Sepenggal Refleksi Kondisi Pendidikan Indonesia 9

Sepenggal Refleksi Kondisi Pendidikan Indonesia

Gimana kondisi pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain? Bagaimana prestasi akademis dan tingkat kebahagiaan siswa Indonesia?

Pernah nggak sih terpikir di benak lo tentang hal ini:

“Sebetulnya siswa-siswi di Indonesia itu pinter atau bodoh sih? Emang kondisi pendidikan di negara ini kayak gimana sih? Udah lumayan bagus atau sebetulnya masih jelek?”

Kalo bicara soal situasi pendidikan, ada banyak tolak ukur yang bisa kita lihat, dari mulai prestasi akademis, fasilitas dan infrastruktur, ketersediaan guru, jumlah sekolah, dlsb.. Pastinya, artikel ini sendiri gak akan mampu memberikan pembahasan yang menyeluruh. Selain cakupannya yang terlalu luas, dibutuhkan research yang mendalam untuk mengetahui kondisi pendidikan di negara ini secara komprehensif. But if I may, gua mau coba kupas sedikit dari sudut pandang akademis untuk memberikan sedikit refleksi dari kondisi pendidikan di Indonesia.

Kira-kira satu tahun yang lalu, media nasional sempat dihebohkan dengan hasil riset berskala internasional yang bernama PISA – Program for International Student Assessment. PISA merupakan salah satu program kerjasama di beberapa negara yang tergabung dengan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) untuk melihat perbandingan kemampuan akademis siswa berumur 15 tahun di berbagai negara dalam bidang matematika, sains, dan membaca.

Riset yang dilakukan adalah dengan menguji (assessment) kemampuan akademis siswa berumur 15-16 tahun dalam bentuk ujian tertulis setiap 3 tahun sekali untuk kategori mata pelajaran matematika, sains, dan membaca. Nah, Riset terakhir yang dilakukan itu tahun 2012 dengan menyertakan 510.000 orang siswa dari 65 negara, termasuk Indonesia.

Hasil dari ujian tersebut? Rata-rata nilai siswa-siswi Indonesia menempati urutan KEDUA… paling bawah dari total 65 negara.

PISA OVERVIEW2

(klik gambar untuk memperbesar)

 

Dulu waktu gua lihat hasil ini, hal yang pertama terlintas di kepala gua itu juga “Wah untung negara Peru ikut berpartisipasi dalam PISA!”. Soalnya kalo bukan karena negara itu, Indonesia bisa dinobatkan jadi negara dengan nilai akademis terburuk, hahaha..

PISA HAPPINESS

Kita tunda dulu sebentar untuk mencerca pihak-pihak yang lo pikir harus bertanggung-jawab tentang prestasi-yang-sama-sekali-tidak-bisa-dibanggakan ini.

Ada satu hal lagi yang menarik dari riset ini. Jadi ternyata selain menguji kemampuan akademis, riset ini juga meneliti beberapa faktor lain, seperti tingkat kebahagiaan para pelajar. Hal itu diukur berdasarkan hasil jawaban dari kuesioner yang pertanyaannya seputar sejauh mana siswa di Indonesia merasa ‘kerasan‘ atau nyaman berada dalam lingkungan sekolah. Hipotesanya sih semakin nyaman seorang pelajar berada dalam lingkungan pendidikan, maka semakin tinggi prestasi akademisnya. Kalo hipotesa ini benar, harusnya para pelajar Indonesia sangat tidak bahagia dong di lingkungan Sekolah?

Nah, setelah diolah datanya, hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata Indonesia menempati urutan PERTAMA (kali ini beneran dari atas)… sebagai pelajar yang paling bahagia dengan mengalahkan 64 negara lain-nya!

So kesimpulannya gimana?

” PELAJAR INDONESIA ITU BODOH DAN BAHAGIA “

itulah headline yang marak bermunculan di berbagai media pada lalu. Miris yah ngeliatnya. Tapi tunggu dulu. Emang kita terima-terima aja nih hasil dari survey dari lembaga internasional ini? Emangnya cara mereka mengambil sample udah pasti tepat dan mewakili 80 juta populasi pelajar Indonesia?

 

APAKAH TINGKAT KEBAHAGIAAN SISWA BERHUBUNGAN DENGAN PRESTASI AKADEMIS?

Hipotesa awal yang dibangun oleh PISA ini.. “Semakin tinggi tingkat kebahagiaan siswa di Sekolahnya, maka semakin tinggi tingkat prestasi akademisnya.”

Dengan hasil yang didapat dari negara Indonesia, apakah itu berarti justru mengindikasikan, “Semakin rendah tingkat pemahaman akademis siswa, berarti semakin tinggi tingkat kebahagiaannya”?

Well kalo kita lihat skema gambar di bawah ini :

best school and happiest kids

Sumber : http://www.buzzfeed.com/jakel11/where-in-the-world-you-can-find-the-best-schools-and-the-hap

 

Lo bisa lihat sumbu X horizontal menunjukkan tingkat kebahagiaan, sedangkan sumbu Y vertikal menunjukkan tingkat kemampuan akademis. Bisa dilihat bahwa Indonesia ada di sudut kanan bawah, mewakili kategori “bodoh dan bahagia”, sebaliknya Korea di sudut kiri atas mewakili kategori “pintar tapi nggak bahagia.”

Tapi, kalo lo perhatiin baik-baik, ada aja tuh negara yang berprestasi tapi bahagia seperti Singapore di sudut kanan atas, juga sebaliknya ada siswa yang tidak bahagia dan juga tidak berprestasi, seperti Qatar. So, kita bisa melihat bahwa kedua variabel ini tidak memiliki hubungan sebab-akibat, jadi bisa dibilang,

“Tingkat kebahagiaan tidak berkorelasi dengan kemampuan akademis”

 

Artinya, asumsi dasar dan hipotesa awal itu tidak terbukti. Tingkat kebahagiaan para pelajar sejauh yang gua telusuri ditinjau dengan pertanyaan seperti “Apakah kamu bisa dengan mudah bergaul dengan teman sekelasmu?” atau “Apakah kamu bangga terhadap asal sekolah kamu?”.

Budaya masyarakat di Korea Selatan memang cenderung individualis sampai sepertinya perlu perjuangan ekstra buat dapetin temen dalam satu kelas.. Bandingin aja dengan budaya di Indonesia, baru juga 3-4 hari lo masuk kelas baru, bisa jadi udah kenal semua temen-temen sekelas. So, dengan adanya faktor lain (budaya) tersebut, kita gak bisa bilang bahwa kalo kita enjoy dengan lingkungan sekolah berarti semakin berprestasi. Disini sebenernya point yang mau gua tunjukin adalah : Lo jangan pernah dengan mudah ngeliat hasil survey itu sebagai sesuatu yang pasti benar, walaupun survey tersebut dilakukan oleh lembaga internasional sekalipun. Kita harus bisa berpikir kritis untuk melihat segala hal dan jeli melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas.

 

JADI APAKAH SURVEY DARI PISA INI NGACO DAN GAK BISA KITA PERCAYA?

Pengambilan sampel dari riset PISA ini memang jadi topik panas di berbagai negara. Gua sendiri pun sempat skeptis apakah pengambilan sampel oleh PISA ini bisa mewakili dan menjadi potret kemampuan akademis seluruh pelajar di Indonesia. Lihat saja Negara China, pengambilan sampel yang diambil dari Kota Shanghai, Hong Kong, dan Macao yang sudah maju – kenapa pengambilan sampel-nya gak tersebar sampai tempat terpencil seperti Kashgar atau Xinjiang? Mungkin kalau saja hal yang sama dilakukan untuk Indonesia, misalnya pengambilan sampel diambil dari Jakarta, Jogyakarta, atau Surabaya – hasilnya tidak akan seburuk ini.

Terlepas dari semua itu, survey dari PISA ini patut mendapatkan apresiasi. Dengan upaya mengumpulkan data dari 65 negara dan diolah dengan cara yang tepat, ada banyak hal lain yang bisa kita lihat selain hanya sebatas ranking antar negara – yaitu menjadi refleksi bahwa para siswa yang menjadi sample belum mampu menjawab kualitas PISA dengan baik.

Jadi, kita nggak perlu dulu deh liat perbandingan antarnegara, kita akui saja kalo emang hasilnya jelek. Gak usah nyari siapa yang patut disalahin. Justru nih, gua penasaran sama kualitas soal yang diujikan di PISA itu seperti apa sih? Kok bisa sih siswa-siswi yang jadi sampel survey ini sampai kesulitan buat ngejawab soalnya. Yuk kita sama-sama lihat 2 contoh soal PISA di bawah ini..

 CONTOH SOAL PISA

 

SOAL 1 PISA

Soal Pisa 1

 

 

Soal Pisa 1

 

Gimana menurut lo 2 soal di atas? Nah disini gua nggak akan langsung bahas soalnya, biar lo pikirin dulu terus coba lo bahas di comment bawah artikel ini. Cuma tebakan gua sih, sebagian besar diantara lo bakal mikir kalo soal ini kegampangan. Iya gak? Kenapa gua bisa nebak gampang?

  1. Soalnya gue tau kalo sebagian besar pembaca blog ini berumur lebih dari 15 tahun
  2. Kemungkinan yang bisa akses blog ini bersekolah yang memiliki kualitas di atas rata-rata
  3. Sebagian besar audience blog ini pake zenius jadi pinter-pinter 😛

Jadi, kalo lo termasuk di antara 3 kategori di atas, jangan sombong dulu kalo cuma bisa menyelesaikan 2 soal di atas. Nah, kenyataannya nih, dari sekitar 7000 — 8000 siswa Indonesia berumur 15 tahun yang mengikuti survey PISA – yang bisa ngejawab dengan bener soal nomer 1 itu kurang dari 1% – berarti kurang dari 80 orang !! Parah banget yak.. Apakah memang rata-rata siswa berumur 15 tahun di Indonesia kaga bisa menyelesaikan soal di atas?

 

JANGAN-JANGAN SISWA DI INDONESIA MEMANG BODOH DIBANDINGKAN KEBANYAKAN NEGARA LAIN?

Bicara soal tingkat kemampuan akademis siswa di Indonesia memang topik yang agak absurd. Di berbagai media, pemberitaan seputar nasib para pelajar bisa sangat ekstrim. Di satu sisi ada banyak cerita miris tentang kondisi pendidikan yang tidak merata di sudut-sudut terpencil Indonesia. Sampai-sampai anak kelas 12 SMA ada yang masih tidak mengerti konsep aljabar sederhana, gak bisa membaca teks bahasa inggris, bahkan masih buta peta geografis negara sendiri.

Di sisi lain, tidak jarang juga kita dengar semilir “angin segar” tentang berita keberhasilan prestasi anak bangsa yang meraih gelar juara olimpiade matematika, fisika, sains, robotic, dll di ajang olimpiade akademis berkelas dunia..

Tapi kembali lagi, apakah gelar juara olimpiade akademis itu bisa mewakili kondisi pendidikan di Indonesia? Atau mungkin hanya untuk sekadar ‘pembelaan semata’ di tengah carut-marut kondisi pendidikan yang sebetulnya memprihatinkan? “Hei pelajar Indonesia itu ternyata cerdas lho.. bisa ngalahin pelajar-pelajar dari negara lain dalam kompetisi robot. Hebat yaah Indonesia!

Tanpa mengurangi rasa apresiasi gua pada para siswa berprestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia – Tapi apa artinya pembuktian segelintir siswa-siswi kita yang cerdas dan berprestasi ini, padahal sebetulnya pendidikan secara merata masih sangat memprihatinkan.

 

JADI SEBETULNYA MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA INI APAAN SIH?

Masalah pendidikan di Indonesia itu multidimensional, dari mulai ketersediaan guru berkualitas, ketersediaan buku dan akses informasi, ketersediaan infrastruktur, kurikulum yang tepat, metode belajar-mengajar yang cocok, cara penyampaian yang mudah dicerna, dan masih banyak lagi.

Tapi, gua nggak mau kita coba bahas panjang lebar hal yang terlalu ngawang-ngawang, abstrak, dan di luar jangkauan kita. Kita coba dulu deh liat masalah yang sederhana dari hasil refleksi PISA tahun 2012 lalu.

” Kok bisa yah sebagian besar sampel pelajar berumur 15 tahun di Indonesia itu gak bisa jawab pertanyaan dari PISA??”

 

Coba deh lo liat lagi 2 soal di atas dengan seksama. Soal itu mungkin bagi sebagian dari kita cenderung mudah, tapi kalo diperhatiin, sebetulnya soal itu “lain dari yang lain” alias sama sekali berbeda dengan soal-soal yang biasa ditemui di buku cetak terbitan lokal atau Ujian Nasional sekalipun..

So, gua punya dugaan kuat.. kalo siswa yang gak paham tentang konsep dasar matematika dan ngeliat 2 soal seperti di atas, hal yang terlintas di benak siswa tersebut adalah :

Duh, ini soal apaan yah.. gua baru lihat ada soal aneh begini. NGERJAINNYA PAKE RUMUS APA YAH?? Duh gua gak tau rumusnya nih. Gak pernah diajarin di kelas, gak pernah dikasih tau juga rumus dan triknya sama guru matematika di kelas.. “

 

Sounds familiar sama pikiran di otak lo? Yup, jujur aja gua juga pernah mikir hal konyol kayak di atas. Baru liat soal, belum direnungkan dulu soalnya, langsung mikirnya SOAL INI PAKE RUMUS YANG MANA YAH? 

Seolah-olah semua persoalan matematika itu bisa diselesaikan dengan tau rumusnya dan tinggal masuk-masukin ke rumusnya doang. Padahal esensi dari matematika itu sebagai abstract modelling untuk melatih logika berpikir yang tepat.

Bisa dibilang, sistem pendidikan (dari mulai cara mengajar sampai kualitas soal) yang diajarkan di Sekolah pada umumnya – secara gak langsung membuat siswanya dilatih untuk menghafal pola soal dan mengandalkan rumus, bukan memahami konsep yang dipelajari.

So, menurut gua, ITULAH PENYEBAB kenapa sampel pelajar Indonesia (15–16 tahun) itu nyaris membuat Indonesia menjadi juru kunci dalam assessment PISA 2 tahun lalu.. dan menurut gua, Inilah salah satu masalah paling kronis dalam dunia pendidikan kita. Jadi jangan heran kalo sistem pendidikan di Indonesia ini cuma melahirkan manusia-manusia yang hanya  mengikuti instruksi, bukan menyelesaikan masalah.

***

Gua tau dengan menulis ini, kita nggak akan bisa menyelesaikan permasalahan ini dalam sekejap. Tapi di mana-mana kunci dari menyelesaikan masalah adalah, identifikasi dulu masalahnya. So disini gua coba untuk membuat langkah awal dari identifikasi masalah itu. Sejauh ini sudah banyak gerakan pendidikan yang patut diapresiasi dengan mencoba untuk menjadi solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia yang pelik ini – termasuk salah satunya juga dengan zenius. Jadi, harapan gua sih.. zenius bisa turut berkontribusi dalam gerakan revolusi pendidikan Indonesia yang lebih baik. Give me your thoughts on comment-box bellow this article !

 

“If you want to build a ship, don’t teach men to build a boat. Teach them to yearn for the wide and open sea.” – Antoine de Saint-Exupéry

 

[Catatan Editor : Buat lo yang pengen ngobrol sama Glenn seputar artikel ini, langsung aja tulis komentar di bawah artikel ini. Buat lo yang belum gabung jadi member di zenius.net, lo bisa gabung sama kita secara gratis dengan cara daftar zenius disini.]

Sumber artikel :
[1] http://www.oecd.org/pisa/
[2] http://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN&treshold=10&topic=PI
[3] http://portraitindonesia.com/indonesian-kids-dont-know-how-stupid-they-are/
[4] http://pisaindonesia.wordpress.com/aktivitas-pisa-indonesia/
Bagikan Artikel Ini!