Belajar bermakna dapat dilakukan dengan cara mendampingi anak ketika belajar

Makna Belajar untuk Anak dalam ZeniusLand Parent Hub: Meaningful Learning

ZenParents tentu setuju bahwa orang tua memegang peran penting dalam memancing minat anak untuk belajar. Sayangnya, kesibukan pekerjaan sehari-hari seringkali membuat ZenParents merasa kurang bisa memandu mereka.

Apalagi sejak pandemi Covid-19, metode pembelajaran secara daring maupun hybrid menjadi suatu keharusan. Tentunya, sebagai orang tua, ZenParents harus bisa beradaptasi dengan penggunaan berbagai macam aplikasi seperti Zoom, Google Meets, Spreadsheet, Google Classroom, dan sebagainya.

Namun ternyata, adaptif terhadap teknologi saja belum cukup untuk mendampingi ZenKids belajar. ZenParents juga perlu memahami bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga mampu menumbuhkan minat ZenKids untuk belajar. Salah satunya adalah melalui konsep “makna belajar” atau Meaningful Learning.

Nah, untuk itu, ZeniusLand mengajak ZenParents untuk memahami apa itu makna belajar yang sesungguhnya, bagaimana menciptakan pembelajaran bermakna, dan memberikan contoh belajar bermakna melalui acara ZeniusLand Parent Hub: Meaningful Learning yang digelar pada 21 Mei 2022.

Acara webinar tentang makna pembelajaran melalui ZeniusLand ParentHub: Meaningful Learning dengan narasumber Yuujisensei dan Samanta Elsener
ZeniusLand ParentHub: Meaningful Learning (Arsip Zenius)

Acara yang dipandu oleh Aldi dari ZeniusLand ini menghadirkan dua orang narasumber, yakni Psikolog Anak dan Keluarga, Samanta Elsener yang expert di bidang pemberdayaan keluarga dan pendidikan anak.

Selanjutnya, ada juga seorang praktisi pendidikan di bidang pedagogi dan linguistik dengan pengalaman mengajar selama 17 tahun yang kini menjabat sebagai Head of Academics Primary Zenius, Yuujisensei. 

Acara yang juga didukung oleh The Asian Parent dan Mamapapa.id ini menjadi ruang diskusi menarik antara narasumber dengan peserta yang aktif terlibat. Apa saja sih, yang dibahas oleh para pakar yang hadiri? ZenParents bisa menemukan intisarinya dengan membaca artikel ini sampai selesai!

Baca juga: Apa Itu Belajar Daring (Live Class) dan Pentingnya untuk Anak SD

Apa Itu Pembelajaran Bermakna?

Makna belajar dalam sistem pendidikan kita sejak bertahun-tahun lamanya selalu menjadi “kewajiban” bagi para siswa. Mau atau tidak, mereka diharuskan untuk terus belajar karena kewajiban atau tugas seorang siswa adalah belajar.

Padahal, bukan tidak mungkin ZenKids akan merasa terpaksa untuk belajar. Akibatnya, mereka merasa terbebani dan tidak tahu apa sebenarnya kegunaan dari mata pelajaran tersebut bagi kehidupan sehari-hari. 

Oleh karena itu, penting bagi ZenParents untuk memahami konsep mindful learning agar bisa memperoleh makna belajar bagi anak. Samanta menjelaskan, “Mindful learning atau pembelajaran bermakna merupakan keadaan ketika kita memiliki kesadaran mental mengenai apa yang sedang terjadi, fokus terhadap hal yang sedang dipelajari, dan menerima apa yang sedang diajarkan, termasuk perbedaan pendapat di dalamnya.” 

Untuk menciptakan makna belajar, harus ada konsep mindful learning dengan tiga komponen yakni acceptance, awareness, dan attention.
Triangle of Mindfulness

Makna ini terdiri dari aspek Acceptance, Awareness, dan Attention atau disebut Triangle of Mindfulness. Berikut rincian dari ketiga aspek dalam Triangle of Mindfulness di atas seperti yang dijelaskan oleh Samanta.

1. Acceptance

Acceptance dalam makna belajar adalah situasi di mana anak sudah mampu menerima berbagai pandangan dan pendapat orang lain. ZenParents dapat melatihnya dengan sering-sering mengajak mereka berdiskusi. 

2. Awareness

Hal yang mampu membuat anak merasakan belajar bermakna adalah ketika mereka menyadari kegunaan dari ilmu yang dipelajarinya dalam mencapai cita-cita. Misalnya, agar bisa menakar dosis obat dengan benar, ZenKids harus menguasai matematika. Jadi, anak akan terpacu untuk terus belajar.

3. Attention

Attention dalam konsep belajar bermakna adalah mengkondisikan anak agar bisa fokus belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Samanta Elsener mencontohkan bahwa jika anak kita memiliki gaya belajar auditori (memahami materi melalui suara dan instruksi), ZenParents dapat sering-sering mengajaknya berdiskusi untuk mengembangkan critical thinking-nya.

Baca juga: 4 Aktivitas Menyenangkan untuk Anak Belajar di Rumah

Cara Menciptakan Pembelajaran Bermakna

Setelah membahas mengenai apa itu Meaningful Learning, Samanta dan Yuujisensei juga menjabarkan bagaimana cara ZenParents menciptakan pembelajaran bermakna di rumah.

Makna kata belajar dalam KBBI sendiri adalah suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Dengan demikian, ZenParents harus mampu memancing munculnya usaha ini dalam diri ZenKids. 

Caranya? Dengan menciptakan pembelajaran bermakna.

1. Belajar adalah Hak, Bukan Kewajiban

Hal pertama yang ZenParents perlu ketahui adalah makna belajar dalam pembelajaran itu sendiri. Yuujisensei menjelaskan, “Belajar bukanlah kewajiban. Kita harus mengubah mindset ini dengan menjadikan belajar sebagai hak.”

Yuujisensei mencontohkan, ketika anak-anak menjalankan kewajibannya untuk membantu orang tua, misalnya mencuci piring atau menyapu, umumnya anak tidak benar-benar menyukai kegiatan itu. Namun, karena sadar bahwa membantu orang tua adalah kewajiban, mereka akan tetap menjalankan kewajibannya secara sukarela.

Jika konsep kewajiban ini kita aplikasikan ke kegiatan belajar, maka anak pun hanya belajar karena keharusan. Oleh karena itu, posisikan belajar sebagai hak agar anak tahu bahwa mereka berkesempatan untuk menggali ilmu sebanyak mungkin guna mewujudkan cita-citanya.

“Karena belajar adalah hak, anak-anak mungkin memilih untuk tidak belajar. Bisa saja terjadi yang demikian. Oleh karena itu, kita juga harus mengajarkan konsekuensi dari tidak belajar itu apa,” lanjutnya.

2. Dampingi Anak saat Belajar

Selanjutnya, Samanta menambahkan hal penting yang harus ZenParents perhatikan untuk menciptakan makna belajar adalah dengan aktif mendampingi ZenKids menonton video eksperimen lalu mengajaknya melakukan berbagai eksperimen tersebut dengan bahan-bahan yang ada di rumah. 

“Kita bisa mengajak anak melakukan eksperimen membuat bangunan menggunakan permainan balok-balok kecil atau mengajak mereka mengganti cat rumah bersama. Selain menyenangkan, kegiatan ini juga bisa membantu mereka belajar.”

Di samping itu, Samanta menjelaskan bahwa peran orang tua adalah mendampingi anak belajar, bukan mengajari. Hal ini karena tentu saja kapasitas ZenParents dalam mengajari berbagai bidang ilmu belum sebanding dengan kemampuan guru di sekolah.

Oleh karena itu, lakukan kegiatan-kegiatan sederhana, seperti mengajak mereka menonton video pembelajaran, lalu berikan beberapa pertanyaan untuk melatih problem solving-nya. Jika anak belum mampu memahami materi dari video, ajak mereka untuk mempelajarinya kembali dengan menggunakan kata-kata yang lembut seperti, “Yuk coba kamu amati lagi dari awal.”

Baca juga: Daftar Pertanyaan Umum untuk Asah Penalaran Anak

3. Jangan Paksa Anak Belajar

Selain dua cara di atas, Yuujisensei dan Samanta sepakat bahwa metode pembelajaran konvensional berupa punishment and reward sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu, sebaiknya ZenParents tidak memaksa ZenKids untuk belajar.

Jika ZenKids suka bermain game, maka ZenParents tidak perlu melarangnya. Namun, ZenParents perlu bersikap adaptif untuk mendampingi dan memantau mereka. Yuujisensei menjelaskan, “Main game itu bagus untuk perkembangan otak, asal waktunya tidak berlebihan. Selain itu, orang tua harus adaptif dengan menyesuaikan rating umur game”

Rating umur untuk suatu game biasanya bisa ZenParents temukan ketika mengunduh game tersebut di Google Playstore atau App Store. Tentunya, ZenParents perlu memastikan ZenKids hanya memainkan game yang sesuai dengan usianya. 

Selain itu, berikan pula batasan waktu untuk bermain game, misalnya satu jam per hari. Jika anak tidak mau berhenti bermain, ZenParents dapat menggunakan parenting tool yang biasanya dapat diunduh dengan mudah. Aplikasi ini akan menonaktifkan handphone secara otomatis ketika waktu bermain sudah melebihi durasi yang kita tentukan.

Jadi, dalam mendampingi anak belajar, ZenParents harus selalu adaptif dan fleksibel, ya!

4. Kondisikan Lingkungan dan Waktu Belajar

Yuujisensei juga menjelaskan bahwa ZenParents perlu mengkondisikan lingkungan belajar. Misalnya, dengan meminta anggota keluarga lain menurunkan volume suara televisi ketika anak-anak sedang belajar.

Jangan lupa untuk menerapkan disiplin waktu. Contohnya, berikan durasi 90 menit untuk anak-anak belajar. Kemudian jika sudah selesai, beri kesempatan mereka bermain game selama 60 menit. Jadi, ZenParents tak perlu memaksa mereka belajar terus-menerus.

Namun, ada kalanya anak tetap sulit konsentrasi ketika sedang belajar. Jika ZenParents mengalami situasi ini, Samanta memberikan solusi berupa terapi bersama psikolog. Namun jika ZenParents tidak punya cukup dana untuk terapi, ZenParents dapat melakukan beberapa langkah yang tercantum di gambar berikut.

Untuk menerapkan makna belajar bagi anak, perlu adanya disiplin positif dalam penggunaan gadget.
Cara menerapkan disiplin positif dalam penggunaan gadget agar tercipta pembelajaran bermakna

Ada juga sebuah pertanyaan menarik dari Bu Herliana, salah satu peserta webinar ini. Beliau bertanya kepada Yuujisensei, “Kapan saat terbaik memberi anak tambahan jam belajar di luar sekolah?”

Menanggapi pertanyaan ini, Yuujisensei menjelaskan bahwa ZenParents perlu berkomunikasi dengan anak kapan saja mereka nyaman mengerjakan tugas, les, atau bermain game.

Selain itu, pastikan bahwa jam belajar, les, dan bermain tidak mengganggu jam tidur, makan, dan istirahat. Jangan lupa, ZenParents perlu mengecek apakah anak-anak masih enjoy dengan pelajaran atau justru kelelahan. Jika merasa kelelahan atau terpaksa, lakukan negosiasi waktu belajar yang paling nyaman bagi mereka.

Contoh Belajar Bermakna

Setelah tahu apa itu makna belajar dan bagaimana menciptakan pembelajaran bermakna, tentu ZenParents juga ingin tahu apa saja contoh belajar bermakna. Sebenarnya mudah saja untuk melihat contohnya selama semua aspek yang telah dijelaskan di atas terpenuhi.

Katakanlah ZenKids ingin menjadi seorang koki hebat. Kegiatan belajar mereka menjadi bermakna ketika mereka sadar bahwa calon koki hebat harus bisa Matematika dan IPA untuk menakar resep.

Kemudian, mereka akan bersemangat mempelajari mata pelajaran tersebut. Tak hanya itu, mereka juga mulai fokus praktik memasak di rumah dan mau mendengarkan pendapat orang lain terkait masakannya.

Baca juga: 7 Cara Mendidik Anak agar Sukses dalam Studi

Nah, itu tadi penjabaran mengenai makna belajar dan pembelajaran yang dijelaskan oleh Samanta dan Yuujisensei dalam event ZeniusLand Parent Hub: Meaningful Learning. Bagi ZenParents yang belum sempat join event ini, tenang, karena masih ada banyak event parenting lain yang dapat diakses melalui aplikasi ZeniusLand. Atau, ZenParents bisa masuk lewat banner berikut.

Belajar Rasa Main ZeniusLand

Selain itu, ZenParents juga bisa mengikuti live class series KIDZen yang rutin diadakan setiap Jumat untuk ZenParents maupun ZenKids. Live class ini membahas berbagai topik terkait motivasi dan kemampuan belajar anak.

ZenParents dapat mengikutinya di aplikasi maupun website Zenius. Yuk segera gabung!

zeniusland

Download ZeniusLand

Aplikasi edukasi online dipenuhi dengan cerita seru dan permainan interaktif, untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Dirancang khusus untuk anak usia 7–12 tahun.

Makna Belajar untuk Anak dalam ZeniusLand Parent Hub: Meaningful Learning 17
Makna Belajar untuk Anak dalam ZeniusLand Parent Hub: Meaningful Learning 18

Bagikan Artikel Ini!