teori kabut nebula- dinamika planet bumi

Materi Geografi: Dinamika Planet Bumi

Artikel ini membahas materi mata pelajaran Geografi yaitu mengenai Dinamika Planet Bumi termasuk mulai dari tata surya dan anggota-anggotanya, teori terbentuknya tata surya, rotasi dan revolusi bumi, teori pergerakan benua, dan juga faktor yang mendukung bumi sebagai ruang kehidupan.

Kita semua lahir, tumbuh dan hidup di planet bumi pasti bukan? Gak cuma manusia, binatang dan berbagai mikroorganisme pun hidup dan tumbuh di bumi. Dimana seluruh bagian dari planet bumi ini sangat berperan sebagai ruang kehidupan. Dalam ilmu sains, terjadi dan terbentuknya bumi dan juga tata surya itu ada prosesnya guys, ada sejarahnya. Oleh karena itu sebagai satu-satunya penduduk bumi yang memiliki akal sehat dan berbudi pekerti, kita perlu mempelajari dan memahami mengenai dinamika planet bumi.  

Pada artikel ini, kita akan membahas mulai dari tata surya dan anggota-anggotanya, teori terbentuknya tata surya, rotasi dan revolusi bumi, teori pergerakan benua, dan juga faktor yang mendukung bumi sebagai ruang kehidupan, dimana semua hal ini juga akan kalian pelajari pada mata pelajaran geografi mengenai dinamika planet bumi, jadi jangan lupa buat baca artikel ini sampai habis ya 🙂

 

Tata Surya

Planet bumi ini berada pada sistem alam semesta yang bernama tata surya atau solar system. Tata surya adalah suatu sistem yang terdiri atas kumpulan benda langit yang mengitari satu bintang atau yang kita kenal matahari dan terikat oleh gravitasinya. 

Itulah kenapa bumi dan planet-planet lainnya memiliki lintasan nya masing-masing mengelilingi matahari. Planet bumi sendiri memiliki kecepatan 108 ribu km/jam dalam mengelilingi matahari. Jika dibandingkan dengan kecepatan mobil, paling cepet nya biasanya 150-200 km/jam, berarti kecepatan bumi mengelilingi matahari itu sekitar 500-700 kali lipat daripada kecepatan mobil di jalan tol untuk mengimbangi gravitasi matahari.

Matahari

Matahari merupakan salah satu jenis bintang, dimana bintang itu merupakan benda langit yang memancarkan cahayanya sendiri. Memiliki diameter 1.392.000 km (109x bumi)

Matahari memiliki berbagai lapisan mulai dari 

  • inti matahari, sumber energi utama tempat terjadinya reaksi fusi nuklir.
  • zona radiasi, pendistribusian energi ke seluruh bagian matahari.
  • zona konveksi, energi di bawa ke planet-planet, termasuk ke bumi.
  • Fotosfer, lapisan pembagi antara bagian dalam matahari dengan atmosfer.
  • kromosfer, atmosfer yang menyelubungi matahari.
  • lapisan korona, bagian terluar.

Merkurius

Merkurius memiliki diameter 4.800 km atau ⅓  dengan diameter bumi dan merupakan planet dengan diameter terkecil di tata surya dan juga planet terdekat dengan matahari. Karena jaraknya yang sangat dekat dengan matahari, merkurius mendapat pengaruh gravitasi matahari yang sangat tinggi. 

Merkurius juga memiliki atmosfer yang sangat tipis sehingga merkurius memiliki suhu yang ekstrim yaitu 300℃ sampai -70℃. Dan juga hal ini menyebabkan tekstur dari merkurius memiliki banyak cekungan karena tidak ada yang melindunginya dari jatuhan benda langit.

Venus

Sebagai planet kedua terdekat dengan matahari setelah merkurius, Venus memiliki diameter 12.000 km. Berbeda dengan merkurius, venus memiliki lapisan atmosfer yang tebal, yang terdiri atas karbon dioksida, nitrogen, dan sulfur oksida. Akibat memiliki atmosfer yang tebal dan juga jaraknya yang dekat dengan matahari, venus menjadi planet terpanas di tata surya, yaitu > 400℃, karena panas dalam planet ini bertahan lebih lama pada atmosfernya.

Bumi

Bumi kita ini berdiameter 12.700 km dan memiliki jarak yang sangat ideal dengan matahari, gak terlalu dekat dan gak kejauhan. Atmosfer bumi juga komponen yang seimbang, 77% nitrogen, 21% oksigen, 1% argon, dan 1% gas lainya, sehingga panas matahari tersaring dengan baik, dan menjadi planet yang ideal sebagai ruang kehidupan. Bumi juga memiliki 1 satelit alami yaitu bulan. Bulan mengitari bumi, dan terikat oleh gravitasinya, karena gaya tarik tersebut menyebabkan terjadinya pasang-surut air laut yang akan dijelaskan di materi hidrosfer.

Mars

Sebagai planet terdekat dengan matahari mars memiliki diameter 6.780 km (½ kali dari diameter bumi). Mars identik dengan warna yang merah, kenapa? Karna mars itu permukaannya didominasi oleh besi, karena atmosfernya kaya akan oksigen, sehingga kayak berkarat gitu, makanya kemerahan. Banyaknya kemiripan planet mars dengan bumi, NASA saat ini diketahui sedang mempelajari lebih dalam mengenai tanda-tanda kehidupan planet mars. 

Selain karena atmosfernya kaya akan oksigen, atmosfer mars juga dominan dengan karbon dioksida. Selain itu suhu rata-rata di planet ini juga sekitar -60℃ sampai 30℃. Di daerah kutub pada planet ini juga ditemukan adanya wujud es, sehingga hal ini menandakan adanya komponen air di planet ini.

Jupiter

Jupiter memiliki diameter 142.680 km atau 11x dari diameter bumi dan merupakan planet terbesar di tata surya, karena jarak nya jauh dari matahari, suhu rata-rata pada planet ini mencapai -130℃. Berbeda dengan planet-planet sebelumnya, jupiter wujudnya berupa komponen gas raksasa yaitu di dominasi hidrogen dan helium. 

Pada planet ini, terjadi badai sampai jutaan tahun karena planet ini tidak memiliki komponen padat yang bisa menghalangi tiupan angin yang kencang.

Saturnus

Saturnus memiliki diameter 116.000 km atau 10x dari diameter bumi, serta memiliki suhu rata-rata -175℃. Sama dengan jupiter, saturnus juga berwujud komponen gas yaitu hidrogen, helium, metana ,dan amonia. komponen amonia inilah yang membuat saturnus berwarna kuning keemasan.

Salah satu ciri khas dari saturnus adalah adanya lingkaran cincin yaitu bongkahan batu dan juga es yang mengelilingi saturnus.

Uranus

Uranus memiliki diameter 50.000 km atau 4x diameter bumi dan memiliki suhu rata-rata -180℃, karena jaraknya yang semakin jauh dari matahari. Di Planet juga merupakan planet gas, namun yang membedakan adalah adanya bongkahan es, karena jaraknya yang sangat jauh dari matahari, sehingga memungkinkan komponennya membeku. 

Planet ini terdiri dari komponen gas hidrogen, helium, amonia dan metana. Nah gas metana inilah yang menyebabkan uranus memiliki warna biru kehijauan.

Neptunus

Neptunus memiliki diameter 48.600 km dan 4x diameter bumi dan merupakan planet terjauh dari matahari, dan merupakan planet dengan suhu terendah atau paling dingin di sistem tata surya yaitu mencapai -218℃. Memiliki ukuran yang mirip dengan uranus, planet neptunus juga memiliki komponen yang mirip juga yaitu berupa gas dan bongkahan es. 

Atmosfer pada planet ini terdiri dari hidrogen, helium, nitrogen, es (air, ammonia, dan metana). Neptunus memiliki warna yang mirip dengan laut di bumi, hal ini dikarenakan adanya komponen air yang berada di atmosfer neptunus.

Planet kerdil

Apa yang membedakan dengan planet lainnya? Planet yang termasuk dalam planet kerdil juga mengorbit matahari, dan karen massanya yang cukup membuat planet ini memiliki gravitasi sendiri, sama halnya dengan planet lainya. 

Yang membedakan dengan planet lain adalah, planet kerdil ini memiliki orbit yang bersinggungan dengan planet lainnya. Dulunya planet di tata surya itu ada 9, yaitu ada pluto. Namun karena pluto orbitnya bersinggungan dengan neptunus, pada tahun 2006, pluto diubah statusnya menjadi planet kerdil bersama dengan eris, ceres, makemake, dan haumea. 

 

Teori Terbentuknya Tata Surya

Pasti ada beberapa dari kalian yang abis baca bahasan diatas jadi mulai mikir, kok bisa sih tata surya susunan nya begitu, gimana bisa prosesnya jadi kayak sistem tata surya yang kita pelajari sekarang? Nah, di bawah ini kita bakal bahas para ilmuwan dan juga para ahli yang udah lebih dulu penasaran kayak kalian mengenai terbentuknya tata surya, dan menciptakan beberapa teori terbentuknya tata surya.

Teori kabut nebula

teori kabut nebula- dinamika planet bumi

Pada tahun 1755, seorang ahli filsafat bernama Immanuel Kant, menurutnya tata surya berasal dari gas padat bersuhu dingin yang berotasi lambat, lama kelamaan suhu dari kabut gas ini semakin meningkat sehingga volumenya semakin besar dan cepat, sehingga membentuk piringan cakram yang semakin tebal panas tengahnya dan membentuk matahari dan menggumpal membentuk planet-planet. 

Namun teori ini masih bertentangan atau tidak sesuai dengan konsep fisika yaitu momentum sudut. Akhirnya teori ini di perbaharui oleh Pierre Simon de Laplace pada tahun 1796. Menurutnya tata surya juga dari kabut gas juga namun bedanya adalah bersuhu panas. Sehingga suhunya menurun, dan menyebabkan volumenya menyusut dan orbitnya makin cepat. Dimana hal ini sesuai dengan teori momentum sudut. Meskipun berhasil memecahkan persoalan momentum sudut namun, teori ini masih belum bisa menjelaskan terkait perubahan temperatur.

Teori Planetesimal

Pada tahun 1905, menurut Moulton-Chamberlin, matahari itu sudah ada sejak awal dan tidak berasal dari kabut gas. Dimana tata surya terbentuk akibat adanya bintang lain yang melintas di dekat matahari dengan massanya yang sama, akibat adanya gaya tarik menarik antara matahari dengan bintang lain tersebut, matahari mengeluarkan partikel-partikel dan terseret oleh gravitasi bintang lain tersebut hingga menjadi gumpalan-gumpalan.

Karena matahari juga memiliki gravitasi, akhirnya gumpalan-gumpalan tersebut mengorbit mengelilingi matahari dan membentuk sistem tata surya.

Teori Pasang-Surut

Pada tahun 1919, serupa dengan teori planetesimal, menurut Jeans-Jeffreys sejak awal matahari itu udah ada, dan ada bintang lain yang melintas dekat dengan matahari, sehingga menimbulkan gaya-tarik menarik antara keduanya. Yang membedakan adalah pada teori ini, yang tertarik dari matahari berupa gelombang pasang dari gas panas matahari yang bentuknya seperti cerutu. 

Sementara sebagian lainnya kembali surut atau balik ke matahari, dan bagian yang pasang mengembun sehingga membentuk planet-planet. Namun teori ini masih belum bisa menjelaskan perubahan temperatur, dan juga mengembun itu terjadi pada saat suhunya rendah atau dingin, namun pada teori ini justru dari gas panas matahari yang mengalami pengembunan.

Teori Awan Debu

Pada tahun 1950, menurut Weizsaecker-kuiper kembali dengan konsep dasar dari teori nebula, yaitu tata surya berasal dari gumpalan gas, yaitu didominasi hidrogen dan helium. Kemudian gumpalan gas tersebut menarik partikel debu sekitarnya hingga membentuk bola menjadi gumpalan gas yang lebih padat dan membentuk rotasi piringan cakram. 

Dimana rotasi piringan cakram tersebut semakin padat di tengah dan berotasi semakin cepat, Sehingga membentuk matahari. Sementara di bagian lainnya semakin lambat dan semakin dingin sampai menggumpal menjadi planet-planet. Namun teori ini masih belum bisa menjawab mengenai perubahan temperatur yang terjadi. 

Teori Bintang Kembar

Pada tahun 1956, menurut Raymond Arthur Lyttleton, tata surya terbentuk akibat adanya 2 bintang raksasa yang bertabrakan dengan bintang lain, jadi total ada 3 bintang. Dimana salah satu dari bintang kembar tersebut dan bintang lain yang bertabrakan itu sama-sama hancur dan pecahan kedua bintang tersebut mengambang-ngambang diluar angkasa tanpa arah tujuan. 

Sehingga pecahan-pecahan tersebut semakin tertarik oleh bintang kembar yang masih utuh, sehingga lama kelamaan pecahan tersebut membentuk planet dan mengorbit di bintang tersebut yang disebut matahari. Namun hal ini masih memiliki kelemahan yaitu kejadian ini jarang sekali terjadi di luar tata surya, dan juga selama penelitian tidak pernah ditemukan adanya bintang kembar.

Pembaharuan Teori Nebula

Setelah bertahun-tahun mencoba untuk diteliti, pada tahun 1972, seorang peneliti bernama Victor Safronov mengungkapkan bukti-bukti dari teori nebular, yaitu solusi yang selama ini belum bisa terpecahkan dalam teori nebula, berikut beberapa bukti yang diungkapkan safronov:

  1. Teori nebula dibuktikan dengan semua planet yang mengorbit dengan arah yang sama. Berasal dari putaran gas dengan arah yang sama sehingga membentuk piringan cakram.
  2. Karakteristik planet-planet dan matahari. Dimana planet keempat planet yang terdekat dengan matahari yaitu merkurius, venus, bumi dan mars berupa planet yang terdiri atas batuan atau disebut planet solid. sedangkan jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus, berupa planet yang terdiri atas gas dan es.
    2 jenis planet ini dibatasi oleh yang namanya garis es yang berperan sebagai garis batas suhu. Saking kuatnya hidrogen dan helium yang mendominasi lingkaran cakram berupa energi reaksi fusi nuklir, sehingga hidrogen dan helium ini terlempar keluar garis es karena keempat planet solid sudah terlalu panas untuk hidrogen dan helium bisa mengembun, sehingga hidrogen dan helium bisa mengembun dan menyelubungi planet-planet di luar garis es ini dengan ukuran yang jauh lebih masiv.

Sebenarnya masih banyak lagi yang dibuktikan oleh safronov dan bahkan teori ini masih dikembangkan dan diteliti sampai sekarang.

 

Rotasi Bumi

Rotasi bumi adalah gerakan bumi yang berputar pada porosnya, dimana poros bumi itu miring atau tidak tegak lurus dengan bidang elipsnya yaitu sebanyak 23,5°, dan berputar dari barat ke timur, dimana dibutuhkan sekitar 23 jam 56 menit untuk berputar ke titik yang sama.

Dampak Rotasi Bumi

Meskipun kita gak sadar bahwa bumi ini berotasi setiap harinya, berikut dampak yang terjadi akibat rotasi bumi:

  1. Terjadinya siang dan malam, akibat gerakan rotasi bumi, pada satu waktu ada sebagian daerah yang berhadapan dengan matahari dan ada sebagian lagi yang membelakangi matahari sehingga terjadilah siang dan malam.
  2. Gerak semu harian matahari, kita pasti sering mendengar istilah “matahari terbit dari timur dan terbenam di barat”, dari istilah tersebut seolah-olah mataharilah yang mengitari kita, padahal sebenarnya bumilah yang bergerak dari barat ke timur.
  3. Perbedaan waktu, bumi saat ini membagi pembagian waktu setiap 15°, yang artinya ada 24 perbedaan waktu di bumi ini, dimana pusat waktu berada pada kota Greenwich, Inggris, yang berada pada bujur 0°. Itulah mengapa kalo kalian cek pengaturan jam pada hp atau laptop kalian biasanya ada tulisan “GMT+7”. Indonesia sendiri memiliki 3 pembagian waktu bukan? Yaitu WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur).
  4. Perbedaan percepatan gravitasi bumi, perbedaan diameter pada daerah kutub dengan diameter di khatulistiwa atau disebut juga ekuator, sehingga adanya perbedaan gravitasi dimana percepatan  gravitasi di daerah kutub lebih besar dibandingkan percepatan gravitasi di daerah khatulistiwa atau ekuator.
  5. Pembelokan arah angin, terjadinya efek coriolis dimana adanya pembelokan arah angin akibat bumi bergerak dari barat ke timur, sehingga angin yang bergerak dari tekanan tinggi (kutub) ke tekanan rendah (khatulistiwa), jadi belok ke arah berlawanan dengan rotasi bumi.

 

Revolusi Bumi

Secara sederhana, revolusi bumi didefinisikan sebagai putaran bumi mengelilingi matahari, dimana bumi berputar mengelilingi matahari selama 365 ¼ hari, atau yang biasa kita sebut 1 tahun. 

Akibat gaya gravitasi matahari, yang membuat bumi dan juga planet lain nya mengitari matahari melintasi bidang elipsnya, untuk penjelasan lebih detailnya mengenai gravitasi ini kalian juga akan mempelajarinya pada ilmu fisika yaitu hukum gravitasi newton. Nah, karena lintasannya berbentuk elips dan matahari terletak pada salah satu titik pusatnya, maka ada saatnya jarak bumi dengan matahari berada di titik terdekat (perihelion), dan juga berada di titik terjauh (aphelion).

Dampak Revolusi Bumi

dampak revolusi bumi - dinamika planet bumi

Beberapa dampak dari revolusi bumi

  1. Gerak semu tahunan matahari, dimana pada tanggal 22 desember – 21 juni belahan bumi bagian utara lebih condong ke arah matahari, sementara sebaliknya 21 juni – 22 desember belahan bagian selatanlah yang condong ke arah matahari.
  2. Terjadinya perbedaan musim, dimana pada bulan desember, dimana bagian selatan yang lebih condong ke matahari sehingga bagian selatan mengalami panas yang lebih lama dan mengalami musim panas, sehingga pada bagian utara yang tidak terpapar matahari mengalami musim dingin, begitu juga sebaliknya pada bulan juni. 
  3. Perbedaan lamanya siang dan malam, ada saatnya siangnya lebih lama dan ada saatnya malamnya lebih lama. Dimana pada bulan juni, dimana bagian utara bumi lebih condong ke matahari, sehingga bagian utara memiliki waktu siang lebih lama, dan bagian selatan memiliki waktu malam yang lebih lama, begitu juga sebaliknya pada bulan desember.

 

Teori Pergerakan Benua

Tidak hanya bumi yang bergerak namun permukaan bumi sendiri juga mengalami pergerakan, berikut beberapa teori yang dikemukakan para ahli mengenai pergerakan atau pergeseran benua.

Teori Apungan dan Pergeseran Benua

Pada tahun 1912, Menurut Wegener benua itu berasal dari 1 massa daratan yaitu pangea, dan dikelilingi oleh lautan yang bernama Tethys. Menurutnya, benua itu merupakan batuan-batuan apung yang berada di atas batuan yang massa nya lebih besar, teori ini juga dikenal dengan istilah Continental Drift.

Dimana, teori ini mengatakan bahwa berawal dari pangea yang perlahan-lahan bergerak ke arah barat dan juga utara, kemudian 200 juta tahun yang lalu, pangea ini terbagi menjadi 2 yaitu, Laurasia dan Gondwana. kemudian pada 135 juta tahun yang lalu, terbentuklah benua-benua yang kita ketahui saat ini. 

Hal ini terbukti dengan adanya kemiripan garis pantai salah satunya antara benua amerika selatan dan benua afrika, kemudian struktur dan tipe batuan yang sama contohnya pada pegunungan appalachia di amerika utara dengan adanya pegunungan di irlandia dengan struktur dan tipe bangunan yang sama, selain itu, paleontologi atau ditemukannya fosil-fosil purba yang sama di benua yang berbeda contohnya di pantai timur amerika selatan dengan pantai barat benua afrika. Selain itu juga ada bukti yang menunjukkan pergeseran benua, contohnya greenland yang semakin lama menjauhi eropa dan mendekati amerika utara. Namun semua bukti dan teori ini masih dianggap belum cukup karena belum bisa menjelaskan kenapa benua-benua tersebut bergeser.

Teori Pemekaran Dasar Dua Samudera 

Atau dikenal sebagai seafloor spreading, dikemukakan oleh Harry Hess pada tahun 1962. Menurut Hess, benua itu tidak mengapung, tapi menempel di dasar samudera. Dimana, bagian benua yang kita pijak ini menempel di dasar samudra sehingga dibagi menjadi 2 yaitu kerak benua dan kerak samudera yang bergerak.

Kenapa kerak bisa bergerak? Karena ada yang namanya arus konveksi. Arus konveksi ini muncul dari inti bumi yang sangat panas, dan merambat ke astenosfer sehingga terjadi arus konveksi, yang mendorong bagian-bagian dari kerak bumi bergerak saling menjauh dan saling mendekat. Pergerakan kerak ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Sesar, terjadinya pergeseran. 
  • Divergen, bergerak saling menjauh. Contohnya, terjadinya mid ocean ridge.
  • Konvergen, bergerak saling mendekat atau bertumbukkan. Contohnya menghasilkan barisan pegunungan.

Karena bentuknya patahan-patahan terbuka, maka cairan panas dari arus konveksi mendingin dan membentuk kerak baru. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya batuan pada patahan usianya lebih muda dari pada patahan di dasar kerak.

Teori Tektonik Lempeng

Pada tahun 1987, seorang ahli geofisika bernama Jason Morgan, dimana teori ini menggabungkan antara Continental Drift dan Seafloor Spreading. Menurut teori ini benua yang mengalami pergerakan itu ada beberapa bagian yaitu kerak bumi dan juga mantel bumi atau biasa disebut lempeng.

Dimana pada menurut teori ini lempeng dengan massa jenis lebih rendah mengapung diatas massa jenis yang lebih tinggi yaitu astenosfer. Selain itu teori ini juga sesuai dengan teori sea floor spreading, dimana gerakan lempeng itu berasal dari arus konveksi yang mengakibatkan pergerakan lempeng yaitu sesar, divergen, dan konvergen. Dimana untuk lebih detailnya akan dibahas pada materi litosfer. Sejauh ini teori inilah yang diterima secara luas dimuka bumi kita ini karena telah menyempurnakan teori-teori sebelumnya.

 

Bumi sebagai Ruang Kehidupan

Setelah mempelajari mengenai berbagai fakta dan teori mengenai tata surya dan juga bumi, berikut faktor-faktor yang membuktikan bumi itu layak sebagai ruang kehidupan.

Suhu permukaan tepat merata

Jarak bumi dengan matahari ideal, sehingga cocok untuk ditinggali, sehingga suhunya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Selain itu, karena sumbu bumi miring sebesar 23.5°, sehingga mencegah terjadinya pemanasan berlebih di daerah kutub dan khatulistiwa.

Kecepatan Rotasi Sesuai

Bumi diketahui memiliki rotasi selama 24 jam, dimana dianggap ideal untuk pergantian siang dan malam, dimana tidak terlalu ekstrem. Bandingkan dengan merkurius yang memiliki waktu rotasi yang sangat lama, dimana lebih dari satu tahun, dan perbedaan suhu siang dan malamnya itu juga bisa lebih dari 100℃.

Penghalang Angin Berskala Besar

Adanya pegunungan menyebabkan meredakan adanya peredam angin berskala besar.

Massa yang tepat

Jika massa terlalu kecil akan lebih mudah kehilangan atmosfer karena gravitasinya yang sangat kecil. Sementara jika terlalu besar maka gravitasinya juga akan terlalu besar sehingga akan menghalangi terlalu banyak gas-gas atmosfer termasuk gas-gas berbahaya. 

Bumi Memiliki Perisai Pelindung

Perisai pelindung ini terdapat pada lapisan-lapisan dalam bumi yang menyelimuti inti bumi , terus bergerak dan membentuk medan magnet sehingga arah dapat ditentukan dengan kompas. Selain itu, lapisan ini juga melindungi makhluk hidup dari radiasi yang berbahaya dari inti bumi.

Susunan Atmosfer yang Sempurna

Bumi memiliki susunan atau komponen atmosfer yang terdiri dari 77% nitrogen, 21% oksigen, 1% argon, dan 1% gas lainya. Dimana gas yang paling penting adalah oksigen, dimana kebutuhan manusia adalah menghirup oksigen, dan hal ini diiringi dengan pohon yang menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen.

Gravitasi

Sesuai sama faktor yang mengenai massa, jika gravitasi terlalu besar akan berbahaya karena dapat menahan gas-gas berbahaya didalam bumi, sementara jika terlalu kecil bumi akan kehilangan banyak air.

Ketebalan Kerak Bumi

Ketebalan kerak bumi juga dianggap ideal karena jika lebih tebal dapat menyebabkan oksigen yang pindah dari atmosfer ke kerak bumi, namun jika lebih tipis, aktivitas gempa bumi dan letusan gunung berapi akan lebih kuat.

Kandungan Ozon

Kandungan ozon di bumi juga memiliki kandungan ozon yang ideal, jika terlalu banyak maka suhu bumi akan terlalu rendah karena sinar matahari akan sulit menembus lapisan ozon, namun apabila terlalu sedikit, suhu bumi akan terlalu tinggi dan mudah terpapar radiasi sinar ultraviolet (UV).

Gimana guys? Seru banget gak sih mempelajari mengenai dinamika planet bumi ? nah buat kalian yang mau pembahasan mengenai dinamika planet bumi dalam bentuk video singkat dan dijelaskan oleh tutor geografi zenius kalian bisa liat di materi dinamika planet bumi yang bisa kalian akses secara gratis, cuma perlu login. Semoga artikel ini membantu kalian ya guys, selamat belajar!

 

Baca Juga Artikel Lainnya!

Hukum Gravitasi Newton

Pasar Bebas

Panduan Belajar UTBK Geografi