perjuangan guru

Perjuangan Guru Mengajar Selama Pandemi

Selama dua tahun lebih pandemi, banyak kisah perjuangan guru dalam mengajar yang patut diapresiasi. Setiap hari, Bapak/Ibu guru harus berjuang lebih agar siswa benar-benar bisa belajar di tengah pembelajaran jarak jauh. Mereka harus memastikan bahwa materi yang disampaikan bisa dipahami siswa, metode yang digunakan sudah sesuai, dan kegiatan belajar mengajar daring selalu berjalan lancar.

Sekitar bulan Maret 2020, pandemi COVID-19 sampai ke Indonesia. Tidak hanya bagi kesehatan, pandemi juga berdampak ke perekonomian dan pendidikan. Banyak warga yang terpaksa dirumahkan karena menjaga jarak adalah hal yang harus diutamakan. Tak sedikit pekerja kantoran yang terpaksa diberhentikan karena perusahaan tidak ada pemasukkan. Di sisi lain, sekolah-sekolah terpaksa tutup dan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online.

Setelah kurang lebih dua tahun mengajar di tengah pandemi, bagaimana perasaan Bapak/Ibu guru?

Menurut data UNESCO, penutupan sekolah karena pandemi COVID-19 telah mempengaruhi lebih dari 91% populasi siswa dunia, termasuk Indonesia. Untuk mengatasi krisis yang terjadi, pemerintah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 mengeluarkan ketentuan belajar dari rumah melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

PJJ dilakukan sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna di tengah kondisi sulit yang ada. Selama PJJ, perjuangan guru dibuktikan dengan peran penting yang mereka lakukan dalam membantu siswa menghadapi ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi, serta melibatkan siswa untuk terus belajar meskipun kondisi sekolah normal terganggu. 

Bagi sebagian sekolah yang terbiasa dengan fasilitas memadai dan teknologi tingkat tinggi, pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan dengan mudah. Tapi, banyak juga yang harus berjuang lebih untuk bisa melakukan kegiatan belajar mengajar daring. Guru, siswa, dan juga orang tua harus bekerjasama agar pembelajaran tetap bisa terlaksana di tengah keterbatasan.

Perjuangan Guru Avan Mendatangi Rumah Siswa

Di sebagian wilayah Indonesia, teknologi pendukung pembelajaran daring belum memadai. Komputer, ponsel pintar, atau bahkan internet masih jarang dimiliki dan digunakan. Padahal, internet menjadi salah satu teknologi penting yang dibutuhkan guru serta siswa selama PJJ. Salah satu bentuk perjuangan guru untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar adalah dengan berkeliling rumah siswa satu per satu. Seperti yang dilakukan Pak Avan Fathurrahman, guru SD Negeri Batuputih Laok 3 Sumenep.

Aktivitas belajar mengajar di sekolah tempat Pak Avan mengajar terpaksa diberhentikan karena pandemi COVID-19. Guru dan siswa diminta memanfaatkan teknologi untuk PJJ. Namun bagi Pak Avan, praktiknya tidak semudah itu. Tidak semua siswa Pak Avan memiliki fasilitas yang memadai untuk belajar online. Sebagian dari mereka mungkin memiliki ponsel pintar, tapi untuk belajar daring dan mengakses materi pembelajaran mereka masih kesulitan. Karena selama ini, ponsel hanya mereka gunakan sebagai alat komunikasi biasa.

Banyak juga murid Pak Avan yang tidak memiliki fasilitas pendukung PJJ. Jangankan laptop, ponsel saja beberapa siswa atau orang tuanya tidak punya. Bahkan, salah seorang wali murid sempat mencari pinjaman ponsel pintar agar anaknya bisa tetap bisa belajar dari rumah.

perjuangan guru avan
Pak Avan mengunjungi rumah siswa satu per satu di awal pandemi (Foto dokumentasi pribadi Pak Avan – Facebook Avan Fathurrahman)

Pak Avan akhirnya memutuskan untuk mendatangi satu per satu rumah siswa. Beliau harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk sampai di rumah siswanya yang tidak semua bisa dijangkau dengan sepeda motor. Secara bergantian, Pak Avan akan menghampiri rumah siswa dan memberikan materi pembelajaran atau latihan soal.

Cerita Perjuangan Guru Musfiroh Saat PJJ

Kisah lainnya datang dari salah satu peserta pelatihan Zenius untuk Guru, yaitu Ibu Musfiroh. Ibu Musfiroh merupakan guru Matematika di MTSS Al-Khairiyah, Delingseng, Cilegon. Dalam pelatihan, Ibu Musfiroh menyampaikan tantangan-tantangan yang beliau temui selama PJJ.

Banyak siswa Ibu Musfiroh yang tidak memiliki ponsel pintar atau teknologi pendukung lainnya seperti komputer dan laptop. Beberapa siswa mungkin memiliki fasilitas yang memadai, tapi mereka tidak mempunyai akses atau kuota internet yang cukup mengingat Ibu Musfiroh memberikan video materi dari YouTube. Belum lagi penyerahan tugas dikirimkan dalam bentuk foto ke media komunikasi online yang juga membutuhkan kuota lumayan besar.

Untuk menyiasati kesulitan belajar mengajar di tengah pandemi tersebut, Ibu Musfiroh meminta siswa untuk datang ke sekolah seminggu 2 kali. Selain memberikan tugas dan latihan soal dalam bentuk cetak, Ibu Musfiroh juga membagikan fotokopi materi yang bisa dibaca siswa di rumah. Materi dan tugas tersebut secara berkala siswa ambil dan kumpulkan kembali di hari Sabtu. Tentunya, pengambilan dan pengumpulan tugas dilakukan sesuai protokol kesehatan dengan menggunakan jadwal. Penjadwalan dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi kerumunan.

perjuangan guru mengajar
Suasan kelas Ibu Musfiroh menerapkan protokol kesehatan ketat (Foto dokumentasi pribadi Ibu Musfiroh)

Sayangnya, metode pembelajaran daring tidak bisa diterapkan secara terus menerus di sekolah Ibu Musfiroh. Pembelajaran tatap muka pun kembali dilaksanakan dengan membatasi jumlah siswa yang ada di kelas. Ibu Musfiroh pun harus ekstra hati-hati dalam menjaga diri dan siswanya agar tetap bisa belajar dengan aman dan nyaman.

Tantangan Guru Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Seperti halnya Ibu Musfiroh, Ibu Eva Qomariyah juga mengajar di MTSS Al-Khairiyah. Sebagai guru Bahasa Inggris, Ibu Eva melihat siswa punya ketertarikan terhadap bahasa tersebut. Sayangnya, hal itu tidak dibarengi dengan motivasi belajar siswa.

Selain karena kondisi belajar mengajar yang dilakukan dari jarak jauh, motivasi belajar siswa rendah juga dikarenakan faktor siswa yang sejak awal tidak memiliki minat masuk madrasah. Bisa dikatakan, siswa merasa terpaksa masuk ke madrasah karena tidak di terima di sekolah negeri. Terlebih, banyak dari mereka yang datang dari keluarga tidak mampu sehingga harus bekerja paruh waktu selesai sekolah. Pola pikirnya adalah belajar hanya untuk mendapatkan ijazah, setelah lulus SMP langsung mencari kerja.

Ibu Eva kemudian menggunakan strategi reward atau hadiah bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan. Siswa yang menjawab pertanyaan akan diberikan hadiah uang sebesar Rp 2ribu, meskipun jawabannya benar atau salah. Sesekali Ibu Eva mendatangi siswa yang membutuhkan perhatian lebih. Secara langsung, beliau berdiskusi tentang kesulitan yang dihadapi siswa. Dengan komunikasi yang baik, Ibu Eva berusaha memahami masalah siswa sehingga nantinya siswa bisa kembali fokus belajar.

Perjuangan Guru Mengajar Lewat Siaran Radio

Untuk mengatasi kesulitan teknologi selama PJJ, RRI (Radio Republik Indonesia) membuat program Ibu Pertiwi Memanggil sebagai bentuk variasi pembelajaran daring. Salah satu guru yang menjalankan program ini adalah Ibu Restyn Yusuf, S.Pd.,Gr., guru SMAS YPK Urfu, Biak.

mengajar lewat radio
Perjuangan guru mengajar melalui siaran radio (Foto kiriman dari Ibu Restyn Yusuf, S.Pd., Gr.)

Selain untuk memberikan metode pembelajaran yang berbeda, Ibu Restyn memanfaatkan siaran radio setelah melihat banyak siswanya yang tidak memiliki ponsel pintar dan akses internet. Materi pembelajaran beliau sampaikan melalui siaran radio, dimana siswa bisa mendengarkannya sambil mencatat hal-hal penting.

Adaptasi Ulang dengan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Dalam beberapa bulan terakhir, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) mulai dilakukan. Kebijakan PTMT ini mulai diterapkan beberapa sekolah yang memenuhi ketentuan dan persyaratan, seperti guru dan siswa yang sudah divaksin dan jumlah siswa dalam kelas yang dibatasi. Karena meskipun sekolah sudah mulai kembali dibuka secara bertahap, protokol kesehatan tetap harus diperhatikan.

Dengan diberlakukannya PTMT, para guru harus beradaptasi ulang dengan sistem dan metode pembelajaran yang bisa dibilang baru. Selama pembelajaran, masker terus digunakan baik untuk guru dan siswa, jarak meja juga diatur minimal 1,5 meter, serta penting bagi guru untuk memastikan siswa tetap menerapkan protokol kesehatan. 

Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar yang jadwalnya telah ditentukan untuk mengurangi kerumunan. Guru pun harus mengajar satu kelompok kelas secara bergantian, di waktu yang berbeda-beda. Akibatnya, total jam guru mengajar juga semakin bertambah. Hal inilah yang dirasakan oleh Ibu Sri Wahyuni, guru Bahasa di SMP Negeri 2 Bireuen, Aceh.

Dalam Bincang Zuru beberapa waktu lalu, Ibu Sri membagikan cerita dan pengalamannya selama pelaksanaan PTMT. Di sekolah Ibu Sri, kelompok belajar dibagi dua sehingga guru mengajar dengan sistem shift. Protokol kesehatan secara ketat diberlakukan. Siswa harus membawa bekal dari rumah sendiri karena kantin tutup, sekolah menyediakan tempat cuci tangan di berbagai titik, dan melakukan cek ukur suhu sebelum siswa memulai pembelajaran.

Seperti halnya Ibu Sri, pelaksanaan PTMT juga sudah dimulai di sekolah Ibu Ratna Zulfiani di daerah Langkat. Agar siswa mendapatkan sirkulasi udara yang baik dan tidak berdesakan di kelas, kegiatan PTMT dilakukan di lapangan sekolah. Siswa duduk di lantai lapangan dengan jarak aman sambil mendengarkan dan mencatat materi belajar.

Berbeda dengan Ibu Sri dan Ibu Ratna, tak sedikit sekolah yang memulai PTMT di minggu-minggu awal ujian atau saat PTS (Penilaian Tengah Semester) beberapa waktu lalu. Siswa mengerjakan ujian lengkap dengan protokol kesehatan yang lengkap.

Selain perjuangan guru yang telah disebutkan di atas, ada lebih banyak lagi cerita perjuangan guru dalam menghadapi tantangan mengajar di tengah pandemi. Dengan segala rintangan yang ada, guru selalu berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik dan bermakna bagi siswa.

Tidak sekadar menyampaikan dan mengajarkan materi pembelajaran, guru juga memberikan dukungan emosional dan teknis, memastikan dan mencari model pembelajaran yang efektif, serta melakukan komunikasi dengan sesama guru dan juga orang tua mengenai progres belajar siswa. Mengajar jarak jauh bukanlah hal yang mudah, namun cerita perjuangan guru di atas telah membuktikan besarnya pengorbanan yang guru lakukan demi berlangsungnya pembelajaran di tengah pandemi.

Cerita-cerita di atas sebagian besar dibagikan oleh para guru di komunitas Zenius untuk Guru. Berbagi pengalaman dan perjuangan guru selama mengajar dapat membantu Bapak/Ibu guru menemukan solusi dari tantangan yang ditemui. Komunitas Zenius untuk Guru (ZenRu) hadir sebagai tempat dimana Bapak/Ibu guru bisa berbagi dan berdiskusi tentang hal apapun terkait pendidikan. Informasi lebih lanjut tentang komunitas ZenRu, klik di >> Zenius untuk Guru.

Baca Juga Artikel Lainnya

Proses Belajar yang Efektif, Bagaimana Caranya?

Kemampuan Bahasa Inggris Sebagai Bekal Guru Mengajar

Blended Learning: Jenis dan Penerapannya

Bagikan artikel ini