Latar Belakang Pertempuran Puputan Margarana dan Tokohnya

Latar Belakang Pertempuran Puputan Margarana dan Tokohnya – Materi Sejarah Kelas 11

Meski telah memproklamasikan kemerdekaannya sejak tanggal 17 Agustus 1945, tidak lantas membuat Indonesia terbebas begitu saja dari para penjajah nih, guys. Faktanya, masih banyak terjadi perlawanan-perlawanan melawan pasukan Belanda yang terjadi di beberapa daerah. Salah satunya yakni Pertempuran Puputan Margarana di Bali. 

Yap, mungkin bagi elo yang di Bali udah nggak asing dengan kisah pertempuran satu ini. Bahkan untuk mengenang pertempuran ini, dibangun Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana, lho. 

Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana
Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. (Dok. Wikimedia Commons)

So, apa itu Puputan Margarana? Apa yang menyebabkan terjadinya perang Puputan Margarana di Bali? Yuk, baca kisahnya!

Latar Belakang Pertempuran Puputan Margarana

Latar belakang pertempuran Puputan Margarana bermula dari isi Perjanjian Linggarjati yang menyebutkan kalau wilayah RI hanya meliputi Jawa, Sumatera, dan Madura saja nih, guys.

Nah,  hal itu membuat wilayah yang tidak termasuk ke dalam Perjanjian Linggarjati menjadi sasaran empuk bagi Belanda. Misalnya saja, wilayah Bali atau yang dahulu bernama Sunda Kecil ini mulai diatur-atur oleh Pasukan Belanda. 

Selain itu, menurut Perjanjian Linggarjati mulai tanggal 1 Januari 1946 Belanda sudah harus keluar dari wilayah RI yang saat itu adalah Jawa, Sumatera, dan Madura. Oleh karena itu, sekitar 2000 orang Belanda pun mulai memasuki wilayah Bali. 

Adapun tokoh dalam Puputan Margarana yang terkenal yakni I Gusti Ngurah Rai nih, guys. Beliau merupakan seorang komandan resimen Sunda Kecil. Namun, ketika Belanda sampai ke Bali, beliau sedang berada di Yogyakarta. 

latar belakang pertempuran puputan margarana
I Gusti Ngurah Rai. (Dok. Wikimedia Commons)

I Gusti Ngurah Rai yang mengetahui pasukan Belanda mulai memasuki Bali segera membentuk pasukan yang bernama Ciung Wanara. Pasukan yang mayoritas berisi pemuda ini diperintahkan oleh I Gusti Ngurah Rai untuk merebut senjata polisi NICA yang berada di Tabanan, Bali. 

Pada tanggal 8 November 1946, operasi pelucutan senjata ini pun berhasil dilaksanakan. Semua senjata diserahkan kepada pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Belanda yang mengetahui operasi pelucutan senjata tersebut pun marah, terutama Wagimin, kepala polisi NICA saat itu. 

Tidak tinggal diam, Belanda pun segera mengambil tindakan. Belanda memerintahkan kepada seluruh pasukannya yang berada di sekitar Tabanan mulai dipusatkan di wilayah Tabanan. 

Mengetahui apa yang dilakukan Belanda, I Gusti Ngurah Rai pun segera kembali ke Desa Marga, Bali. 

Baca Juga: Tugas Komisi Tiga Negara dan Hasilnya

Pada tanggal 20 November 1946, militer Belanda memutuskan untuk mengurung Desa Marga dan memburu pasukan I Gusti Ngurah Rai yang berada didalamnya. 

Pasukan Ciung Wanara yang merasa terkepung oleh pasukan Belanda pun tidak lantas menyerah dan melakukan perlawanan. Hebatnya lagi, pasukan Wanara sempat berhasil memukul mundur pasukan Belanda nih, guys. 

Meski begitu, pertempuran tersebut tak kunjung usai. Sebab, bala bantuan Belanda terus berdatangan dalam jumlah besar dengan dilengkapi persenjataan modern dan didukung pesawat tempur.

Hingga akhirnya, kondisi jadi berbalik. Di mana, pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai mulai terdesak hingga mundur ke area persawahan dan ladang jagung. 

Akhir Perlawanan Perang Puputan Margarana

Akhir Perlawanan Perang Puputan Margarana
Ilustrasi Perang Puputan Margarana. (Dok. Pixabay)

Meski kekuatan perang antara pasukan Ciung Wanara dan pasukan Belanda tidak seimbang, tak membuat I Gusti Ngurah Rai menyerah. Beliau memerintahkan pasukannya untuk tetap berperang habis-habisan. 

Sejak saat itu Perang Margarana dikenal dengan istilah Perang Puputan yang mengacu pada perang sampai titik darah penghabisan. Setelah melalui pertempuran panjang, pertempuran ini pun telah menewaskan 96 orang Indonesia dan 400 orang Belanda. 

Nah, sejak saat itu tanggal 20 November diperingati sebagai Hari Puputan Margarana nih, guys. Selain itu, dibangun juga Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana untuk mengenang tragedi perang Puputan Margarana. 

Baca Juga: Latar Belakang dan Dampak Perjanjian Roem Royen

Contoh Soal Pertempuran Puputan Margarana

Nah, untuk menguji pemahaman elo tentang Pertempuran Puputan Margarana, coba kerjakan contoh soal di bawah ini, yuk!

  1. Perang Puputan Margarana di Bali dipimpin oleh ….

A. Ciung Wanara

B. I Gusti Ngurah Rai

C. Desa Marga

D. Wagimin

E. Soekarno

Jawaban dan Pembahasan:

Perang Puputan Margarana dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Sehingga jawaban yang tepat adalah B.

Baca Juga: Latar Belakang dan Hasil Konferensi Inter Indonesia

Well, itu dia guys sejarah Puputan Margarana. Nah, sekarang elo udah tahu kan mengapa rakyat Bali mengadakan perang Puputan Margarana. Kalau elo mau tahu kisah pertempuran Puputan Margarena lebih lanjut, bisa tonton videonya di aplikasi Zenius, ya. Caranya tinggal klik aja banner di bawah ini!

belajar materi pelajaran sejarah di zenius
Bagikan Artikel Ini!