandemi COVID-19. Selama kurang lebih dua tahun COVID-19 terjadi, beberapa dampak yang muncul antara lain:

  • Banyaknya anak putus sekolah karena terpaksa harus bekerja untuk membantu keuangan keluarga. Dalam hal ini, persepsi orang tua tentang peranan sekolah juga berubah karena proses pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka langsung.
  • Terjadi penurunan capaian belajar dikarenakan perbedaan akses dan kualitas pendidikan selama PJJ yang kemudian mengakibatkan kesenjangan capaian belajar.
  • Kasus kekerasan pada anak meningkat dikarenakan banyak anak yang terjebak kekerasan di rumah dan guru atau sekolah kesulitan mendeteksinya selama PJJ. Berbagai risiko eksternal pun muncul saat anak tidak datang ke sekolah, diantaranya peningkatan risiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan, dan kehamilan remaja.

Harapannya dengan diadakannya PTMT ini, dampak sosial negatif berkepanjangan dari pandemi COVID-19 yang disebutkan di atas bisa diatasi. Adakah dampak negatif lainnya yang Bapak/Ibu guru temui selama mengajar di tengah pandemi ini?

Hal yang Harus Diperhatikan Selama PTMT

Menerapkan protokol kesehatan yang ketat menjadi salah satu syarat utama pelaksanaan PTMT di sekolah. Meskipun warga sekolah sudah divaksinasi, protokol kesehatan harus tetap diperhatikan ya Bapak/Ibu guru! Hal ini tentunya supaya Bapak/Ibu guru dan siswa sama-sama aman dan sehat.

Dalam Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, dijelaskan bahwa setelah pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan divaksin COVID-19 secara lengkap, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:

  • Satuan pendidikan wajib memenuhi daftar periksa sebelum memulai layanan PTMT.
  • PTMT dikombinasikan dengan PJJ untuk memenuhi protokol kesehatan.
  • Orang tua atau wali bisa memutuskan untuk tetap melakukan PJJ bagi anaknya meskipun satuan pendidikan sudah memulai PTMT.
  • Pemerintah pusat, pemerintah daerah, kantor wilayah, dan kantor Kemenag wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan.
  • Jika berdasarkan hasil pengawasan terjadi kasus positif COVID-19, pemerintah pusat pemerintah daerah, kantor wilayah, kantor Kemenag, dan kepala satuan pendidikan wajib melakukan penanganan kasus dan dapat memberhentikan sementara PTMT di satuan pendidikan.
  • PTMT dapat diberhentikan sementara sampai jangka waktu tertentu, mengikuti kebijakan pemerintah pusat untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran COVID-19.

Nah, berikut ini ZenRu berikan rangkuman protokol kesehatan yang perlu Bapak/Ibu guru terapkan sebelum, saat, dan setelah kegiatan PTMT berlangsung. Yuk, kita perhatikan sama-sama Bapak/Ibu guru!

Dalam pelaksanaannya, PTMT di satuan pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) fase sebagai berikut: 

  1. Masa Transisi Berlangsung selama 2 (dua) bulan sejak dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas di satuan pendidikan.
  2. Masa Kebiasaan Baru Setelah masa transisi selesai maka pembelajaran tatap muka terbatas memasuki masa kebiasaan baru.

Di Masa Transisi dan Masa Kebiasaan Baru, peraturan terkait protokol kesehatan yang meliputi kondisi kelas, jumlah hari dan jam pembelajaran, serta kondisi medis warga sekolah tidak jauh berbeda. Sementara perihal kantin, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan selain pembelajaran di lingkungan sekolah ada perubahan antara Masa Transisi dan Masa Kebiasaan Baru.

PerihalMasa TransisiMasa Kebiasaan Baru
KantinTidak diperbolehkan.
Warga satuan pendidikan disarankan membawa makanan/minuman dari rumah masing-masing.
Boleh beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan.
Kegiatan Olahraga dan EkstrakurikulerTidak diperbolehkan, namun disarankan tetap melakukan aktivitas fisik di rumah.Diperbolehkan dengan menerapkan protokol kesehatan.
Kegiatan Selain Pembelajaran di Lingkungan Satuan PendidikanTidak diperbolehkan ada kegiatan selain pembelajaran.Diperbolehkan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Penerapan PTMT di Sekolah

Beberapa sekolah memulai penerapan PTMT dengan belajar seperti biasa, ulangan harian, atau bahkan melaksanakan PTS (Penilaian Tengah Semester). Bagaimana dengan sekolah Bapak/Ibu guru?

Tentunya, setiap sekolah memiliki strategi dan metode tersendiri dalam menerapkan PTMT. Nah berikut ini, ada cerita dari salah satu guru yang sempat membagikan pengalamannya selama PTMT pada Bincang Zuru beberapa waktu lalu. Beliau adalah Ibu Sri Wahyuni, S.Pd, seorang guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Bireuen, Aceh.

pembelajaran tatap muka terbatas

Ibu guru yang akrab disapa Ibu Ayu menceritakan bagaimana awal mula sekolahnya melakukan PTMT. Di awal pandemi muncul, daerah Aceh masih melakukan sekolah normal seperti biasanya. Namun setelah 3 bulan COVID-19 sampai ke Indonesia, sekolah-sekolah di Aceh mendapatkan instruksi untuk melakukan PJJ. 

Berdasarkan instruksi dinas pendidikan setempat dan tim penanggulangan COVID-19, sekolah Ibu Ayu mulai menerapkan PJJ hingga sebelum pelaksanaan ujian semester. Sedikit berbeda dengan kegiatan PJJ sebelumnya, sekolah Ibu Ayu mencoba menerapkan campuran antara PJJ dan sekolah luring. Saat ujian, orang tua siswa diminta datang ke sekolah mengambil soal ujian untuk nantinya dikerjakan siswa di rumah. Sekolah pun telah memberikan batas waktu pengerjaan tertentu kapan siswa harus menyelesaikan dan mengumpulkan soal tersebut.

Setelah ujian kenaikan semester, dinas terkait di Kabupaten Bireuen melakukan uji coba PTMT di awal semester 2. Dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat, sekolah Ibu Ayu kemudian mulai melakukan PTMT di bulan Juli 2020. Tentunya, pelaksanaan PTMT ini telah mendapatkan izin dari orang tua siswa. Pihak sekolah melalui wali kelas menyampaikan surat perizinan pelaksanaan PTMT ke orang tua siswa. Orang tua pun berhak memilih apakah setuju dan membolehkan anak mereka untuk mengikuti PTMT.

PTMT di sekolah Ibu Ayu pun berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan dan ketentuan yang berlaku. Kelas dibagi kedalam 2 shift, dimana 50% siswa melakukan PTMT dan 50% lainnya melakukan pembelajaran di rumah. Jam pembelajarannya pun dikurangi, jika jam normal satu pelajaran adalah 45 menit, di masa PTMT ini jam pembelajaran menjadi 25 menit untuk satu pelajaran.

pembelajaran tatap muka terbatas
Situasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di sekolah (Foto kiriman guru di komunitas ZenRu)

Sekolah menyediakan tempat mencuci tangan di beberapa titik dan melakukan tes ukur suhu sebelum siswa dan guru memulai pembelajaran. Siswa juga harus membawa bekal makanan/minuman sendiri dari rumah untuk mengurangi risiko penularan COVID-19.

Di tengah pelaksanaan PTMT, sekolah Ibu Ayu harus kembali melakukan PJJ saat Aceh, khususnya wilayah Bireuen berstatus zona merah. Kegiatan pembelajaran daring dan luring ini terus terjadi berulang-ulang, mengikuti peraturan dan perkembangan pandemi saat itu. Hingga kondisi COVID-19 di daerah Aceh aman, sekolah Ibu Ayu pun akhirnya melaksanakan PTMT lagi sampai saat ini. 

Selain Ibu Ayu, guru lainnya di komunitas Zenius untuk Guru juga membagikan pengalaman mereka dalam pelaksanaan PTMT. Seperti halnya Ibu Ayu, sebagian besar guru melakukan PTMT dengan membagi kelas ke dalam beberapa kelompok. Ada sekolah yang membagikan ke dalam 2, 3, bahkan 4 kelompok sesuai dengan jumlah siswa dalam kelas. 

Hal yang cukup membedakan proses PTMT di satu sekolah dengan sekolah yang lain adalah durasi pembelajaran. Contohnya seperti yang dibagikan Pak Silvan, sekolahnya membagi kelas ke dalam 4 shift dimana 1 shift berdurasi 2 jam. Guru lainnya, yaitu Ibu Farida juga menceritakan kegiatan PTMT sekolahnya dimana jumlah siswa dibatasi maksimal 50% dari jumlah satu kelas dan hanya diperbolehkan tatap muka selama 2 jam.

***

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas yang mulai diberlakukan membuat Bapak/Ibu guru harus kembali beradaptasi dengan metode pembelajaran yang terbilang baru. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari memahami situasi pembagian kelas yang berbeda-beda, terbatasnya waktu tatap muka, serta kendala lainnya. Dengan segala tantangan yang ada, Bapak/Ibu guru terus berusaha memberikan pengajaran yang lebih bermakna bagi siswa, mulai dari mana saja baik saat mengajar tatap muka maupun pembelajaran daring.

Yuk, bagikan pengalaman PTMT Bapak/Ibu guru lewat kolom komentar di bawah! 

Bapak/Ibu guru juga bisa berbagi cerita dan pengalaman mengajar lainnya melalui komunitas Zenius untuk Guru. Tidak hanya bercerita, Bapak/Ibu guru pun bisa berdiskusi dan mengikuti berbagai kegiatan menarik dari Zenius untuk Guru. Ketahui informasi selengkapnya dengan klik di sini >> Zenius untuk Guru

Referensi


Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Diambil dari https://www.kemdikbud.go.id/main/files/download/8b4ebf61f4035e5
Buku Saku Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Diambil dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/03/pembelajaran-tatap-muka-terbatas-penting-untuk-tekan-dampak-sosial-negatif

Baca Juga Artikel Lainnya

5 Hal yang Harus Diperhatikan Guru Saat Sekolah Tatap Muka Dimulai

Perjuangan Guru Mengajar Selama Pandemi

5 Permainan Edukatif yang Mendukung Belajar Mengajar

Bagikan artikel ini