Sudah Siapkah Menerapkan Kurikulum Merdeka? – Zenius untuk Guru

menerapkan kurikulum merdeka

Bapak dan Ibu Guru, masih punya banyak pertanyaan tentang Kurikulum Merdeka?

Lokakarya ZenRu: Kupas Tuntas Kurikulum Merdeka hadir untuk membahas lebih dalam tentang kurikulum tersebut, mulai dari cara mempersiapkan Kurikulum Merdeka, bentuk penilaian, sampai kaitannya dengan project based learning.

Dengan total 119.432 tenaga pendidik yang mendaftar dari seluruh Indonesia, bahkan beberapa Sekolah Indonesia Luar Negeri seperti dari Malaysia dan Saudi Arabia, kegiatan lokakarya terlaksana dengan lancar selama 3 hari, dari tanggal 9 sampai 11 Maret 2022. Apakah Bapak dan Ibu Guru salah satu pesertanya?

Meskipun sekolah Bapak dan Ibu Guru mungkin belum berencana untuk menerapkan Kurikulum Merdeka, tidak ada salahnya untuk kita belajar tentang kurikulum ini.

Yuk, kita intip apa saja materi lokakarya yang dibahas dan bagaimana keseruannya!

Mempersiapkan Kurikulum Merdeka

Di hari pertama Lokakarya ZenRu: Kupas Tuntas Kurikulum Merdeka, para peserta belajar tentang konsep Kurikulum Merdeka dan persiapannya. Materi ini disampaikan oleh Miss K, In Class Learning Lead Zenius, melalui video materi di kelas virtual lokakarya.

Dalam videonya, Miss K menyampaikan bahwa ada 4 hal yang perlu dipersiapkan oleh guru untuk menerapkan Kurikulum Merdeka, yaitu mempelajari lebih dalam tentang kurikulum ini, memperhatikan lingkungan sekitar dan potensi sosial budaya yang bisa diikutsertakan dalam pembelajaran, memahami kemampuan setiap siswa, serta menggunakan beragam pendekatan pembelajaran.

Baca Juga: Kurikulum Merdeka sebagai Upaya Pemulihan Pembelajaran

Selanjutnya di sesi tatap muka, Amanda W. Pandjaitan sebagai Chief of Teachers’ Initiative Zenius menambahkan tentang pentingnya melakukan asesmen diagnostik sebagai langkah mempersiapkan Kurikulum Merdeka.

asesmen diganostik dalam menerapkan kurikulum merdeka
Tujuan asesmen diagnostik. (Arsip Zenius)

Setelah mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menerapkan Kurikulum Merdeka, mari kita mengenal karakteristik kurikulum ini lewat kelas lokakarya di hari kedua.

Baca Juga: Learning Loss, Kemunduran dalam Proses Belajar Siswa

Apa yang Membedakan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Sebelumnya?

Di hari berikutnya, Angelia Iyenk (Teachers Upskilling Lead Zenius) menyampaikan perbedaan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013 yang dilihat dari sisi tujuan, capaian, dan pendekatan pembelajarannya.

Selain dari ketiga hal itu, Miss K menambahkan tentang perbedaan Kurikulum Merdeka di setiap jenjangnya lewat video materi lokakaryanya, yaitu:

  • Kurikulum Merdeka di tingkat SD, mata pelajaran IPA dan IPS digabung menjadi adalah IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam Sosial). Sekolah juga boleh menggunakan pendekatan tematik atau berbasis mata pelajaran.
  • Di tingkat SMP, Informatika adalah mata pelajaran yang wajib dan prakarya menjadi salah satu mata pelajaran pilihan.
  • Di tingkat SMA, kelas 10 mengambil semua mata pelajaran wajib dan memulai program peminatan di kelas 11. Sementara untuk kelas 11 dan 12, siswa bisa memilih mata pelajaran dari kelompok pilihan, sesuai keinginan mereka.
  • Di tingkat SMK, spektrum keahlian SMK terdiri dari 10 bidang keahlian dan 50 program keahlian, di mana strukturnya meliputi Muatan Umum, Muatan Kejuruan, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, dan Budaya Kerja. Dengan Kurikulum Merdeka, siswa SMK juga mendapat pendampingan oleh perguruan tinggi.

Baca Juga: Ragam Strategi Pembelajaran di Masa PTM

Project Based Learning dan Profil Pelajar Pancasila dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka erat kaitannya dengan Project Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Karenanya, Leody Sarmanella (Teachers Trainer Zenius) menjelaskan tentang elemen dan langkah model pembelajaran tersebut lewat video pembelajaran kelas virtual di hari terakhir lokakarya.

Ada 6 elemen penting dalam pembelajaran berbasis proyek, yaitu pembelajaran yang berawal dari sebuah masalah atau pertanyaan, materinya bersifat otentik dan relevan, memberikan siswa kemerdekaan untuk memilih, siswa mampu merefleksikan diri, adanya umpan balik atas proyek yang dilakukan, serta siswa mampu mempresentasikan penemuannya.

problem based learning dalam kurikulum merdeka
Langkah Project Based Learning dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. (Arsip Zenius)

Baca Juga: 3 Komponen AKM yang Wajib Diketahui

Dalam sesi tatap muka, para peserta berdiskusi tentang asesmen Profil Pelajar Pancasila bersama Angelia Iyenk.

Ada 5 prinsip asesmen Kurikulum Merdeka yang membedakannya dengan kurikulum sebelumnya, yaitu:

  1. Asesmen terpadu dengan pembelajaran.
  2. Siklusnya: asesmen ➡️ perencanaan pembelajaran ➡️ kegiatan belajar.
  3. Adil, valid, dan objektif.
  4. Variatif mengakomodir tujuan pembelajaran dan siswa.
  5. Laporan sederhana dan informatif.

Berkaitan dengan asesmen Kurikulum Merdeka, LMS (Learning Management System) ZenRu berperan untuk mendukung pembelajaran dan memudahkan Bapak dan Ibu Guru.

Di asesmen diagnostik, LMS ZenRu bisa mendampingi pembuatan penilaian. Lalu di asesmen formatif, LMS ZenRu bisa menganalisa seberapa efektif pembelajaran yang sudah dilakukan. Sementara untuk asesmen sumatif, laporan penilaian LMS ZenRu bisa diedit sesuai kebutuhan dan dilaporkan di rapor sekolah.

testimoni lokakarya
Kesan peserta Lokakarya ZenRu: Kupas Tuntas Kurikulum Merdeka. (Arsip Zenius)

Itulah sekilas materi Lokakarya ZenRu: Kupas Tuntas Kurikulum Merdeka. Terima kasih Bapak dan Ibu Guru yang sudah mengikuti rangkaian kegiatannya. Sampai jumpa di acara-acara Zenius untuk Guru berikutnya!

LMS ZenRu

Baca Juga Artikel Lainnya

Mengatasi Learning Loss Melalui Diferensiasi Pembelajaran

Pembelajaran Seimbang dalam Kegiatan Belajar Mengajar

Menjadi Guru Inspiratif di Era Digital

Bagikan Artikel Ini!