Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004)

maurice wilkins zenius

Di balik penemuan struktur DNA yang bersejarah di abad ke-20, ada sosok penting yang terlupakan. Dia adalah Maurice Wilkins. Yuk, kenalan sama Maurice Wilkins, dan peran besarnya dalam menemukan struktur DNA!

Halo, Sobat Zenius! Ketemu lagi sama gue, Citra. Btw, gue mau cerita dikit tentang film Korea Selatan favorit gue, yaitu Memories of Murder (2003). Lo udah pernah nonton belum?

Jadi, film itu ceritanya tentang pembunuhan berantai gitu di suatu wilayah di Korsel, sekitar tahun 1990-an. Ada dua detektif yang berjuang untuk nemuin siapa pembunuh berantai tersebut. Serius, itu film seru banget. Salah satu adegan yang bener-bener bikin gue deg-degan adalah ketika sang detektif nunggu hasil tes DNA yang bisa mengungkap si pembunuh.

Di film itu, diceritain kalau nunggu tes DNA-nya lama banget, tapi gue lupa sih tepatnya berapa lama. Yang jelas, saat itu, Korea Selatan belum punya fasilitas buat tes DNA. So, kepolisian setempat ngirim sampel DNA ke Amerika Serikat buat diuji, apakah DNA yang ditemuin di tubuh korban, cocok dengan terduga pelaku. Lo bisa nonton sendiri deh filmnya, dijamin bikin kesel dan deg-degan.

Dari adegan yang bikin kesel itu, gue jadi mikir, betapa berharganya tes DNA saat itu buat ngebongkar kasus pembunuhan. Di televisi gue juga pernah ngeliat beberapa artis yang terlibat konflik sama pasangannya, terus diminta tes DNA buat ngebuktiin apakah anaknya beneran anak kandungnya apa nggak. Segitu besar peran DNA dalam membongkar hal-hal yang bikin penasaran.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 89
Poster film Memories of Murder (2003). (Foto: Wikimedia Commons)

Kayaknya tes DNA butuh beberapa hari kan ya buat diketahui hasilnya. Bahkan, zaman dulu mungkin butuh berbulan-bulan. Berarti, struktur DNA mungkin sekompleks itu buat diuji. Gue jadi penasaran, kalau ngetes DNA aja butuh tingkat ketelitian yang tinggi, gimana penemu struktur DNA ya, yang bener-bener nemu dari awal?

Mungkin, ketika lo nyari di Google dengan keyword “penemu struktur DNA”, nama teratas yang muncul adalah James Watson dan Francis Crick. Tapi, tahu nggak sih, kalau sebenarnya ada sosok besar di balik mereka, yang sebenarnya udah nemuin cikal bakal struktur DNA?

Yap, dia adalah Maurice Wilkins. Mungkin namanya terdengar asing buat lo, karena emang dia lebih menjadi sosok di balik layar daripada ‘di atas panggung’. Kali ini, gue bakal ngenalin dia ke lo, dan nunjukin ke lo kalau dia nggak hanya sekadar ‘di atas panggung’, tapi justru ‘pemilik panggung’. Here we go, guys. Let me introduce the one and only Maurice Wilkins.

Masa Kecil sang Penemu Struktur DNA

Di sebuah desa kecil bernama Pongaroa, 25 kilometer dari sejuknya pantai Wairarapa, New Zealand, lahirlah seorang anak yang bakal jadi kebanggaan orang-orang di kampungnya.

Anak laki-laki itu lahir di sebuah rumah kayu, pada 15 Desember 1916. Dia diberi nama Maurice Hugh Frederick Wilkins. Saat itu, Wilkins lahir sebagai anak kedua.

Maurice Wilkins lahir dari rahim seorang guru sekolah bernama Eveline. Ayahnya, Edgar Henry Wilkins, adalah seorang dokter. Sementara itu, ibunya, Eveline Whittack adalah guru sekolah. 

Ayah Maurice Wilkins emang passionate banget sama kerjaannya. Dia hobi melakukan penelitian, dan ambis banget sama ilmu kedokteran pencegahan yang fokus pada pencegahan penyakit dan memperpanjang usia.

So, buat melakoni passion-nya, Edgar ngajak keluarganya buat pindah ke kota Pahiatua, 30 kilometer dari situ, pada pertengahan tahun 1918. Soalnya, ada rumah sakit di Pahiatua yang support passion Edgar dalam kedokteran pencegahan.

Di Pahiatua, Edgar belajar banyak tentang kedokteran pencegahan. Baru sebentar di sana, pada akhir tahun, keluarga Wilkins pindah lagi ke kota Wellington. Minatnya yang tinggi pada kedokteran pencegahan di sekolah bikin Edgar diangkat jadi New Zealand Director of School Hygiene.

Di Wellington, Maurice Wilkins mulai punya memori masa kecil. Dia ngerasain hangatnya matahari, birunya langit, dan putihnya awan Wellington. Keluarga yang hangat juga menambah kebahagiaan Wilkins. Life goal banget lah pokoknya.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 90
Pemandangan Wellington. (Foto: Wikimedia Commons)

Kekompakan keluarga Maurice Wilkins bikin menu makanan mereka juga sama. Edgar emang segitu sehatnya jadi orang. Maklum lah ya, dia emang dokter yang concern sama hidup sehat.

So, dia jadi vegetarian. Keluarganya juga ngikut, termasuk Maurice Wilkins. Dia jadi terbiasa sarapan bubur dari biji yang udah dipanasin pada malam sebelumnya, dan ditaruh di dalam kotak khusus semalaman.

Wilkins juga biasa makan makaroni keju, sup kacang hijau, nasi mentah, kentang kukus, kubis setengah matang (bahkan juga minum air kubis), sayuran segar, buah, kacang-kacangan. Kayaknya keluarga Wilkins nggak pernah kebangun malam-malam terus bikin mie instan.

Momen masa kecil yang paling nggak dilupain Maurice Wilkins adalah ketika keluarganya liburan ke pondok milik tetangganya. Pondok itu lokasinya di pinggir pantai.

Suatu malam, ayahnya ngajak Wilkins dan kakaknya, Eithne, buat naik perahu kecil. Mereka menuju pulau nggak berpenghuni, tapi cantik banget, banyak kerang lautnya. Sambil dipayungi bintang malam, Wilkins ngerasa, saat itu dia kayak lagi di surga.

Baca juga: Kupas Tuntas Buku Charles Darwin Origin of Species

Pendidikan Maurice Wilkins

Masa kecil Maurice Wilkins emang semenyenangkan itu. Hidupnya penuh dengan jalan-jalan sama keluarga, bermain di alam, dan terhubung dengan alam.

“Emang Wilkins nggak sekolah?”

Waktu di Wellington, dia emang nggak sekolah. Ayah Wilkins menerapkan prinsip kayak gini: anak nggak harus pergi ke sekolah. Pengalaman lebih penting daripada duduk ngadepin guru.

Mungkin, nggak semua orang tua bakal sependapat sama Edgar. Tapi, bagi Edgar, sekolah formal bikin anak-anak nggak berinteraksi langsung sama buku, tapi guru yang ngajarin dari buku. Edgar pengen, anak-anaknya belajar sendiri dari buku.

Sisanya, Edgar ngajak kedua anaknya buat keliling dunia ke sana ke mari. Dengan cara itu, mereka terhubung langsung dengan dunia melalui tangan, kaki, mata, dan telinga mereka sendiri. Intinya, pengalaman hidup dalam menghadapi dunia adalah cara belajar yang paling penting.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 91

Tapi, ayah Maurice Wilkins nggak selepas tangan itu sama pendidikan. Edgar justru naruh perhatian besar pada pendidikan. So, Wilkins homeschooling, dan diajarin langsung sama ayahnya sendiri. Dia belajar matematika, ilmu alam, dan teologi dari ayahnya.

Maurice Wilkins juga belajar geografi dari globe, dan belajar astronomi dari buku Robert Stawell Ball, The Story of the Heavens. Sejak itu, Wilkins jadi tertarik dengan teleskop, binokuler, mikroskop, dan barograf. Binokuler jadi hal terfavoritnya, karena bisa bikin manusia jadi kelihatan kecil.

Hingga akhirnya, waktunya Wilkins buat berangkat ke sekolah beneran. Tapi, Edgar ngerasa nggak ada sekolah yang bagus di Wellington. Dia bener-bener selektif banget memilih sekolah buat anaknya.

Pada saat yang sama, Edgar juga punya konflik sama dokter-dokter setempat. Soalnya, dokter setempat nggak cocok dengan ide Edgar yang menerapkan kedokteran pencegahan. Yaudah deh, Edgar sekalian cabut aja dari Wellington dan pindah ke Inggris.

Keluarga Wilkins akhirnya pindah ke Inggris pada tahun 1923. Saat itu, Maurice Wilkins berusia 6,5 tahun. Di sana mereka tinggal di London. Ayah Wilkins kerja di British School Medical Service sambil lanjut sekolah di Diploma of Public Health, King’s College.

Maurice Wilkins kemudian resmi menjalani sekolah formal di Wylde Green College. Mulai dari sinilah, Wilkins mengalami momen-momen pahit.

Karena dia belum pernah sekolah formal sama sekali, dia masih ngerasa asing ngelihat keramaian anak-anak di sekolah. Ditambah, kakaknya tercinta, Eithne, sakit infeksi darah. Wilkins sempat depresi saat itu. Masih kecil lho, udah ngerasa depresi 🙁 gue jadi ikut sedih.

Untungnya, ada penyelamat datang di keluarganya. Dia adalah adik bungsu Wilkins, Jasmine. Kehadiran Jasmine bikin kondisi keluarga Wilkins jadi membaik.

Oke, gue balik lagi ke masa sekolah Maurice Wilkins. Meskipun awalnya dia ngerasa berat menjalani sekolah formal di Wylde Green College, dia akhirnya lulus juga. Wilkins kemudian dapat beasiswa buat sekolah di King Edward’s School, Birmingham.

Pada tahun 1935, Maurice Wilkins kuliah fisika di St John’s College, Cambridge. Saat kuliah di situ, Wilkins aktif dalam sebuah pergerakan bernama Cambridge Scientists Anti-War Group (CSAWG).

CSAW adalah kelompok ilmuwan yang menolak keras penggunaan ilmu untuk perang. Wilkins juga aktif terlibat dalam kegiatan politik, seperti bergabung dengan Partai Komunis Anti-fasis.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 92
St John’s College. (Foto: AwkwardChester via Wikimedia Commons)

Secara akademis, Maurice Wilkins dibimbing sama Marcus Oliphant, sohib Ernest Rutherford. So, Rutherford adalah penerima Nobel pertama dari Selandia Baru. Artinya, mentor Wilkins emang orang yang bukan main.

Tiga tahun kuliah, akhirnya Wilkins lulus dengan gelar fisika. Dia kemudian lanjut sekolah di Birmingham University buat ngejar gelar Ph.D.

Baca juga: Sejarah Penghargaan Nobel, Kok Bisa Ada dan Seberapa Penting Buat Kita?

Awal Karier dan Keterlibatan dalam Perang Dunia II

Waktu Wilkins lagi nempuh studi Ph.D, Inggris lagi panas-panasnya buat Perang Dunia II. Lo bisa tonton di sini deh, tentang ketegangan selama Perang Dunia II.

Nah, selama Perang Dunia II, ilmuwan terutama fisikawan lagi banyak dicari. Soalnya, perang kan butuh senjata. Jadinya, negara-negara yang berperang sibuk nyari fisikawan buat dimintai bikin senjata.

Saat itu, Maurice Wilkins masih nggak peduli sama Perang Dunia II yang terjadi. Udah gue sebutin tadi, kalau dia join kelompok anti-perang. Wilkins lebih fokus buat nyari kerja sambil kuliah. Dia kemudian menghubungi Oliphant, seniornya tadi, buat tanya kerjaan.

Kebetulan, Oliphant pindah ke Birmingham dan mendirikan laboratoriumnya sendiri. Dia ngerekomendasiin Wilkins buat jadi asisten peneliti Sir John Turton Randall di Departemen Fisika, Birmingham University.

Randall merupakan seorang fisikawan yang saat itu lagi mempelajari luminesensi benda padat. So, luminesensi adalah adalah fenomena pancaran cahaya dari bahan yang nggak panas, alias radiasi benda dingin. Maurice Wilkins mau jadi asisten Randall. Randall juga ngebantu Wilkins buat bikin tesisnya.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 93
John Randall (paling kanan) dengan Maurice Wilkins (belakang, ketiga dari kiri) di pesta Biophysics Unit. (Ref: kingscollections.org)

Pada tahun 1940, di usianya yang ke-24 tahun, Wilkins meraih gelar Ph.D. Di tengah kebahagiaannya dapet gelar Ph.D, situasi dunia justru semakin nggak membahagiakan karena Perang Dunia II.

Di tengah situasi perang yang semakin panas, Maurice Wilkins direkrut oleh Ministry of Home Security and Aircraft production (Kementerian Keamanan Dalam Negeri dan produksi pesawat). Karena dia udah punya bekal ilmu tentang radar, Wilkins ngasah keahliannya di sini. Dia melahirkan ide buat meningkatkan layar tabung sinar katoda untuk radar.

Lama kelamaan, mungkin terpengaruh lingkungan kerja kali ya, Maurice Wilkins yang mulanya nggak peduli sama perang, jadi berubah pikiran. Dia jadi pengin ikut berkontribusi dalam Perang Dunia II. Wilkins ngerahin seluruh kemampuannya buat ngebantu Inggris memenangkan perang.

Lagi-lagi kebetulan nih. Oliphant, senior di kampus Wilkins yang tadi udah gue ceritain,  pemimpin penelitian senjata nuklir di Inggris. Wilkins pun join dalam proyek Oliphant tersebut. Dia ngebantu Oliphant dalam proyek pemisahan isotop uranium. Uranium emang jadi bahan utama pembuatan nuklir. Lo bisa baca lebih lanjut tentang nuklir di sini.

Nah, karena uranium merupakan cikal bakal nuklir, dan Wilkins udah bekerja untuk itu, Wilkins kemudian tergabung dalam Manhattan Project. Proyek ini buatan Amerika Serikat dan bersifat rahasia. Nantinya, Manhattan Project bakal bikin reaktor nuklir buat ngalahin Jerman. Soalnya, di Perang Dunia II, AS, Inggris, Prancis, dan Rusia emang versusan sama Jerman dan Jepang.

So, Maurice Wilkins pindah ke California University, Amerika Serikat, buat berpartisipasi dalam Manhattan Project. Hasil puncak dari Manhattan Project adalah bom atom Little Boy dan Fat Man. Bom Little Boy seberat lima ton dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada 6 Agustus 1945.

Sementara itu, Fat Man yang seberat 10.000 pon dijatuhkan di Nagasaki, Jepang, tiga hari setelahnya. Dua bom tersebut merupakan bentuk serangan Amerika Serikat kepada Jepang.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 94
Bom Hiroshima (kiri) dan Nagasaki (kanan). (Foto: George R. Caron via Wikimedia Commons)

Efek dari kedua bom tersebut bener-bener ngancurin banget. Bayangin aja, ledakan bom Little Boy punya kekuatan setara 15.000 ton TNT. Bangunan pada hancur, gosong, korban bergelimpangan di mana-mana. Sekitar 140.000 orang tewas akibat bom Little Boy di Hiroshima. Itu baru Hiroshima ya.

Efek bom Fat Man justru lebih parah lagi. Dengan kekuatan ledakan sebesar 22 kiloton, 40.000 orang tewas. Bom inilah yang bikin Jepang akhirnya menyerah pada Perang Dunia II.

Dua pemboman dahsyat yang mengubah hidup seluruh warga Jepang saat itu, juga mengubah hidup Maurice Wilkins. Wilkins nggak nyangka kalau dampaknya bakal semengerikan itu. Dia ngerasa bersalah banget udah berkontribusi dalam mengembangkan bom atom.

Gue dulu ikut organisasi anti-perang, kenapa malah gue jadi membantu ngebunuh ribuan nyawa kayak gini?”

Saat itu juga, Wilkins ngerasa kalau bidang yang digelutinya justru ngasih dampak negatif, yang bahkan bisa ngilangin nyawa orang. Bukan itu yang dia inginkan. Wilkins sempat kepikiran buat ninggalin dunia sains dan banting setir jadi pelukis di Paris.

Tapi, keinginannya buat jadi pelukis nggak kesampaian. Lagi-lagi, dia harus terlibat dalam dunia sains. Emang udah takdirnya kali ya.

Setelah perang selesai, Wilkins dapat panggilan dari Randall, mantan atasannya, buat gabung dalam proyeknya. Proyeknya itu merupakan cabang ilmu baru, yaitu biofisika. Randall pengen menggunakan ilmu fisika yang dia punya buat mempelajari masalah biologi.

So, Wilkins balik ke Inggris. Dia kerja jadi dosen fisika di St. Andrews University sambil join ke tim proyek Randall. Setahun kemudian, mereka pindah ke King’s College London. Di sana, Randall dapat tawaran jadi profesor dan bikin laboratorium sendiri. Sementara itu, Wilkins mengepakkan sayapnya dengan menjadi anggota Medical Research Council Biophysics Research Unit.

Dari sinilah, penemuan bersejarah Wilkins dimulai.

Penelitian Struktur DNA dan Lika-liku Persaingan

Di King’s College, Wilkins awalnya neliti tentang efek genetik dari ultrasonik. Ultrasonik adalah gelombang suara yang punya frekuensi lebih tinggi daripada yang bisa didengar oleh manusia.

Kemudian, Wilkins mau bikin mutasi genetik dari ultrasonik. Tapi, sekitar 1-2 tahun, Wilkins mengubah penelitiannya. Dia ganti ngembangin mikroskop pemantul untuk mempelajari asam nukleat.

Hingga pada tahun 1950, sebuah penemuan mengubah hidup Wilkins. Saat itu, seorang ahli biokimia Eropa bernama Rudolph Signer menghasilkan DNA murni.

Lo masih asing, atau udah familiar sama istilah DNA? Mungkin udah lah ya. Gue jelasin singkat aja. So, DNA merupakan singkatan dari deoxyribonucleic acid, alias asam deoksiribonukleat. DNA ini berperan penting banget dalam mewariskan sifat manusia ke keturunannya.

Signer pun ngasih kesempatan buat siapa aja yang mau mempelajari DNA yang dia bikin. Wilkins tahu temuan Signer itu, dan berhasil dapet beberapa di antaranya. Dari DNA murni yang didapat, Wilkins ngembangin kristalografi sinar-X.

For your information, kristalografi sinar-X adalah alat yang digunakan buat nentuin struktur atom dan molekul kristal, dengan mendifraksikan berkas sinar-X ke banyak arah tertentu. Nantinya, difraksi sinar-X bakal menghasilkan gambar tentang struktur DNA, yang akhirnya bisa kita lihat sampai sekarang di buku sekolah.

Wilkins kerjasama dengan mahasiswa pascasarjana, Raymond Gosling, buat menggunakan difraksi sinar-X untuk ngambil gambar baru dari molekul DNA yang didapat dari Signer. Dari sinilah, Wilkins mulai mempelajari asam nukleat dan protein melalui gambar yang dihasilkan dari difraksi sinar-X kepada DNA.

Setahun kemudian, Randall ngenalin anggota baru di timnya. Dia adalah Rosalind Franklin, seorang ilmuwan perempuan yang ahli dalam penggunaan difraksi sinar-X.

Sebelumnya, Franklin menggunakan difraksi sinar-X pada batu bara, buat bikin larutan protein. Ngerasa bahwa Franklin punya background yang meyakinkan dalam difraksi sinar-X, Wilkins minta bantuan ke dia.

“Daripada makai sinar-X buat neliti batu bara, mending bantu gue aja buat bikin gambar molekul DNA,” begitulah kira-kira kata Wilkins saat itu. Wilkins juga nyerahin tanggung jawab ke Franklin buat ngawasin Gosling dalam menyelesaikan tesisnya.

Sayangnya, terjadilah kesalahpahaman. Franklin ngira dia jadi penanggung jawab utama buat nyelesain penelitian molekul DNA. So, dia bebas ngapain aja sama penelitian itu. Padahal, Wilkins mengira kalau Franklin dipekerjakan Randall buat ngebantu dia, bukan mengambil alih penelitian.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 95
Maurice Wilkins (kiri) dan Rosalind Franklin (kanan). (Foto: BBC iPlayer via Pinterest)

Kesalahpahaman ini bikin hubungan Wilkins dan Franklin jadi nggak baik. Apalagi, Randall selaku kepala penelitian justru seolah pengen ngeluarin Wilkins dari penelitian struktur DNA yang udah capek-capek dibikin.

“Loh, kenapa Wilkins malah mau didepak dari penelitiannya sendiri?”

Saat itu, Randall lagi ambis buat ngedapetin Fellowship of the Royal Society. So, Fellowship of the Royal Society adalah penghargaan yang diberikan oleh juri Royal Society London kepada orang-orang yang ngasih kontribusi besar dalam peningkatan ilmu pengetahuan alam. Tapi, syaratnya, orang tersebut harus terjun langsung dalam penelitian itu.

Jadi ya … Randall pengen ngeluarin Wilkins secara perlahan dari penelitian struktur DNA, dengan Franklin sebagai ‘umpan’. Padahal, aslinya Randall mau ngambil alih proyek penelitian tersebut. Dengan begitu, namanya juga bakal terangkat kalau berhasil nemuin struktur DNA. Hmmm, ternyata persaingan ketat juga terjadi di antara para ilmuwan ya, nggak peduli posisinya jadi apa.

Meskipun begitu, kesalahpahaman yang terjadi nggak bikin Wilkins nyerah. Pada musim semi tahun 1951, Wilkins datang ke konferensi di Naples Zoological Station. Di sana, Wilkins mempresentasikan data penelitiannya tentang difraksi sinar-X pada DNA.

Peneliti muda asal Amerika, James Watson, jadi salah satu peserta konferensi itu. Watson jadi tertarik pada DNA setelah nonton presentasinya Wilkins. Dia menyadari kalau sinar-X berpotensi buat mengungkap gimana struktur DNA. So, Watson mutusin buat pindah ke Cambridge, untuk mempelajari difraksi sinar-X.

Pada Juli 1951, Wilkins datang ke Cambridge buat ngasih seminar tentang temuan DNA-nya. Dalam seminarnya itu, Wilkins bilang bahwa DNA adalah molekul berbentuk heliks (tangga berpilin) yang terdiri lebih dari satu untai. Wilkins juga mengungkapkan, DNA punya diameter sekitar 2 nanometer (sepersejuta milimeter) dan punya tulang punggung gula-fosfat di bagian luar heliks.

Maksudnya apa tuh, ada tulang punggung segala? Lo bisa belajar singkat tentang itu di sini, ya.

Setelah ngisi seminar, Franklin ngedatangin Wilkins. Dia bilang, “Eh, lo nggak usah neliti tentang sinar-X lagi deh. Mending, lo balik bikin mikroskop aja.” Wilkins bingung dong, maksudnya si Franklin apaan. Tapi, Wilkins tetap lanjut buat neliti difraksi sinar-X ke DNA.

Pada bulan September, terkuak alasan kenapa Franklin ngomong gitu ke Wilkins. Ternyata, Franklin bikin penemuan tentang bentuk DNA, yang dianggap sebagai kemajuan baru dalam bidang tersebut.

Setelah itu, Franklin langsung menggandeng Gosling, partner Wilkins sebelumnya, buat bikin gambar-gambar baru dari sinar-X DNA. Mereka pun bikin gambar difraksi sinar-X yang menunjukkan struktur DNA, yang disebut dengan Photo 51.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 96
Photo 51, menunjukkan pola difraksi sinar-X DNA. (Foto: Raymond Gosling/King’s College London via Wikimedia Commons)

Mereka dapat inspirasi dari gambar-gambar milik Wilkins yang pernah dipresentasikan di Cambridge, yang bikin Watson tertarik sama DNA. Masih inget kan sama Watson, btw?

Ngomong-ngomong tentang Watson, tadi kan gue udah sebutin kalau Watson pindah ke Cambridge buat mempelajari difraksi sinar-X pada DNA. Di Cambridge, dia partner-an sama Francis Crick, buat bikin struktur heliks ganda DNA (double helix). Mereka bikin model struktur DNA dari foto-foto yang diambil Wilkins sama Franklin. Ini nih gambarnya…

DNA Orbit
DNA Orbit (Sumber: Wikipedia Commons)

Saat itu, lagi ada kompetisi temuan antara Watson-Crick dan Franklin. Ketika Watson-Crick nemuin kalau struktur DNA berbentuk heliks, Franklin justru sebaliknya.

Pada 31 Januari 1953, Watson datang ke Wilkins, minta pencerahan. Ngelihat masalah yang dihadapi Watson, Wilkins jadi keinget sesuatu. Dia kemudian ngasih Photo 51 yang dijepret Gosling, yang gambarnya udah gue tampilin di atas. Foto itu menunjukkan kalau Watson yang bener, bahwa DNA memiliki struktur heliks. Dan akhirnya, Franklin emang mengakui kalau DNA punya struktur heliks.

Meskipun Watson-Crick dan Franklin udah ngebuktiin kalau struktur DNA berbentuk heliks, para ilmuwan tetap meragukan itu. Untuk membuktikannya, Wilkins dan tim menghabiskan waktu 7 tahun buat memverifikasi kebenaran model struktur DNA yang dibikin Watson-Crick.

Penghargaan Nobel

Berkat dedikasinya dalam memverifikasi struktur heliks DNA, Wilkins terpilih sebagai penerima Fellowship of the Royal Society pada tahun 1959. Pada tahun yang sama, Wilkins menikah dengan Patricia Ann Chidgey, istri yang menemaninya sampai akhir hayat. Hadiah ganda buat Wilkins pada tahun itu.

Bersama Watson-Crick, Wilkins juga meraih penghargaan Albert Lasker Award pada tahun 1960. Dua tahun kemudian, dia diangkat sebagai Companion of British Empire atas kontribusinya dalam ilmu pengetahuan.

Puncaknya, Wilkins bersama Watson dan Crick dianugerahi penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1962. Mereka dianggap telah mengungkap misteri struktur DNA, yang berbentuk spiral panjang dengan untai ganda.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 97
Francis Crick, James Watson, dan Maurice Wilkins. (Foto: Kolase nobelprize.org)

…atas penemuan mereka mengenai struktur molekul asam nukleat dan signifikansinya untuk transfer informasi dalam materi hidup.

Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran untuk Wilkins, Watson, dan Crick.

Penghargaan Nobel tersebut diberikan atas makalah Watson dan Crick yang diterbitkan di jurnal Nature pada 25 April 1953. Isinya, struktur DNA menunjukkan adanya dua untai panjang yang saling berlawanan arah dan melingkari satu sama lain dalam bentuk heliks ganda.

Makalah itu juga mengungkap elemen penting dalam struktur DNA, yaitu empat basa organik (adenin, timin, sitosin, dan guanin) yang dipasangkan di antara dua heliks. Struktur DNA yang dibuat juga menjelaskan bagaimana informasi ditransfer dalam materi hidup, yang berpengaruh besar dalam hereditas (pewarisan sifat).

Sebenarnya, saat itu Watson sama Crick ngajak Wilkins buat jadi penulis ketiga dalam jurnal ilmiah mereka. Tapi, Wilkins nolak tawaran tersebut, karena merasa nggak berperan secara langsung dalam penemuan itu. Mungkin itu yang bikin dia disebut The Third Man of Double Helix, kayak judul autobiografi yang dia tulis.

Btw, kok Franklin nggak dapat penghargaan Nobel? Padahal Franklin kelihatan ambis sejak awal.”

Dia nggak dapat penghargaan Nobel. Soalnya, Franklin meninggal pada tahun 1958. Nobel Foundation nggak ada peraturan buat ngasih penghargaan Nobel kepada sosok yang udah meninggal.

Kehidupan Maurice Wilkins setelah Dapat Penghargaan Nobel

Selain bergelut dalam penelitian, Wilkins juga menjadi Presiden pertama British Society for Social Responsibility in Science.

So, British Society for Social Responsibility in Science (BSSRS) adalah gerakan para ilmuwan yang aktif buat menentang penelitian untuk senjata kimia dan biologi. Tujuan dari pergerakan ini adalah buat meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sosial ilmuwan, biar ilmuwan nggak hanya sekadar neliti tanpa tahu konsekuensi dari penelitiannya.

Selain itu, BSSRS juga naruh perhatian pada penggunaan senjata biologi dan kimia terhadap politik dan teknologi. Dan yang paling penting, sesuai namanya, gerakan ini juga pengin jadi jembatan informasi buat masyarakat tentang senjata biologi dan kimia. Sehingga, masyarakat jadi aware dan mendukung penolakan penelitian yang bisa merugikan masyarakat.

So, setelah mendapatkan Nobel, Wilkins jadi lebih fokus dalam berkecimpung sebagai aktivis penentang senjata kimia. Meskipun begitu, Wilkins tetap mengabdi di King’s College.

Tapi, dia lebih jarang ikut penelitian. Dia cuma fokus ngelanjutin penelitiannya pada struktur asam nukleat dan mengepalai MRC Cell Biophysics Unit, sampai dia pensiun tahun 1981.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 98
Maurice Wilkins. (Foto: C. Goemans/German Wikipedia via Wikimedia Commons)

Setelah pensiun, Wilkins beli balik ke rumahnya di London, yang dibeli dari hadiah Nobel. Di sana, dia menghabiskan waktu dengan berkebun dan ngumpulin patung. Wilkins juga menjadi negarawan yang dihormati. Statusnya sebagai peraih Nobel dimanfaatkan untuk berkampanye tentang etika dalam sains.

Melalui gerakan yang dibikinnya, BSSRS tadi, dia terus berjuang buat menggaungkan penghentian bom nuklir, dan selalu mendorong perlucutan senjata nuklir. Dia terus berdedikasi dalam kampanye anti-perang sampai dia meninggal pada 5 Oktober 2004.

Temuan yang Mengubah Dunia

Temuan struktur DNA ngasih banyak dampak pada kehidupan kita sekarang. Pertama, dengan mempelajari struktur DNA, kita jadi tahu banyak hal tentang genetika.

Gue kasih contoh ya. Misalnya rambut lo warnanya merah, sedangkan rambut orang tua lo berwarna cokelat. Lo jadi overthinking, terus bertanya-tanya, “Apa jangan-jangan gue bukan anak kandung ortu gue?”

Dengan hadirnya ilmu genetika, lo akan tahu tentang gen dominan dan gen resesif, dan lo punya gen resesif. Artinya, lo punya gen yang lemah dibandingkan gen orang tua lo.

Bisa jadi, gen resesif diturunkan dari nenek lo, atau buyut lo. Mungkin, buyut lo rambutnya merah, terus nikah sama orang yang rambutnya cokelat. Dan, jadilah orang tua lo yang berambut cokelat. Gen rambut merah baru nyampe di lo.

Biografi Maurice Wilkins, Penemu Struktur DNA yang Terlupakan (1916-2004) 99
Pohon keluarga dengan perbedaan warna rambut. (Foto: genetics.thetech.org)

Kedua, peran DNA juga ngaruh banget dalam ilmu forensik. Lo mungkin udah pernah lihat film atau series tentang detektif, kayak yang gue ceritain di awal banget tadi. Biasanya, ahli forensik bakal nyelidiki DNA yang tertinggal di tubuh jenazah buat menemukan petunjuk tentang penyebab kematiannya.

Apalagi, jika kematian orang tersebut diakibatkan oleh tindak kejahatan. Bisa jadi, pelaku pembunuhan ninggalin jejak DNA di tubuh korban. So, DNA bisa jadi petunjuk penting buat menyelidiki penyebab kematian seseorang.

Ketiga, struktur DNA bisa mengungkap proses evolusi. DNA bisa menunjukkan adanya asal usul kehidupan hingga saat ini. Ternyata, urutan DNA berubah dari waktu ke waktu dalam silsilah keluarga, sampai menuju ke nenek moyang.

Keempat, penemuan DNA ngasih banyak petunjuk tentang struktur dan fungsi DNA tanaman. Hal itu memudahkan para ilmuwan buat memperbaiki ketahanan pangan dan melakukan penelitian genetika tanaman, seperti pembiakan tanaman tahan penyakit, tahan dingin, dan kekeringan.

Penemuan DNA juga mengubah cara kita dalam memanfaatkan tanaman. Kita juga bisa lebih mengenali dan melindungi keanekaragaman hayati di sekitar kita.

Tentunya masih banyak pengaruh positif yang dihasilkan oleh temuan struktur DNA Wilkins, Watson, dan Crick. Gue cuma ngasih contoh gampangnya aja, biar lo bisa dengan mudah aware tentang kontribusi besar Wilkins dan duo Watson-Crick. Dan yang pasti, duo tersebut bertumpu pada temuan Wilkins mengenai DNA. So, applause buat Wilkins, yang udah mengubah dunia berkat temuannya!

Pelajaran yang Gue Ambil dari Hidup Wilkins

Oke, udah gue ceritain tentang perjalanan hidup Maurice Wilkins. Lo jadi tahu siapa Wilkins, lika-liku kerjaannya kayak gimana, apa temuannya, dan bagaimana akhirnya dia bisa dapat penghargaan Nobel. Bagi gue sih, Nobel adalah puncak penghargaan buat orang-orang terkeren di dunia.

Wilkins emang sosok penemu struktur DNA yang terlupakan. Dunia mungkin lebih menyoroti Watson dan Crick atas penemuan struktur heliks ganda DNA. Tapi, temuan mereka berdua nggak akan ada tanpa kontribusi dari Wilkins. Penemuan besar di abad ke-20 itu juga layak jadi kebanggaan yang patut ditempelin ke nama Wilkins.

Btw, gue jadi belajar hal penting nih dari perjalanan hidup Wilkins, sampai dia jadi penerima Nobel. Nilai yang gue dapetin adalah: apapun passion lo, hal yang bikin lo yakin, lo harus terus maju, nggak peduli gimana orang sekitar mau menghambat kemajuan lo. Dan menjadi terkenal bukanlah sebuah keharusan. Asalkan lo ngasih kontribusi besar dan positif yang bisa membawa perubahan, nama lo akan dikenang dan punya tempat tersendiri di dunia.

Berat juga ya kata-kata gue. Segitu dulu ya dari gue. Sampai ketemu di artikel selanjutnya. See ya!

Baca Juga Artikel Lainnya

Biografi Johann Winckelmann – Bapak Sejarah Seni dan Arkeologi Modern

Biografi Christiaan Barnard: Kisah Transplantasi Jantung Manusia Pertama di Dunia!

Mereka yang Turut Berjasa Bagi Perdamaian Dunia Tetapi Tidak Terpilih Menjadi Peraih Nobel Perdamaian 2019

Referensi

Wilkins, Maurice. (2003). The Third Man of the Double Helix: An Autobiography. Oxford University Press.

https://dnalc.cshl.edu/view/16440-Biography-19-Maurice-Hugh-Frederick-Wilkins-1916-2004-.html

https://en.wikipedia.org/wiki/British_Society_for_Social_Responsibility_in_Science

https://genomebiology.biomedcentral.com/articles/10.1186/gb-spotlight-20041007-01

https://www.irishtimes.com/news/science/dna-the-double-helix-that-changed-the-world-1.1371446

https://www.nature.com/scitable/topicpage/maurice-wilkins-behind-the-scenes-of-dna-6540179/

https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/1962/wilkins/facts/

https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/1962/wilkins/biographical/

https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/1962/speedread/

https://www.whatisbiotechnology.org/index.php/people/summary/Wilkins

https://www.yourgenome.org/stories/giants-in-genomics-maurice-wilkins

Bagikan Artikel Ini!